
"Bangun, Bunda," ucap Davin pelan sambil mengelus pipi sang istri.
Bukannya bangun Mellisa malah semakin nyenyak.
"Ah iya, kenapa aku mengelus pipinya." Davin tersadar cara membangunkan istrinya yang salah.
"Bunda," panggil Davin dengan nada agak tinggi. Dia menepuk pipi sang istri lalu menggelitik perutnya.
"Ayah!" marah Mellisa. Dia membuka matanya dan cemberut.
"Kenapa Bunda tidak bangun pagi?"
"Ini kan hari minggu Ayah, biarkanlah Bunda santai sedikit," ucap Mellisa masih kesal.
"Apa Bunda tidak mau ikut?" tanya Davin menggoda.
"Ikut apa? Dan kenapa Ayah melihat Bunda seperti itu?"
Tok!
Tok!
Tok!
"Assalamu'alaikum," salam Andika bersama sang istri dari luar pintu.
"Wa'alaikum salam," sahut yang di dalam rumah.
Davin mengajak istrinya keluar kamar untuk menyambut tamu.
Mellisa melihat Talita datang bersama sang suami, dia menjadi ingat kemarin kalau kedua putrinya ingin mengunjungi tantenya, bagus juga kalau Talita ke sini, Mellisa tak perlu keluar rumah, karena sebenarnya dia memang malas.
Talita dan suaminya tengah mengobrol dengan ibu, namun Mellisa belum melihat kedua putrinya, apakah mereka belum bangun.
Tak lama, Rosy dan Jasmine keluar dari kamar mereka dan sudah berpakaian rapi, mereka sudah mandi dan wangi tentunya.
"Kalian rapi seperti ini mau kemana?" tanya Mellisa heran. Bukannya mereka akan ke tempat tantenya dan sekarang ini tantenya sudah di sini, kenapa mereka begitu rapi menyambut sang tante.
"Kenapa Bunda belum bersiap-siap? Dan bahkan Bunda belum mandi," ucap Jasmine mengejek, dia mendekati bundanya dan mencium baju sang bunda.
"Bau ya?" tanya Rosy terkekeh.
"Kalian ini menyebalkan ya." Mellisa cemberut. Dia melihat semua orang di ruangan, semua nampak rapi, hanya dia yang belum rapi bahkan belum mandi.
"Sana mandi," suruh Davin mendorong pelan sang istri.
Mellisa memelototi suaminya sebentar lalu bergegas ke kamarnya untuk bersiap. Dia sudah bisa menerka jika mereka akan jalan-jalan tapi bahkan suaminya tak memberitahunya.
Setelah semua siap, mereka lepas landas menuju ke pantai seperti yang sudah direncanakan.
"Kalian semua tahu hari ini akan pergi jalan-jalan tapi tak ada yang memberitahuku," ucap Mellisa kesal.
Davin mencium pipi istrinya dengan cepat.
"Hey," marah Mellisa. Dia dengan cepat memukul lengan sang suami.
Semua yang melihatnya tertawa kecil.
Sesampainya di pantai.
"Hu....," teriak Jasmine nampak senang.
"Ayo kita main pasir," ajak Rosy menarik lengan adiknya.
Sang nenek langsung mengikuti kedua cucunya itu.
Keduanya berlarian ke sana kemari, sesekali mereka duduk di atas pasir dan bermain-main dengan pasir itu. Sementara sang nenek hanya memperhatikan dari tempat yang tidak panas agar bisa berteduh.
"Ayah jarang sekali membawa kami jalan-jalan," ucap Mellisa sambil menatap kedua putrinya bermain.
"Ma'af, Bunda. Bunda senang kan jalan-jalan ke sini. Lihat saja." Davin mengitari seluruh pantai dengan matanya.
__ADS_1
Mellisa tersenyum.
"Apakah Ayah dapat bonus?" tanya Mellisa asal.
"Ya, dari adik iparmu," jawab Davin tak sadar.
Andika yang agak jauh namun mendengarnya langsung menyela.
"Ini namanya bonus pemaksaan, Kak Mell," ucap Andika berlalu. Dia menjauh bersama istrinya dan bermain-main menghampiri keponakan mereka.
Mellisa mengerutkan alis. Apa maksudnya?
"Sudah. Jangan terlalu dipikirkan. Ayo bergabung dengan mereka." Davin menarik lengan sang istri untuk membawanya bergabung dengan adik dan anak mereka.
"Sayang," panggil Mellisa.
Rosy dan Jasmine menoleh.
"Bunda, sini," ajak keduanya.
"Apa kalian senang?" tanya Mellisa menghampiri kedua buah hatinya.
"Sangat senang. Kita harus berterimakasih sama om Andika, dia yang menanggung semua ini. Bahkan setelah ini om Andika berjanji ngajak kita belanja ke mall."
Mendengar itu Mellisa langsung melihat ke arah Andika.
Andika hanya melambaikan tangannya.
Setelah itu Melirik suaminya.
"Ayah," panggil Mellisa.
Davin hanya tersenyum nyengir.
Tiba-tiba ponsel Davin berdering, dia segera mengangkat telfon.
"Assalamu'alaikum, Pak Davin," salam Anton.
"Ma'af mengganggu. Jika anda ada waktu datanglah ke perusahaan, sesuatu terjadi di sini."
"Memangnya ada apa?"
"Ada konsleting listrik di ruang penyimpanan berkas-".
"Baiklah. Aku segera ke sana."
Davin segera menutup telfon dan meminta izin sang istri untuk pergi.
Mellisa sebenarnya ingin menghabiskan waktu bersama namun akhirnya dia tetap mengizinkan.
"Terimakasih, Bun. Ayah akan segera kembali bergabung." Davin mengecup kening istrinya.
***
Di perusahaan.
Orang-orang petinggi perusahaan sudah berada di sini, termasuk Anton dan Jeny.
"Kenapa kamu baru datang!" marah bos besar, pak Heru.
"Ma'af, Pak Heru. Saya tidak tahu," sahut Davin gugup.
"Kamu yang memimpin perusahaan bagaimana tidak tahu, terjadi kebakaran kecil namun merusak sebagian besar berkas penting perusahaan."
"Saya akan mengulang semua, Pak Heru."
"Gaji kamu akan dipotong."
Davin terkejut namun tak berani protes.
Bos besar berlalu meninggalkan perusahaan karena dirasa masalah telah terselesaikan.
__ADS_1
"Kami siap membantu, Pak Davin," ucap Anton menawarkan diri.
Davin cukup senang namun tak enak hati karena sebelum ini dia sudah sering merepotkan Anton.
"Apa tidak merepotkanmu?" tanya Davin hati-hati.
"Saya memang digaji perusahaan, tapi bagian saya adalah membantu anda."
"Terimakasih."
"Sama-sama, Pak Davin."
Seminggu ke depan akan menjadi hari-hari yang melelahkan, pikir Davin.
Maka dari itu, hari ini dia akan kembali bergabung dengan keluarganya menghabiskan waktu akhir pekan.
Davin akan menelfon istrinya namun ponselnya sudah berdering lebih dulu.
"Iya, Bunda."
"Apakah Ayah masih lama, ini sudah waktunya makan siang ayo segera kembali. Kami sudah berada di restoran X."
"Oke, Bunda. Ayah segera ke sana."
Sesampainya di restoran.
Mellisa memandangi wajah suaminya yang agak pucat.
"Ada apa?" tanya Mellisa.
"Ada masalah di kantor, tapi sudah teratasi."
"Baiklah. Mari kita makan."
Davin menjadi tak bernafsu, dia memaksakan makan agar dirinya tidak sakit.
"Ayah payah," ucap Rosy setelah makanan habis mereka lahap.
"Ayah kabur ketika kami sedang bermain," ucap Jasmine menambahi.
Davin tiba-tiba pusing walaupun dia baru saja menghabiskan makannya.
"Huss kalian jangan begitu. Ayah ada urusan sebentar tadi, bukankah sekarang Ayah sudah bersama dengan kita." Mellisa menerangkan agar Rosy dan Jasmine tak berpikir macam-macam.
Andika dan Talita yang sedari tadi diam lalu bicara.
"Kak Davin. Aku bisa membantu dua sampai tiga hari tapi setelahnya aku harus fokus di perusahaanku."
"Tak perlu, ada Anton dan Jeny yang siap membantuku."
Mellisa mengangkat bahunya ketika adik dan adik iparnya menoleh.
"Om katanya mau belanja, ayo kita ke mall," ucap Rosy menghampiri.
"Iya sayang," sahut Andika.
Andika yang memang sudah siap dari awal untuk bertanggung jawab, dia harus menurut pada ponakan mereka.
"Bolehkah Ayah pulang lebih dulu, Ayah ingin istirahat." Davin menahan lelah dan pusing.
"Bunda temani ya?" Mellisa memegangi tangan suaminya.
"Andika, Talita tolong titip Rosy dan Jasmine, juga ibu," ucap Mellisa lagi.
"Kalian jangan nakal ya nurut sama om dan tante kalian." Mellisa melihat ke arah kedua putrinya.
"Siap," sahut mereka bebarengan.
Mellisa mengantar suaminya pulang.
***
__ADS_1