
Di Restoran.
"Bunda, kita mau duduk dimana?" tanya Rosy sambil menempel sang bunda.
Jasmine melihatnya dengan cemberut.
'Kebiasaan. Tak bisakah jauh dari bunda sebentar saja,' batin Jasmine.
Mellisa melihat sekeliling dan matanya terhenti saat dirinya dengan yakin melihat Jeny bersama Anton tengah asik menikmati makanan mereka.
Rosy dan Jasmine juga melihat ke arah bunda mereka melihat.
"Siapa mereka, Bunda?" tanya Jasmine penasaran.
Mellisa mengamati pasangan itu, mereka memang nampak seperti pasangan.
Baik Jeny maupun Anton tengah bercanda tawa bersama dan sesekali mereka saling menyuapi.
"Mereka teman kantor Ayah kalian, ayo kesana," terang Mellisa lalu mengajak kedua putrinya menghampiri mereka semakin dekat.
Mellisa dan kedua putrinya berdiri tepat di belakang Jeny bersama Anton.
"Hay. Assalamu'alaikum," salam Mellisa.
Jeny dan Anton menoleh, keduanya kaget dan langsung canggung.
"Wa'alaikum salam, Bu Mellisa," sahut mereka.
"Panggil Mellisa saja, biar lebih akrab." Mellisa tersenyum.
"Iya, Bu. Maksudnya Mellisa," gugup Jeny.
"Apakah kalian? Em-," ucap Mellisa ragu.
"Sedang pacaran ya," sela Jasmine usil.
Anton dan Jeny nampak malu, di kantor mereka diam-diam merahasiakan hubungan mereka, namun kali ini tentu saja mereka tak dapat mengelak.
"Ya begitulah, Mell," sahut Jeny malu-malu.
Anton pun demikian, namun meskipun malu dia merasa kesal Mellisa dan anaknya datang mengganggu.
"Ma'af. Bisakah kalian tidak mengganggu dan-." Anton melirik Jeny karena tangannya dipegang olehnya.
"Dan kami harap, kalian ikut bergabung bersama kami. Kami yang mentraktir," sela Jeny dan tentu saja membuat Anton semakin kesal.
Anton menarik lengan Jeny agak menjauh dan berbisik.
"Apa maksudmu?" tanya Anton.
Jeny belum sempat menjawab tapi kedua putri kembar di depannya nampak senang, melihat itu Jeny langsung tersenyum.
"Wah. Tante cantik baik sekali, ayo Bunda kita duduk di sini." Rosy dan Jasmine langsung duduk.
"Bolehkah?" tanya Mellisa ragu-ragu. Sebenarnya dia merasa mereka terganggu oleh kehadiran dia dan kedua anaknya.
"Tentu saja, tak perlu sungkan, Mell." Jeny mempersilahkannya duduk.
"Tante cantik dan Om baik, kami do'akan supaya hubungan kalian langgeng sampai jenjang pernikahan dan sampai kalian jadi kakek nenek." Kedua putri kembar itu tersenyum, benar-benar menggemaskan, dua anak yang kembar dengan wajah cantik dan lucu.
Anton yang tadinya kesal, tiba-tiba luluh hatinya.
Awalnya Anton merasa terganggu kehadiran mereka, namun setelah mendengar pujian dan do'a kedua putri kembar bosnya membuatnya tersentuh.
'Mereka hanya anak kecil, apa-apaan aku ini," batin Anton.
__ADS_1
Setelah memesan makanan untuk Mellisa dan kedua putri kembarnya, Anton dan Jeny bermaksud kembali ke kantor.
"Maaf, Mell. Gadis-gadis cantik, kami permisi dulu karena jam kerja mulai kembali. Kami harus segera kembali ke kantor," pamit Jeny.
"Iya tidak apa-apa. Kami juga sangat berterimakasih pada kalian." Mellisa merasa tak enak hati juga.
"Terimakasih Tante cantik dan Om baik," ucap Rosy dan Jasmine bersamaan.
Sebelum berlalu, tiba-tiba Davin menelfon Anton.
"Assalamu'alaikum," salam Davin.
"Wa'alaikum salam, ada apa Pak Davin?" tanya Anton.
Rosy dan Jasmine yang mendengar suara ayah mereka langsung mendekat.
"Bisakah segera kembali? Aku membutuhkanmu," pinta Davin.
Belum sempat Anton menjawab, Rosy dan Jasmine merebut ponsel Anton.
"Ayah," panggil keduanya.
"Apa-apan kalian ini!" marah Anton.
"Hey, kalian. Bagaimana ceritanya kalian bersama asisten Ayah?" tanya Davin.
"Om baik sama tante cantik mentraktir kami," jawab Jasmine.
"Mentraktir?" Davin mengerutkan alisnya.
"Iya. Tadi bunda mengajak kami makan siang di Restoran lalu melihat om baik dan tante cantik ada di sini, kami melihat mereka saling menyuapi kemudian bunda mengajak kami menghampiri mereka. Mereka sangat romantis. Bunda sama Ayah tidak pernah seromantis itu." terang Jasmine panjang lebar.
Mellisa tersedak, bagaimana mungkin putrinya ini menilai hubungan orang tuanya apakah romantis atau tidak.
Anton dan Jeny lebih tercengang, karena belum siap dengan terungkapnya hubungan keduanya.
'Tidak pernah seromantis itu, bagaimana mungkin mereka tahu apa itu romantis,' batin Mellisa.
"Hey! Ayah tidak romantis, akan Ayah buktikan seromantis apakah Ayah sama Bunda kalian," ucap Davin bersemangat. Dia membayangkan istrinya sejenak.
Anton segera mengambil kembali ponselnya.
"Pak Davin, anda bisa bisa mematikan telfonnya dan menelfon anak istri Bapak," ucap Anton sambil bersiap mengajak Jeny untuk ke kantor.
"Ok. Kamu segera ke sini saja, aku menunggumu."
"Baik, Pak. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikum salam."
Setelah telfon terputus, Anton dan Jeny segera berlalu, namun sebelum itu mereka mempersilahkan Mellisa dan kedua putri kembarnya untuk menikmati makanan.
Sepeninggal Anton dan Jeny.
Mellisa dan kedua putrinya menikmati makanan dengan lahapnya.
"Rezeki tak kemana ya, Bun. Kalau setiap hari kita bisa bertemu dengan karyawan Ayah, terus kita ditraktir. Senangnya. Haha." Rosy dan Jasmine sangat senang.
"Jangan berkhayal, memangnya kita tahu siapa saja karyawan Ayah." Mellisa masih menikmati makanannya yang belum habis.
"Bunda kan sering ke kantor Ayah, mana mungkin Bunda tak kenal mereka," ucap Jasmine sambil minum. Dia selesai pertama rupanya.
Agh!
Jasmine bersendawa.
__ADS_1
Mellisa dan Rosy langsung reflek tertawa, sementara Jasmine sedikit malu.
"Ayo kita cepat habiskan makanannya dan pulang," ajak Mellisa kepada kedua putrinya. Dia ingin istirahat siang karena agak lelah.
"Baik, Bunda."
***
"Kalian sudah kembali?" tanya Davin setelah melihat kehadiran Anton dan Jeny.
"Ayo," ucap Davin lagi mengajak Anton ke dalam ruangannya.
"Biasanya Pak Davin akan memberikan berkas saja, dan saya akan mengerjakan di sini bersama Jeny."
"Tidak bisa, kamu ikut ke ruanganku. Kita kerjakan bersama."
Anton melirik Jeny.
"Sana," suruh Jeny menyetujui.
"Baik, Pak."
Anton berjalan di belakang Davin ke ruangan kerja, nampak murung di raut wajah Anton, sedangkan Davin tersenyum meledek.
Sampai di ruangan kerja.
Davin dan Anton fokus ke tugas mereka, sesekali Anton melirik bosnya.
"Kenapa melihatku terus?" tanya Davin.
"Tidak ada, Pak," jawab Anton.
"Pasti kamu sudah rindu sama Jeny ya? Apakah mau keluar? Silahkan kalau begitu."
Anton hanya tersenyum malu lalu dia melihat ke luar ruangan.
"Sana," suruh Davin.
"Tidak, Pak Davin. Nanti saya malah tidak fokus kerjanya."
"Di sini juga kamu tidak fokus," kekeh Davin.
"Bisakah kita tidak bicara dulu Pak. Saya ingin cepat selesai."
"Oh. Ok."
Davin merasa sangat lucu melihat Anton yang salah tingkah, biasanya dia sering melihat Anton yang wajahnya datar saja, tapi sekarang agak kemerahan karena menahan malu.
Beberapa saat kemudian.
"Akhirnya selesai juga. Pak Davin, coba Anda teliti." Anton menyerahkan beberapa berkas.
Davin menerimanya dan mulai membuka lembar demi lembar.
"Bagus, kamu boleh pulang. Aku masih ingin di sini sebentar."
"Terimakasih, Pak Davin."
"Sama-sama."
Anton segera mengemasi barangnya dan berlalu.
Davin melihatnya dengan tersenyum, kasmaran. Dia lalu merindukan sang istri.
"Aku akan segera pulang juga."
__ADS_1
***