Mellisa Untuk Davin

Mellisa Untuk Davin
Bab 41 Perubahan


__ADS_3

"Assalamu'alaikum," salam Davin memasuki rumah.


"Wa'alaikum salam," sahut yang di dalam rumah.


Davin berjalan selangkah demi langkah, biasanya kedua putrinya akan menyambutnya, namun dimana mereka, mereka hanya menjawab salam dan menghiraukan kepulangannya.


Davin menyisiri ruang tamu hingga dapur, langkahnya terhenti di sana karena melihat istri dan anak-anaknya tengah asik memasak sambil bercanda ria.


"Sayang," panggil Davin.


Semuanya menoleh lalu kembali lagi asik menyiapkan makanan.


Davin mengerutkan alis. Ada apa dengan mereka?


"Apakah kalian tidak merindukan Ayah?" tanya Davin menghampiri mereka semakin dekat.


"Tidak," jawab mereka kompak.


Oh sial. Davin bersemangat pulang hanya untuk mereka tapi apa yang mereka lakukan.


Davin bergegas ke kamarnya tanpa memperdulikan istri dan kedua putrinya.


Semuanya terkekeh.


"Sepertinya ayah ngambek."


"Biarkan saja, nanti kalau lapar pasti datang."


Makanan telah siap disajikan. Mellisa dan kedua putrinya tengah duduk di ruang makan menunggu Davin.


Beberapa saat kemudian.


"Ayah sedang apa ya! Kenapa lama sekali?" tanya Jasmine tak sabar.


"Iya nih, aku juga sudah lapar," timpal Rosy.


"Bunda cari ayah kalian dulu ya."


Mellisa mencoba mencari di kamar.


"Ayah," panggil Mellisa memasuki kamar.


"Hm," sahut Davin tanpa menoleh.


"Sudah ditunggu Rosy dan Jasmine. Ayo makan," ajak Mellisa.


Davin melirik istrinya sebentar, lalu berjalan keluar dari kamar menuju ruang makan dimana kedua buah hatinya tengah menunggunya di sana.


Mellisa berjalan mengiringi di belakang suaminya.


"Ayah lama sekali," ucap Jasmine cemberut begitu ayahnya datang.


"Iya, apa Ayah tidak lapar?" tanya Rosy.


"Ayah lelah, ayo cepat makan, Ayah akan segera istirahat," sahut Davin tanpa melihat ke siapapun.


Semuanya saling memandang selain Davin. Mereka menggelengkan kepala.


Setelah selesai makan malam, keluarga kecil ini menuju kamar mereka masing-masing.


Di kamar si kembar.


"Apa Ayah benar-benar lelah? Jangan-jangan Ayah hanya cemberut saja karena kita menghiraukannya tadi."


"Ku pikir juga seperti itu."


"Ayo ke kamar Ayah dan minta ma'af."


"Besok sajalah. Sekarang kita harus mengerjalan PR."


"Oh iya ada PR. Aku lupa."

__ADS_1


Rosy dan Jasmine mulai belajar, mereka bekerja sama menyelesaikan tugas dari guru mereka.


Sementara di Kamar sang ayah dan bunda.


"Ayah," panggil Mellisa mendekat.


"Hm," sahut Davin datar sambil memainkan ponsel.


Mellisa menjadi cemberut, harusnya kan dia yang marah karena kejadian di kantor. Namun kenapa dunia terbalik. Menyebalkan.


Mellisa mengambil selimut lalu berbaring. Dia hendak memejamkan matanya.


"Hey." Davin menyentuh hidung sang istri.


"Ayah!" Mellisa semakin cemberut. Dia membalikkan tubuhnya membelakangi sang suami.


"Ayah sedang ingin-."


"Tak mau."


"Apa Bunda lupa atau bahkan tak tahu jika kewajiban seorang istri adalah melayani suaminya, jika sang istri menolak maka dosa baginya."


Mellisa langsung bangun dan duduk. Dia berinisiatif terlebih dahulu untuk mencium Davin.


Davin terkekeh.


"Apa Bunda siap melayani, Ayah?"


Mellisa mengangguk dan tersenyum.


"Badan Ayah pegal, bisakah Ayah minta tolong Bunda untuk memijit pundak Ayah?"


Mellisa tercengang. Dia menunduk. Dia berpikir suaminya meminta haknya yang lain, eh ternyata, benar-benar memalukan, pikirnya.


"Baik, Yah." Mellisa mulai memijit sang suami.


Davin menikmati pijatan istrinya yang semakin lama semakin enak dirasakan.


"Oh."


"Malam ini kita libur ya?"


Mendengar itu Mellisa semakin tak habis pikir, bisa-bisanya dia berinisiatif mencium Davin tadi. Pipinya memerah karena malu.


"Iya."


Davin menoleh wajah sang istri dan tersenyum.


Terlihat Mellisa yang masih cemberut walaupun pipinya memerah.


"Bunda jelek kalau cemberut seperti itu."


"Ayah menyebalkan. Bunda ikut ke kantor karena Bunda bosan di rumah." Mellisa mengeluarkan kegundahannya sedari tadi.


Davin tersenyum lagi.


"Dan Bunda memprovokasi Rosy dan Jasmine untuk mengacuhkan Ayah."


Mellisa tercengir.


Davin berbalik dan mengusap kepala sang istri dengan lembut.


"Sudah bertahun-tahun. Apakah Ayah harus menjelaskan jika Ayah harus bekerja secara profesional."


"Dulu sebelum punya anak, Ayah tidak seperti itu, Ayah ingin selalu bersama Bunda setiap saat, bahkan Ayah juga menunggu Bunda untuk membawakan makan siang dan pulang bersama."


Davin malah tertawa.


"Kenapa Ayah tertawa?" tanya Mellisa kesal.


"Ada sesuatu yang harus berubah, Bunda. Hidup seorang manusia pasti mengalami perubahan. Dia terlahir bayi lalu tumbuh menjadi balita, tumbuh lagi menjadi anak-anak tumbuh lagi menjadi remaja, dewasa, tua dan mati."

__ADS_1


Mellisa mencerna apa yang dikatakan suaminya.


"Apakah itu berarti Bunda tidak boleh bermanja dengan Ayah lagi?"


Davin mengerutkan keningnya.


"Bunda lucu sekali."


Davin hendak membelai pipi sang istri, namun Mellisa segera menepisnya.


Mellisa kembali berbaring dan menutup diri dengan selimut.


Davin mendekati sang istri dan memeluknya. Mellisa pura-pura menolak, didorongnya tangan sang suami dari tubuhhya.


"Ayah mencintaimu, Bunda." Davin memeluk sang istri semakin erat.


Mellisa diam.


"Jangan berpikir berlebihan, sekarang kita sudah punya anak tapi tenang saja masih ada waktu untuk Bunda untuk Ayah manjakan."


Ya benar memang. Kita ingin selalu berlama-lama dalam situasi yang menyenangkan namun hidup berjalan, sesuatu pasti terjadi dan mengalami perubahan.


Dalam pelukan sang suami Mellisa berpikir, benar juga bukankah sekarang mereka seorang bunda dan ayah, ada anak diantara mereka.


Mellisa tersenyum sendiri mengingat tingkahnya tadi yang sebenarnya hanya merindukan sang suami memanjakannya, namun suaminya memang harus bekerja untuk menafkahinya dan juga anak-anak.


Kenapa sesempit itu dan cemberut. Haha.


"Tidurlah." Davin mengusap rambut istrinya dengan lembut.


"Hm." Mellisa mengangguk.


***


Jeny terjaga dari tidurnya, dia melihat ibunya tengah duduk di tepi tempat tidur.


"Ibu tidak tidur?" tanya Jeny sambil mengucek matanya.


"Ibu terbangun dan tidak bisa tidur kembali," jawab Atikah nampak gelisah.


"Apa Ibu memikirkan sesuatu?" tanya Jeny lagi.


Atikah menunduk sebentar dan balik bertanya pada putri kesayangannya itu.


"Apa kamu tidak ingin menikah?" tanya sang ibu menatap lekat pitrinya.


"Tentu saja ingin, kalau sudah waktunya menikah, aku akan menikah, Bu." Jeny tersenyum.


"Kapan?" tanya Atikah.


Jeny diam, 'kapan?' Anton telah menjadi kekasihnya saat ini tapi belum ada tanda-tanda dia akan melamar.


Jeny dan Anton sudah sangat dewasa, bahkan teman-teman mereka yang sudah menikah telah memiliki satu atau dua anak.


"Jeny," panggil sang ibu.


"Iya, Bu," sahut Jeny.


Atikah menatap putrinya dengan lekat.


"Haruskah aku bertanya pada Anton, Bu?" tanya Jeny menunduk.


"Kenapa bertanya? Kalau dia benar-benar serius, harusnya dia segera melamarmu." Atikah nampak kesal.


"Ibu, ini masih malam. Ayo kita istirahat, aku juga harus bekerja besok," ajak Jeny.


"Baiklah. Ibu berharap Anton segera melamarmu dan menikah, kalian sudah sangat dewasa, Ibumu ini sudah semakin tua. Ibu ingin melihatmu menikah dan bahagia."


"Aku selalu bahagia untuk Ibu."


Jeny mengajak ibunya berbaring lalu menyelimutinya dan terlelap bersama.

__ADS_1


***


__ADS_2