Mellisa Untuk Davin

Mellisa Untuk Davin
Bab 56 Pilih Kasih


__ADS_3

Sepulang dari rumah sakit.


"Ayo kabari ibu, Mas," ucap Mellisa bersemangat.


"Mama sama papa saja dulu, kemarin kita baru saja dari sana, pasti mereka akan sangat senang mendengar beritanya." Davin segera mengambil ponsel.


Di lain sisi, Tiara dan Dion baru saja mengangkat telfon masuk dari sang putra.


"Assalamu'alaikum, Ma, Pa," salam Davin.


"Wa'alaikum salam, Davin," sahut Tiara dan Dion.


"Mama, aku ada kabar baik," ucap Davin bersemangat.


"Apa itu?" tanya mama.


"Mama sama Papa akan punya cucu lagi," jawab Davin.


"Apa? Benarkah itu? Mana Mellisa, ibu mau bicara." Mama sangat bersemangat.


Davin memberikan ponselnya pada Mellisa.


"Iya, Ma."


"Sayang. Bagaimana hamilmu kali ini? Kamu jangan sampai kelelahan ya? Jaga baik-baik calon cucu Mama berikutnya dan dimana Rosy dan Jasmine, Mama mau menasihati mereka juga agar menjaga calon adik mereka."


"Tentu, Ma."


"Oma, Opa!" teriak Rosy dan Jasmine tak sabar, sedari tadi hanya melihat ayah dan bunda mereka yang mengobrol di telfon.


"Hey cucu-cucu Oma. Apa kalian sudah makan? Apakah calon adik kalian sudah makan juga?"


"Kalau bertanya satu persatu Oma." Jasmine nampak cemberut.


Seisi ruang terkekeh, memang Oma mereka kalau bicara seperti kereta, panjang kali lebar kali tinggi, hihi.


Obrolan Oma Opa bersama para cucu masih terus berlangsung, Mellisa sesekali memegang perutnya yang terasa sedikit tidak nyaman.


Davin melihat sang istri nyengir seperti menahan sakit.


"Kenapa?" tanya Davin mendekat.


"Mungkin lapar, Yah. Perut Bunda tidak nyaman," jawab Mellisa masih memegangi perutnya.


"Ayo Ayah antar ke dapur, Ayah akan menyiapkan makanan buat Bunda," ajak Davin.


Davin memapah sang istri ke dapur meninggalkan kedua putri kembar mereka yang tengah asik mengobrol di telfon bersama oma opa mereka.


Segera Davin menyiapkan makanan untuk sang istri, untungnya tadi pagi Mellisa sudah memasak untuk makan siang juga.


"Biar Ayah suapin." Davin menawarkan diri.


"Bunda bisa sendiri," tolak Mellisa.


"Biar Ayah saja."


Davin agak memaksa, dia menyuapi Mellisa dengan lembut.


Mellisa yang awalnya menolak, kini dia menurut. Hm, apa salahnya suaminya memanjakannya.


"Terimakasih ya, Mas," ucap terimakasih Mellisa membuat Davin bersemangat.

__ADS_1


"Sudah lama tidak mendengar panggilan itu," kekeh Davin.


Mellisa menunduk malu.


"Sayangku ayo makan lagi," ucap Davin menggoda.


"Iya, Mas Davinku sayang."


Mellisa merasa senang saat ini, rasa tak nyaman di perutnya tidak begitu kentara.


Davin masih suaminya yang dahulu, walau ini kehamilan keduanya, Davin masih saja perhatian.


Setelah selesai menyuapi sang istri makan, Davin memanggil kedua putri kembarnya untuk makan siang juga.


***


"Ibu," panggil Talita.


"Kalian sudah pulang?" tanya ibu menyambut.


"Iya, Bu."


"Ma'af, apa Ibu memasak?" tanya Talita agak malu, dia merasa lapar lagi.


Ibu terkekeh mendengar pertanyaan putri bungsunya itu.


"Tentu saja Ibu masak, ayo makan. Kalian pasti sudah lapar bukan?"


Andika masih belum selera untuk makan nasi, dirinya tidak menyangka jika akan mengalami susah makan dan mual-mual ketika istrinya hamil, dia merasa lucu sendiri.


"Aku di sini saja ya." Andika menolak tak enak sebenarnya.


"Baiklah. Ma'af ya, Mas," ucap Talita lebih tak enak hati. Dia akan memakan makanan begitu lahap sedang suaminya tak berdaya menahan sampai trimester kedua mungkin.


Talita pun bersemangat sebelum akhirnya Mellisa mengangkat telfon.


"Halo. Assalamu'alaikum, Dek," salam Mellisa.


Ibu langsung mengambil ponsel di tangan Talita, dia agak kaget, ibunya begitu bersemangat tak sabar mengabari kakaknya tentang dirinya yang tengah hamil.


Talita tersenyum senang.


"Mellisa kamu sedang apa? Dimana pula cucu-cucu Ibu?" tanya ibu.


"Mereka di sini bersamaku, Bu."


"Nenek!" teriak kedua putri kembar merebut ponsel sang bunda.


"Iya cucu-cucu Nenek yang cantik."


Talita menjadi tidak nyaman, awalnya dia merasa senang ibunya akan mengabari kakaknya tentang kehamilannya, tapi melihat sang ibu bersenang-senang sendiri dengan Rosy dan Jasmine, membuatnya agak sesak.


"Nenek, kami akan segera punya dede bayi," ucap Rosy.


"Bunda sedang mengandung, Nek," timpal Jasmine.


"Benarkah? Wah Nenek akan punya cucu lagi," girang sang nenek.


Nenek dan cucu-cucu ini terus membicarakan kehamilan Mellisa, ibu Inayah sendiri sampai lupa tujuan utama menelfon Mellisa.


Talita merasa semakin sesak namun Inayah, sang ibu, tidak menyadarinya.

__ADS_1


Andika melihat istrinya dan sang mertua beberapa saat yang lalu, awalnya dia pikir tidak terjadi apa-apa, mereka hanya mengobrol.


Talita berbalik dan mendapati sang suami di depannya, dia menyeka air matanya, dia berlalu tanpa mengatakan apapun.


Melihat istrinya pergi begitu saja, Andika bermaksud mengejarnya, namun ketika dia mendengar tawa ibu dan keponakannya di balik telfon, dia mulai mengerti.


"Ibu," panggil Andika mendekat.


Ibu menoleh.


"Iya, Dika. Kamu tahu ternyata Mellisa juga hamil," terang ibu tanpa merasa bersalah.


"Om!" teriak Rosy dan Jasmine karena mendengar percakapan sang nenek dengan omnya.


Andika mengambil ponsel dari ibu dan mulai mengobrol dengan kedua putri kembar.


Rosy dan Jasmine mengoceh terus menerus membicarakan bunda mereka yang tengah hamil tanpa menyolek sedikitpun kabar tante mereka yang juga tengah hamil. Apa ibu belum memberitahukannya kepada mereka?


Setelah beberapa saat telfonpun berakhir.


"Loh, dimana Talita?" Ibu baru menyadari.


"Apa kak Davin dan keluarga kecilnya sudah mengetahuinya, Bu?"


"Ya Allah, Ibu lupa tadi belum sempat mengatakannya, Ibu terlalu asik ngobrol dengan Rosy dan Jasmine." Ibu merasa menyesal.


"Itulah kenapa Talita pergi." Andika dengan tegas memperjelasnya.


"Mana mungkin-."


"Ibu pilih kasih, sedari dulu Ibu hanya melihat kak Mellisa tanpa memperdulikan perasaan Talita, Ibu ada di sini tapi hati Ibu selalu merindukan kak Mellisa, apakah Ibu pernah memikirkan perasaan Talita?" Andika kemudian berlalu.


Ibu merasa linglung sejenak, apakah dirinya pilih kasih terhadap kedua putrinya, benarkah dia hanya melihat Mellisa tanpa memperdulikan Talita.


Ibu tidak pernah semenyesal ini, dia memikirkan yang barusan Andika katakan.


Tidak pernah terlihat jika Talita nampak kecewa ataupun cemburu ketika ibu selalu membicarakan kakaknya, dia pikir karena Talita adiknya, Talita juga mendukung sang kakak.


Setelah merenung beberapa saat, ibu mencari keberadaan Talita.


Di teras depan.


Talita melamun sendiri melihat ke arah jalan, ibu yang melihat bermaksud menghampirinya.


Baru beberapa langkah, langkah ibu terhenti oleh panggilan menantunya.


"Ibu," panggil Andika membuat ibu menoleh.


"Ibu harus bicara dengan Talita."


"Tunggu saja sebentar, Bu."


Sebenarnya ibu tidak sabar ingin menghibur putri bungsunya, namun Andika tidak memperbolehkannya.


"Apakah Ibu terlalu pilih kasih?"


"Ibu hanya tidak menyadari betapa sedihnya Talita ketika Ibu asik bercanda ria dengan Rosy dan Jasmine."


"Ibu... tapi Talita juga akan segera punya anak, ibu juga akan sayang padanya."


"Ibu bahkan lupa tidak memberitahu kak Mellisa tentang itu."

__ADS_1


Ibu menunduk tersadar bahwa dirinya memang lupa ataukah karena dia hanya melihat Mellisa, sehingga tak menyadari hal yang lain.


***


__ADS_2