Mellisa Untuk Davin

Mellisa Untuk Davin
Bab 64 Outbond


__ADS_3

"Sudah tidak sabar menunggu besok," ucap Jasmine sambil melepas sepatu.


"Kalian baru saja pulang langsung membahas besok." Sang bunda menimbrung.


"Iya, Bunda. Kami dengar outbond itu menyenangkan, kita langsung berbaur dengan alam, kan bosan juga belajar di dalam ruang kelas," ucap Rosy juga bersemangat.


"Iya, putri-putri Bunda sudah tidak sabar ya."


"Iya, Bunda. Ingin cepat-cepat besok."


Mellisa tersenyum senang melihat kedua putri kembarnya yang bersemangat.


"Kalian ganti baju dulu lalu makan." Mellisa berlalu menuju dapur.


Mellisa melihat isi meja makan yang telah siap dengan sajian yang sudah dimasaknya.


Ponsel Mellisa kemudian bergetar menandakan ada pesan masuk dan itu pesan dari sang suami.


"Apakah istriku sudah makan?"


"Ini mau makan bareng kakak kembar. Ayah makan juga ya? Pulangnya jangan malam-malam, dedek dalam perut sudah merindukan Ayah."


"Iya, Bunda."


Mellisa mematikan layar ponsel karena kedua putrinya sudah datang.


"Ayo sayang kita makan."


"Iya, Bunda."


***


Siang berganti malam.


Davin pulang awal karena permintaan sang istri.


Sesampainya di rumah, Davin disambut semangat oleh kedua putrinya.


"Ayah, kenapa Ayah baru pulang? Katanya mau menemani kami outbond besok."


"Kan besok ya, ini masih sore."


Hihi. Rosy dan Jasmine terkekeh sendiri saking tidak sabarnya mereka untuk acara besok.


Mellisa menghampiri mereka dan mempersilahkan suami dan kedua putrinya makan malam.


Suasana moody yang menyenangkan sedang melekat di keluarga kecil ini.


Setelah selesai makan, mereka bersantai di ruang tengah menunggu malam.


"Apa kalian sudah mempersiapkan yang akan dibawa besok?" tanya sang ayah.


"Sudah dari tadi siang." Keduanya terkekeh.


"Ya sudah kalian tidur," suruh ayah mereka.


"Baik, Ayah."


Rosy dan Jasmine bergegas ke kamar mereka namun sebelumnya berpamitan dengan calon dedek mereka.


"Dedek juga tidur ya, besok kan dedek ikut kakak main." Keduanya mencium perut sang bunda.


Davin dan Mellisa terkekeh juga melihatnya.


Setelah kedua putri mereka ke kamar mereka, mereka berganti bersantai di kamar juga.


"Apakah Bunda juga tidak sabar?" Davin menarik Mellisa ke dekapannya.


"Tidak juga, Bunda tidak terlalu suka dengan outbond."


"Bukan itu."


"Lalu apa?"

__ADS_1


"Tadi siapa yang merindukan Ayah."


Mellisa teringat pesannya di WA tadi siang, ah suaminya menggodanya.


"Dedek." Mellisa mengelus perutnya.


"Sini dedeknya Ayah cium."


Davin langsung mencium perut Mellisa yang masih datar, sekalian menjamah sekitarnya, hihi.


"Jangan kemana-mana Ayah!" kesal Mellisa.


"Ayolah, Bunda. Buat Ayah semangat."


Davin melirik sang istri dengan mengerdipkan sebelah matanya.


Mellisa tak bisa menolak, lagipula suaminya selalu memperlakukannya dengan lembut.


"Iyah." Mellisa tersenyum malu-malu.


Karena sudah setuju, Davin langsung beraksi karena memang semenjak pesan WA istrinya tadi siang, dia sudah menegang tak tertahan menunggu hingga malam.


Hm, puber kedua. Hihi.


***


Keesokan harinya.


Davin bersama istri dan anaknya meluncur ke sekolahan.


Sesampainya di sekolah, ternyata ramai semuanya sudah berkumpul sejak pagi.


"Semangatnya mereka," ucap Mellisa sambil melihat sekeliling.


"Ayah juga semangat, terimakasih, Bunda."


"Sama-sama Ayah. Eh terimakasih untuk apa?"


Mellisa langsung mencubit lengan suaminya.


"Auw sakit, Bunda."


"Rasain."


Davin terkekeh, tersenyum puas dan gemas melihat sang istri yang semakin lama semakin imut saja, kalau ini di rumah, dia sudah menerkam istrinya lagi.


Panitia tengah mengumumkan keberangkatan sebentar lagi, semuanya bersiap masuk dalam bus.


Davin dan Mellisa bersama kedua putrinya sudah siap di dalam bus, mereka tengah mengobrol sambil menuju busnya jalan.


Obrolan tiba-tiba terhenti ketika Hilmi tertawa riang bersama seseorang melewati mereka dan duduk agak jauh di belakang mereka.


"Pagi Rosy, Jasmine," sapa Hilmi.


"Pagi Pak Hilmi," sahut keduanya bersamaan.


'Yang barusan bukannya Sonya,' batin Mellisa.


"Bunda," panggil Davin mengagetkan Mellisa.


"Iya, Ayah." Mellisa terbuyar dari lamunannya.


"Itu-."


"Iya, kemarin juga Hilmi juga ada di kantor, mungkin sekarang mereka adalah pasangan, Bunda memikirkannya." Davin nampak tidak senang.


"Oh, tidak."


Melihat perubahan espresi wajah sang suami, Mellisa buru-buru mengalihkan pembicaraan.


Akhirnya bus jalan juga, sepanjang perjalanan semua bersorak gembira tak terkecuali Rosy dan Jasmine.


Sesampainya di tempat outbond.

__ADS_1


Tim pemandu sudah siap menyambut rupanya, Hilmi selaku ketua panitia mengatur kelompok tim yang akan dipandu.


Dengan sengaja Hilmi menempatkan dirinya dalam tim Rosy dan Jasmine, Davin sebenarnya ingin protes namun bingung harus beralasan apa, akhirnya hanya menurut saja.


Permainan dimulai, Davin menyuruh istrinya menepi, dia sendiri yang akan menemani kedua putrinya menyelesaikan semua misi selama outbond.


Mellisa hanya melihat saja, betapa serunya jika dia ikut bermain, walau dia sendiri yang mengatakan tidak begitu suka outbond.


Mellisa senyum-senyum sendiri melihat kedua putrinya bersama ayahnya yang nampak happy.


Karena dirasa masih lama, Mellisa mencari tempat duduk untuk istirahat.


Ada kursi di tepi arena permainan yang agak jauh, Mellisa berjalan ke sana dan bermaksud duduk.


Tiba-tiba Sonya datang bersama Hilmi dan lebih dulu mengambil alih tempat.


"Duduk Dek, kamu pasti lelah," ucap Hilmi tersenyum.


"Iya, Mas. Sana kamu mendampingi muridmu lagi." Sonya hendak mengelap keringat di dahinya, namun segera Hilmi menyekanya.


Mellisa melihat pemandangan di depan matanya dengan bingung.


"Eh, Bu Mellisa. Apakah anda akan duduk? Saya titip Sonya ya, temani dia, ajak ngobrol." Hilmi segera berlalu.


Karena memang Mellisa ingin duduk, akhirnya Mellisa duduk juga di sebelah Sonya, sebenarnya dia tidak ingin berurusan dengan perempuan di sebelahnya ini, namun Mellisa sudah terlanjur duduk bersama.


"Kamu apa kabar?" tanya Sonya basa-basi.


"Baik," jawab Mellisa tersenyum.


"Kamu tidak balik tanya?"


"Apa?"


Jangankan bertanya, duduk bersebelahan saja sebenarnya Mellisa tidak mau.


Sonya mengajak Mellisa mengobrol sedikit demi sedikit, walau awalnya Mellisa hanya menjawab datar dan seperlunya namun pada akhirnya Sonya berhasil membuat obrolan semakin menyenangkan.


Sonya lulusan sarjana yang terbiasa menggugah suasana canggung dalam pertemuan, yah itu skill khusus yang tidak dimiliki Mellisa yang hanya lulusan SMA.


Mellisa mulai merasa bahwa Sonya cukup menyenangkan.


"Mulai sekarang kita berteman," ucap Sonya dengan senyuman manisnya yang dibuat-buat.


"Iya." Mellisa menyambutnya dengan hangat.


Setelah beberapa jam, permainan outbond selesai.


Semua berkumpul di satu titik untuk istirahat dan menikmati bersantai.


Davin sempat terkejut istrinya bersebelahan dengan Sonya.


"Bunda! Lelah sekali," ucap Rosy langsung menubruk ke pangkuan sang bunda.


"Awas itu kena dedek," ucap Jasmine kesal, kakaknya itu masih saja manja dengan sang bunda.


Mellisa tersenyum melihat keduanya.


"Sini Rosy, Jasmine, deket Bunda, coba cerita sedikit, bagaimana permainan yang barusan?"


Jasmine dengan semangat langsung mendekat ke arah bundanya.


"Awas itu kena dedek," ucap Rosy membalas sang adik sambil terkekeh.


"Apa."


"Hm padahal ingin dibelai juga sama bunda, iri bos, hahaha."


"Ih."


Jasmine kesal juga namun senang karena memang jika di dekat bundanya, dia merasakan kenyamanan yang tidak bisa dijelaskan, pantas saja Rosy selalu menempel pada bunda.


***

__ADS_1


__ADS_2