Mellisa Untuk Davin

Mellisa Untuk Davin
Bab 9 Gelisah


__ADS_3

Pagi-pagi sekali Mellisa sudah bangun, dia melihat Davin di sampingnya.


'Aku tidur bersamanya,' batinnya.


Mellisa tersenyum.


Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu, diiringi suara salam.


"Assalamu'alaikum."


Mellisa segera membukanya dan kaget melihat ibu dan Talita datang.


"Wa'alaikum salam."


"Mell."


"Kakak."


Ibu dan adiknya memanggilnya bersamaan, Mellisa langsung memeluk sang ibu karena memang sudah lama merindukannya.


"Kakak, aku juga ingin dipeluk," rengek Talita membentangkan tangannya.


Mellisa melepas pelukan ibunya dan bergantian memeluk sang adik.


"Kalian tidak menelfon dulu," ucap Mellisa lalu mempersilahkan ibu dan adiknya masuk.


"Ingin kasih kejutan," ucap Talita sambil membawa tas berisi beberapa pakaian dan juga oleh-oleh dari kampung.


"Jadi merepotkan Ibu dan kamu Talita." Mellisa membantu membawakan tas.


"Ibu ingin berbaring sebentar, Ibu agak lelah, dimana kamar tamunya Mell?" tanya ibu membuat Mellisa gugup.


"Ibu, Ibu istirahat di sofa saja dulu, kamar tamunya berantakan biar aku rapihkan dulu," terang Mellisa menunda-nunda ibunya agar tak masuk ke kamar tamu.


Mellisa belum sempat memindahkan barang-barangnya dari kamar tamu ke kamar suaminya. Dia takut ibunya akan berfikir macam-macam jika mengetahuinya.


Semalam Mellisa langsung tidur di kamar suaminya dan tak menyangka ibu dan adiknya akan datang.


"Tak apa-apa Mell, biar Talita yang membereskan," ucap ibu tak sabar ingin istirahat karena lelah.


"Iya Kak biar aku yang beres-beres," sahut Talita.


Ibu dan Talita terus berjalan menuju sebuah kamar.


Mellisa semakin gugup melihat ibu dan adiknya berhenti di depan pintu kamar tamu.


"Ini kamarmu atau kamar tamu?" tanya ibu.


Cekrek!


Davin membuka pintu. Dilihatnya istrinya bersama ibu dan Talita.


***


Davin masih berbaring di tempat tidur, matanya masih tertutup namun tangannya meraba kemana-mana mencari keberadaan istrinya.


"Kemana sih Mellisa," ucapnya membuka mata.


Masih terlalu petang, Mellisa sudah bangun saja, mungkin dia di dapur, pikirnya.


Davin berniat menyusul istrinya, baru semalam dipeluknya tapi sudah rindu saja.


Cekrek!


Davin membuka pintu. Dilihatnya istrinya bersama ibu dan Talita.

__ADS_1


"Oh itu Davin," ucap ibu melihat sang menantu yang baru bangun.


Davin nampak kaget.


"Davin," panggil ibu.


"Iya, Bu," sahut Davin mendekat ke arah ibu mertuanya.


Davin mencium tangan sang ibu mertua.


"Maaf Ibu tidak mengabari kalian dulu, tapi izinkan Ibu istirahat sebentar saja, ayo Talita bawa tas kita ke dalam kamar."


"Ibu," panggil Mellisa dan Davin bersamaan.


"Kalian ini kompak sekali, ada apa?" tanya ibu sambil membuka pintu kamar.


"Ibu istirahat di kamarku saja, nanti setelah aku membereskan kamar ini, baru Ibu pindah ke sini."


"Kamu ini kenapa? memangnya Ibu tidak bisa beberes lagipula ada adikmu yang membantu Ibu, ayo Talita." Ibu mengajak Talita masuk kamar.


Talita mengangguk.


Ibu dan Talita telah masuk ke kamar tamu dan istirahat. Mereka belum membereskan barang-barang karena ingin rebahan beberapa saat.


Sementara di luar pintu nampak Mellisa dan Davin gelisah, keduanya bersiap menghadapi bersama tentunya.


***


Davin tengah sibuk menyelesaikan tugasnya di ruangan kerjanya sambil menunggu Mellisa datang mengantarkan makan siang yang tadi pagi Davin minta.


Sementara Mellisa yang telah siap segera mengantarkan makanan ke kantor tempat suaminya bekerja.


"Coba saja dulu kamu menyatakan perasaanmu pada Davin, sekarang sudah terlambat Davin sudah menikah."


Mellisa memperhatikan salah satu dari dua wanita itu adalah seseoranh yang ada di ruangan kerja suaminya waktu itu.


"Itu istrinya Davin," ucap Jeny menunjuk Mellisa pada temannya.


"Cantik ya? tapi kampungan."


"St... ." Jeny mengisyaratkan pada temannya untuk diam karena Mellisa belum terlalu jauh barangkali Mellisa mendengar.


Mellisa langsung membuka pintu ruangan suaminya tanpa mengetuknya.


"Assalamu'alaikum, Mas," salam Mellisa. Dia nampak cemberut.


"Wa'alaikum salam," jawab Davin.


Mellisa masih berdiri dengan wajah cemberutnya.


"Kenapa? apa Ibu sudah tahu bahwa kita tak sekamar?"


Mellisa menggeleng.


"Trus kenapa?"


"Sudah berapa lama kamu berteman sama perempuan itu, Mas?"


"Maksudnya Jeny?" tanya Davin mendekati istrinya.


Davin memeluk Mellisa dari belakang, keduanya merasakan kenyamanan.


"Kamu belum jawab pertanyaanku, Mas," kesal Mellisa tersadar dari buaian suaminya.


"Apa itu penting?" tanya Davin sambil mencium pundak sang istri.

__ADS_1


Mellisa memejamkan mata, merasakan sensasi nyaman yang diberikan oleh Davin.


Davin membalikkan badan Mellisa, kini mereka saling berhadapan. Davin mencoba mencium bibir Mellisa, namun Mellisa kembali tersadar.


Mellisa mendorong tubuh suaminya.


"Tadi tak sengaja aku mendengar dua orang perempuan menyebut namamu, si Jeny itu ternyata menyukaimu Mas, dan temannya itu mengatakan kalau aku kampungan," ucap Mellisa kesal.


"Benar tidak?" tanya Davin menarik tubuh istrinya lagi ke pelukannya.


Mellisa menolak dan mencubit lengan suaminya


"Kamu menolakku lagi," ucap Davin marah dan kembali duduk di kursi. Dia melanjutkan pekerjaannya dan mengabaikan Mellisa.


'Aduh, kenapa sih aku ini,' batin Mellisa.


Mellisa mendekati Davin dan meminta maaf, dia mengambilkan makanan untuk Davin dan menyuapinya.


Davin masih dalam posisinya, ucapan maaf dan rayuan Mellisa hanya Davin jawab dengan anggukan saja.


"Sudah selesai, aku pulang," pamit Mellisa kesal.


Davin menarik lengan Mellisa, membuat Mellisa jatuh ke pangkuannya.


"Temani aku sampai sore," pinta Davin.


"Jangan membicarakan yang lain saat kita berdua," ucapnya lagi.


Mellisa mengangguk, walau sebenarnya sangat penasaran sejauh mana hubungan pertemanan Jeny dengan suaminya.


Posisi mereka masih seperti itu, sambil bekerja sesekali Davin mencium pipi sang istri membuat Mellisa nampak malu-malu.


"Mas," panggil Mellisa.


"Hm," sahut Davin masih fokus dengan laptopnya.


"Ibu marah tidak ya ketika tahu barang-barangku ada di kamar tamu."


Davin menghentikan tugasnya, dia baru teringat bahwa mertua dan adik iparnya ada di apartemennya.


Keduanya saling memandang dan nampak gelisah.


"Kita akan menghadapinya bersama, kita jujur saja apa yang sebenarnya terjadi, ibu pasti mengerti, bukankah kita semalam sudah tidur sekamar." Davin mengusap lembut kepala sang istri.


Mellisa tersenyum mendengar penuturan suaminya, ditatapnya sang suami dengan seksama, Mellisa memberanikan diri mencium suaminya.


Davin yang mendapat serangan mendadak dari istrinya, dia langsung menutup laptopnya.


Dibalasnya ciuman Mellisa penuh nafsu. Tangan Mellisa melingkar di leher Davin, Davin pun memeluk Mellisa dengan erat.


Keduanya mengakhiri ciuman panas mereka setelah sama-sama puas.


"Kita lanjutkan nanti, aku akan menyelesaikan pekerjaanku dulu," ucap Davin mencium bibir Mellisa dengan cepat.


"Boleh aku tiduran di sofa?" tanya Mellisa sambil mengelus pipi suaminya.


Davin mengangguk.


Mellisa bangun menuju ke sofa dekat meja kerja Davin.


Davin memandangi istrinya dengan tersenyum.


"Tidurlah, nanti aku bangunkan."


Mellisa mengangguk.

__ADS_1


***


__ADS_2