Mellisa Untuk Davin

Mellisa Untuk Davin
Bab 71 Resah


__ADS_3

Petang menjelang Malam.


"Bunda," panggil Davin menghampiri sang istri di dapur.


"Iya, Yah," sahut Mellisa.


"Apakah kita pulang ke rumah malam ini?" tanya Davin sambil menciumi aroma badannya sendiri.


"Aku ingin menginap, boleh kan?"


Davin sudah menebak, tentu saja Mellisa tidak akan tenang jika meninggalkan sang ibu yang masih lemah karena sakit.


"Iya, boleh."


Mellisa tersenyum lalu merasakan aroma tubuh sang suami.


"Ayah bau," ucap Mellisa menutup hidungnya.


"Ayah belum mandi, tadi Bunda langsung ngajak Ayah keluar sebelum Ayah masuk rumah."


Mellisa terkekeh.


"Sana mandi, pinjam pakaian adik sepupumu."


"Terpaksa deh."


Mellisa terkekeh kembali.


Davin segera mandi dan kembali lagi menemui sang istri yang tengah bersiap menghidangkan makan malam.


"Hm, harum sekali," puji Davin menghirup aroma makanan sajian istrinya.


"Ayo, Ayah kita makan malam dulu, Ayah bisa tolong panggilkan mereka semua."


"Bisa. Siap, Bunda."


Setelah semua berkumpul di ruang makan, mereka mulai menikmati makanan dengan senang, bagaimanapun ini moment langka buat mereka berkumpul dan makan bersama.


"Ibu tidak ikut?" tanya Mellisa ketika melihat semuanya kecuali ibu.


"Ibu tadi mengatakan badannya lemas dan meminta agar kita mengantarkan ke kamar."


"Oh. Kalau begitu aku akan mengantarkan ke kamar ibu sekarang." Mellisa segera menyiapkan.


"Bunda bahkan belum makan." Davin bergumam sambil mengunyah makanan yang mulai tak membuatnya bernafsu.


Sementara Talita masih menyelasaikan makannya sambil berpikir, kakaknya memang tiada banding, pantas saja jika ibu selalu memperhatikan kakaknya dibanding dirinya.


'Aku mulai banyak berfikir lagi,' batin Talita.


***


Malam berganti siang, tentu saja semua orang kembali dengan kesibukan mereka kala siang hari.


Sebelumnya Mellisa sudah menyiapkan seragam sekolah untuk kedua putrinya juga pakaian kantor sang suami.


"Kenapa Bunda tidak bilang bawa pakaian? Kan semalam tidak perlu pinjam Andika," ucap Davin cukup kesal.


"Hanya satu Ayah, untuk Ayah berangkat kerja. Sudah, tidak usah protes sana berangkat, Rosy dan Jasmine sudah menunggu."


"Baiklah."


Davin mengantarkan kedua putrinya terlebih dahulu sebelum ke kantornya.


Di perusahaan.


Davin merasa tidak enak badan, semalam tidurnya tidak berkualitas menurutnya.

__ADS_1


Sesekali Davin menguap, rasanya agak berat matanya menatap laptop, semakin lama semakin mengantuk rasanya hingga akhirnya dia tertidur berbantal meja.


Tiba-tiba suara ketukan pintu mengagetkan Davin.


Tok!


Tok!


Tok!


"Assalamu'alaikum, Pak Davin," salam seseorang memasuki ruangan kerja Davin.


"Wa'alaikum salam," sahut Davin sambil mengucak matanya.


"Anda dipanggil nona Sonya ke ruangannya," ucap orang itu berlalu.


Orang itu adalah salah satu asisten Sonya, kenapa Sonya memanggil Davin?


Segera Davin ke ruangan Sonya.


"Ada yang bisa dibantu, Nona?" tanya Davin to the point.


"Tidak perlu formal begitu."


Davin mamaksakan senyum.


"Apa ada sesuatu yang harus saya kerjakan, Nona?" tanya Davin lagi.


"Kenapa terburu-buru, duduklah ayo minum kopinya." Sonya menunjuk kursi untuk Davin duduk, di sebelahnya sudah tersaji kopi yang masih panas.


Davin mengambil posisi duduk, dia hanya melihat kopi itu sejenak.


"Kamu sudah sangat tahu jika aku dan Hilmi akan bertunangan."


"Hm."


"Bagaimana jika Hilmi mengetahui jika kita pernah tidur bersama, aku takut-."


Davin segera meninggalkan ruangan Sonya tanpa Sonya mengiyakan.


Sonya hanya tersenyum penuh fantasy, bagaimana jika benar-benar dirinya dapat memiliki Davin.


Sonya begitu senang melihat Davin barusan yang nampak panik.


Benar saja, sesampainya Davin di ruangannya, dia tak bisa fokus kembali di depan laptopnya.


Sial, Davin memikirkannya, dia sangat yakin jika Sonya akan melakukan sesuatu suatu hari nanti, tapi bukankah Sonya akan bertunangan dengan Hilmi, entahlah Davin sendiri tidak terlalu yakin jika aman-aman saja kedepannya.


***


"Baru semalam ditinggal rumah sudah berdebu seperti ini," ucap Mellisa sambil bersih-bersih.


Mellisa sesekali menghentikan beberesnya dan memikirkan ibu. Ingin rasanya dia membawa ibu kembali ke rumahnya.


"Aku tidak boleh egois, Talita juga menyayangi ibu."


Setelah selesai beberes, Mellisa memasak seperti biasa. Sampai waktu hampir siang, saatnya dia menjemput Rosy dan Jasmine dari sekolah.


Mellisa menunggu kedua putrinya keluar dari gerbang sekolahan, yang ditunggu belum juga muncul, sampai akhirnya Hilmi yang baru saja keluar dari pintu gerbang menghampiri Mellisa.


Mereka berpapasan pandang tanpa menyapa, setelah beberapa saat Mellisa memberanikan diri menyapa lebih dulu.


"Pak Hilmi sudah mau pulang?" tanya Mellisa basa-basi.


"Iya," jawab Hilmi datar, namun menatap Mellisa mendalam.


Mellisa yang ditatap hanya menunduk.

__ADS_1


'Kenapa Rosy dan Jasmine lama sekali?' batin Mellisa.


"Mell," panggil Hilmi membuat Mellisa harus mengangkat kepalanya.


"Iya."


"Apakah kita tidak bisa berteman?"


"Aku-."


"Bunda!" teriak kedua putri kembar datang.


Mellisa mengalihkan perhatiannya pada kedua putri kembarnya.


"Pak Hilmi," sapa keduanya.


"Kalian sudah selesai?" tanya sang guru.


"Sudah, Pak Hilmi. Oh iya katanya Pak Hilmi mau mentraktir kami makan siang," ucap Rosy mengingatkan.


Mellisa menoleh Hilmi sejenak lalu melihat Rosy dan Jasmine yang nampak senang.


'Apa ini?' batin Mellisa.


"Apakah Bunda kalian mengizinkan?" tanya Hilmi melirik Mellisa.


"Kalian izin ayah dulu," ucap Mellisa lalu mengambil ponsel dan menelfon suaminya.


"Assalamu'alaikum, Ayah," salam Mellisa setelah telfon tersambung.


"Wa'alaikum salam, Bunda," sahut Davin senang sang istri menelfon, dia agak badmood karena ucapan Sonya.


"Ayah," panggil Rosy dan Jasmine.


"Iya sayang," sahut Davin semakin senang.


"Ayah kami mau meminta izin untuk makan siang bersama Pak Hilmi," pinta Rosy lembut.


"Bagaimana Ayah?" tanya Jasmine memastikan.


Duar! Apa yang akan Davin lakukan? Dia akan menjawab apa? Jika tidak mengizinkan, kedua putrinya pasti akan ngambek lagi.


"Iya sayang kalian boleh makan siang bersama guru kalian itu, tapi langsung pulang ya, jangan kelayapan."


"Yeah! terimakasih, Ayah. Wassalamu'alaikum."


"Wa'alaikum salam."


Telfon berakhir, Mellisa memasukkan ponselnya ke dalam tas.


"Ayo," ajak Hilmi.


Sesampainya di sebuah tempat makan.


"Kalian makan yang banyak sepuas kalian," ucap Hilmi.


"Benar, Pak Hilmi?" tanya Jasmine memastikan.


"Iyain ajah, ayo kita makan banyak." Rosy terkekeh, tanpa dia sadari sang bunda tengah menatapnya.


Rosy dan Jasmine rupanya memang sengaja mengabaikan sang bunda, mereka telah menunggu saat-saat ini untuk makan bersama guru mereka.


Sementara Davin di kantor, resah dan gelisah dia rasakan seharian ini.


Bagaimana mungkin tidak memikirkannya, Sonya jelas telah menjebaknya berkali-kali, Hilmi pun mulai mendekati istri dan anaknya.


Davin dibuat tak karuan oleh kedua orang ini, sebenarnya tidak mau banyak berfikir namun memang terfikirkan, harus bagaimana ini?

__ADS_1


"Aku harus meluruskan semuanya, aku tidak akan membiarkan rumah tanggaku hancur, tidak akan," tekad Davin kuat.


***


__ADS_2