Mellisa Untuk Davin

Mellisa Untuk Davin
Bab 63 Persiapan Outbond


__ADS_3

Pagi hari.


"Ayah, jangan lupa besok kita menemani Rosy dan Jasmine pergi outbond," ucap Mellisa mengingatkan.


"Tentu Bunda, oh ya lusa apa Bunda mau ikut party di hotel bersama Ayah."


"Bunda rasa tidak, itu kan malam-malam, kita selesai menemani Rosy dan Jasmine outbond juga, Bunda takut kelelahan."


"Baiklah."


"Ayah bisa minta tolong panggilkan mereka, sarapan sudah siap."


"Baik, Bunda." Davin hendak memanggil kedua putrinya namun sebelumnya dia mencuri cium pipi istrinya.


"Ayah!"


Davin terkekeh sambil terus melangkah menuju kamar kedua putrinya.


"Sayang, sedang apa kalian?" tanya Davin memasuki kamar.


"Ayah," kaget mereka.


"Kok kaget." Davin menghampiri keduanya.


Seisi kamar cukup berantakan, Davin melihat sekeliling, kedua putri kembarnya perempuan namun tidak ada nuansa anak perempuan.


"Apa kamar kalian setiap hari seperti ini?" tanya Davin menyelidik.


Rosy nampak nyengir sekaligus takut, entah-entah ayahnya akan marah. Sementara Jasmine membela diri dengan balik bertanya.


"Apakah Ayah, ayah kami? Kenapa baru melihat kamar kami?"


Davin tersentak, benar juga, dia sedikit menyesal telah bertanya.


"Kalian anak perempuan, segera bereskan kalian lalu kita sarapan, Ayah dan Bunda menunggu kalian di ruang makan."


Davin mengusap kepala mereka secara bergantian.


"Iya, Ayah."


Davin meninggalkan kamar putri-putrinya dan kembali ke ruang makan.


"Mereka sedang apa, Yah?" tanya Mellisa sambil menyiapkan sajian di atas meja.


"Beres-beres kamar, kamar mereka berantakan," jawab Davin sambil duduk menghadap makanan.


"Kalau mereka beberes sendiri, kerjaan Bunda ringan dong."


"Apa setiap hari Bunda yang membereskan kamar mereka?"


"Iya."


"Mulai sekarang, biarkan mereka bertanggungjawab atas kamar mereka sendiri."


Mellisa menatap suaminya sebentar dan menoleh ke arah kedua putrinya yang baru saja datang.


"Ayah, Bunda." Keduanya menyapa.


"Sini sayang, sarapan." Mellisa hendak menyiapkan makanan untuk keduanya.


"Rosy dan Jasmine bisa ambil makanan sendiri kan?" Davin melihat keduanya yang hanya duduk diam.


"Ayah ini kenapa? Bunda hanya menyiapkan makanan." Mellisa nampak cemberut.


"Bunda sudah memasak pasti lelah, biarkan mereka ambil makanan sendiri, lagipula mereka anak perempuan." Davin tersenyum.


"Tidak apa-apa, Bunda. Ayah benar, kami anak perempuan jadi kamar kami harus rapi dan bisa mengambil makanan sendiri," ucap Rosy menurut namun kesal juga dalam hati.


"Di rumah ini hanya Ayah lah yang dilayani, yang lainnya harus bisa apa-apa sendiri," kesal Jasmine.


Suasana pagi menjadi kurang mengenakkan, Mellisa memikirkan cara bagaimana membangun mood kedua putrinya.


"Sayang, kalian sudah siap untuk outbond besok?" tanya Mellisa mencoba, semoga menggugah semangat pagi mereka.


"Kami sangat siap, Bunda."


"Jasmine, aku tidak sabar menunggu besok."

__ADS_1


"Apalagi aku, sepulang sekolah nanti aku akan bersiap."


"Nanti bantu aku juga ya."


"Tentu saja, kakakku."


Alhamdulillah moody kembali, emang jago ya bunda mereka, hihi.


Selesai sarapan, kedua putri kembar bersiap ke sekolah dan diantar sang Ayah.


"Bunda di rumah baik-baik ya, kalau bosan Bunda boleh jalan-jalan sekitar sini saja, jangan jauh-jauh, nanti Bunda lelah." Davin mengusap kepala sang istri.


"Iya, Ayah." Mellisa mencium tangan sang suami.


Rosy dan Jasmine juga berpamitan dengan bunda mereka.


"Kalian hati-hati ya."


"Iya, Bunda."


***


Di Perusahaan.


Karyawan ramai berkerumun di depan meja personalia, Davin yang baru saja sampai juga nampak heran, apakah ada recruitment karyawan baru atau apa?


Banyak karyawan membicarakan entah apa.


"Wah tampannya dia."


"Apa dia pacar nona Sonya?"


"Benar-benar serasi ya?"


Davin menghampiri kerumunan, dilihatnya Sonya tengah berdua dengan seorang laki-laki membagi bingkisan.


"Pagi Davin," sapa Sonya.


"Pagi, Nona," sahut Davin.


"Terimakasih, Nona." Davin menerima bingkisan itu, dia melirik laki-laki di sebelah Sonya.


Laki-laki itu tersenyum dan memperkenalkan diri.


"Pagi Pak Davin, saya Hilmi."


"Tak perlu basa basi, saya sudah mengenal anda, saya permisi ke ruangan kerja saya." Davin berlalu.


Setelah selesai membagikan bingkisan pada para karyawan, Sonya mengajak Hilmi ke ruangannya.


"Davin sama sekali tak peduli denganmu," ucap Hilmi mengambil tempat duduk.


"Diam kamu," marah Sonya.


"Aku tidak yakin-". Hilmi hendak menyindir namun Sonya segera menyela.


"Kamu pikir kamu hebat, Mellisa saja menghindarimu, nomormu diblock, kasihan sekali," ejek Sonya.


Hilmi mengepalkan tangannya, dia melihat Sonya dengan marah.


"Kenapa? Mau pukul aku? Silahkan." Sonya menantang.


"Perempuan angkuh sepertimu, mana mungkin Davin tertarik," ucap Hilmi kesal.


"Davin akan tertarik, lihat saja nanti." Sonya penuh percaya diri.


Hilmi tak mau berdebat, dia menghiraukan Sonya, dia harus sibuk mengajar.


"Aku akan ke sekolah, ada jam mengajar." Hilmi berjalan keluar ruangan.


"Cek rekeningmu, sudah ku transfer," ucap Sonya.


"Terimakasih, Nona." Hilmi tersenyum manis yang dibuat-buat.


Sementara di luar ruangan Sonya, para karyawan sibuk bekerja sambil bergunjing.


"Pacar nona Sonya tampan sekali ya."

__ADS_1


"Sepertinya aku pernah melihatnya sebelum ini, dia memang tampan."


"Pasti saat party nanti, nona akan membawanya."


"Mungkin juga sekaligus pertunangan. Haha."


Bla bla bla tak henti-hentinya para karyawan menggunjing bos mereka.


Anton dan Jeny yang biasanya menjadi pusat perhatian, kini hanya memperhatikan rekan-rekan kerja yang lain.


"Kenapa? Kamu mau ikut-ikutan mereka membicarakan pacar nona Sonya yang tampan?" tanya Anton melihat sang istri duduk gelisah.


"Kamu lebih tampan, sayang." Jeny tersenyum yang dibuat-buat.


"Oh." Anton nampak datar.


Jeny mencubit lengan Anton agak keras.


"Apa sih."


Jeny cemberut dan memalingkan wajahnya ke arah yang lain.


Anton mencoba mencolek dagu sang istri, yang dicolek pura-pura marah.


"Ciye marah," ledek Anton.


Jeny tak menyahut dan tetap berpaling.


"Sayang."


Jeny pura-pura tak mendengar.


"Sayang."


Jeny tetap tak menyahut namun sempat tersenyum.


"Aku akan pindah ke ruangan pak Davin."


"Jangan." Jeny tiba-tiba manja dan menempel lengan suaminya.


Biasanya karyawan yang lain akan menegur namun karena mereka sibuk mengobrol dengan tema baru, Jeny dan Anton merasa bebas bermesraan.


***


Di sekolah.


"Selamat pagi anak-anak," sapa Hilmi memasuki ruang kelas.


"Selamat pagi juga Pak Hilmi," sahut semua siswa.


"Bagaimana persiapan outbond besok, semangat ya!"


"Pasti semangat, Pak."


"Baguslah, nah sekarang mulai pelajaran Tematiknya. Semuanya, buku tema 3 silahkan dibuka."


"Baik, Pak."


Proses belajar mengajar masih berlangsung, Hilmi mengajar dengan santai dan enjoy.


Semua siswa nampak bersemangat dan senang, tidak terkecuali Rosy dan Jasmine, apalagi keduanya dispesialkan oleh sang guru.


"Rosy, Jasmine."


"Iya, Pak Hilmi."


"Siapa yang akan mendampingi kalian besok?"


"Ayah dan bunda akan mendampingi kami."


"Oh. Bagus lah."


Hilmi berpikir, mungkin dia juga harus mengajak Sonya bersamanya di outbond nanti.


Bagaimana reaksi Mellisa ya jika Hilmi bersama Sonya, pikir Hilmi.


***

__ADS_1


__ADS_2