Mellisa Untuk Davin

Mellisa Untuk Davin
Bab 23 Memilihmu


__ADS_3

Talita nampak kerepotan membawa barang-barang belanjaan. Tiba-tiba salah satu wadah berisikan buah terlepas dari tangannya.


"Biar aku bantu." Andika memunguti buah satu persatu dan memasukkannya ke dalam wadah.


"Terimakasih." Talita hendak mengambilnya dari tangan Andika, namun Andika malah mengambil bawaan yang di sebelah tangan Talita.


"Biar aku bantu membawanya."


Talita hanya melihatnya saja, biarkan sajalah karena memang dirinya kerepotan membawa belanjaannya.


Mereka berjalan beriringan keluar dari supermarket.


"Aku antar kamu ke rumah ya?" Andika menawarkan diri.


"Tak perlu, aku naik angkot saja," tolak Talita.


Talita meminta barang belanjaannya dari Andika, namun Andika malah membawanya ka dalam mobilnya.


Talita melihatnya dengan kesal.


"Ayolah," ajak Andika membukakan pintu mobilnya untuk Talita.


Dengan ragu-ragu, akhirnya Talita naik ke mobil juga.


Andika nampak senang.


Talita menghadap ke jendela.


Andika mulai menyetir mobilnya.


"Ta," panggil Andika.


"Hm."


"Kenapa kamu menghindariku?" tanya Andika.


"Kenapa aku harus mendekati calon suami orang?" Talita tanya balik.


"Jadi karena itu." Andika menggenggam tangan Talita.


Talita menampik tangan Andika.


"Kenapa masih mendekatiku?" tanya Talita dengan kesal, dia masih menghadap ke jendela.


"Aku tidak mendekatimu," jawab Andika datar.


Talita menoleh Davin.


"Kamu menggangguku terus-menerus, chat, nelfon. Bahkan aku tak menggubrisnya kamu malah nelfon kak Davin. Apa itu namanya kalau tidak mendekatiku?"


"Jadi kamu merasa aku mendekatimu?" Andika tersenyum sambil memainkan matanya.


"Bukannya kamu suka," ucapnya lagi.


Talita semakin kesal dan kembali memalingkan wajahnya menghadap keluar jendela.


"Jangan mimpi, aku tak akan pernah menyukaimu." Talita cemberut.


"Yah, aku patah hati deh," ucap Andika menggoda.


Talita menjadi geram.


"Apa maksudmu?" tanyanya menoleh lagi ke Andika.


Andika mengambil tangan Tàlita dan menggenggamnya.


Talita berusaha melepaskan diri, namun Andika semakin erat menggenggamnya.


"Aku menyukaimu, aku mencintaimu Ta. Apa aku boleh memilihmu menjadi calon istriku?"


Mendengar itu, Talita sekuat tenaga melepaskan diri dari genggaman Andika.


"Lepas, tanganku sakit," ucapnya nampak nyengir.


"Ma'af." Andika melepaskan genggamannya.


Melihat Andika melepaskan tangannya, Talita langsung menampar Andika.


"Kamu pikir perempuan adalah mainan, kamu sudah punya calon istri tapi kamu mengungkapkan cinta padaku," marah Talita.


Andika menghentikan mobilnya tepat di depan rumah makan.


"Kenapa berhenti?" tanya Talita semakin marah.


"Aku lapar, ayo kita makan dulu," ajak Andika. Dia turun lalu membukakan pintu untuk Talita.

__ADS_1


"Ayo turun, kita makan," suruh Andika menarik tangan Talita.


Talita terpaksa turun dan menuruti Andika.


Keduanya duduk berhadapan, Andika memesan makanan untuknya dan Talita.


"Kamu sendiri saja, aku tidak lapar."


"Oh. Baiklah."


'Dasar. Mencari kesempatan,' batin Talita.


Andika menikmati makanannya, sementara Talita hanya melihatnya.


Tiba-tiba terdengar suara perut keroncongan dari arah Talita.


Andika melihat perempuan di hadapannya itu.


"Kamu lapar kan?" tanyanya hendak menyuapi.


Talita menolak.


'Aduh, malu-maluin banget sih,' batin Talita.


Andika menyelesaikan makannya dan pindah duduk di sebelah Talita.


"Kenapa pindah ke sini?" tanya Talita kesal, kesal dan kesal.


"Terlepas dari apakah aku punya calon istri atau tidak, aku ingin tahu, apakah kamu menyukaiku, Talita?" tanya Andika serius, dia menatap Talita dengan dekat.


Talita malah salah tingkah karena Andika terlalu dekat.


Talita menggeleng pelan. Dia memalingkan wajahnya.


Andika menunduk lesu.


"Aku tak bermaksud menyakitimu," ucapnya masih menatap Talita.


Talita mulai berkaca-kaca, tiba-tiba air matanya menetes.


"Kamu sudah menyakitiku, Dika," ucapnya menahan tangis.


Talita menoleh laki-laki di depannya itu.


"Aku tidak tahu sejak kapan aku menyukaimu, aku pikir kamu mendekatimu karena kita mempunyai perasaan yang sama."


Talita menampar Andika lagi, kali ini lebih keras.


Semua mata tertuju pada mereka. Mereka tak peduli dengan sekeling mereka, bahkan tak menyadari jika banyak yang melihat mereka.


"Apakah hatimu begitu sakit, sehingga kamu menamparku begitu keras." Andika memegang wajahnya yang terasa perih.


"Sangat sakit." Talita meneteskan air matanya lagi.


'Aku minta ma'af, Dika,' batinnya.


Andika langsung memeluk Talita dengan erat, Talita berusaha menolak namun Andika tak mau melepasnya.


"Ma'afkan aku, aku janji tak akan menyakitimu lagi."


"Apa kamu juga berjanji pada Jeny?"


Andika melepas pelukannya, ditatapnya perempuan di depannya itu.


"Aku sudah menolak perjodohan kami, Jeny sudah menerimanya. Aku memilihmu."


Talita kembali berkaca-kaca. Dia lalu memeluk Andika.


"Benarkah itu?"


Andika mengangguk senang.


Talita menarik tangannya kembali.


"Ma'afkan aku ya?" Andika mengusap air mata Talita.


"Ma'afkan aku juga, sakit ya?" tanya Talita memegang wajah Andika.


Tiba-tiba suara perut keroncongan terdengar lagi.


Mereka tertawa.


Andika memesan satu porsi makanan untuk Talita.


"Aku mencintaimu," ucap Andika menatap Talita.

__ADS_1


Talita menunduk malu.


"Kenapa tak menjawab?" Andika memegang dagu yang baru saja menjadi kekasihnya itu.


"Aku lapar," ucap Talita mengambil makanan yang baru saja tersaji.


Andika mengambilnya dan menyuapi Talita.


Talita tersenyum malu sambil menerima suapan Andika.


"Aku Malu, Dika. Dari tadi dilihat sama orang-orang," bisik Talita.


"Mereka punya urusan masing-masing, selesaikan makannya lalu kita pulang."


Talita mengangguk.


***


"Ayah," panggil Mellisa sambil menggendong bayinya.


"Iya, Bunda," sahut Davin menghampiri istrinya. Dilihatnya putri yang satunya tengah tertidur.


"Kenapa Talita belum pulang juga, coba Ayah telfon."


Davin mengambil ponselnya dan hendak menelfon.


Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu.


"Mungkin itu Talita pulang," ucap Davin menebak.


"Ya sudah, sana buka pintunya, Yah."


Davin ke depan untuk membuka pintu.


Davin membuka pintu dan kaget melihat Talita pulang bersama Andika.


"Hm, pantas bolos kerja ya," ledek Davin.


Talita melihat Andika, Andika nampak nyengir.


"Tak disuruh masuk nih," ucap Andika basa-basi karena malu.


"Ya sudah ayo masuk." Davin mempersilahkan keduanya masuk.


Andika membawakan barang belanjaannya ke dapur, ditemani Talita di belakangnya.


Mellisa melihat keduanya dengan sumringah.


"Kalian kok bisa pulang bersama," ledek Mellisa.


Talita menoleh kakaknya.


"Iya, Kak," sahut Talita agak malu.


"Kalian pasti pacaran dulu ya, makanya lama."


Andika dan Talita nampak malu.


Mellisa terkekeh melihat tingkah mereka.


"Mell, anakmu rewel. Sana kamu susuin dulu. Biar ibu yang masak," ucap ibu menghampiri.


"Baik, Bu."


Mellisa bergegas ke kamarnya, dilihatnya Davin tengah bermain bersama kedua putri mereka.


"Sepertinya Rosy dan Jasmine mau menyusu, Bun."


"Iya makanya Bunda kesini."


Sementara Mellisa menyusui Rosy, Davin menimang Jasmine.


Lagi-lagi Davin harus melihat bundanya si kembar yang sedang menyusui.


Davin nampak gelisah.


"Ayah Kenapa?" tanya Mellisa melihat suaminya itu tak tenang.


"Memangnya Bunda tidak tahu."


Mellisa tersenyum.


"Ayah keluar dulu sana."


"Nanti kalau Rosy sudah selesai, giliran Jasmine ya."

__ADS_1


"Iya."


***


__ADS_2