
Jeny keluar dari rumahnya, dia kaget mendapati Andika di depan rumahnya.
"Ayo naik," suruh Andika.
Jeny mengangguk, dengan senang hati dia membonceng motor Andika.
Jeny hendak memeluk pinggang Andika, namun Andika menampik tangan Jeny.
"Aku ingin bicara denganmu tapi nanti, ayo jalan saja tak perlu berpegangan, aku tak akan terlalu ngebut."
Jeny tersentak, apa maksudnya Andika memperlakukannya seperti ini.
Sepanjang perjalanan, keduanya hanya diam hingga sampai mereka di perusahaan.
"Ayo kita ke ruangan kak Davin," ajak Andika menarik tangan Jeny.
"Ada apa?" tanya Jeny tak mengerti. Ini masih pagi, apakah ada pekerjaannya yang salah, sehingga harus menghadap atasannya.
"Pagi Kak Davin, ma'af mengganggu." Andika dan Jeny telah masuk ke ruangan Davin.
Davin hanya mengangguk dan fokus pada laptopnya.
"Ada apa sebenarnya, Dika?" tanya Jeny ingin memastikan.
'Sepertinya aku tahu apa yang ingin Dika bicarakan,' batinnya.
"Sebelumnya aku minta ma'af Jen. Aku harap kamu bisa menerima sebelum kita terlalu jauh."
"Katakan saja."
"Aku tak dapat membohongi perasaanku, aku telah mencintai perempuan lain."
"Siapa perempuan itu?" tanya Jeny ingin memastikan.
"Kamu mengerti maksudku?" Andika malah balik tanya.
"Katakan saja apa yang ada dalam benakmu, aku siap."
Andika nampak lega.
Dengan masih ragu akhirnya Andika memberanikan diri mengungkapkan yang mengganjal hatinya.
"Nanti malam, mama mengundangmu dan ibumu makan malam. Inilah saat yang tepat untuk mengatakan pada mereka, aku mohon kerja samanya."
Jeny mengangguk.
"Kalau sudah, aku izin keluar, aku harus bekerja."
Jeny melihat Davin dan juga Andika secara bergantian.
'Kakak beradik sama saja,' batinnya.
Jeny berlalu meninggalkan ruangan.
"Kamu yakin Jeny sudah menerimanya?" tanya Davin melihat Andika.
"Aku sangat yakin, bukankah Jeny baru saja mengikhlaskan kamu Kak, bagaimana mungkin dia langsung menyukaiku."
Davin tiba-tiba merasa kasihan pada Jeny, tapi bagaimanapun juga jika memang tidak berjodoh tetap tidak akan dipersatukan.
***
"Jen," panggil Vina, temannya.
Jeny menoleh.
"Kenapa melamun? pekerjaanmu masih menumpuk belum kamu kerjakan sama sekali."
"Aku malas."
Vina memperhatikan temannya yang malah melanjutkan melamunnya dari pada menghadapnya yang sedang bicara.
"Ada apa Jen?" tanya Vina menepuk pundak Jeny.
"Bisa minta tolong bantu pekerjaanku," pinta Jeny memelas.
Vina melihatnya dengan rasa kasihan.
"Baiklah."
__ADS_1
"Kenapa kamu begitu baik padaku."
"Kenapa bertanya seperti itu, kita ini berteman."
Jeny nampak berkaca-kaca, ternyata Vina memang baik, Mellisa juga baik, dan Talita yang baru saja hadir di kota ini tentu saja dia baik, buktinya sudah dapat menarik hati Andika.
"Bagaimana denganku, aku sudah terlampau dewasa tapi belum ada yang mendekatiku."
"Kamu yang sabar, kamu tidak tahu bagaimana rencana Tuhan."
Jeny mengangguk dan tersenyum.
Vina senang melihat temannya telah banyak berubah, Jeny jadi lebih sabar menghadapi masalahnya kali ini.
***
Makan malam telah Dewi siapkan semaksimal mungkin.
Keluarga Andika dan keluarga Jeny tengah menikmati makanan yang sudah Dewi hidangkan.
"Masakanmu ini enak sekali, Bu Dewi," puji Atikah.
"Terimaksih, Bu Atikah."
Selesai makan malam, mereka membahas kelanjutan perjodohan anak mereka dan merencanakan pernikahan.
Lagi-lagi Andika dan Jeny tak bicara.
Keduanya gelisah, mereka bingung bagaimana mengatakannya pada orang tua mereka.
Dewi dan Atikah nampak semangat mengobrol.
Andika tak sabar, dia memberanikan diri mendekati mereka, ditariknya tangan Jeny bersamanya.
"Mama, kami mau bicara," ucap Andika gugup.
"Bicara saja, apa kalian sudah menentukan sendiri tanggal pernikahan kalian," sahut Dewi bersemangat.
"Kami menolak perjodohan ini Ma, ya kan Jen," ucap Andika melihat Jeny.
Jeny tak menoleh, dia juga tak menyahut apapun.
"Benarkah itu Jen?" tanya Atikah pada putrinya.
Jeny hanya mengangguk, matanya berkaca-kaca menahan tangis.
"Aku minta ma'af Bu, Tante, Om." Jeny bersimpuh.
Andika sangat kaget melihat Jeny melakukan itu.
"Apa yang kamu lakukan, ayo bangun," ucap Dewi membantu Jeny untuk berdiri.
"Ibu, apakah kita sudah selesai, ayo kita pulang," ajak Jeny pada ibunya.
Atikah mengiyakan dan permisi pulang bersama putrinya.
Sepeninggal Jeny dan ibunya, Andika kini di hadapan kedua orang tuanya.
"Apakah kalian benar-benar menolak perjodohan ini?" tanya mamanya kecewa.
"Aku sudah punya seseorang untuk dikenalkan pada Mama dan Papa," sahut Andika.
"Apa kami mengenalnya?"
"Tentu saja, dia perempuan yang baik."
"Apa Jeny kurang baik untukmu."
"Bukan begitu Ma, Pa. Hanya saja aku mencintai Talita."
Dewi dan suaminya nampak kaget.
"Bukankah dia adiknya Mellisa?"
"Iya Ma, Pa."
Kedua orang tuanya saling memandang.
"Sejak kapan kalian pacaran?"
__ADS_1
"Belum, aku belum mengungkapkan perasaanku."
Orang tuanya tak habis pikir, Andika lebih memilih Talita yang belum jelas menerimanya atau tidak.
Andika bahkan berani menolak dijodohkan setelah kemarin tak mengatakan apapun.
"Terserah kamu, namun jika Talita menolakmu apakah kamu masih mau menerima Jeny."
"Kurasa tidak, do'akan aku Ma, Pa aku akan memperjuangkan Talita." Andika begitu bersemangat.
"Sebenarnya Mama kecewa tapi karena kamu dan Jeny sudah bersepakat, Mama akan menerimanya."
***
"Kamu apa kabar?" tanya Andika lewat pesan WA.
Talita hanya membacanya saja.
Karena Talita tak juga membalas akhirnya Andika menelfonnya.
Talita hanya melihat ponselnya yang berdering beberapa kali.
"Talita, bisa bantu Kakak?" tanya Mellisa agak kerepotan.
"Kenapa Kak?" tanya Talita mendekat.
"Rosy dan Jasmine sudah Kakak susuin tapi mereka belum mau tidur, tolong jagain ya, perut Kakak mulas." Mellisa bergegas ke kamar kecil setelah mempercayakan kedua buah hatinya pada Talita.
Davin bekerja lembur, sedangkan ibu sudah terlelap di kamar.
Tak lama Davin pulang dari kantornya.
"Putri-putri Ayah kok belum tidur." Davin langsung menghampiri si kembar.
"Kemana kakakmu Ta?" tanya Davin.
"Katanya mulas, mungkin ke kamar kecil."
"Oh."
Ponsel Davin berdering, ada yang menelfon.
Davin melihat ponselnya dan mengangkatnya.
"Apa Kak Davin sudah pulang ke rumah?"
"Baru saja sampai."
"Apa Talita ada di situ?"
Talita menggeleng-gelengkan kepalanya dengan cepat.
"Iya, katanya dia ingin bicara denganmu."
Talita memelototi kakak iparnya.
Davin menyerahkan ponselnya pada Talita.
Talita mengambilnya lalu mematikan panggilan.
"Karena Kak Davin sudah pulang, aku akan ke kamar untuk istirahat," ucapnya kesal.
Davin terkekeh.
"Kenapa Ayah senyum-senyum sendiri," tanya Mellisa tiba-tiba muncul.
"Itu adikmu sedang cemberut."
"Kenapa emang?"
"Tadi Andika menelfon dan ingin bicara dengan Talita, dia tak mau lalu cemberut langsung masuk kamar."
"Apa itu lucu Yah, harusnya Ayah tahu Talita pasti tak mau lagi bicara dengan Andika."
"Bunda tenang saja."
Davin lalu menceritakan pada istrinya tentang Andika yang sudah memutuskan perjodohannya dengan Jeny. Kedua orang tua mereka bisa menerimanya.
***
__ADS_1