Mellisa Untuk Davin

Mellisa Untuk Davin
Bab 62 Rencana Kerja Sama


__ADS_3

"Ciye... Nempel mulu," ledek Vina melewati kedua pasutri yang selalu nampak romantis di kantor.


Yang diledek langsung cemberut malu, Jeny melepaskan diri dari dekapan Anton.


"Kenapa sih?" tanya Anton menarik Jeny lagi.


"Malu," jawab Jeny terpaksa menurut.


"Ekhem." Davin datang melewati mereka.


Anton dan Jeny terkejut dan reflek menjaga jarak, mereka pikir itu bos besar, ternyata bos kecil. Hihi.


Davin melewati dengan senyum mengejek.


"Lanjut sajalah," ucap Davin berlalu.


Sepeninggal Davin, Jeny mengamuk manja pada suaminya dan pura-pura ngambek.


"Mas Anton sendiri saja di sini, aku akan ke tempat Vina," ucap Jeny berlalu.


"Sayang, yah."


Anton tak habis pikir, kenapa Jeny harus malu, bukankah semua karyawan sudah tahu jika mereka suami istri. Huh.


Beberapa saat kemudian, karena Anton bosan, dia bergabung dengan bosnya.


"Assalamu'alaikum, Pak Davin," salam Anton.


"Wa'alaikum salam, Anton," sahut Davin.


Anton langsung duduk dan melanjutkan pekerjaannya.


Davin melihatnya sesekali dan tak tahan juga untuk tidak bertanya.


"Kenapa kamu di sini, tidak menemani istrimu?"


"Pak Davin sendiri juga kenapa tidak menemani istri Bapak?"


Davin memelototi Anton yang masih serius dengan laptopnya. Dia memperhatikan kekesalan di raut wajah asistennya itu.


"Ada apa denganmu?"


"Tidak apa."


Davin tidak mau bertanya lagi, percuma juga Anton sedang dalam suasana hati buruk mungkin.


Sampai di waktu istirahat siang, semua karyawan perusahaan berbondong-bondong ke kantin untuk makan siang.


Kali ini Anton dan Jeny makan siang berjauhan, biasanya mereka selalu bersama.


"Kalian seperti anak kecil saja," ucap Davin sambil melirik Anton di sebelahnya.


Anton mungkin mendengar, tapi dia mungkin tidak ngeh apa yang diucapkan Davin, dia sibuk melihat sang istri sambil melahap makanannya.


Davin jadi malas sendiri melihat mereka berdua, dia segera menyelesaikan makan siangnya dan kembali ke ruangan kerjanya.


Sementara dari kejauhan, Jeny juga sesekali melirik suami yang juga kadang berpapasan sedang meliriknya.


"Ada apa dengan kalian?" tanya Vina menggoda.


"Tidak apa-apa," jawab Jeny agak malu.


Vina tersenyum geli melihat temannya yang satu ini.


"Kenapa senyum-senyum seperti itu?" tanya Jeny melihat Vina.


"Lucu saja melihat kalian, pakai segala ngambek lah, tidak ada masalah apa-apa juga."


"Aku malu, Vin. Setiap hari semua karyawan melihat kami bermesraan."


"Ya tidak apa-apa dong, kalian kan suami istri, aku malah iri lihat kalian, coba suamiku juga kerja di sini, aku akan menempel terus padanya."

__ADS_1


Jeny tersenyum nyengir, bukankah itu memalukan, menempel terus katanya, huh.


***


Mellisa ditemani Talita menjemput Rosy dan Jasmine, mereka telah siap menunggu di depan gerbang sekolah.


Tak lama, yang ditunggu keluar juga dari pintu gerbang diiringi salah satu pengajar mereka, siapa lagi kalau bukan wali kelas mereka.


"Bunda, Tante." Keduanya menghampiri.


"Ayo, kita langsung pulang," ajak Mellisa.


"Bunda tidak menyapa pak Hilmi?" tanya Rosy polos.


Mellisa melihat Hilmi sebentar dan menyapanya sambil tersenyum.


"Siang, Pak Hilmi. Kami permisi pulang dulu."


"Siang juga, masa kecilku. Kalian hati-hati ya."


Mellisa sangat tidak nyaman panggilan dari Hilmi yang barusan, dia segera mengajak kedua putrinya untuk masuk ke dalam mobil taksi dan pulang.


Talita melihat kegelisahan kakaknya semenjak pertemuannya tadi dengan Hilmi, dia memberanikan diri untuk bertanya.


"Kak, apa yang Kakak pikirkan?"


"Tidak ada, Dek."


Hanya itu jawaban Mellisa, Talita yakin pasti kakaknya memikirkan yang barusan, terutama panggilan dari Hilmi.


***


Setelah beraktifitas seharian, Davin kembali bersama keluarga kecilnya di rumah, dia sengaja pulang lebih awal karena terlebih dulu menjemput istri dan anak-anaknya dari tempat Andika.


Malam hari.


Davin menyempatkan mengobrol dengan sang istri sebelum tidur.


"Bunda baik-baik saja, Ayah," jawab Mellisa tersenyum.


"Apa dia sempat mengganggu Bunda?"


Mellisa tak menjawab.


"Iya, Ayah tahu." Davin agak menjauh.


Mellisa langsung mendekap dan memeluk suaminya dengan erat.


"Ayah," panggil Mellisa manja.


"Hm."


"Jauh dari lubuk hati, Bunda hanya mencintai Ayah."


Davin senang mendengarnya namun dia menutupinya.


Mellisa menatap wajah sang suami yang tanpa espresi lalu merasa sedih sekaligus takut.


"Bunda ayo tidur," ajak Davin lalu memeluk sang istri.


"Ayah," panggil Mellisa.


"Tidur."


"Katakan sesuatu agar Bunda bisa tidur."


"Ayah sangat menyayangi kalian." Davin mencium kening Mellisa.


"Terimakasih, Ayah."


"Tidur."

__ADS_1


"Iya."


Mellisa merasa lega dan dapat terlelap dalam pelukan suaminya.


***


Kediaman Hilmi.


Hilmi berbaring di tempat tidur sambil bermain ponsel, dia mencari nomor Mellisa di kontaknya.


"Malam gadisku," ucapnya dalam chat.


Hanya centang satu, mungkinkah karena signalnya ataukah Mellisa mematikan ponselnya.


Hilmi mencoba menelfon, tentu saja, nomornya telah diblock.


Hilmi membanting ponselnya dengan kesal, terkadang dirinya menyesal telah kehilangan Mellisa, seandainya dia pulang kampung lebih cepat waktu, dia pasti sudah mendahului Davin.


Beberapa saat kemudian, terdengar suara ketukan pintu.


Hilmi beranjak dari tempat tidur menuju ke depan.


"Siapa?" tanya Hilmi ketika mendapati seseorang yang tidak dikenalnya di depan pintu.


"Boleh izin masuk," ucap orang itu.


"Tidak." Hilmi hendak menutup pintu namun orang itu mendorong pintu itu dan berhasil masuk.


"Silahkan anda tutup pintunya."


"Anda bertamu tidak sopan atau perlu saya lapor polisi."


Orang itu dengan santainya duduk di sofa ruang tamu, Hilmi melihatnya dengan bingung.


"Kasihan sekali, jejaka tua," ledek orang itu melirik foto di dinding, foto itu adalah masa kecil Hilmi bersama Mellisa.


"Dia sudah menikah ya?" tanya orang itu lagi menunjuk ke arah foto.


"Anda siapa!" marah Hilmi.


"Jika tidak ada urusan silahkan keluar!" ucap Hilmi lagi mengusir.


"Oke." Orang itu mengeluarkan kartu nama dan diletakkan di atas meja.


"Apa itu?"


"Mungkin anda membutuhkannya sua.tu saat nanti, permisi." Orang itu berlalu meninggalkan rumah Hilmi tanpa rasa bersalah.


Hilmi mengambil kartu nama itu yang tertera nama, "Sonya".


"Siapa dia? Kenapa aku harus membutuhkannya?"


Hilmi membuang kartu nama itu ke lantai dan kembali ke kamarnya, dia melirik sebentar foto kecilnya bersama Mellisa sambil teringat apa yang orang tadi katakan.


"Jejaka tua," ucapnya meledek diri sendiri.


Hilmi melihat kartu nama yang barusan dibuangnya, dia mengambilnya kembali.


"Mungkin benar, aku membutuhkannya tapi siapa Sonya ini? sepertinya aku tidak pernah mendengar namanya sebelum ini."


"Besok sajalah aku menghubunginya."


Hilmi mencoba untuk tidur namun dia tak dapat tidur karena dia penasaran juga dengan Sonya itu.


Setelah memperbaiki ponselnya yang rusak karena ulahnya sendiri, Hilmi menghubungi nomor Sonya.


Mereka mengobrol panjang lebar, semakin Sonya bicara semakin Hilmi penasaran, sepertinya dia tidak akan menolak kerja sama dengan Sonya untuk mendapatkan Mellisa.


Hilmi tersenyum licik setelah mengakhiri panggilannya dengan Sonya.


"Kamu akan menjadi milikku, Mellisaku sayang."

__ADS_1


***


__ADS_2