Mellisa Untuk Davin

Mellisa Untuk Davin
Bab 75 Keguguran


__ADS_3

"Sini, Bunda. Ayah sudah mengantuk," suruh Davin melihat sang istri sibuk beberes tiada habis padahal dia melihat seisi kamar sudah sangat rapi.


"Sebentar, Yah." Mellisa segera menyelesaikan aktifitasnya.


"Mama dan papa besok akan pulang kampung," ucap Davin.


Mellisa langsung menghampiri suaminya.


"Apa mama dan papa tidak bisa tinggal lebih lama?" tanya Mellisa cemberut.


"Kenapa sayang? Semua orang punya kesibukan masing-masing punya urusan sendiri-sendiri, termasuk mama dan papa. Kalau kita merindukan mereka kita bisa berkunjung sekaligus liburan, bukankah lebih menyenangkan?"


Mellisa mengangguk, bukan berarti dia setuju, dia mencoba memahami dan menghargai urusan mertuanya di kampung.


"Sudah sini tidur." Davin menarik tubuh istrinya ke dalam dekapannya. Mellisa hanya menurut.


Baru beberapa detik saja, Davin sudah terlelap. Sementara Mellisa berusaha memejamkan mata namun tetap saja tidak membuatnya terlelap.


Tiba-tiba saja Mellisa merasakan sesuatu yang tidak nyaman di perutnya. Dia menyingkirkan tangan sang suami yang tengah memeluknya.


Davin terlalu lelap, dia tidak menyadari sang istri tidak ada di sebelahnya.


Mellisa bergegas ke kamar mandi, dia berfikir mungkin dia hanya ingin buang hajat saja.


Beberapa saat kemudian, Mellisa keluar dari kamar mandi.


"Aneh. Aku tidak buang hajat tapi mulasku hilang sendiri." Mellisa merasa bingung juga, kehamilannya memasuki trimester kedua tapi mungkinkah barusan kontraksi palsu, setahunya kontraksi palsu bisa saja terjadi saat awal trimester ketiga.


Karena mengantuk, Mellisa kembali ke tempat tidur, dia melihat sekilas wajah suaminya sebelum akhirnya mencuri cium di bibir sang suami.


Tiada sangka Davin terbangun oleh hal itu, dia membuka matanya dan menerkam balik bibir sang istri.


Mellisa mendorong tubuh suaminya dan cemberut.


"Ayah."


"Hm. Bunda nakal."


Mellisa membalikkan posisi tubuhnya membelakangi sang suami.


"Kalau mau bilang saja, Bunda. Tak perlu malu," goda Davin menyolek bahu sang istri.


"Tidak. Bunda mau tidur."


Davin tersenyum kembali, istrinya ini sungguh menggemaskan, dia mendekat dan kembali memeluk Mellisa.


Mellisa tersenyum dan menikmati kenyamanan itu.


***


Keesokan harinya.


Dion dan Tiara berpamitan dengan anak menantu serta cucu mereka, mereka akan pulang kampung.


"Papa, Mama. Hati-hati di jalan, kalau sudah sampai di kampung langsung kabarin ya." Mellisa melepas pelukan dari mama mertua.


"Oma, Opa." Rosy dan Jasmine ikut memeluk.


Lambaian tangan saling bertautan, mereka juga saling melempar senyum.


Sepeninggal Opa dan Oma, Rosy dan Jasmine bersiap untuk sekolah.


"Ayo sayang, kita berangkat," ajak Mellisa pada kedua putrinya.


"Ayo, Bunda." Keduanya menurut.


Davin tiba-tiba berubah pikiran, rencananya memang hari ini dia akan mulai berangkat kerja, namun dia urungkan mengingat orang tuanya baru saja pulang, dia bermaksud menemani sang istri.


"Biar Ayah antar kalian." Davin mempersiapkan mobil.

__ADS_1


"Ayah yakin, nanti terlambat ke kantornya," ucap Mellisa sambil melihat ponsel.


"Katakan pada taksi langganan kita, Ayah yang mengantar kalian ke sekolah."


"Oh. Baiklah."


Semua bergegas memasuki mobil, namun tiba-tiba Mellisa merasa mulas.


"Tunggu sebentar." Mellisa segera ke kamar mandi.


"Ah bunda ada-ada saja ya." Kekeh Rosy dan Jasmine.


Tak lama, Mellisa kembali ke depan, dia masuk ke dalam mobil.


"Ayo berangkat, Yah."


"Siap."


Sepanjang perjalanan, kedua putri kembar mengobrol bercanda ria dengan sang ayah walau sang ayah hanya manyahut sebentar-sebentar karena fokus menyetir.


Sementara Mellisa hanya tersenyum setiap namanya disebut. Dia menahan rasa tak nyaman di perutnya sejak dari rumah.


'Ini bukan mulas seperti biasanya, semalam juga seperti ini. Ada apa ya Allah?' batin Mellisa khawatir.


Sesampainya di sekolah.


Davin turun dari mobil berniat mengantar Rosy dan Jasmine hingga ke depan gerbang.


"Bunda tidak ikut?" tanya Rosy.


"Bolehkah Bunda di sini saja?" tanya Mellisa berusaha tersenyum.


Rosy dan Jasmine menyalami sang bunda dan memakluminya, barang kali sang bunda sedang lelah.


Tepat sampai di depan gerbang sekolah, kedua putri kembar ini menyalami sang ayah lalu melambaikan tangan mereka ke arah sang bunda.


Davin kembali ke dalam mobil, melihat raut wajah sang istri yang nampak pucat.


Mellisa belum menjawab, dia memegangi perutnya yang kurang nyaman.


"Sangat tidak nyaman, Ayah."


"Ayo ke rumah sakit," ajak Davin tanpa pikir panjang.


Mellisa mengangguk.


Sesampainya di rumah sakit.


Davin membantu langkah istrinya, dia melihat ada sesuatu yang mengalir dari balik rok yang dipakai sang istri.


'Darah,' batin Davin.


"Apa mulas, Bunda?" tanya Davin.


Mellisa mengangguk.


Sampai di ruang IGD.


"Nona pendarahan," ucap perawat yang langsung memeriksanya.


Dokter segera datang menangani, tidak salah lagi memang Mellisa pendarahan, usia kehamilannya masih terlalu dini untuk melahirkan.


Davin menghampiri dokter yang baru saja keluar dari ruang IGD.


"Bagaimana keadaan istri saya, Dokter?" tanya Davin.


"Ma'af, janinnya semakin lemah, Pak. Aneh, kenapa istri anda bisa mengalami kontraksi? Ini belum saatnya bahkan masih jauh," terang Dokter membuat Davin tidak puas.


"Anda Dokter, tolong selamatkan mereka."

__ADS_1


"Kami selalu berusaha, Pak. Anda bantu berdo'a untuk keselamatan istri dan calon anak anda."


Davin mengangguk.


"Dokter," panggil perawat.


"Ada apa?" tanya sang dokter.


"Saya tidak bisa melacak detak jantung janin pasien yang baru saja kita tangani," terang perawat membuat Davin kaget.


Dokter kembali lagi ke ruangan IGD, dia melihat pasiennya yang nampak kesakitan.


"Panggil suaminya," suruh dokter.


Perawat langsung memanggil suami pasien, Davin yang dipanggil langsung bergegas menemani istrinya.


"Janin tidak bergerak, sudah tidak ada tanda kehidupan artinya janin harus diangkat. Silahkan segera anda menyelesaikan administrasi di pendaftaran, istri anda harus segera dioperasi."


Davin menurut. Dengan langkah gontai dia menyelesaikan segala urusan administrasi.


Operasi.


Setelah selesai operasi, Mellisa dipindahkan ke ruang rawat. Dia belum sadarkan diri.


***


Di sekolah.


Rosy dan Jasmine masih menunggu untuk dijemput.


"Rosy, kenapa bunda sampai juga ya?"


"Aku tidak tahu, biasanya bunda tepat waktu bukan?"


Waktu terus berlalu, hampir semua siswa telah pulang.


Kedua putri kembar ini clingukan di depan gerbang sekolah.


Hilmi keluar dari ruang guru untuk pulang, ketika sampai di depan dia mendapati Rosy dan Jasmine yang tengah menunggu bunda mereka menjemput.


"Kalian belum dijemput?" tanya Hilmi.


"Belum, Pak Hilmi," jawab keduanya nampak lesu.


"Mau Bapak antar ke rumah?" Hilmi menawarkan.


Rosy dan Jasmine saling memandang, pak guru mereka yang mengantar jadi mana mungkin ayah bunda mereka akan marah, lagipula salah satu atau kedua orang tua mereka tidak menjemput.


"Boleh, Pak Hilmi?"


"Tapi Bapak pakai motor, tidak apakah?"


"Tidak apa-apa, Pak."


Hilmi mempersiapkan motornya untuk mengantar kedua muridnya ini.


Tak disangka Rosy dan Jasmine menikmati perjalanannya.


"Ternyata seru sekali naik motor," ucap Jasmine.


"Iya. Lebih menyenangkan ya." Rosy pun tak kalah menikmatinya.


"Kalian tidak pernah naik motor?" tanya Hilmi.


"Ini pertama kali kami naik motor, Pak Hilmi."


"Bagaimana sebelum pulang, kita berkeliling dulu."


"Setuju."

__ADS_1


Hilmi mengajak kedua putri kembar berkeliling dan menikmati sekitar.


***


__ADS_2