
Sepulang bekerja, Davin mampir ke toko pakaian sebentar, dia membeli kemeja dan langsung dipakainya.
Davin mengingat-ingat, Sonya sudah menempel padanya, pasti ada jejak di kemeja yang dipakai sebelumnya, seperti parfum misalnya.
Di kediaman Andika.
"Bagaimana keadaan ibu?" tanya Davin menghampiri sang mertua.
"Ibu sudah baikan, Ibu sangat senang kalian semua ada di sini," jawab ibu sumringah.
"Tentu saja, kami akan selalu menjaga Nenek." Rosy dan Jasmine ikut mendekat.
Ibu Inayah tentu merasa tentram, anak, menantu dan cucunya juga hadir menemaninya di sini. Di ujung usianya kini dia benar-benar merasakan kebahagiaan yang tak dapat dijelaskan.
Sebelumnya semenjak suami Inayah meninggal, dia merawat kedua putrinya seorang diri, dia banting tulang sendiri agar kebutuhan sehari-hari dan pendidikan anak-anak terpenuhi.
***
Malam hari.
Ibu sudah terlebih dulu terlelap, meski demamnya sudah turun, entah kenapa badan ibu masih lemas.
Sementara Mellisa dan kedua putrinya segera ke kamar sebelah, mereka akan tidur juga.
Davin baru saja akan menyusul, namun Andika menggandeng tangan Talita melangkah di depan Davin.
"Rumahku tak sebesar rumah Kak Davin," ucap Andika hendak berlalu.
"Ya aku tahu."
Andika menoleh kakak sepupunya itu.
"Kak Davin bisa tidur di sofa ruang tamu," kekeh Andika. Pada akhirnya ada juga kesempatan seperti ini.
"Kamu dendam," ucap Davin dingin.
"Tidak, hanya saja apa kakak ipar mau tidur berempat?" Andika semakin meledek.
"Tak mau, tak ada ruang, sempit," sahut Mellisa dari dalam kamar.
"Sayang... ." Davin membuka pintu kamar.
"Rosy, Jasmine. Apa kalian tidak ingin tidur dengan tante kalian?" tanya Davin memelas.
"Tidak, kami ingin tidur dengan Bunda."
Mellisa tersenyum dan memeluk kedua putrinya.
"Ayo tidurlah, ini sudah malam," ajak Mellisa sambil membaringkan kedua putrinya lalu menutupi tubuh keduanya dengan selimut.
"Ayah," panggil Mellisa.
Davin yang dipanggil langsung bersemangat.
"Jangan lupa tutup pintunya," ucap Mellisa lalu ikut tidur bersama Rosy dan Jasmine.
Davin nampak kecewa.
"Hahaha," tawa Andika dari kamar sebelahnya lagi.
"Om Andika bisa diam tidak? Nenek sedang istirahat," lantang Jasmine sebelum akhirnya dia tertidur.
Davin tersenyum mengejek.
__ADS_1
"Rasain kan, anak kecil saja tahu."
Andika melengos dan menutup pintu kamarnya.
kedua kamar ini sudah tertutup, tinggal kamar yang Mellisa gunakan untuk menginap yang belum.
Dengan langkah gontai, Davin menutup pintu kamar itu dan melanjutkan melangkah lagi ke sofa ruang tamu.
"Ya sudahlah."
Karena lelah Davin terlelap juga meski di atas sofa.
***
Pagi hari.
Davin sudah berangkat pagi-pagi sekali ke kantor, dia baru saja memarkirkan mobil dan menuju pintu utama kantor.
Seseorang menghampirinya, dia adalah orang kepercayaan bos besar.
"Anda dipanggil pak Heru, silahkan ke ruangannya," ucap asisten pribadi pak Heru.
Ada apa ini? Ini masih sangat pagi, pak Heru sudah berada di kantor dan memanggil Davin.
Davin tak mau memikirkan apapun, dia langsung bergegas ke ruangan bos besarnya.
"Assalamu'alaikum, Pak Heru," salam Davin memasuki ruangan bosnya.
"Wa'alaikum salam," sahut pak Heru dan juga Sonya yang ternyata sudah ada di ruangan.
Tiba-tiba Davin meliriknya dengan jijik, perempuan terhormat seperti Sonya bahkan sangat tidak tahu malu.
"Ada yang bisa saya bantu, Pak Heru?" tanya Davin hati-hati. Dia melihat raut wajah bosnya yang dingin, entah apa salahnya, benarkah dia melakukan kesalahan.
Davin benar-benar tertembak, dia sangat terkejut, siapa yang melecehkan siapa?
"Maksud Pak Heru?" Davin melirik Sonya yang menunduk.
"Katakan, Sonya!" suruh pak Heru pada putri satu-satunya itu.
Sonya menjadi gelagapan, dia bingung harus mulai dari mana.
"Davin melecehkan aku, Ayah," ucap Sonya agak takut.
"Fitnah," seru Davin membela diri.
"Ketika aku berusaha menolak, Davin mendorongku hingga terjatuh. Ayah, lihat ini." Sonya memperlihatkan memar di lututnya akibat didorong Davin kemarin terlalu keras.
"Pak Heru, saya sudah berkeluarga, tidak pernah terlintas dalam benak saya untuk melirik Nona Sonya, apalagi melecehkannya," terang Davin membela diri.
Heru melihat memar di lutut Sonya, sepertinya Sonya sangat kesakitan.
"Bagaimana mungkin aku tidak mempercayai putriku?" Heru menatap Davin semakin garang.
"Kamu berani melecehkan putriku, berarti kamu tidak menghargaiku sama sekali," ucap Heru lagi.
"Itu sama sekali tidak benar, Pak. Dengar! Nona Sonya telah membubuhi sesuatu di kopi yang saya minum, bahkan putri Pak Heru mengantarkannya sendiri ke ruangan saya." Lagi-lagi Davin membela dia, ya dia harua membela diri, ini tentang harga diri.
"Ayah, Davin bohong," ucap Sonya memelas, matanya berkaca-kaca menahan tangis.
"Kamu saya pecat." Seruan Heru tanpa ampun.
Davin tak percaya bosnya memecatnya barusan, apa-apaan ini.
__ADS_1
"Pak Heru, dengar! Sonya memang putri anda, tapi apakah anda tidak ingin mencari buktinya terlebih dulu, aku tidak terima dipecat seperti ini. Setidaknya ak harus mengundurkan diri secara terhormat, ini menyangkut harga diriku." Davin kekeh membela diri. Entah bagaimana Heru selanjutnya akan menanggapi.
Heru diam sejenak, memang benar apa yang dikatakan Davin, Sonya lah yang bersalah. Heru sudah menyelidikinya sejak Sonya mengadu, namun ini sangat memalukan untuknya.
"Pak Heru," panggil Davin dengan frustasi.
"Keluar," usir Heru.
"Anda benar-benar memecat saya?" tanya Davin sekali lagi tak percaya.
"Kamu hanya aku rumahkan sementara, jangan beberkan masalah ini pada siapapun," ucap Heru memberi kompensasi.
"Anda menghukum saya atas apa yang putri anda lakukan, saya tidak akan membeberkan pada siapapun, Pak."
"Hanya ini yang bisa aku lakukan, atau jika kamu tidak setuju, kamu bisa mengundurkan diri seperti yang kamu mau."
Sonya tersenyum lega, apakah itu kompensasi atau bukan, ayahnya jelas membelanya.
"Keluar," usir Heru lagi.
Davin melirik Sonya sebelum meninggalkan ruangan.
Sepeninggal Davin dari ruangan.
"Ayah," panggil Sonya.
"Kemari," panggil Heru dingin.
Sonya mendekat ke ayahnya, tiada disangka dia mendapatkan tamparan luar biasa keras di pipinya oleh sang ayah.
"Ayah!" kaget Sonya, dia memegangi pipinya yang memerah karena sakit.
"Kamu pikir Ayah tidak tahu, Ayah sudah melihat cctv di ruangan Davin," marah Heru.
"Tapi Ayah membelaku tadi," ucap Sonya frustasi, ternyata sang ayah telah menyelidikinya.
"Karena kamu putriku, sebagai Ayahmu, aku sangat malu."
"Aku menyukainya, Ayah."
"Ku pikir jika Davin masih bujangan, aku akan memaksanya menikahimu. Tapi dia sudah berkeluarga, aku bahkan baru mengetahuinya."
"Ayah pasti sangat menyukai Davin, bantu aku mendapatkannya, Yah."
Heru memelototi putrinya yang tidak malu itu, bagaimana mungkin dia membesarkan seorang anak yang begitu bodoh.
Heru menyukai Davin karena kinerjanya bagus, maka dari itu dia mengurungkan niatnya untuk memecat Davin.
Tapi Sonya merusak segalanya, bisa saja setelah ini Davin mengundurkan diri, bagaimana nasib perusahaan yang sudah Heru kembangkan selama ini tanpa Davin.
"Pergilah, obati pipimu," usir Heru.
"Ayah," panggil Sonya memelas.
"Atau Ayah tidak akan memaafkanmu."
Sonya menurut, dia keluar dari ruangan ayahnya dan kembali ke ruangannya.
"Auw, sakit," rintihnya sambil memegangi wajahnya.
Sonya mengumpat dalam diam.
'Kurang ajar, Davin mendorongku kemarin, dan sekarang ayah menamparku. Aku akan mendapatkanmu, Davin.'
__ADS_1
***