Mellisa Untuk Davin

Mellisa Untuk Davin
Bab 25 Melamar


__ADS_3

"Sudahlah cemberutnya," ucap Andika memegang dagu kekasihnya.


Talita diam, dia memalingkan wajahnya ke arah jendela mobil.


Andika kembali fokus menyetir, kedua pasangan ini tak bicara satu sama lain.


Sesekali Andika melirik yang posisinya masih seperti sebelumnya.


"Apa lihat-lihat?" tanya Talita jutek.


"Oh. Kukira kamu tak sadar aku melihatmu," jawab Andika.


Talita menoleh kekasihnya dengan geram. Andika malah tertawa.


"Apa yang lucu?" tanya Talita kesal.


"Aku salah apa? Kenapa dari tadi kamu seperti ini?" Andika memegang tangan Talita.


Talita semakin kesal saja, sudah jelas-jelas ketahuan memikirkan Jeny ketika mereka makan bersama.


"Kamu belum mengerti juga."


"Bagaimana aku bisa mengerti kalau kamu tak mengatakannya."


"Aku marah padamu."


Andika mengerutkan alisnya.


"Perempuan memang rumit," ucapnya lirih.


Talita mendengarnya namun dia malas untuk menyahut.


Andika menghembuskan nafas dengan kasar.


'Dasar perempuan,' batinnya.


Sesampainya di apartemen.


Andika sengaja tidak membuka pintu mobil, tentu saja membuat kekasihnya itu semakin kesal.


"Tolong buka pintunya, aku mau turun." Talita tak sabar.


Andika turun dari mobil dan membukakan pintu mobil untuk Talita.


"Aku akan kembali ke sebrang."


Talita tersentak. Dia menatap Andika yang juga menatapnya. Saat ini saja mereka belum berbaikan dan dia harus menjalani hubungan jarak jauh, menyebalkan, pikirnya.


"Kamu tak ingin mengatakan apapun," ucap Andika semakin mendekat.


"Aku harus mengatakan apa?"


Talita mendorong Andika pelan karena menghalangi jalannya. Dia turun dari mobil dan melangkahkan kakinya ke dalam rumah sambil berharap Andika akan memanggilnya.


Sampai di depan pintu rumah.


Talita kecewa, ingin sekali rasanya dia menoleh dan memarahi kekasihnya itu.


'Dasar tak peka, kenapa tak minta m'aaf dan merayuku. Ih,' batinnya.


Karena egonya, dia mengurungkan niatnya.


Dia membuka pintu dan langsung menuju kamarnya dengan kesal.


Sementara di depan, Andika hanya senyum-senyum membayangkan wajah Talita yang kesal karenanya.


***


Mellisa tengah menyiapkan makanan lebih banyak dari biasanya dibantu ibunya di dapur.


Talita keluar dari kamarnya dan menghampiri mereka.

__ADS_1


"Ada apa Kak? Kenapa banyak sekali makanan?"


"Memangnya kamu tidak tahu, Andika dan keluarganya akan datang ke sini," terang Mellisa.


Talita nampak kaget lalu tersenyum senang.


"Aku akan bersiap," ucapnya lalu kembali lagi ke kamar.


Talita sibuk memilih pakaian yang akan dia kenakan. Dia membongkar semua isi lemarinya, dicobanya semua hingga terpilih satu pakaian yang menurutnya istimewa.


"Apakah Andika akan melamarku?"


"Kenapa harus membuatku kesal dulu."


"Dasar!."


Beberapa saat kemudian, datang sebuah mobil dan parkir di depan apartemen.


Jantung Talita berdegup kencang dia lalu menghampiri kakak dan ibunya.


"Sebenarnya mereka datang untuk apa Kak, Bu?"


Ibu dan kakaknya tersenyum.


"Tentu saja melamarmu," terang ibu.


Talita cemberut sekaligus senang, hah dasar, lagi-lagi Talita memgumpat kekasihnya.


Davin sebagai tuan rumah langsung mempersilahkan tamu istimewanya masuk ke dalam rumah.


"Assalamu'alaikum," salam keluarga Andika.


"Wa'alaikum salam, mari silahkan masuk," balas Davin dan ibu dengan ramah, keduanya sambil menggendong putri kembar.


"Wah, lucunya anak-anak ini," puji orang tua Andika, dicubitnya dengan pelan pipi si kembar secara bergantian.


Talita dibantu kakaknya menyuguhkan minuman dan berbagai macam makanan yang tadi sudah disiapkan.


Andika tersenyum puas membuat kejutan untuk kekasihnya.


"Pertama-tama kami sebagai orang tua Andika mengucapkan banyak terimakasih karena disambut dengan ramah dan sangat baik.


Kedatangan kami sekeluarga, selain silaturahmi juga berniat melamar Nak Talita untuk dijadikan istri putra kami, Andika. Semoga keluarga Nak Talita berkenan menerima lamaran ini," ucap papanya Andika dengan sopan.


Tuan rumah belum ada yang menjawab. Mellisa menyenggol lengan ibunya perlahan. Ibu hanya menoleh dan menggeleng perlahan.


Rupanya grogi mau mengatakan apa. Melihat mertuanya gugup, Davin langsung menggantikannya.


"Kami juga mengucapkan terimakasih atas kehadirannya. Andika, Om, Tante. Namun masalah lamaran yang Om sebutkan saya tidak berani menjawab apapun. Karena ini berkaitan dengan masa depan Talita dan kelak dia sendiri yang akan menjalaninya. Jadi saya serahkan semua pada Ibu dan Talita," jawab Davin dengan sopan.


Semua menatap Talita yang sedari tadi menunduk. Ibu memegang tangan putri bungsunya.


"Bagaimana Ta? Ibu terserah kamu saja, nantinya kan kamu yang akan menjalaninya," ucap ibu hati-hati.


Talita masih diam membuat semua orang penasaran, terlebih lagi Andika.


Kenapa Talita tak juga menjawab, apa yang membuatnya diam, bukankah kedua keluarga sudah sama-sama mengetahui tentang hubungan mereka.


"Ta," panggil ibu.


Talita menoleh.


"Jawablah sesuai hati nuranimu. Kami semua di sini tidak memaksamu karena segala keputusan ada di tanganmu sendiri," tutur ibu menasihati.


Talita sekilas memikirkan Jeny, ah kenapa memikirkannya.


"Ta, kumohon jawablah," ucap Andika memohon.


"Apa aku boleh bertanya?" Talita memberanikan diri.


"Silahkan."

__ADS_1


"Bukankah sebelum ini, Andika dan Jeny telah dijodohkan. Bagaiman bisa kalian datang ke sini melamarku?"


Suasana yang tadinya tegang kini menjadi agak tenang karena pertanyaan Talita barusan.


Mereka semua tersenyum.


"Itu memang rencana kami, itu pun jika Andika setuju, tapi kami tidak mau memaksakan. Dia memilihmu, Nak Talita, kami mendukungnya. Nah sekarang bagaimana denganmu? Jawablah."


Talita merasa sedikit malu.


'Ah kenapa harus bertanya seperti itu,' batinnya.


"Iya, saya terima," jawab Talita menunduk malu.


"Alhamdulillah," semua mengucapkan puji syukur secara bersamaan.


Andika langsung mengambil kotak warna merah lalu membukanya. Lalu Andika dan Talita akan bertukar cincin.


Semua orang bersamaan mengucapkan,


"Alhamdulillah."


Davin mempersilahkan tamunya untuk menikmati jamuan yang sudah dihidangkan.


Orang tua Andika memuji Talita karena rasa makanannya yang enak.


"Sungguh tak salah Andika memilih calon istri," canda papanya Andika langsung disambut gelak tawa semua orang.


"Bukan aku yang menyiapkan makanan tapi Ibu dan Kak Mellisa," ucap Talita jujur.


Semua orang kembali tertawa karena Talita terlalu polos.


Talita kembali menahan malu, aduh kenapa terkesan seperti ini, memalukan, pikirnya.


Andika tak pernah berhenti melirik kekasihnya. Dia lalu mendekati Talita.


"Sudah, tak perlu menunduk terus," bisik Andika.


"Aku malu."


Talita mencubit lengan Andika.


"Kamu tidak mengatakan apa-apa tadi siang, aku tidak menyiapkan apapun," lanjutnya.


"Terimakasih atas jamuan yang lezat ini," ucap papanya Andika memulai percakapan.


"Jangan sungkan Om," balas Davin.


"Baiklah karena Nak Talita sudah menyetujui lamaran ini, sekarang kita bahas pernikahannya. Kami sekeluarga meminta supaya segera dilaksanakan. Andika mengusulkan bagaimana kalau 1 bulan lagi."


"Aku akan ke sebrang untuk menyelesaikan urusan, sepulang dari sana aku siap menikahi Talita," ucap Andika menambahi.


Talita nampak lega, dia pikir akan berhubungan jarak jauh dengan kekasihnya ternyata hanya sebulan dan mereka akan menikah.


"Ibu Inayah dan Nak Talita tak perlu khawatir, semuanya sudah kami siapkan. Kalian hanya perlu datang bersama seluruh keluarga dan sanak saudara."


"Terimakasih atas segala kebaikan dari keluarga Nak Andika." Ibu tersenyum ramah.


Keluarga Andika memberikan hadiah yang banyak untuk keluarga Talita. Tal lupa juga hadiah untuk putri kembar, Rosy dan Jasmine.


Kemudian setelah semuanya disepakati keluarga Andika pamit pulang.


Talita langsung membawa hadiahnya ke dalam kamar.


"Ta, kamu beres-beres dulu," panggil ibu.


Saking senangnya entah karena Talita tak mendengar panggilan ibunya atau apa, dia tetap di kamar membuka hadiah yang Andika berikan.


"Tak apa Bu, Ibu nampak lelah, Ibu juga sana istirahat, biar aku yang beres-beres, sebentar lagi juga Rosy dan Jasmine akan tidur."


"Terimakasih Mell, terimakasih Davin."

__ADS_1


Mellisa dan suaminya mengangguk.


***


__ADS_2