
Sesampainya di apartemen.
Malam hari.
Davin sedang melamun di balkon, tempat biasa yang menjadi favoritnya jika berada di rumah.
Davin terus melamun hingga tiba-tiba dia dikagetkan oleh kehadiran Mellisa di belakangnya.
"Mas," panggil Mellisa.
Davin semakin dibuat kaget ketika membalikkan tubuhnya melihat Mellisa berpakaian lingerie transparan di depannya ditambah sedikit polesan make up di wajahnya.
"Cantik dan seksi." Davin terkesima.
Mellisa nampak malu dipuji sang suami.
Mellisa berjalan menghampiri sang suami semakin dekat, membuat jantungnya semakin berdegup kencang.
Senyum Davin merekah sambil perlahan berjalan mendekati istrinya.
Kini mereka sudah berhadapan dengan jarak yang begitu dekat.
Davin mendekatkan wajahnya pada wajah istrinya, yang membuat Mellisa reflek menutup matanya.
Davin tersenyum geli.
"Apa kamu sudah benar-benar siap?" bisik Davin pelan.
Tanpa membuka matanya Mellisa mengangguk pelan.
"Kamu yakin?" tanya Davin lagi sambil menatap wajah istrinya penuh cinta.
Mellisa menganggukkan kepala.
Davin memeluk sang istri, dipegangnya kepala sang istri yang masih terasa hangat.
"Kenapa terburu-buru?" tanya Davin lagi sambil tersenyum.
"Kita masih punya banyak waktu," bisik Davin dengan lembut.
Pipi Mellisa semakin memerah menahan malu. Dia menundukkan kepalanya.
Tiba-tiba Davin mendorong tubuh Mellisa dengan pelan.
"Masuklah, kamu sangat cantik dan seksi, aku tak rela jika ada orang yang melihat."
Mellisa mundur sambil tersenyum.
Davin menutup pintu sambil terus melihat istrinya.
Mellisa jadi salah tingkah.
Davin kembali berjalan mendekati istrinya yang berada di samping tempat tidur.
Dia mengambil selimut.
"Aku ini laki-laki normal, bisa saja lepas kendali jika melihatmu seperti ini terus." Davin menutupi tubuh Mellisa dengan selimut di tangannya.
"Kamu belum pulih, badanmu belum benar-benar fit dan aku tidak mau memaksakan kehendakku." Davin mengelus kepala Mellisa.
"Memangnya kamu tidak tahu, butuh tubuh dan stamina yang kuat untuk melakukan itu," bisik Davin.
Mellisa menggeleng, malu dan menunduk.
Davin tersenyum lalu menarik tubuh istrinya ke dalam pelukannya.
Mellisa merasa nyaman ketika suaminya memeluknya erat.
"Mas," panggil Mellisa pelan.
"Apa sayang?" sahut Davin.
Mellisa menatap suaminya.
"Kamu ingin ini," ucap Davin mendekatkan bibirnya ke bibir istrinya.
__ADS_1
Mellisa memejamkan mata. Lalu membuka matanya kembali karena tak terjadi sesuatu.
"Kamu sudah tidur, Mas?" tanya Mellisa kecewa.
Davin tak bereaksi.
Mellisa mengecup pelan bibir suaminya itu dan tertidur.
***
Hari ini. Hari minggu.
Setelah cukup lama Davin tidak mendapatkan libur kerja, meminta cuti pun karena kemarin-kemarin rumah tangganya bermasalah.
Akhirnya hari ini dia bisa menikmati akhir pekan bersama istrinya.
Davin hanya bermalas-malasan, dia menghabiskan waktunya di atas tempat tidur, matanya sesekali memperhatikan Mellisa yang keluar masuk kamar melakukan pekerjaan rumah.
"Aku lelah melihatmu bekerja terus, ayo sini temani aku." Davin menarik tangan Mellisa hingga istrinya itu jatuh tepat di atas tubuhnya.
Mellisa yang mulanya kaget langsung tersenyum malu mendapati dirinya berada di atas tubuh sang suami.
Mellisa mencoba turun tapi Davin menahannya, dengan memeluk sang istri.
"Kamu nampak segar hari ini, sepertinya kamu sudah sembuh."
Mellisa mengangguk.
"Kalau begitu...." Davin menatap istrinya.
Mellisa juga menatap suaminya dan tersenyum.
Davin semakin mengeratkan pelukannya sambil menatap istrinya penuh hasrat.
Mellisa lagi-lagi tersenyum, dia mencuri cium bibir suaminya dengan cepat.
"Hey." Davin kaget.
"Apa mau sekarang?" tanya Davin menggoda.
Tanpa persetujuan dari istrinya Davin langsung membalikkan tubuhnya, dia yang sudah sangat berhasrat merubah posisi hingga kini Mellisa berada di bawahnya.
Davin hendak mencium bibir istrinya, namun tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu, membuat Davin mengurungkan niatnya.
"Maaf," ucap Mellisa.
"Ya." Davin nampak kesal
Keduanya bangun, Mellisa akan turun dari atas tempat tidur, tapi sebelum itu Davin memegang tangannya.
"Nanti malam ya?" pinta Davin nampak manja.
"Kamu harus bersiap."
Mellisa tersenyum dan mengerdipkan mata membuat Davin semakin gemas tak sabar ingin menerkam sang istri saat ini juga.
***
"Mama ingin memelukmu," pinta mama melihat Mellisa.
Mellisa langsung melihat suaminya.
Davin mengangguk pelan.
Mellisa mendekati mama mertuanya dan mereka saling berpelukan.
"Ma, aku minta maaf karena sudah mengecewakan Mama."
Mama mengeratkan pelukannya dan menangis.
"Mama jangan menangis seperti ini, aku jadi semakin merasa bersalah."
Mama melepaskan pelukannya dan menatap sang menantu.
"Mama berharap kamu benar-benar ikhlas menerima putra Mama menjadi suamimu."
__ADS_1
"Aku janji, Ma. Aku akan mencintai mas Davin dengan tulus, menerima kelebihan dan kekurangan mas Davin, menjaga hati ini untuk mas Davin seorang, aku akan belajar menjadi istri yang baik untuk mas Davin." Mellisa melirik sang suami.
Davin tersenyum.
"Papa senang sekali melihat kalian baik-baik saja. Kami hanya berkunjung sebentar." Papa melihat putra dan menantunya dengan sumringah.
"Ketika kami berkunjung kembali, kami harap ada berita baik, seperti akan ada calon cucu misalnya," ucap papa lagi.
Mellisa tersenyum malu sambil melirik sang suami.
Davin hanya menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal.
***
Sore hari.
Mama dan papa berpamitan untuk pulang.
"Mama sebenarnya masih rindu sama kamu," ucap mama memeluk Mellisa.
"Kenapa tidak menginap, Ma?" bujuk Mellisa.
Mellisa pun sebenarnya juga ingin dekat dengan kedua orang tua suaminya.
"Papa harus menyelesaikan pekerjaannya di kampung," terang mama.
"Papa pulang saja sendiri biar mama menginap," goda Davin pada papanya.
Papanya memelototi Davin.
Mama dan Mellisa terkekeh.
"Tidak Pa, Mama ikut pulang, Mama tidak menginap. Lagi pula kita bisa main ke sini lagi kapan-kapan." Mama menenangkan papa.
Sepeninggal mama dan papa, Mellisa ingin mengajak suaminya keluar cari angin sebentar.
"Tak mau ah malas," tolak Davin.
"Ya sudah aku sendiri."
"Tak boleh, ayo kita jalan-jalan." Akhirnya Davin menuruti kemauan istrinya.
Davin menyiapkan diri, tapi Mellisa hanya tampil seadanya.
"Kenapa tidak siap-siap?" tanya Davin melihat istrinya tak melakukan apapun.
"Aku hanya ingin jalan-jalan sebentar Mas, jalan kaki sekitar sini aja. Kenapa kamu serapi itu."
"Oh."
Davin terkekeh.
Mellisa lebih geli melihat tingkah suaminya, ribet kaya perempuan.
Davin dan Mellisa berkeliling sekitar rumah.
"Tumben jalan kaki," tegur salah satu tetangganya.
"Iya hanya cari angin saja, Bu," sahut Mellisa.
"Di rumah tak ada angin?" tanya sang tetangga membuat Davin dan Mellisa tertawa.
"Ah Ibu ini lucu juga ya," ucap Mellisa sambil pamit hendak melanjutkan jalan kaki lagi.
Davin berjalan dengan terus memandang istrinya.
"Kenapa, Mas?" tanya Mellisa yang dipandang jadi malu.
"Cantik," puji Davin.
"Ciye... ."
Anak-anak bersorak melihat keromantisan pasangan suami istri ini.
"Tuh kan, Mas. Malu dilihat anak-anak."
__ADS_1
Davin tersenyum melihat istrinya nampak malu.
***