
Mellisa perlahan membuka matanya mendapati dirinya telah berada di rumah sakit.
"Bunda," panggil Davin sambil memegang tangan sang istri.
"Ayah, Bunda takut," ucap Mellisa mengeratkan genggaman sang suami.
"Selamat siang, Pak, Bu." Dokter memasuki ruangan.
"Apa yang terjadi dengan istri saya, Dok?" tanya Davin khawatir.
"Sepertinya istri Bapak sering pusing akhir-akhir ini, sebaiknya jaga kesehatannya dengan baik, terutama perasaan dan pikiran. Ibu hamil harus senang agar janinnya juga berkembang secara optimal."
Davin mengerti, Rosy dan Jasmine pun ikut-ikut mengangguk.
"Dimana ibu?" tanya Mellisa melihat sekeliling.
Belum ada yang menjawab, yang ditanyakan sudah datang.
"Mell, bagaimana keadaanmu?" tanya ibu khawatir.
"Ibu, aku baik-baik saja," jawab Mellisa memegangi tangan ibu.
"Ayah akan mengurus administrasi dulu, Ibu jaga Mellisa ya," pinta Davin lalu meninggalkan ruangan.
Mellisa langsung mempertanyakan apa yang dia tahu dari Hilmi kepada ibunya.
Ibu memang kaget namun dia sudah siap karena sedari kemarin ibu sudah memikirkan hal ini.
"Ma'afkan Ibu, Mell. Kamu sudah sangat tahu jika pak Danang tidak pernah mengizinkan kalian bersama. Sebelum perasaan kalian lebih jauh, ibu ingin memisahkan kalian dan juga kamu sudah dijodohkan."
Mellisa menelan ludah, dia sempat berpikir Hilmi telah melupakannya dan perlahan dia pun melupakan Hilmi.
Itu hanya masa lalu, Mellisa merasa sudah bahagia sekarang, walau sempat menyesal dirinya tidak ingin kembali pada Hilmi.
"Bu, bisakah membantuku?" tanya Mellisa meminta.
"Bagaimana agar Hilmi tidak menggangguku?"
Ibu belum menjawab tiba-tiba Jasmine menyambar.
"Apa maksud Bunda? Pak Hilmi mengganggu Bunda?"
Ah iya, Mellisa lupa jika ada Rosy dan Jasmine di ruangan juga.
"Tidak seperti itu, Jasmine. Ini urusan Bunda sama Nenek. Kalian bermain di sebelah sana."
"Baik, Bunda."
Rosy dan Jasmine menurut, mereka tidak terlalu memikirkannya, itu hanya urusan orang dewasa yang entah kenapa anak kecil tidak boleh tahu, pikir keduanya.
"Kamu punya Davin, ceritalah padanya."
"Apa mas Davin tidak akan marah, Bu?"
"Ibu tidak tahu tapi Davin sangat menyayangi kalian tentu saja akan menjaga dan melindungi anak istrinya."
Mellisa tersenyum, iya selama ini juga Mellisa merasakan kasih sayang keluarga kecilnya terutama dari sang suami.
Setelah selesai, Davin membawa istrinya untuk pulang.
Sebelumnya mereka tidak lupa menjenguk Talita yang juga sedang periksa kandungan.
***
__ADS_1
"Ma'af, Bunda. Ayah harus kembali ke kantor," ucap Davin sembari membaringkan tubuh Mellisa di atas tempat tidur.
"Tapi Ayah-."
"Ayah akan segera kembali, Ayah janji."
Davin mengecup kening Mellisa dan berlalu meninggalkan rumah.
Mellisa meminta Rosy dan Jasmine untuk menemaninya berbaring.
"Apa Bunda lelah?" tanya Rosy.
"Kami akan memijit Bunda ya?" Jasmine menawarkan diri.
Mellisa mengangguk.
Kedua putrinya mulai memijit tangan dan kaki Mellisa, perlahan Mellisa tenang dan rasa takutnya sedikit kendur, walau yang menemani sekarang adalah Rosy dan Jasmine.
"Enakan, Bunda."
"Iya sayang, terimakasih ya sudah mijitin Bunda."
"Iya, Bunda."
Semakin lama Mellisa semakin keenakan hingga akhirnya dia terlelap.
Rosy dan Jasmine menghentikan pijatan mereka ketika melihat Bundanya tertidur.
"Ayo kita main di luar, biarkan bunda istirahat," ajak Jasmine.
Rosy mengangguk.
Mereka meninggalkan bunda mereka sendirian di kamar.
***
"Hilmi sudah mengatakan semuanya pada kakakmu," jawab ibu nampak sedih.
"Lalu bagaimana reaksi kak Davin?"
"Davin belum mengetahuinya, kasihan kakakmu sepertinya dia takut dan bimbang."
"Tidak tahu malu ya, Bu. Pak guru itu."
Inayah tersenyum, iya Hilmi memang terlalu berani, kenapa tidak diam saja dan merelakan Mellisa, bukankah mereka sudah sangat lama tidak bertemu harusnya rasa itu sudah hilang.
"Bagaimana kandunganmu, Ta?" tanya ibu mengalihkan topik dan juga menjaga perasaan Talita.
"Kandunganku baik-baik saja nanti malah aku semakin gemuk karena nafsu makanku yang tinggi, nanti menginjak empat bulan mungkin mual-mualnya mas Dika akan berkurang atau malah sudah tidak mual."
Ibu terkekeh, gemuk. Hamil sudah pasti akan membuat gemuk.
"Ibu kenapa ketawa," ucap Talita malu.
"Semakin ibu memperhatikanmu, kamu semakin cabi dan lucu." Ibu tertawa kecil.
Ibu dan anak ini terus mengobrol sambil bercanda sampai lupa waktu, hihi.
Hu senangnya menjadi ibu hamil yang doyan makan dan selalu didampingi ibu yah walaupun sang suami yang menggantikannya merasakan mual.
Andika melihat mereka agak jauh, dia tersenyum, selama ini memang kehamilanlah yang dia dan istrinya inginkan.
Entahlah walau Andika tidak bekerja selama mual, namun dia dapat memantau jalannya perusahaan di rumah.
__ADS_1
Bekerja adalah hal yang harus dilakukan laki-laki untuk mencari nafkah, Andika ingin benar-benar fokus untuk istri dan calon anaknya.
***
Sementara Davin terburu-buru menyelesaikan tugasnya, dia khawatir dan ingin segera pulang mengingat tadi istrinya sempat mengatakan takut, di sela-sela waktu kerjanya dia mengingatnya namun saat bersamanya tadi dirinya bahkan lupa menanyakan langsung.
Davin mengecek ponselnya sebentar, dia mengirimkan pesan WA untuk sang istri.
"Bunda sedang apa?"
Tidak ada balasan.
Davin semakin terburu-buru, hingga tiba-tiba Anton datang memasuki ruangannya.
"Ada yang bisa saya bantu, Pak Davin?" Anton menawarkan sebelum pulang.
"Kamu harus pulang kan, Jeny sedang hamil, kalian jangan lembur, pulanglah."
"Ibu Mellisa juga hamil, apa Pak Davin tidak ingin cepat pulang."
"Tentu saja aku ingin pulang, tapi masih ada yang harus kuselesaikan."
"Maka dari itu saya ingin membantu, Jeny hanya akan menemaniku saja, Pak."
"Baiklah."
Davin tidak enak awalnya jika menyuruh mereka lembur sedangkan Jeny sedang hamil, namun karena Anton sendiri yang menawarkan diri, akhirnya Davin mengiyakan.
Diselesaikan bersama bukankah akan lebih cepat tidak terlalu buru-buru dan lebih teliti.
Sesekali Davin melirik Anton yang sedang fokus dengan laptopnya dan Jeny yang di sebelahnya sedang bermain ponsel.
'Apakah Mellisa juga bermain ponsel? Kenapa belum membalas pesanku?'
Davin mengecek kembali ponselnya, Mellisa belum juga membalas semakin membuat Davin ingin segera pulang.
Setelah beberapa saat yang cukup lama, akhirnya Davin dan Anton telah merampungkan pekerjaannya.
"Terimakasih, Anton," ucap Davin menepuk pundak Anton.
"Sama-sama, Pak Davin."
"Kalian pulanglah dan istirahat."
"Pak Davin juga pulang kan? Titip salam buat Mellisa ya Pak." Jeny dan Anton segera berlalu.
Davin juga berkemas dan bergegas pulang.
Sesampainya di rumah.
"Bunda tidak apa-apa?" tanya Davin khawatir.
"Apa Bunda sudah makan?" Davin bertanya lagi.
"Kenapa tidak membalas pesan Ayah?" Davin memegangi perut Mellisa.
"Tidak apa-apa, Yah. Bunda baru saja memasak, ayo kita makan, kami semua menunggu Ayah untuk makan malam," ajak Mellisa.
"Lain kali kalau lelah tidak usah memasak, biar Ayah bawakan makanan sepulang kerja."
Mellisa merasa nyaman dalam hati, dia tersenyum, benar apa yang dikatakan ibunya, Davin menyayanginya dan juga anaknya, dia pasti akan menjaga dan melindungi keluarganya dari segala ancaman dan bahaya.
***
__ADS_1