Mellisa Untuk Davin

Mellisa Untuk Davin
Bab 44 Sabtu pun Lembur


__ADS_3

"Hebat sekali kamu datang terlambat," tegur pak Heru, bos besar sekaligus pemilik saham terbesar perusahaan.


Davin tidak menyahut, dia masih terengah-tengah berjalan cepat dari parkiran menuju kantor.


Davin tak menyangka pak Heru datang ke kantor.


"Aku mendengar, kamu juga membawa istrimu ke kantor dan juga sering pulang lebih awal sementara yang lainnya masih lembur," marah pak Heru.


Davin tak menyangkal, memang benar adanya, bagaimana dirinya membela diri.


"Itu, saya minta ma'af, Pak Heru." Davin nampak gelisah.


"Kamu adalah bosnya tapi tidak mematuhi peraturan kerja, selesaikan laporan akhir tahun besok, karena hari senin aku membutuhkannya untuk rapat pemegang saham, sebagai hukumanmu, selesaikan sendiri tanpa bantuan Anton atau siapapun." Pak Heru meninggalkan Davin setelah mengarahkan asistennya memberikan beberapa tumpukan map pada Davin.


Davin mendesah.


"Sial. Bagaimana aku menjelaskan pada istri dan kedua putriku," ucap Davin frustasi.


Davin membawa semua tumpukan map itu ke ruangan kerjanya. Dia melirik Anton dan Jeny yang nampak semangat karena bersanding di tempat kerja, apalagi nanti di pelaminan, yuhu. Davin ikut senang memikirkan hal itu.


Tiba-tiba Davin teringat hari pernikahannya dulu, dia dan Mellisa bersanding di atas pelaminan, siapa sangka waktu itu Mellisa terpaksa untuk menikah.


Ah sudahlah, lagi pula itu dulu, bukankah sekarang Davin sudah bahagia bersama istrinya dan telah dikaruniai dua putri kembar yang cantik-cantik.


Mengingat semua itu tentu membuat Davin semangat dalam bekerja, semua kerja kerasnya untuk keluarga kecilnya bukan.


Davin membuka ponselnya dan mengirimkan pesan WA pada sang istri.


"Bunda sedang apa?" tanya Davin.


"Bunda sedang duduk santai saja, apakah Ayah tidak sibuk?"


"Ayah memang sibuk tapi... ."


"Tapi apa?"


"Ayah merindukanmu, Bunda. Berikan Ayah ciuman semangat, Ayah akan bekerja lagi."


"😘."


Davin melihat pesan dari istrinya itu lalu tersenyum. Dia menaruh ponselnya dan fokus menyelesaikan pekerjaannya.


***


Mellisa masih bersantai sambil memainkan ponselnya, dia melirik jam dinding, sebentar lagi dia akan menjemput kedua putrinya.


Tiba-tiba ponselnya berdering, ada panggilan masuk dari Talita. Mellisa mengangkatnya.


"Assalamu'alaikum, Dek," salam Mellisa.


"Wa'alaikum salam, Kak," sahut Talita.


"Kenapa sayang? Pasti kamu sangat merindukan kakakmu yang cantik ini kan," ucap Mellisa percaya diri.


Mellisa terkekeh sendiri.


"Tidak," sahut Talita datar.

__ADS_1


Mellisa mengerucutkan bibirnya.


"Lalu kenapa menelfon?" tanya Mellisa pura-pura cemberut.


"Aku dan ibu akan berkunjung ke rumahmu, Kak. Apakah Rosy dan Jasmine sudah pulang sekolah? Kalau belum biar aku dan ibu saja yang menjemput mereka," terang Talita meminta izin.


Mellisa tersenyum senang.


"Baiklah. Kamu dan ibu yang menjemput mereka, aku akan masak untuk makan siang kita."


"Siap, Kak. Masak yang enak ya? Hm tiba-tiba aku merasa lapar."


"Ya sudah kamu dan ibu bersiap-siap. Ini sudah waktunya pulang sekolah, jangan biarkan mereka menunggu lama."


"Siap. Wassalamu'alaikum, Kak Mellisa."


"Wa'alaikum salam, Ta."


Setelah telfon berakhir, Mellisa segera mengecek isi kulkas, stok masih aman bahkan jika Talita dan ibu menginap.


Mellisa sibuk di dapur menyiapkan makanan untuk menyambut ibu dan adiknya datang.


Sementara Talita dan ibu bersiap untuk menjemput si kembar pulang sekolah.


Di Sekolah.


"Sayang," panggil Talita pada kedua keponakannya.


Mereka yang dipanggil segera bergegas menghampiri.


Tak lama, salah seorang pengajar keluar dari gerbang melihat dua putri kembar.


"Kalian sudah dijemput," ucapnya menghampiri.


"Jangan lupa tugas kalian untuk hari senin ya," ucapnya lagi mengingatkan.


"Siap, Pak Hilmi," seru Rosy dan Jasmine semangat.


Sedari pak guru itu keluar, ibu sudah memperhatikan dalam-dalam, memang tidak salah lagi, dia lah Hilmi, anak tetangganya di kampung.


"Kamu Hilmi anaknya pak Danang, kan?" tanya ibu memastikan.


Seseorang yang bernama Hilmi itu melihat ibu, dia bingung sejenak lalu menyadari bahwa itu ibunya Mellisa, ibu Inayah.


"Ibu Inayah ya? Ma'af, Bu. Saya pangling," ucapnya lalu menyalami ibu.


"Bagaimana kabar Ibu?" tanya Hilmi.


"Baik, Nak," jawab ibu cepat.


Ibu segera membawa pulang Talita dan cucu-cucunya ke rumah Mellisa.


Talita yang merasa aneh segera bertanya.


"Benarkah dia anak pak Danang, kenapa aku tak pernah melihatnya, Bu?" tanya Talita penasaran.


"Nanti saja ibu cerita, kasihan kalian semua pasti lapar. Apakah bunda kalian memasak?"

__ADS_1


"Itu pasti, Nek," sahut Rosy.


Tak banyak percakapan selama perjalanan pulang, ibu selalu menghindar dan menyuruh diam dan itu membuat Talita semakin penasaran.


Sesampainya di rumah Mellisa.


"Assalamu'alaikum, Bunda," salam Rosy dan Jasmine bersamaan.


"Assalamu'alaikum," salam Talita dan ibu juga.


Mellisa yang telah siap menyambut mereka segera membuka pintu.


"Wa'alaikum salam," sahut Mellisa setelah pintu terbuka.


Kedua putrinya menyambar tangannya dan menciumnya dan masuk lebih dulu.


Mellisa menggelengkan kepalanya.


"Ibu, Talita."


Mellisa meraih punggung tangan ibunya dan menciumnya disusul Talita yang juga menyalami sang kakak.


"Ayo masuk semua, aku sedang masak sebentar lagi matang. Rosy dan Jasmine ganti pakaian dulu ya." Mellisa kembali lagi ke dapur.


Ibu dan Talita bersantai di ruang tamu, sedangkan kedua putri kembar ke kamar mereka untuk berganti pakaian.


"Bisakah Ibu cerita sekarang?" tanya Talita tak sabar.


Ibu melihat ke arah dapur, ya Mellisa terlihat sibuk.


Ibu mulai bercerita tentang Hilmi, dia anaknya pak Danang yang tinggal tepat di sebelah rumahnya di kampung.


Hilmi adalah teman SD Mellisa, mereka tidak terlalu dekat karena pak Danang melarangnya namun Hilmi sering menolong Mellisa waktu kecil disaat Mellisa dibully teman-temannya.


Dulu, Hilmi sering memberi Mellisa hadiah dan surat secara diam-diam, bahkan Mellisa tak pernah tahu karena ibu membuang hadiah dan surat itu sebelum Mellisa melihatnya. Ibu berpikir waktu itu mereka masih anak-anak, jadi mana mungkin perasaan Hilmi sedalam itu.


Setelah lulus SD Hilmi melanjutkan sekolah di kota, sejak itu sudah tidak terdengar lagi kabar tentangnya hingga kini.


"Pantas saja aku tidak pernah melihat-," ucap Talita belum selesai, dia berhenti bicara karena kakaknya datang.


"Apakah kalian sudah lapar? Ayo kita makan," ajak Mellisa.


"Iya," sahut ibu dan Talita. Mereka segera bangun dan menuju ruang makan.


"Rosy, Jasmine. Ayo sayang kita makan," ajak Mellisa sedikit berteriak karena yang diundang belum keluar juga dari kamar.


Tak lama, Rosy dan Jasmine segera keluar dan bergabung dengan bunda, tante dan nenek mereka.


Suasana sangat menyenangkan, begitu ramainya ruang makan.


Inayah melihat dua putri dan dua cucunya yang sangat manis. Keluarganya perempuan semua, hm.


Sampai petang tiba, Mellisa baru menyadari bahwa suaminya belum pulang, bukankah ini hari sabtu, harusnya pulang lebih awal kan.


Tiba-tiba Mellisa merasa jengkel. Dia berfirasat bahwa besok suaminya akan melanggar janjinya sendiri.


***

__ADS_1


__ADS_2