
Tahun terus berganti seiring berjalannya waktu. Kedua putri kembar pasangan Davin dan Mellisa juga tumbuh semakin besar.
Walaupun baru berusia tujuh tahun, akan tetapi semua orang yang melihat si kembar akan langsung terpesona karena kecantikan melebihi paras bunda mereka.
Kedua putri kembar tumbuh kembangnya sangat membanggakan orang tua mereka, keduanya sama-sama pintar.
Meskipun wajah mereka, hampir tak ada bedanya. Orang yang belum mengenal mereka, pasti tak bisa menebak yang mana yang bernama Rosy dan yang mana yang bernama Jasmine. Akan tetapi sifat keduanya sangatlah berbeda.
Rosy, sang kakak yang penurut namun pemalu dan penakut dan juga manja sama bundanya.
Sedangkan Jasmine memang agak nakal, penuh percaya diri dan berani, lebih senang bersama nenek atau tantenya.
***
Meja makan menjadi terasa sesak karena penambahan personel.
Ibu, Davin, Mellisa, Rosy dan Jasmine. Mereka tengah siap untuk sarapan bersama.
"Rosy, Jasmine. Kalian sudah mengecek buku yang dibawa belum? Jangan sampai ada yang ketinggalan. Dan ingat, kalian tidak boleh nakal ya! Terutama Jasmine, jaga sikapmu, jangan membuat onar di sekolah," tutur Mellisa sambil mengambilkan nasi dan menaruhnya di piring mereka.
"Iya, Bunda," jawab keduanya kompak dan sopan.
"Bunda, mereka sudah besar, pasti mereka bisa mengurus diri sendiri. Tak perlu terlalu khawatir seperti itu," sela Davin menenangkan istrinya.
"Pokoknya sarapan dan susunya harus dihabiskan! Jangan jajan sembarangan di sekolah, tadi Bunda sudah menyiapkan cemilan buat kalian bawa ke sekolah," timpal Mellisa mengabaikan suaminya.
"Iya, Bunda," jawab keduanya patuh.
Davin nyengir sendiri, karena sedari tadi diabaikan istrinya.
Ibu nampak bahagia melihat keluarga kecil ini.
"Cucu Nenek memang pintar, patuh sama Bundanya." Ibu mengacungkan jempol pada kedua cucunya.
Setelah semua selesai sarapan, tiba-tiba ponsel Davin berbunyi. Ada panggilan video dari adiknya, Andika bersama istrinya, Talita.
"Assalamu'alaikum, Kak Davin," salam Andika dan Talita bersamaan.
"Wa'alaikum salam," sahut Davin.
"Kalian sedang apa? Dimana Rosy dan Jasmine?" tanya Talita seperti tak sabar ingin melihat kedua keponakannya yang cantik-cantik itu.
Yang dicari berlarian mendekati ayah mereka.
"Hay Om Andika, hay Tante Talita," sapa kedua putri kembar itu.
"Hay sayang, kalian akan sekolah ya?"
"Iya. Om dan Tante kapan main ke sini lagi, ayo dong main," pinta Jasmine.
__ADS_1
Dia memang kadang merindukan tantenya. Tidak seperti Rosy yang selalu menempel terus pada bundanya sehingga jarang merindukan siapapun selain bundanya.
"Iya. Nanti Om sama Tante main, tapi tidak sekarang, Om kalian sedang sibuk," ucap Talita melirik suaminya.
"Om sama Tante payah," ucap Jasmine merengut sambil kembali ke kursinya.
Andika dan tertawa kecil melihat keponakannya yang satu itu.
"Rosy sayang. Bukankah hari ini hari pertama kalian sekolah? Kalian jangan nakal ya dan juga jangan takut menghadapi pelajaran di sekolah."
"Tenang saja Tante, aku pasti menurut, tak seperti anak yang itu tuh." Rosy mengangkat dagunya menunjuk ke arah adiknya.
Jasmine yang merasa tersindir langsung melempar kakaknya dengan buah tapi dengan tangkas buah itu ditangkap sang ayah.
"Jasmine, makanan tak baik dilempar-lempar seperti itu," ucap bunda mereka.
"Tapi Rosy mengatakan kalau aku nakal," jawab Jasmine membela diri.
"Aku tidak mengatakannya," sergah Rosy.
"Kamu memang nakal," ucap sang ayah menunjukkan buah yang di tangannya.
Rosy yang merasa menang langsung menghampiri bundanya.
Mellisa tersenyum. Dia bermaksud mengambil alih panggilan video dengan Talita. Namun Jasmine malah salah paham, dia mengira bunda dan ayahnya tak membelanya.
Mellisa menggelengkan kepalanya, begitu pula Davin yang tak habis pikir dengan putri yang satunya ini.
"Hey sudah-sudah, jangan ribut lagi. Jasmine, Rosy. Kalian adalah keponakan Tante yang paling cantik yang paling Tante sayangi. Begitu pula Ayah dan Bunda kalian."
Jasmine diam tak menyahut, dia melirik sang kakak yang menempel pada bundanya dengan manja, lalu melihat ayahnya yang agak jauh.
Mellisa menghampiri Jasmine dengan Rosy yang membuntut di belakangnya.
"Kalian adalah putri kesayangan Bunda. Tidak ada yang Bunda bedakan. Jasmine, Bunda malah bangga padamu. Kamu bisa mandi sendiri, berpakaian rapi sendiri dan mengerjakan tugas kamu dengan sendiri," ucap bunda mereka membuat Jasmine tersenyum.
Rosy yang menempel pada bundanya pun langsung melepaskan diri agak jauh dari sang bunda. Dia merasa tersindir, dia memang manja dan semuanya dibantu sang bunda.
"Mulai sekarang aku juga akan sendiri, lihat saja, Ayah, Bunda akan aku buktikan."
Talita dan Andika terkekeh melihat tingkah keponakan mereka yang lucu.
Terlebih ayah dan bunda dari putri kembar.
"Kak Mellisa," panggil Talita.
"Iya, Ta," sahut Mellisa mengambil ponsel dari tangan Jasmine.
"Dimana ibu? Aku ingin bicara dengan ibu."
__ADS_1
Ibu yang sedari tadi belum terlihat di video menampakkan diri kemudian tersenyum melihat Talita dan menantunya.
"Apakah Ibu baik-baik saja, aku akan berkunjung mungkin minggu depan, Bu. Aku sangat rindu sama Ibu."
"Iya, Ta. Apalagi Ibu. Lihat di sini sangat ramai kan? Cepat main ke sini. Kamu pasti kesepian karena di rumah sendirian."
Talita tersenyum. Memang dia merasa kesepian, karena setelah menikah hanya beberapa hari tinggal di rumah mertuanya. Andika membawanya ke rumahnya yang dekat dengan tempat kerjanya dan mereka hanya tinggal berdua.
"Iya, Bu. Sudah dulu ya. Mas Dika juga harus berangkat kerja. Assalamu'alaikum semuanya."
"Wa'alaikum salam," jawab semua bebarengan.
"Sayang, putri-putri Ayah. Ayo saatnya kita berangkat," ajak Davin pada kedua putrinya sambil bangkit dari kursinya.
Mellisa dan ibu mengantar mereka sampai depan.
Mellisa memberi ciuman untuk suaminya dan putri-putri mereka.
Tak lupa Rosy dan Jasmine juga menyalami sang nenek.
"Hati-hati ya," ucap Mellisa sambil melambaikan tangannya.
***
Davin tengah sibuk menyiapkan berkas untuk meeting.
Anton hendak membantu, namun Davin menolak.
Setelah berkas yang dimaksud telah Davin siapkan, dia malah menyerahkannya ke Anton dan menyuruhnya mewakilinya untuk meeting.
"Anda yakin, Pak?" tanya Anton ingin memastikan.
"Ya, aku akan ke sekolah untuk menjemput putri-putriku," jawab Davin langsung meninggalkan Anton.
Davin ingat hari ini hari pertama putri-putrinya berangkat sekolah dasar, dia ingin kedua putrinya senang melihatnya telah menjemput.
Benar saja, Rosy dan Jasmine langsung senang setelah keluar dari pintu gerbang sekolah mendapati sang ayah telah menanti mereka pulang.
"Ayah menjemput kami," senang Rosy.
"Bukannya Ayah seharusnya di kantor Ayah," protes Jasmine namun tetap senang karena ayahnya menjemput.
"Sini Rosy, Jasmine. Karena ini hari pertama kalian sekolah. Ayah akan mentraktir kalian makan siang."
"Yeah." Keduanya nampak girang.
Davin tersenyum. Sebelumnya dia telah mengabari rumah kalau mereka akan makan siang di luar.
***
__ADS_1