Mellisa Untuk Davin

Mellisa Untuk Davin
Bab 27 Pernikahan


__ADS_3

1 bulan kemudian.


"Sah!" ucap para saksi dan para tamu undangan yang hadir bersamaan setelah sang pengantin laki-laki mengucapkan ijab qobul dengan lancar dan tenang.


Seketika Talita langsung meneteskan air matanya, dia menoleh sang ibu yang duduk di sebelahnya sejak awal acara.


Ibu tersenyum dengan haru, dia memeluk putri bungsunya dengan hangat sambil menahan air mata.


"Selamat, Ta. Sekarang kamu sudah menjadi seorang istri." Ibu melepas pelukannya.


Talita menatap ibunya yang berkaca-kaca, dia juga tak bisa menahan tangisnya.


"Jangan menangis sayang. Nanti riasannya luntur, sebentar lagi kamu akan dipertemukan dengan suamimu. Kamu harus nampak cantik di depannya." Ibu menghapus perlahan air mata di sudut mata Talita.


Beberapa saat kemudian, Talita dipanggil untuk dipertemukan dengan sang suami untuk pertama kalinya sejak keduanya telah sah menjadi sepasang suami istri.


Dengan digandeng sang ibu, Talita berjalan perlahan keluar kamar menuju tempat akad nikah dilaksanakan.


Talita berjalan melewati para tamu undangan yang hadir, langkahnya terhenti ketika kakaknya berdiri sambil menatapnya penuh haru.


Keduanya berjalan saling mendekat.


"Selamat ya, Dek. Semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya pada rumah tangga kalian," ucap Mellisa sebelum akhirnya kedua kakak beradik ini berpelukan erat.


"Amin. Terimakasih ya, Kak."


Keduanya melepas pelukan dan saling menatap.


Talita mengingat dulu ketika hari pernikahan kakaknya dan sekarang dia juga telah menyusul ke pelaminan.


Talita merasa terharu. Terlebih lagi ibu.


"Sekali lagi terimakasih ya, Kak." Talita malah memeluk kakaknya kembali.


Mellisa hanya bahagia tersenyum bahagia sambil mengelus punggung adiknya dengan lembut.


Talita kembali berjalan menuju meja akad, dimana sang suami telah menunggunya, dengan perasaan gugup tentunya mengingat ini adalah pertemuan pertama mereka setelah menjadi suami istri apalagi mereka sebelumnya terpisah jarak sebelum menikah.


Andika tertegun melihat Talita berjalan mendekatinya.


"Kamu sangat cantik, Talita," bisiknya.


Talita tersenyum malu oleh pujian suaminya.


Andika tak henti-hentinya menatap perempuan teristimewanya yang kini sudah menjadi halal untuknya.


Sementara Talita juga merasakan jantungnya berdegup kencang, dia terus menundukkan kepalanya.


Keduanya kini telah disandingkan, dengan nampak masih malu-malu dan canggung, mereka lalu menyelesaikan proses pemberkasan pernikahan mereka.


Setelah acara selesai, keluarga Andika memboyong kedua pengantin ke kediaman mereka. Dengan diiringi tangis keluarga Talita terutama ibu, kali ini ibu benar-benar tidur sendiri setelah Talita telah resmi menikah.


"Jaga dirimu baik-baik, sama suamimu harus menurut." Ibu memeluk putri bungsunya.


"Tentu saja, Bu. Aku akan sering berkunjung, rumah mas Dika dan kak Davin kan tidak jauh."


Talita melepas pelukan dan menyalami sang ibu lalu meninggalkan rumah Davin bersama keluarga suaminya.

__ADS_1


***


Mellisa menunduk untuk menyeka air mata yang terus keluar dengan sendirinya.


"Bunda," panggil Davin mengagetkan istrinya.


Davin duduk di samping Mellisa lalu memegang tangannya. Buru-buru Mellisa menyeka air matanya.


Mellisa menatap sang suami.


"Ini hari bahagia, kenapa menangis?" tanya Davin lalu mengusap kepala Mellisa dengan lembut.


"Bunda menangis karena bahagia, pernikahan Talita dan Andika benar-benar sempurna, mereka dua pasangan yang saling mencintai," ucap Mellisa berkaca-kaca.


"Bunda tahu? disaat hari pernikahan kita, Ayah juga sangat bahagia. Ayah sangat ingat waktu itu Bunda sangat cantik dan mempesona."


Mellisa tersenyum. Dia merasa malu dan bersalah pada suaminya. Awalnya dia sangat terpaksa menjalani pernikahan mereka.


"Bunda minta ma'af ya, Ayah."


Davin tersenyum.


"Talita dan Andika sebelum menikah sudah saling kenal, mereka saling mencintai satu sama lain. Seperti itulah cerita cinta yang dulu pernah Bunda inginkan."


"Apakah Bunda menyesal menikah dengan Ayah?"


"Bukan begitu, Ayah. Cerita cinta yang seperti itu memang menyenangkan, tapi jalan hidup manusia berbeda-beda. Bunda memang menyesal, menyesal karena terlambat bahwa Bunda begitu mencintai Ayah." Mellisa mencium pipi suaminya.


"Yang satunya sepertinya merasa iri," ucap Davin mendekatkan pipinya yang sebelah.


"Terimakasih, Ayah. Atas semuanya. Bunda sangat mencintai Ayah sepenuh hati Bunda."


Davin mengecup kening istrinya membuat istrinya itu memejamkan mata.


"Sama-sama, Bunda. Ayah juga mencintai dan menyayangi Bunda serta tak ketinggalan putri-putri kita."


Keduanya melepas pelukan lalu menatap satu sama lain.


"Rosy dan Jasmine sudah tidur, Yah. Ayo kita istirahat juga."


Davin mengangguk.


Mereka beriringan berjalan ke tempat tidur untuk istirahat.


***


Talita duduk di tepi tempat tidur, dengan masih memakai pakaian pengantin yang tentunya membuatnya tampil mempesona hari ini, dia terus terdiam dan memainkan jarinya.


Tak lama pintu kamarnya terbuka, Talita mengangkat kepalanya perlahan dan melihat Andika memasuki kamarnya untuk pertama kalinya.


Talita kembali menundukkan kepalanya.


Sementara Andika tersenyum sambil berjalan memasuki kamar dan menghampiri istrinya.


Talita tak bergeming, dia tetap menunduk.


Andika lalu duduk di samping istrinya, agak berjauhan hingga ada jarak diantara keduanya.

__ADS_1


Keduanya sama-sama terdiam.


"Mas Dika," panggil Talita pelan memecah keheningan.


Andika menoleh istrinya di sampingnya yang mengangkat wajah. Keduanya saling menatap.


"Ya, sayang," sahut Dika malu-malu.


"Ini malam pertama kita," ucap Talita pelan.


Andika mengangguk. Dia menggeser duduknya mendekati sang istri hingga kini keduanya saling berhadap-hadapan.


Dia lalu memegang tangan istrinya kemudian menciumnya dengan mesra.


Tentu saja Talita sangat gugup, begitu pun suaminya.


Mereka berdo'a bersama sebelum melakukan ibadah malam.


Andika memulai dengan mencumbu dan mencium istrinya dengan lembut. Talita yang telah menyerahkan seluruh hak suaminya atas dirinya berusaha melakukan kewajibannya sebagai seorang istri dengan melayani suaminya sepenuh hati, membiarkan Andika menguasai tubuhnya sesuka hati.


Dimalam itu, malam pertama mereka, dua insan yang terlena dalam kenikmatan dunia, memadukan cinta di tubuh mereka. Saling mengungkapkan cinta karena mengejar pahala dengan niat ibadah kepada-Nya.


***


Talita mengakui jika suaminya sangat perkasa, semalaman dia tidak tidur karena terus dihajar Andika.


Sampai adzan subuh, mereka baru selesai.


"Bagaimana? Masih mau menantang lagi?" tanya Andika menggoda istrinya.


"Aku lelah," sahut Talita lemas.


"Ayo kita mandi sekalian! Setelah itu kita sholat," ucap Andika sambil bangkit dari tempat tidur.


Talita segera bangun, namun sela-sela pahanya terasa sakit dan perih.


Melihat istrinya merintih pelan, Andika langsung menghampiri istrinya.


"Apakah sakit sekali?" Andika menjadi cemas.


"Iya, rasanya perih , Mas." Talita menjawab jujur.


"Bagaimana kalau kita lanjut lagi? Supaya tidak sakit lagi," goda Andika tersenyum nakal.


Talita langsung memukul lengan suaminya dengan keras.


"Kamu mau menyiksaku, Mas!" protes Talita. Wajahnya memerah menahan malu.


"Ma'afkan aku ya! Lain kali aku akan lebih lembut lagi," terang Andika lembut sambil memeluk tubuh istrinya.


Talita mengangguk.


Andika menggendong Talita ke kamar mandi, dia membantu istrinya mandi dan mandi bersama.


Setelah selesai mereka memakai pakaian dan sholat subuh berjamaah.


***

__ADS_1


__ADS_2