Mellisa Untuk Davin

Mellisa Untuk Davin
Bab 45 Bertengkar


__ADS_3

Larut malam.


Davin bergegas kembali ke rumah, semoga istrinya belum tertidur dan mema'afkannya kali ini.


Davin membuka pintu perlahan, ruangan gelap mungkin saja penghuni rumah sudah tertidur, dia memasuki rumah dan tersusul oleh Andika.


"Kenapa kamu ke rumahku? Pulang ke rumahmu sana!" usir Davin kesal.


Lampu tiba-tiba menyala, terlihat dua perempuan tengah duduk di sofa.


Davin dan Andika terkejut, istri mereka telah menyambut mereka dengan hangat, mungkin.


Mellisa tersenyum menghampiri sang suami.


"Ayah baru pulang," ucapnya sambil melonggarkan dasi sang suami.


"Iya, Bunda. Ma'afkan Ayah ya." Davin sedikit cemas.


"Tak apa, tapi Bunda minta ma'af karena Bunda hanya bisa melayani Ayah hanya sampai detik ini. Bunda sangat mengantuk, Bunda akan istirahat lebih dulu." Mellisa berlalu.


Talita hendak menyusul kakaknya ke kamar.


"Talita, kamu mau kemana?" tanya Davin.


"Tidur, Kak." Talita melanjutkan langkahnya ke kamar Mellisa.


Davin melihatnya dengan kesal, dia ingin memarahi Talita namun belum sempat dia bicara, Mellisa memanggil adiknya untuk segera memasuki kamar.


Davin mengepalkan tinjunya dan menoleh ke Andika yang nampak nyengir.


"Aku tidak tahu masalah kalian, kenapa menatapku seperti itu?"


"Kamu harus membayar atas malam ini."


"Enak saja, aku tidak membuat kesalahan."


Andika hendak berjalan ke sebuah kamar.


"Kamu tidak diizinkan tidur di kamar, tidur di sana." Davin menunjuk sofa.


"Ayolah, Kak Davin. Banyak kamar di rumahmu."


"Tidur di situ atau kamu silahkan pulang."


"Hais."


Davin berlalu meninggalkan adik sepupunya itu.


Andika yang lelah langsung bersandar di sofa hingga terlelap.


Sementara Davin di kamar sebelah.


"Aku merasa lelah dan pusing, harusnya Mellisa menemaniku dan memijitku."


Setelah beberapa saat, Davin terlelap juga. Sebelumnya dia telah memasang alarm agar besok bangun lebih awal.


Davin tahu, Mellisa akan sangat marah dan kecewa jika besok dia bekerja dan mengingkari janjinya sendiri. Sekilas dia memikirkan bosnya, itu salahnya karena memang kurang disiplin namun kenapa harus lembur di hari minggu, menyebalkan.


***


Pagi hari.


Semua masih tertidur kecuali ibu dan Davin.


Ibu tengah memasak di dapur, sementara Davin telah rapi dan bersiap ke kantor.


"Davin, kamu berangkat kerja di hari minggu?" tanya ibu melihat menantunya.


"Iya, Bu. Apakah ada sarapan?" tanya Davin menghampiri.


Davin melihat ada sebagian yang belum matang, lalu melihat masakan semur telur yang telah siap saji.


"Bolehkah aku makan, Bu?" tanya Davin meminta izin.

__ADS_1


"Tentu saja boleh," jawab ibu terkekeh. Apa-apaan menantunya ini, makan ya tinggal makan kenapa izin segala.


"Terimakasih, Bu."


Davin segera melahap makanan dengan rakus, dia sangat lapar karena kelelahan bekerja.


Setelah selesai sarapan, Davin berniat menghampiri istrinya namun pintu kamar masih tertutup.


"Apakah dia belum bangun?" tanyanya bergumam.


Beberapa detik kemudian, pintu terbuka. Mellisa keluar dari kamar dengan mata yang masih sayup.


Davin segera menghampiri.


"Bunda," panggil Davin.


Mellisa menoleh suaminya yang sudah rapi, dia cemberut.


"Sayang, ma'af." Davin menyesali diri.


Mellisa menyalami suaminya tanpa bertanya dan berlalu ke dapur.


Davin merasa bersalah namun harus bagaimana lagi, dia harus segera berangkat ke kantor, semoga saja hari ini selesai cepat dan menghabiskan sisa hari bersama istri dan kedua putrinya.


Di kantor.


Beberapa karyawan ada juga yang lembur namun tak banyak.


"Pagi, Pak Davin," sapa satpam yang bertugas hari ini.


"Pagi, aku jarang melihatmu," sahut Davin menatap sang satpam.


"Saya biasanya sip malam dan hari libur, Pak."


"Oh."


Davin melanjutkan langkahnya ke ruangan kerjanya. Dia menyemangati dirinya sendiri, baiklah ini semua demi keluarga kecilnya yang bahagia. Dia tersenyum memulai pekerjaannya.


Menjelang siang, Sonya datang memasuki ruangan Davin. Dia menyapa.


"Iya, Nona Sonya. Apakah anda ingin mengecek tugas saya, insyaAllah sebentar lagi, tidak sampai sore."


"Tak perlu terburu-buru."


Sonya mendekati Davin, dia menatap Davin tiada henti dengan senyuman genit.


Davin menjadi salah tingkah, ada yang tidak beres.


"Ma'af, Nona. Apakah anda ada keperluan lain lagi?"


"Tidak. Aku hanya ingin menemanimu."


Dengan berani Sonya menghampiri lebih dekat dan hendak memijit pundak Davin.


"Tak perlu, Nona." Davin menolak dengan menghindar.


Sonya menjadi marah namun dia menahannya dan berusaha berkata lembut.


"Apa istrimu tidak marah kamu lembur di hari minggu?"


Sebenarnya Davin malas menjawab.


Davin jelas sangat risih dengan kehadiran Sonya namun dia segan untuk mengusir atasannya itu.


"Istri saya sangat mengerti saya, Nona. Lagipula saya bekerja mencari nafkah untuk dirinya dan anak-anak."


Sonya mendekat lagi dan berbisik.


"Kamu suami yang bertanggung jawab."


Pintu terbuka.


Betapa terkejutnya Davin melihat istrinya datang ke kantor.

__ADS_1


Mellisa lebih dari terkejut, kantor nampak sepi namun suaminya berada di ruangannya bersama Sonya, bosnya.


Mereka terlalu dekat, apa yang mereka lakukan. Pekerjaan apa yang mengharuskan posisi keduanya sedekat itu.


"Sayang," panggil Davin beranjak dari duduknya menghampiri sang istri.


Sonya memang kesal terlebih istrinya Davin datang disaat yang tak tepat, dia pikir bisa merayu Davin.


"Sepertinya aku mengganggu," kesal Mellisa.


"Iya, kami sedang fokus dalam pekerjaan kami, tiba-tiba kamu datang," ucap Sonya dingin.


"Lagipula kamu selalu datang ke kantor suamimu, apa suamimu tidak mengatakan kalau dia telah ditegur karena kamu," lanjut Sonya lagi.


"Oh. Saya tidak tahu itu. Saya pikir saya salah lagi karena datang ke sini. Ma'af saya akan pergi." Mellisa hendak berlalu.


"Jangan, sayang." Davin menarik tubuh istrinya ke dalam pelukannya.


Mellisa hampir menangis.


"Apa-apaan kalian, ini kantor bukan kamar kalian," tegur Sonya marah.


Mellisa berusaha melepaskan diri dari Davin, namun Davin semakin erat memeluknya.


"Kalian sangat menyebalkan." Sonya berlalu dengan membanting pintu dengan keras.


"Aku merindukanmu dari kemarin sayang," bisik Davin.


"Kalian sedang apa tadi?" tanya Mellisa mengintrogasi.


"Bunda percaya dengan Ayah, kan?"


"Jawab saja!" sentak Mellisa.


"Kami hanya diskusi, Bunda jangan memikirkan yang lain."


Mellisa tidak puas dengan jawaban sang suami, ada yang aneh dengan jarak yang terlalu dekat tadi, memang harus sedekat itu saat berdiskusi.


Dengan masih cemberut Mellisa menyiapkan makanan yang dibawanya untuk sang suami.


"Terimakasih, istriku," ucap terimakasih Davin. Dia siap melahap masakan sang istri.


Davin selesai makan, namun Mellisa masih cemberut saja.


"Sayang, sudahlah cemberutnya." Davin mencubit dagu sang istri.


"Jika Bunda tidak segera datang apakah akan terjadi sesuatu?" tanya Mellisa menahan amarah.


"Apa maksud Bunda?" tanya Davin balik.


"Bunda pernah melihat Ayah dengan Jeny dulu berduaan di ruangan ini dan sekarang bos Ayah. Bagaimana mungkin kalian hanya berdiskusi? Lagipula ini ruangan seorang bawahan, kenapa seorang atasan malah datang ke sini?" Mellisa meluapkan apa yang ada di pikirannya.


"Bunda sangat tahu betapa Ayah mencintai Bunda, jangan berpikir berlebihan."


"Bunda hanya ingin tahu."


Davin membuang nafas kasar. Hah kenapa istrinya harus meluap-luap disaat seperti ini, rasanya lelah dan ingin memeluknya, dia sangat merindukannya.


"Jangan membahas lagi, kemarilah." Davin menarik lengan Mellisa hingga terjatuh ke pangkuannya.


Davin mendekatkan wajahnya pada wajah sang istri. Dia mencoba mencium bibir Mellisa namun Mellisa segera berpaling.


"Bunda akan pulang." Mellisa hendak bangun namun Davin menariknya kembali.


"Temani Ayah," pinta Davin.


Davin langsung mencium bibir sang istri dengan rakus, Mellisa memberontak namun tak dapat melepaskan diri.


Setelah puas Davin melepaskan istrinya.


"Tidak semudah itu, Ayah!" Mellisa sangat kesal, dia berlalu pulang tanpa pamit.


"Benarkah tidak mempan," kekeh Davin.

__ADS_1


"Aku harus segera selesai dan membujuknya lagi nanti."


***


__ADS_2