
"Bun, Ayah istirahat duluan ya, Ayah merasa pusing." Davin melangkah masuk ke dalam kamar.
Sementara Mellisa beres-beres rumah sambil menunggu ibu dan kedua putrinya pulang.
Mellisa merasa kurang puas menjalani libur akhir pekan ini.
Namun melihat suaminya yang nampak kelelahan dan pucat semenjak dari kantor membuatnya merasa kasihan.
Setelah selesai melakukan pekerjaan rumah, Mellisa segera mengecek keadaan sang suami di kamar.
"Mas," panggil Mellisa membuka pintu kamar.
Davin tak menyahut.
"Kamu dah tidur?" tanya Mellisa menghampiri sang suami.
Mellisa melihat mata sang suami yang tengah terpejam, dia lalu memegangi keningnya.
"Alhamdulillah tidak apa-apa, sepertinya ada sesuatu yang membuat ayah syok," ucap Mellisa lirih.
Mellisa lega, suaminya tidak kenapa-kenapa. Hanya saja dia tidak tahu dan ingin mencari tahu apa yang terjadi pada suaminya.
Biasanya Davin selalu mengatakan apapun yang berhubungan dengan perusahaan. Namun kali ini Davin tak banyak cerita tentang kantornya.
Tiba-tiba terdengar pintu rumah diketuk, tersusul suara salam dari luar pintu.
Mellisa segera membukakan pintu, dilihatnya Rosy dan Jasmine telah pulang tentunya diantar oleh om dan tante mereka.
"Bunda," girang kedua putri kembar menghampiri sang bunda.
"Sayang-sayang Bunda, kalian dah pada pulang." Mellisa memeluk mereka erat.
Setelah memeluk puas, Mellisa melepaskannya. Rosy dan Jasmine langsung bercerita panjang selama mereka bersama om dan tante mereka.
Mellisa mendengarkan mereka sambil tersenyum, begitu pula yang lain.
Beberapa saat kemudian, Andika dan Talita berpamitan untuk pulang.
"Kalian hati-hati di jalan. Terimakasih ya untuk hari ini," ucap Mellisa mengantarkan adiknya ke depan.
"Sama-sama, Kak. Kami juga senang sekali bisa jalan-jalan bareng Rosy dan Jasmine." Talita tersenyum menatap kakaknya lalu beralih ke ibunya.
Talita sepertinya belum rela berpisah dengan sang ibu.
"Bu," panggil Talita mendekat sang ibu.
"Iya, Ta." Ibu memeluk putri bungsunya.
Talita menikmati pelukannya dan menoleh sang kakak.
"Kak, bolehkah ibu tinggal bersamaku?" tanya Talita tiba-tiba.
Mellisa sempat kaget namun dia berusaha menyembunyikannya. Bukannya tidak mengizinkan, namun Mellisa bingung sendiri mau mengatakan apa. Dia senang ibunya bersamanya, namun Talita juga adiknya, mungkin karena kesepian Talita ingin ibu tinggal bersamanya.
"Bagaimana, Kak?" tanya Talita lagi karena kakaknya tak menjawab.
"Iya terserah pada Ibu. Ibu boleh tinggal bersamaku atau Talita itu sama saja. Kami berdua anak Ibu, Ibu jangan sungkan." Mellisa berusaha hati-hati dalam bicara.
Ibu nampak senang, dia tersenyum. Betapa bahagianya ibu mempunyai dua putri yang benar-benar peduli padanya.
Dulu ibu berpikir, ketika Mellisa menikah dan ikut sang suami. Tersusul Talita juga menikah tentu ikut dengan suaminya. Ibu sudah berpikir, dia akan tinggal sendiri.
Namun Ibu sudah bisa memetik buah yang dia tanam. Kedua putrinya sangat menyayanginya dan tak akan membiarkannya sendirian.
"Ibu ikut Talita ya," ucap ibu sambil menatap sang putri sulung.
"Baik, Bu. Sering-sering berkunjung ya atau nanti gantian aku bersama anak-anak akan main."
__ADS_1
Setelah siap, Andika bersama istrinya serta ibu pergi meninggalkan rumah Davin.
Sepeninggal mereka, Mellisa bermaksud mengecek kembali keadaan sang suami. Dia bergegas ke kamar untuk memeriksa.
Suara terdengar ramai ketika Mellisa hampir menuju pintu kamar.
Mellisa mengerutkan alis dan segera masuk kamar.
"Ayah, Rosy, Jasmine."
Mereka bertiga tengah bermain asik, mereka berhenti sebentar lalu melanjutkannya lagi.
"Iya, Bunda," sahut mereka.
"Lebih baik kalian istirahat di kamar kalian, biarkan ayah kalian istirahat dengan santai."
"Baik, Bun."
Sepeninggal kedua putrinya, Mellisa menghampiri sang suami.
"Apa Ayah merasa lebih baik?"
Davin mengangguk.
"Ayo tidur lagi," ajak Mellisa memeluk sang suami.
Davin mengangguk lagi.
Mereka berbaring dan tertidur.
***
Davin berangkat pagi sekali dan pulang sangat larut. Ini dia lakukan sampai satu minggu penuh sampai tiba hari minggu lagi.
Kali ini Mellisa bangun pagi, dia melihat sanh suami nampak gelisah walaupun matanya masih tertutup.
Davin tak menyahut, bibirnya semakin lama semakin bergetar.
Mellisa memegang kening sang suami yang ternyata panas.
"Ayah demam. Ayo kita periksa ke rumah sakit, Yah," ajak Mellisa panik.
Davin membuka matanya perlahan.
"Ayah hanya demam biasa, carikan pamol saja di kotak obat," ucap Davin sambil gemetar.
"Iya, Ayah. Bunda akan membuat bubur, Ayah makan dulu baru minum obat."
Davin mengangguk.
Mellisa bergegas keluar dari kamar menuju dapur membuatkan bubur untuk suaminya.
"Bunda," panggil Rosy tiba-tiba datang.
"Kamu sudah bangun sayang. Apa adikmu sudah bangun?"
"Belum, Bun."
"Ya sudah, sini bantuin Bunda membuat bubur untuk Ayah."
"Bubur? Memangnya ayah kenapa, Bun?"
"Ayah demam sayang."
Rosy mengangguk kasihan, dia menemani sang bunda di dapur hingga buburnya siap saji untuk sang ayah.
Setelah selesai, Mellisa ditemani Rosy membawa bubur serta obat ke kamar Davin.
__ADS_1
"Ayah," panggil Rosy mendekat.
Davin tersenyum menyambut putrinya. Rosy langsung menyuapi bubur pada ayahnya.
"Dimana adikmu?" tanya Davin menyadari Rosy hanya datang bersama bundanya.
"Jasmine belum-." Rosy belum selesai menjawab tiba-tiba Jasmine datang menyela dengan tampilan rambutnya yang berantakan.
"Aku sudah bangun, kenapa tidak membangunkanku," kesal Jasmine, dia melihat situasi di depannya, sepertinya ayah sakit.
"Ayah kenapa?" tanya Jasmine mendekat.
"Ayah sakit," jawab Rosy masih sambil menyuapi sang ayah.
"Sakit? Ayah pasti kelelahan. Ayah bekerja terlalu keras. Ayah sangat payah," ucap Jasmine menyulut emosi sang kakak.
"Coba kamu katakan lagi," tantang Rosy.
"Ayah sangat payah, Ayah tidak punya waktu untuk kita. Minggu kemarin Ayah meninggalkan liburan kita dan pergi ke kantor, hari ini Ayah sakit karena terlalu bekerja keras di kantor." Jasmine meluapkan isi hatinya.
Mellisa tersentak, Jasmine yang hanya anak kecil saja tahu. Yang barusan Jasmine ungkapkan bisa dikatakan mewakili perasaan Mellisa.
"Ayah sedang sakit, bisakah tidak membahas itu?" Rosy berkata lembut.
"Ayah, aku-" Jasmine hendak mengatakn sesuatu namun Mellisa menyelanya.
"Bisakah kalian keluar, biar Bunda yang menemani Ayah," pinta Mellisa hati-hati.
"Kamu sana keluar," ucap Rosy mendorong pelan tubuh Jasmine.
"Bunda mengatakan kita, bukan aku, kenapa kamu mengusirku?" Jasmine mendorong balik tubuh kakaknya.
Tiba-tiba Davin langsung menyentuh kepalanya.
"Apa perlu Bunda perjelas! Keluar," usir Mellisa pada kedua putrinya itu.
Mellisa mengambil bubur dari tangan Rosy lalu menunjuk ke pintu agar Rosy dan Jasmine segera keluar.
Di depan pintu.
"Semua ini karena kamu, kalau kamu tidak mengacau, bunda tidak akan marah," kesal Rosy.
"Aku hanya mengatakan yang seharusnya, ayah lupa bahwa dia punya istri dan anak."
"Kamu berlebihan."
"Tolong jangan berisik!" teriak Mellisa dari dalam kamar.
Rosy dan Jasmine langsung terdiam. Mereka melangkah menjauh mencari kesibukan masing-masing.
"Habiskan buburnya dan minum obat, Yah." Mellisa menyuapi Davin.
Davin menurut karena dia sadar harus segera sehat.
"Jangan terlalu dipikirkan, mereka hanya anak-anak." Mellisa menghibur sang suami.
"Tapi mereka benar, Bunda mengiyakan bukan."
"Ayah, Bunda selalu mendukung Ayah. Bunda sangat mengerti kenapa Ayah begitu sibuk. Ayah harus bertanggung jawab sebagai bos di kantor."
"Terimakasih, Bunda."
"Istirahatlah, Bunda akan beres-beres rumah dulu."
Davin mengangguk. Memang Mellisa menunjukkan dukungannya, namun Davin sendiri masih merasa tidak enak hati dengan istrinya.
Tak lama Davin telah terlelap karena efek samping pamol yang dia minum.
__ADS_1
***