
Davin masih belum sadarkan diri, dia entah tidak tahu dimana dirinya.
Sementara Anton kembali ke hotel tempat party dan mencari-cari Davin namun tidak ketemu.
Anton merasa aneh juga, kemana Davin?
Di sisi lain, Sonya dan Hilmi tengah bersiap melakukan rencana mereka.
"Apa kamera sudah siap?" tanya Sonya.
"Sangat siap."
Sonya tersenyum penuh arti, sepertinya Davin akan segera hancur, pikirnya.
Sonya menempatkan Davin di salah satu kamar hotel dibantu oleh Hilmi.
Sonya bersiap ke tempat tidur dimana Davin berada, dengan setengah bertelanjang dada Sonya memberanikan diri memeluk Davin.
Perlahan Sonya membuka kancing kemeja Davin satu persatu, sungguh seksinya pria idamannya ini.
"Ambil fotonya, buat agar nampak natural," suruh Sonya.
"Siap," sahut Hilmi memerankan tugasnya.
Ceklik.
Ceklik.
Ceklik.
Entah berapa kali, gambar telah berhasil terambil.
Hilmi berkemas untuk meninggalkan kamar hotel.
"Aku akan pergi."
"Jangan lupa kasih uang tutup mulut untuk pelayan dan orang suruhanmu."
"Siap, setelah anda mentransfer, Nona."
Hilmi berlalu dengan senyum kemenangan selain mendapatkan uang dari Sonya, dia juga akan dapat mendekati Mellisa secara perlahan.
Sonya pun sebenarnya kesal, mereka yang berencara dan bekerja sama namun kenapa hanya dia yang mengeluarkan uang.
"Dasar orang miskin," umpat Sonya.
Kekesalan Sonya memudar setelah melihat Davin, pria dambaannya.
Sonya mengambil posisi di dekat Davin dan berbaring menemaninya.
"Akan kutemani dirimu sayang," lirih Sonya sambil memandangi Davin yang nampak semakin tampan, pikirnya.
***
Mellisa baru saja melihat ponselnya, dia melihat pesan WA dari suaminya yang sudah dari pagi rupanya, dia segera membalasnya.
"Iya, Ayah."
Biasanya Davin akan segera membalas chat Mellisa.
Sudah beberapa saat, belum ada balasan. Mellisa melihat jam dinding, ini sudah malam, bukannya kemarin suaminya berjanji akan pulang sore, ada apa ya?
Akhirnya Mellisa menelfon karena penasaran.
Nampak di ponsel berdering, namun sang suami tak kunjung mengangkatnya, Mellisa menjadi khawatir.
Mellisa gelisah tentunya, dia mengambil minum karena haus sambil menunggu kabar dari sang suami.
Pyar!
Mellisa kaget, kenapa dia menjatuhkan gelas? Dia merasa sudah menggenggam dengan erat gelas tadi.
"Bunda, ada apa?" tanya Rosy dan Jasmine terbangun.
Gelas yang baru saja pecah berserakan di lantai, Rosy dan Jasmine hendak membantu sang bunda membereskan, namun Mellisa tidak mengizinkan.
__ADS_1
"Jangan sayang biar Bunda saja, kalian kembali ke kamar dan tidur lagi, besok kalian sekolah kan?"
"Iya, Bunda."
Selesai membereskan pecahan gelas, Mellisa kembali duduk dengan gelisah, dia mencoba menelfon suaminya lagi dan lagi, namun tetap sama hanya berdering tanpa diangkat.
Dalam gelisahnya Mellisa memikirkan Jeny untuk sekedar bertanya, dia mulai menelfon Jeny.
"Assalamu'alaikum, Jeny," salam Mellisa merasa cukup lega karena telfonnya diangkat.
"Wa'alaikum salam, Mell. Ada apa malam-malam begini telfon?"
"Apa kamu ikut party di hotel?"
"Iya tapi aku pulang tadi sore."
"Mas Davin belum pulang sampai sekarang."
"Apa Davin tidak mengatakan padamu kalau menginap, Mas Anton juga menginap di sana."
"Oh, baik. Terimakasih Jen."
"Sama-sama, Mell."
"Ma'af mengganggumu malam-malam. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikum salam."
Telfon berakhir, setelah ini Mellisa merasa sedikit lega walau tetap masih ada yang mengganjal dalam hatinya, ternyata suaminya menginap, dia sudah berpikir macam-macam jika terjadi sesuatu dengan sang suami.
Malam semakin larut, Mellisa mencoba untuk tenang dan istirahat, namun tetap saja perasaannya tidak enak.
Mellisa mengambil air wudhu dan membaca beberapa ayat Al-Qur'an untuk menenangkan hatinya.
Setelah selesai, Mellisa berbaring di tempat tidur untuk istirahat.
'Ya Allah, lindungilah keluarga kami, jagalah keutuhan rumah tangga kami. Aamiin.'
***
Selesai sarapan, Mellisa bersiap mengantarkan kedua putrinya berangkat sekolah.
"Ayah belum pulang, Bunda?" tanya Rosy.
"Iya, ayah kalian menginap bersama teman-teman sekantornya."
"Pasti ayah sangat bersenang-senang," kesal Jasmine.
Sang ayah selalu menghabiskan waktunya di kantor, bersenang-senang pun dengan teman-teman sekantor sampai menginap segala, pikir Jasmine sampai kesal.
"Ayo kita berangkat sekolah," ajak Mellisa.
"Ayo, Bunda."
Mellisa dan kedua putrinya memasuki mobil taksi online langganannya untuk antar jemput sekolah.
Sesampainya di sekolah.
"Apakah Bunda ingin mampir kelas kami dulu." Rosy menawarkan, sang bunda biasanya hanya mengantar sampai depan gerbang sekolah.
"Boleh." Mellisa mengiyakan.
Mereka berjalan menelusuri halaman sekolah sampai ke kelas.
"Sudah lama, Bunda tidak melihat kelas kalian."
"Iya, Bunda."
Mellisa melihat-lihat isi kelas, setelah puas dia berpamitan untuk pulang.
"Kalian baik-baik di sekolah, Bunda pamit pulang ya." Mellisa menyalami keduanya.
"Bunda juga hati-hati ya."
"Iya."
__ADS_1
Mellisa berjalan keluar dari kelas menuju ke depan gerbang.
Sebelum sampai di depan, Mellisa berpapasan dengan Hilmi yang baru saja datang ke sekolah.
"Pagi, Mell," sapa Hilmi tersenyum.
"Pagi juga," sahut Mellisa agak berat.
"Bagaimana kabarmu hari ini?"
"Baik. Ma'af, Pak Hilmi. Saya permisi pulang." Mellisa bergegas mempercepat langkahnya menghindari Hilmi.
Hilmi hanya tersenyum.
'Harus perlahan mendekati Mellisa, setidaknya buat Mellisa tidak terganggu dulu'.
***
Sampai di rumah, Mellisa bersandar di sofa bersantai, kenapa suaminya belum juga pulang.
Lagi-lagi Mellisa merasa ada yang mengganjal di hatinya.
Brak!
Pyar!
Mellisa sangat kaget, Foto di dinding ruang tamu terjatuh, bingkai dan kaca pecah berserakan di lantai.
"Ya Allah." Mellisa memegangi dadanya.
Mellisa menghampiri arah suara, dia membereskan semua yang berserakan, foto itu diambilnya dan ditatapnya dengan seksama.
'Ayah,' panggilnya dalam hati.
Mellisa memeluk foto itu, foto pernikahan dirinya dan suami, Mellisa teringat dari awal mereka menikah, mungkin di foto itu dirinya nampak cantik namun waktu itu Mellisa sangat ingat, dia belum mencintai sang suami.
***
Sementara di hotel.
Davin terbangun dan terkejut mendapati dirinya tidur bersama Sonya, dia langsung mendorong Sonya.
Davin tidak bermaksud mendorong tubuh Sonya dari tempat tidur hingga terjatuh.
Sonya yang baru saja terbangun juga terkejut karena sakit, dirinya tergeletak di bawah tempat tidur.
'Ini pasti ulah Davin,' batin Sonya.
"Kenapa aku bisa bersamamu!" marah Davin.
"Mana aku tahu," sahut Sonya berusaha bangkit.
"Kamu melakukannya lagi, menjebakku lagi, aku tidak akan mengampunimu kali ini."
"Apa yang akan kamu lakukan, aku sungguh tidak tahu kenapa aku ada di sini." Sonya menangis.
"Kamu pikir aku percaya, aku telah meremehkanmu selama ini."
"Aku sudah memiliki Hilmi, kenapa aku menjebakmu."
Davin diam, dia tak mau berdebat tentang ini, dia harus segera pulang.
Segera Davin berkemas dan keluar dari kamar hotel, di luar masih banyak para karyawan yang masih mengobrol menikmati sisa party.
"Davin, kamu kemana saja, aku tidak melihatmu semalaman." Anton menepuk pundaknya.
"Kamu juga belum pulang."
"Sebentar lagi aku akan pulang."
Davin melihat ponselnya, pukul 09.00 pagi.
Banyak pesan dan panggilan telfon dari sang istri, Davin segera menutup ponselnya dan bergegas pulang.
***
__ADS_1