
Davin pasti menyesali hari libur ini, rumahnya ramai karena Andika dan Talita masih di sana juga ibu.
Betapa meriahnya suasana kehangatan keluarga ini, sayangnya Davin harus lembur kerja.
Mellisa kembali ke rumah dengan wajahnya yang masih cemberut, sang ibu melihatnya dan menyapa, namun Mellisa hanya melengos dan berlalu ke kamarnya. Dia bahkan lupa tidak menutup pintu rumah setelah masuk.
"Hay, Kak. Tak sopan sekali. Apakah kakak tidak mendengar ibu menyapa," tegur Talita.
Rosy dan Jasmine tak begitu memperhatikan bunda mereka pulang, mereka tengah asik bermain dengan om mereka, om Andika.
"Sepertinya kakakmu sedang kesal, Ta?" Ibu bertanya sambil melangkah ke pintu dan menutupnya.
"Pasti karena kak Davin. Kak Mellisa kan baru saja dari kantornya kak Davin," jawab Talita lalu menghampiri suami dan kedua keponakannya yang cantik-cantik.
Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu.
"Mungkin itu Davin," ucap ibu membuka pintu kembali.
Ibu melihat ada dua orang yang datang namun bukan Davin.
"Assalamu'alaikum, Bu Inayah." Jeny menyalami ibu.
"Assalamu'alaikum, Bu," salam Anton juga.
"Wa'alaikum salam. Mari silahkan masuk." Ibu mempersilahkan tamunya ke ruang tamu.
Ibu berjalan diiringi oleh Jeny dan Anton di belakangnya.
Sampai di ruang tamu.
"Hay Rosy, hay Jasmine," sapa Jeny dan Anton bersama.
Yang disapa langsung menghentikan aktifitasnya dan menoleh.
"Om baik, Tante cantik," girang keduanya.
"Silahkan duduk dulu, Ibu akan membuatkan kalian minum," ucap ibu ramah dan langsung menuju dapur.
Talita ikut bergabung juga di ruang tamu, dia duduk di sebelah suaminya.
Anton dan Jeny juga duduk bersebelahan, kedua putri kembar langsung mendekat.
"Apa yang membawa Om dan Tante ke sini?" tanya Rosy.
"Kami merindukan kalian," jawab Jeny tersenyum.
"Tak percaya." Jasmine meledek.
"Oh. Ini untuk kalian." Anton menyerahkan dua hadiah untuk mereka, masing-masing mendapat satu.
"Terimakasih, Om, Tante," ucap terimakasih Rosy sambil mengambil hadiah itu.
Jasmine memandangnya penuh curiga.
"Apakah ada udang di balik batu?" tanyanya membuat semua orang tercengang.
Andika dan Talita terkekeh dengan keponakan mereka yang satu ini.
"Apa maksudmu, Jasmine?" tanya Talita.
"Kamu benar Jasmine," ucap Anton setuju.
"Kalian tahu, kami memberikan ini untuk kalian agar kalian mau jadi pagar ayu di pernikahan kami minggu depan," terang Jeny.
"Benarkah?" Rosy tak percaya.
__ADS_1
"Kami sangat mau," ucapnya lagi.
Jasmine menggelengkan kepalanya, dia baru saja akan mengatakan tidak namun Rosy telah lebih dulu menjawabnya. Dia jadi cemberut.
"Selamat untuk kalian," ucap Talita dan Andika. Mereka menyalami memberikan selamat.
Yang diberi selamat menyambut tangan mereka dengan senang hati.
"Ini minumannya, silahkan diminum." Ibu menaruh minuman di meja.
"Terimakasih, Bu."
"Nenek, om baik dan tante cantik akan menikah minggu depan dan mereka meminta kami menjadi pagar ayunya." Rosy tak sabar memberitahukan pada sang nenek.
"Oh. Selamat buat kalian. Semoga langgeng sampai kakek nenek ya." Ibu turut bersuka cita.
"Kami ke sini khusus mengundang kalian semua untuk hadir di acara pernikahan kami. Kami mohon, datanglah. Kami akan sangat senang." Jeny mengundang sopan.
"Tentu saja," sahut semuanya.
"Dimana Davin dan Mellisa?" tanya Jeny baru menyadari ternyata tuan dan nyonya rumah justru tak terlihat dari tadi.
"Tante," panggil Jasmine.
Jasmine lalu menceritakan dengan berbisik, mungkin sebentar lagi ayahnya akan pulang.
Anton dan Jeny hanya mengangguk-angguk saja.
Benar saja. Melihat pintu rumahnya terbuka, Davin langsung menerobos masuk ke ruang tamu, matanya berpapasan pandang dengan Mellisa yang baru saja keluar dari kamar, keduanya saling menatap.
Davin mengerdipkan sebelah matanya membuat Mellisa langsung memalingkan wajahnya dengan cemberut.
Mereka tidak memyadari ada orang lain juga di dalam rumah.
"Bunda," panggil Rosy juga menghampiri sang bunda.
Rosy dan Jasmine mendorong pelan tubuh bunda dan ayah mereka ke ruang tamu.
Betapa terkejutnya Davin dan Mellisa melihat ternyata rumah mereka ramai dan semuanya berkumpul di sini.
Semuanya menyambut tuan dan nyonya rumah.
Mellisa juga mengingat yang barusan, apakah semuanya melihatnya cemberut.
Davin mendekati istrinya dan menarik pinggang sang istri ke dekapannya.
"Bunda, kenapa tidak mengatakan kalau ada tamu di rumah?" Davin menatap istrinya dengan senyuman.
Mellisa melirik wajah suaminya yang tampan, apakah Davin tak merasa bersalah? Menjengkelkan, Davin memang tampan. Oh sial.
"Pak Davin dan Bu Mellisa, kami sengaja kemari mengundang kalian sekeluarga untuk hadir di pernikahan kami minggu depan." Jeny tersenyum.
"Oh Jeny, kamu akan menikah, akhirnya." Mellisa meloloskan diri dari dekapan suaminya dan menghampiri Jeny.
"Aku turut berbahagia untukmu," ucapnya lalu memeluk Jeny.
Karena keadaan rumah yang ramai, maka Mellisa berkesempatan mengacuhkan sang suami sepanjang sisa hari, tahu rasa kan, hm.
Sore hari.
Andika membawa istri dan mertuanya pulang lebih dulu, beberapa saat kemudian juga Anton dan Jeny.
"Kenapa kalian tidak tinggal lebih lama?" tanya Mellisa manja, dia melirik sang suami.
"Lain kali saja, kami tak ingin mengganggu kalian," sahut Anton mengerdip ke arah Davin.
__ADS_1
"Menginaplah, di sini banyak kamar," pinta Mellisa memelas.
"Mereka punya rumah, mereka harus pulang," ucap Davin tak sabar.
"Terimakasih, Mell. Kami harus pulang." Jeny memeluk Mellisa, Mellisa menyambutnya dengan senang hati.
"Aku juga ingin dipeluk."
"Aku juga."
Kedua putri kembar itu mendekat dan Jeny menyambut mereka dengan pelukan.
"Sayang, Tante pulang dulu ya."
"Iya, Tante. Hati-hati di jalan. Om nyetirnya jangan ngebut ya." Rosy menasihati.
Anton dan Jeny tersenyum lalu mengangguk.
Mereka melambaikan tangan untuk Davin sekeluarga.
Davin dan keluarga kecilnya melambaikan tangan juga mengiringi kepergian kedua tamu spesial itu.
***
Malam hari.
Mellisa kembali ke kamarnya setelah menemani Rosy dan Jasmine belajar. Kedua putrinya akan tidur karena hari sudah malam.
Ceklek.
Mellisa membuka pintu kamarnya, betapa terkejutnya dia melihat tempat tidurnya yang tak biasa.
Seprei telah diganti yang baru dengan motif love dan mawar merah, seisi ruang juga sangat wangi.
Mellisa mengerutkan alisnya, apakah suaminya yang melakukan ini.
Ah itu hanya tipuan, memangnya kenapa jika memang suaminya yang melakukan itu, ini juga kan kamarnya.
Mellisa berbaring lalu memejamkan mata.
Beberapa detik kemudian, Davin memasuki kamar dengan membawa sebuah kotak yang terbungkus dengan cantik.
"Bunda," panggil Davin lalu menepuk lengan sang istri.
Mellisa yang belum terlelap membuka matanya.
"Ayah." Mellisa bangun lalu duduk.
Davin dengan malu-malu memberikan kotak hadiah untuk sang istri.
"Apa ini?" tanya Mellisa heran.
"Bunda tidak marah lagi kan?" tanya Davin.
"Tidak. Ayo kita tidur," ajak Mellisa lalu dia berbaring kembali.
"Tidak mau dibuka dulu hadiahnya."
"Besok saja."
Tak sampai lima menit, Mellisa sudah terlelap.
Davin menghembuskan nafas kasar, kenapa istrinya tak bisa melihat usahanya malam ini. Masih kesalkah?
***
__ADS_1