
"La... Lala..." Romeo mentoel-toel pipi Lala. Mereka sudah sampai di depan rumah Lala. Tapi malah Lala sudah tertidur pulas.
"Lala..." Pria itu kini menarik pipi wanita itu.
"Astaga!!! Apa Lala sudah mati?" Romeo mendekatkan jarinya, memastikan temannya masih bernafas atau tidak.
"Lala!!!" panggil Romeo kembali menggoyangkan tubuh wanita itu.
"Meong!!!" Lala membuka mata dengan kesal. Ia kesal dibangunkan.
"Sudah sampai. Cepat turun, aku mau pulang!" ucap Romeo melihat arlojinya yang sudah pukul 9 malam.
"Meong..." ucap Lala dengan nada lemah. "Suruh kakakmu itu putus sama om Andra." Harap Lala.
Mendengar itu, Romeo malah tertawa. "Lala, Lala... Aku nggak bisa memaksakan perasaan orang. bang Andra sama kak Ana, saling mencintai. Mereka-"
Bugh
Lala malas mendengar kenyataan itu. Ia keluar dan menutup pintu mobil dengan kuat. Lalu berjalan masuk ke dalam rumah.
"Astaga!!! dasar wanita pemarah!" Romeo hanya dapat mengelus dada.
Lala berjalan memasuki rumah dengan langkah lemah. Ia sudah tidak mempunyai semangat hidup lagi. Pria yang dicintainya akan segera menikah. Kenyataan yang sangat menyakitkan.
"Lala, kamu kenapa?" tanya Papa melihat ekpresi sedih putrinya itu. Pulang-pulang, Lala memasang wajah galau.
"Papa..." Lala berlari menghampiri papanya itu.
"Sudah, sudah sayang..." Ayaz menepuk-nepuk pundak Lala, setelah putrinya menceritakan tentang Andra yang akan segera menikah. Merema kini berada di ruang tv.
"Papa, Lala sangat sedih. Kenapa om Andra nggak bisa melihat perasaan tulus Lala sih?!" Lala menangis terisak-isak dalam dekapan sang papa.
Ayaz hanya mampu menggeleng. Putrinya patah hati karena perasaannya yang tidak bersambut.
"Sayang, Lala sama Andra itu tidak berjodoh. Lala lupakan saja Andra ya, pasti Lala nanti ketemu sama pria-"
"Lala cintanya sama om Andra, Papa!" tegas Lala. Hatinya berdebar hanya pada Andra, bukan pada pria lain.
"Tapi kan Andra nggak cinta sama Lala. Perasaan itu tidak bisa dipaksa, nak!" Ayaz mengelus sambil menyadarkan putrinya.
"Perasaan Lala juga tidak bisa dipaksa untuk melupakan om Andra, Papa!" malah Lala balik berkata.
__ADS_1
Ayaz menghela nafas kasar. Putrinya begitu terobsesi pada Andra.
"Bisa, sayang!" Ayaz mengelus kepala Lala dengan sayang.
Lala menggeleng, ia tidak yakin akan melupakan Andra begitu saja.
\=\=\=\=\=\=
"Mama..." Lala memeluk Leni. Ia mendatangi rumah tetangga sebelah, setelah Andra pergi ke kantor.
Lala nggak sanggup bertemu Andra. Ia pasti akan menangis.
"Iya, minggu depan. Andra mau melamar Ana." Ucap Leni sambil mengelus-elus punggung Lala. Minggu depan mereka akan melamarkan Ana untuk Andra secara resmi.
Sebenarnya Leni sangat setuju, Lala yang menjadi menantunya saja. Wanita paruh baya itu merasa kesal dengan sikap Ana selama ini.
Sudah bertahun-tahun, tapi Leni tidak pernah bertemu dengan calon menantunya itu. Ana tidak pernah mendatangi mereka. Alasan Andra, karena Ana yang sangat pemalu.
Leni menyayangkan Andra yang masih tetap mencintai Ana. Meski Ana tidak mau dekat dengannya. Tapi, Andra sering bercerita tentang keluarga Ana. Bagaimana putranya diterima di sana.
Kenapa hanya Andra saja yang membaur dengan keluarga Ana? Kenapa Ana tidak seperti itu juga pada keluarga Andra?
Masa Leni yang harus menemui Ana? Di sinikan, dia orang tuanya Andra. Ia juga sering meminta Andra membawa Ana ke rumah dan sampai sekarang calon menantunya itu tidak pernah menunjukkan batang hidungnya.
"Semua demi kebahagiaan Andra saja." Ucap Leni. Semua demi putranya saja. Andra bahagia dengan Ana, sebagai ibu harus merestui.
"Kamu jangan sedih gitu. Kamu dan Andra tidak berjodoh. Tapi walaupun begitu, Mama tetap akan menyayangimu, La." Leni memeluk Lala erat. Ia sangat menyayangi Lala seperti menyayangi putrinya sendiri.
Lala malah makin menangis. Ia benar-benar sedih, tidak bisa memiliki Andra.
"Lala, nggak sayang sama Mama?" tanya Leni menunjukkan wajah sedih. Lala masuh tetap menangis.
"Sayang, Ma." Jawab Lala seraya mengusap air matanya.
"Apa karena Andra menikahi Ana, Lala jadi sudah nggak sayang sama Mama lagi?!"
"Mama! Mau om Andra menikahi siapapun. Lala tetap sayang sama Mama. Sama seperti rasa sayang Lala sama papa dan nenek." Lala sudah menganggap Leni seperti ibunya. Leni telah mencurahkan Lala kasih sayang, yang tidak pernah didapatkannya dari papa dan neneknya.
"Lala, Lala..." Leni mengelus kepala Lala dengan sayang.
'Semoga Lala saja yang menjadi menantuku!' bati Leni berharap.
__ADS_1
\=\=\=\=\=\=
"Ana, ayolah ke rumahku. Mama ingin ketemu sama kamu loh." Mohon Andra kembali. Sampai Ana menerima lamarannya, kekasihnya tidak pernah mau datang ke rumahnya.
Padahal Andra tidak memaksanya datang sendirian. Datangnya pun dengan dia.
"Minggu depan, aku kan ketemu juga sama Mama kamu." Jelas Ana. Minggu depan keluarga Andra akan mendatangi keluarganya.
"Iya, tapikan Mama mau-"
"Andra, aku nggak bisa!" sela Ana cepat. Ia sangat malas mendatangi rumah Andra dan bertemu calon mertuanya itu.
"Sekali ini saja, Ana!" mohon Andra. Ia sedikit malu dengan Mamanya, atas sikap Ana yang menolak seperti itu. Makanya ia mengarang dengan mengatakan Ana itu sangat pemalu.
"Aku nggak mau, Andra. Aku kan nanti menikahnya dengan kamu. Jadi buat apa ketemu Mama kamu. Nanti waktu lamaran aku ketemu juga. Terus waktu nikah ketemu juga!" jelas Ana. Ia sering mendengar tentang cerita mertua kejam dari teman-temannya.
Banyak yang mengatakan untuk tidak terlalu dekat dengan mertua. Ada yang mengatakan mertua itu baiknya hanya di depan saja, di belakang menjadi bahan gibahan. Ada juga mertua terlalu ikut campur urusan rumah tangga anak. Serta banyak cerita-cerita lainnya yang menyudutkan ibu dari pihak laki-laki tersebut.
Ana menelan bulat-bulat perkataan temannya itu. Jadi ia akan menjaga jarak dan tidak mau akrab dengan mertuanya tersebut.
Andra mendengus, Ana tetap menolaknya.
"Andra... saat nanti kita menikah, kita juga tidak akan terikat dengan keluarga kita lagi. Baik keluargaku atau keluargamu." Ucap Ana kembali.
Menurut Ana ketika mereka telah menikah, mereka yang akan menentukan kehidupan mereka masing-masing. Orang tua tidak perlu tahu dan ikut campur.
"Mau kita lagi senang atau lagi sedih, mereka tidak perlu tahu." Timpal Ana kembali. Begitu menikah mereka akan menjadi orang lain, jadi tidak perlu peduli dengan keluarga.
Andra menggaruk kepala, ia tidak mengerti jalan pikiran kekasihnya itu. Bagi Andra, meski sudah menikah. Mereka tidak boleh juga melupakan keluarganya begitu saja.
"Aku pulang!" ucap Andra berpamitan. Ia malas berdebat lagi, ujung-ujungnya mereka bisa bertengkar.
Andra akan mengalah dan pelan-pelan nanti menasehati Ana. Jika mereka harus tetap sopan dan menghormati keluarga. Bukan malah menganggap keluarga itu seperti orang lain.
Ana mendengus. Ia dan Andra selalu tidak sepaham.
'Apa setelah menikah, kami akan tinggal dengan Mamanya? Aku tidak mau!!!'
.
.
__ADS_1
.