MENCINTAIMU

MENCINTAIMU
BAB 59 - JUJUR


__ADS_3

Andra membenarkan selimut yang menutupi tubuh polos Lala. Tampak sang istri kelelahan setelah melayaninya.


Andra menatap sang istri dengan wajah serius. Pria itu merasa harus berkata jujur pada Lala perihal Ana. Ia tidak mau Lala mendengar dari orang lain dan akan salah paham padanya.


"Lala." Panggil Andra dengan nada yang begitu lembut.


"Iya, Mas." Jawab Lala melihat sang suami. Nada bicara Lala tidak kalah lembutnya.


"Aku ingin jujur sama kamu." Andra menunjukkan wajah seriusnya.


Deg


Perasaan Lala jadi mulai tidak enak. Ia jadi gugup dan jantungan. Andra mau jujur tentang apa? Apa perihal perasaannya?


Andra yang tidak mungkin bisa mencintainya?


Atau tentang masa lalunya?


"Ju-jur soal apa, Mas?" tanya Lala berusaha untuk tenang. Ia harus tenang dan mendengarkan apa yang mau Andra katakan.


"Ini tentang Ana." Ucap Andra menatap wajah cantik itu.


Wajah Lala langsung sendu mendengar nama itu. Hatinya sudah menebak, jika Andra akan kembali pada Ana. Andra lebih memilih Ana.


Lalu bagaimana dengan dirinya?


Mereka sudah melakukan hubungan suami istri. Bagaimana jika nanti ia hamil?


Apa Lala akan hamil tanpa suami?


Apa Lala akan menjadi seorang janda?


Hati Lala nyut-nyutan dengan pemikirannya.


"A-apa Mas Andra akan menceraikanku?" tanya Lala berusaha tenang. Tapi tetap air mata itu malah jebol begitu saja.


Andra jadi merasa bersalah. Lala sepertinya sudah salah paham dan berpikiran lain. Ia sedih, Lala beranggapan seperti itu.


"Lala, dengarkan aku dulu ya." Andra merangkup wajah Lala yang sudah berderai air mata.


Lala mengangguk pelan. Ia akan berusaha pasrah saja mendengarkan apa yang mau Andra katakan. Jika ingin berpisah, ia akan siap dan harus siap. Ada papanya yang pasti akan membantu dan mendukungnya.


'Aku akan pergi keluar negeri saja!' Lala merencanakan akan pergi jauh sejauh mungkin, untuk melupakan Andra. Meski sakit, tapi waktu pasti bisa mengobati hatinya.

__ADS_1


"Beberapa hari yang lalu, Ana mengirim pesan padaku." Ucap Andra mulai memberitahu. Ia akan jujur mengatakan semua.


"Hmm." Itu tanggapan Lala. Jujur saja, ia sebenarnya malas mendengarkan cerita Andra. Mau bercerai saja, Andra terlalu berbasa basi. Tapi... demi menghargai suaminya, akan ia dengarkan juga.


"Dan aku tidak membalas pesannya."


"Oh." Lala mengangguk lemah sebagai tanggapan. Mau dibalas atau tidak dibalas, itu pilihan Andra.


Andra masih menatap Lala. Tanggapan istrinya begitu saja. Seharusnya kan bertanya, kenapa?


"Semalam dia datang ke kantor dan menceritakan semuanya, masalah sampai batalnya pernikahan kami. Dan sekarang Ana akan segera bercerai dari suaminya." Jelas Andra sesuai apa yang dikatakan Ana padanya.


'Dan aku akan menikahinya. Aku akan kembali padanya dan menceraikanmu.' Lala menyambung perkataan Andra dalam hati. Suaminya memang kebanyakan basa basi.


"Karena semalam ia sangat sedih. Aku mengantarnya pulang. Maaf karena aku tidak memberitahumu sebelumnya." Andra mengaku bersalah pada Lala. Sebenarnya ia ingin merahasiakannya saja. Tapi, Andra takut jika apa yang dilakukannya itu, akan jadi masalah di kemudian hari.


'Apa parfum yang menempel di bajunya, itu parfum wanita itu?' Lala mengingat pakaian Andra yang bau parfum wanita.


Apa mereka berpelukan?


Atau mereka telah melakukan itu?


Atau Ana sudah hamil anaknya Andra?


"Tadi Ana juga menghubungiku dan mengatakan kalau dia sedang sakit. Aku hanya mengirimkan dokter padanya. Aku tidak datang padanya." Jelas Andra kembali. Ia jujur mengatakan semuanya. Agar Lala jangan meragukannya.


Lala melihati Andra dengan raut wajah datar dan sangat dingin. Ia tidak mengerti mau Andra sekarang apa?


"Mas Andra, apa Mas ingin kembali pada Ana?" tanya Lala memastikan. Ia tidak mau hidup dalam bayang-bayang masa lalu pria itu.


Andra menatap Lala. Mata Lala begitu tersirat kesedihan.


"Kalau ingin kembali padanya, kembalilah Mas. Jangan pedulikan Lala. Kejarlah kebahagian Mas Andra. Lala akan bahagia jika Mas Andra bahagia." Ucap Lala mulai bergetar mengatakan hal itu. Meski ia ingin ikhlas melepaskan Andra, nyatanya hatinya begitu berat sekali.


"Lala... Kenapa kamu jadi berpikiran seperti itu?" tanya Andra. Ia sedang jujur, tapi Lala jadi berpikir lain.


"Ja-jadi Lala harus berpikir bagaimana, Mas? Lala tidak mengerti. Hati Mas Andra masih dengan Ana, lalu Lala bisa apa?" air mata Lala berlinang kembali. Cinta bertepuk sebelah tangan memang sangat menyakitkan.


Andra meraih tubuh bergetar itu dan memeluknya erat.


"Aku ingin bersama kamu, Lala. Aku ingin kita bersama selamanya." Ucap Andra tegas dan meyakinkan.


"Aku janji, aku tidak akan peduli lagi padanya. Jadi tolong jangan salah paham padaku." Ucap Andra melonggarkan pelukannya. Ia menatap sang istri.

__ADS_1


"A-aku memang belum bisa mencintaimu. Tapi percayalah Lala, aku tidak ingin kita berpisah." Andra masih meyakinkan Lala. Hatinya tidak terima saat Lala malah membahas tentang perceraian.


Lala menatap mata Andra yang begitu tulus dan meyakinkan mengatakan itu. Kepala Lala pun jadi mengangguk pelan. Ia benar-benar terlalu mudah percaya pada Andra. Mungkin karena besarnya rasa cintanya.


Lala pun memeluk erat sang suami, ia tidak ingin berpisah dengan Andra.


Andra pun memeluk Lala dengan erat. Ia merasakan debaran hati Lala yang bertalu-talu.


'Lala sangat mencintaiku. Aku harus bisa membalas perasaannya.' batin Andra meyakinkan diri.


Ponsel Andra kini berdering, Andra melepas pelukannya. Dan meraih ponsel.


"Sayang, Ana meneleponku." Andra menunjukkan panggilan itu. Ia tidak ingin menutupi apapun dari Lala lagi.


Lala diam dan mau melihat apa yang akan Andra lakukan.


"Aku tolak saja!" Andra pun memilih menolak panggilan itu. Ia harus bisa bersikap.


Ting


Satu pesan masuk.


Lala kini yang meraih ponsel Andra dan membuka pesannya.


Ana: Andra, aku di rumah sakit.


Lala melihat ekspresi Andra setelah membaca pesan itu. Ana sekarang sedang sakit dan berada di rumah sakit.


Ana sepertinya sangat ingin Andra datang padanya.


Apa yang akan dilakukan suaminya sekarang? Lala masih menunggu.


"Aku tidak akan ke sana. Di rumah sakit banyak dokter dan perawat. Lagian juga Ana punya keluarga." Ucap Andra tegas. Ia tidak harus datang ke rumah sakit sekarang, ia dan Ana tidak memiliki hubungan apapun sekarang.


Lala berpikir sesaat. Entah kenapa ia merasa, Ana sedang mencari perhatian Andra. Ana ingin kembali pada Andra.


"Mas, besok kita jenguki Ana saja." Saran Lala. Apa Andra mau membawanya?


"Baiklah." Jawab Andra cepat. Ia akan menjenguk Ana membawa Lala. Agar istrinya itu yakin, jika diantara ia dan Ana. Tidak ada hubungan lagi.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2