
Andra pulang kerja dengan wajah ditekuk. Tak ada yang menyambut kepulangannya. Istrinya izin pergi dengan Riri. Dan tinggallah dia sendiri di rumah.
Tak ada senyuman manis sang istri, bahkan tak ada teh hangat untuknya.
Lala sebenarnya tadi ingin membuatkan, tapi Andra menolaknya. Tehnya pasti akan dingin saat ia pulang dari kantor.
'Aku merindukannya!' Andra menyadari kerinduan yang mendalam. Rumah ini terasa sangat sepi sekali. Bukan hanya rumah, bahkan hatinya ikut sepi.
Andra berjalan masuk ke dalam kamar, ia akan membersihkan diri. Sebentar lagi istrinya pasti pulang.
Setelah selesai mandi, Andra mengambil baju sendiri di lemari. Biasanya Lala menyiapkan semua kebutuhannya.
Dulu, ia tidak peduli perhatian Lala. Tapi kini, padahal cuma sebentar saja ia sudah seperti ini. Tak ada semangat hidupnya.
Mungkin karena mulai ada cinta dan kasih sayang dalam pernikahan mereka. Yang membuat keberadaan Lala berarti.
"Lain kali aku nggak akan mengizinkannya pergi lagi!" gumam Andra seraya membaringkan tubuh di tempat tidur.
Pria itu menatap langit-langit atap kamarnya. Pikirannya tertuju pada Lala. Senyuman Lala, saat Lala menangis, saat Lala mende-sah, saat-saat menghabiskan waktu bersama Lala.
"Aku harus meneleponnya." Ucap Andra. Ia bangkit dan meraih ponsel. Menelepon sang istri.
Satu panggilan...
Dua panggilan...
Tiga panggilan...
Lala tidak menjawabnya.
'Aku akan menjemputnya saja!' Andra pun bersiap.
Sebelum pergi, Andra menutup jendela dan pintu, memastikan rumahnya aman terlebih dahulu. Baru ia naik ke mobil dan melaju pergi.
Tadi sore Lala sempat meneleponnya, mengatakan jika mereka pergi ke sebuah Mall baru di kota itu.
Hingga ke sanalah Andra melajukan mobilnya.
Setelah 30 menit berlalu, Andra sampai di sebuah Mall. Ia pun berjalan masuk.
'Apa Lala sudah pulang?' batin Andra menghubungi istrinya kembali. Ia menelepon sambil melangkah.
Andra meringis saat seseorang menubruk bahunya.
"An-Andra." Ucap orang itu.
Mata Andra kaget melihat orang itu, ternyata Ana.
"Halo, Mas."
Di saat itu, Lala menjawab panggilannya.
"Kamu di mana?" tanya Andra dengan mata masih menatap wanita di depannya.
"Lala masih di Mall-"
"Di mananya? Aku sudah di Mall." Sela Andra segera.
"Mas Andra di si-" Lala akan berucap.
"Andra, aku ingin bicara denganmu."
__ADS_1
Deg
Lala berhenti melangkah saat mendengar suara wanita. Wanita itu memanggil nama suaminya.
"Mas, itu siapa?" tanya Lala dengan nada pelan.
"Kamu di mana? Aku akan ke sana!" ucap Andra kemudian. Ia tidak merespon ucapan Ana.
Setelah mengatakan di mana posisinya, Andra pun berjalan meninggalkan Ana. Ia lebih memilih menemui istrinya.
"Andra!" Ana mengejarnya. Ia kesempatannya berbicara dengan pria itu.
"Andra, tunggu!" Ana menahan tangan Andra. "Kita harus bicara!"
Andra melepas tangannya. "Tidak ada yang perlu dibicarakan lagi."
Setelah mengatakan itu, Andra melajukan langkahnya. Menemui sang istri.
Ana tidak tinggal diam. Ia mengejar Andra kembali. Tidak bisa membuang kesempatan itu begitu saja.
"Itu, Om Andra." Ucap Riri memberitahu. Ia melihat Andra tak jauh dari mereka berada.
"Mas Andra!" Lala tersenyum sendu.
Deg
Wajah Lala mulai tak senang, saat melihat wanita yang mengikuti Andra.
Lala mulai mengingat. Berarti suara wanita tadi itu Ana.
"Sayang..." Andra menggenggam tangan Lala. Hatinya lega melihat sang istri.
"Mas, kenapa kemari?" tanya Lala. Ia khawatir Andra kelelahan. Sudah sehayran di kantor, ini malah menjemputnya lagi.
"Aku merindukanmu." Jujur Andra. Karena rasa rindunya, ia lebih memilih menjemput Lala.
Hati Lala mulai meleleh. Sementara Riri jadi mengulum senyum.
'Om Andra Bucin!' batin Riri. Padahal sikap Andra begitu acuh pada temannya itu.
"Dra, aku ingin bicara!" Ana dengan ngosh-ngoshan menghampiri mereka.
Andra membuang nafas pelan. Ia sudah mengacuhkan malah Ana mengikutinya.
"Tidak ada yang perlu dibicarakan lagi!" tegas Andra.
"Ada, Dra. Masih ada yang perlu kita bicarakan."
"Tidak ada lagi. Jadi tolong jangan muncul di hadapanku lagi!" Andra menunjukkan mata tajamnya. Ia tidak ingin membahas apapun dengan Ana.
Membahas masa lalu hanya akan menyakiti sang istri.
"Ayo, kita pulang. Riri, Om antar ya."
Riri mengangguk. "Iya, Om."
Andra menggandeng Lala pergi dan Riri mengikuti dari belakang. Sementara Ana terdiam sesaat.
Ana meremas tangannya. Ia kesal sekali diacuhkan seperti ini. Andra lebih memilih bersama Lala dan melupakannya begitu saja.
Sampai parkiran, Andra akan membukakan pintu mobil untuk Lala. Tapi Ana datang dan mendorong Lala, lalu masuk ke dalam mobil.
__ADS_1
"Aduh!" Lala terhuyung. Untung Andra segera memeganginya. Jika tidak Lala pasti terjatuh.
"Sayang, kamu nggak apa?" tanya andra khawatir.
Lala menggeleng pelan, mengatakan ia baik-baik saja. Lalu ia melihat Ana yang sudah duduk di dalam saja.
"Apa yang kamu lakukan?" tanya Andra tidak senang. Ana sudah seenaknya.
"Antar aku pulang!" jawab Ana dengan wajah kesal.
"Keluar! Keluar dari mobilku!" ucap Andra menyuruh Ana keluar. Ia masih berkata pelan.
"Aku tidak mau, Andra!" tegas Ana. Ia tidak akan keluar.
"Keluar sekarang juga!" Andra menarik paksa Ana keluar. Ia meninggikan suaranya. Ana sangat keras kepala.
"Andra!" Ana kesal. Andra begitu kasar menariknya. Kini ia sudah turun dari mobil.
"Andra, aku ingin kembali padamu!" Ana mulai mencoba berbagai cara. Kini ia memeluk pria itu.
Lala merasa kesal, cemburu dna tidak suka. Ia menarik tubuh Ana dari suaminya. Ana tidak segan ada dirinya di sini.
"Apa sih?" Ana kesal. Lala menariknya.
Plak
Tangan Lala melayang ke pipi Ana. "Jangan ganggu suamiku!"
Lala dan Ana saling melihat dengan tatapan tajam.
"Beraninya kau menamparku!" Ana akan membalas, tapi Andra menahan.
"Cukup, Ana! Cukup!!!" Andra menepis tangan itu dengan kasar. Ia sudah cukup sabar dengan kelakuan Ana.
"Andra..." Lirih Ana. Kini Andra sangat kasar sekali padanya.
"Aku tegaskan sekali lagi. Di antara kita sudahberakhir. SUDAH BERAKHIR!!! Jadi jangan ganggu rumah tanggaku dan ISTRIKU!" jelas andra dengan emosi. Ia sengaja menekankan kata ISTRIKU, agar Ana sadar. Jika kini dirinya pria yang sudah beristri.
"Dra, aku-"
"Cukup!!! cukup!!! Aku bilang cukup!!!" Bentak Andra kemudian.
Ana mengusap air matanya yang berjatuhan. Andra terlihat sangat membencinya.
"Lala, ayo naik!" Andra membukakan pintu mobil untuk istrinya. "Ri, naiklah."
Riri yang dari tadi jadi penonton segera masuk ke dalam mobil. Ia takut dengan Omnya itu. Kalau marah sangat menyeramkan.
"Andra..." Ana masih berucap dna menahan lengan Andra.
"Aku mencintaiku istriku. Aku sangat mencintai, Lala." Ucap Andra dengan tegas.
Tangan Ana terlepas mendengar perkataan itu. Tangannya kini sudah tak bisa lagi menahan Andra yang masuk ke mobil.
Perlahan mobil pun melaju meninggalkan Ana yang masih mematung
'Kenapa, Dra? Kenapa... kamu melupakanku?'
.
.
__ADS_1