MENCINTAIMU

MENCINTAIMU
BAB 52 - KONDISI ANA


__ADS_3

Romeo sedang sarapan bersama kedua orang tuanya. Ia tampak tidak semangat. Lala sudah tidak bekerja lagi.


'Romeo sadarlah, Lala tidak mungkin tergapai!' Romeo menghalau pikirannya yang malah memikirkan istri orang.


"Papa kok sangat kangen sama Ana ya." Ucap pria paruh baya itu. Sudah lama Ana dibawa suaminya itu. Dan tidak pernah menghubungi mereka.


"Benar, Pa. Mama juga kangen sama dia. Rom, nanti pulang kerja kamu ke rumah si Ferdi ya. Lihat bagaimana keadaan kakakmu." Ucap Mama menyuruh sang putra. Ia juga mengkhawatirkan putrinya.


Romeo sedikit malas mendatangi rumah Ferdi. Tapi demi kakaknya dia mengangguk pelan.


Setelah sarapan Romeo pun berpamitan. Saat ia akan naik ke mobil, ia melihat taksi berhenti.


"Kak Ana." Ucapnya pelan melihat wanita yang turun dari taksi.


"Kak Ana, kenapa?"


\=\=\=\=\=\=


"Ferdi!!!" pekik Ana kesal. Lagi-lagi Ferdi membawa pulang seorang wanita.


"Kamu diam saja! Sudah malam tidur sana!" ucap pria itu setengah mabuk.


"Ayo, sayang. Kita habiskan malam yang indah!" sambung Ferdi kembali, seraya mencium bibir wanita yang berpakaian seksi tersebut.


Ana yang kesal pun mengambil sapu dan memukul kepala Ferdi. Ia tidak peduli jika itu suaminya.


"Apa yang kamu lakukan?" Ferdi memegangi kepalanya yang kena getok.


"Kau mau juga! Mau ku hajar pakai ini!" tunjuk Ana pada gagang sapu yang dipegangnya. Ia bicara dengan wanita yang dibawa Ferdi.


Wanita berpakaian seksi itu jadi takut dan menjauh dari Ferdi. Ia pun segera pergi.


"Ana, ingat itu kamu cuma istri pajangan. Jadi tidak ada hakmu untuk mengaturku!" ucap Ferdi mengingatkan. Ia kesulitan untuk berdiri tegak. Dunianya berputar-putar.


Bugh...


Ana kembali memukul pria itu, membuat Ferdi pingsan di tempat. Ia pun masuk ke kamar dan membiarkan pria itu terkapar di ruang tamu.


Pagi menjelang, Ferdi bangun dan memegangi tengkuknya. Ia mencari Ana yang di kamar.

__ADS_1


"Kenapa aku bisa ada di lantai?" tanya Ferdi setelah membuka pintu dengan kuat.


Ana terkejut. Ia takut melihat ekspresi pria itu. Seperti marah padanya.


"A-aku tidak tahu." Jawab Ana.


Ferdi berusaha mengingat. Tapi ia tidak bisa mengingat apapun.


"Ferdi, aku ingin bercerai." Ucap Ana. Ia tidak bisa menahan lebih lama lagi.


"Tidak semudah itu!" Ferdi tersenyum smirk.


Pria itu lalu melihat Ana, seperti baru selesai mandi. Ia pun mendekatinya.


Ana mulai menjauh dan mencoba berlari. Tapi pria itu dengan mudah menangkapnya.


Ferdi mendorong Ana ke tempat tidur, lalu ia segera menidihnya.


"Lepaskan aku! Lepaskan aku!" Ana menggeliat. Tapi percuma saja tenaga pria itu sangat kuat.


"Jangan menolak. Layani suamimu."


Plak


Plak


Tangan Ferdi melayang ke kedua pipi Ana. Lalu ia juga menjambak rambut Ana.


"Aku tidak akan menceraikanmu, sampai aku muak padamu!" Ferdi tertawa puas. Ia pun memaksakan kehendaknya. Meskipun Ana menolak dan memukulinya, pria itu tetap melampiaskan hasratnya.


"Apa kamu menikmatinya, sayang?" tanya Ferdi mengejek. Ia tidak peduli air mata Ana yang berjatuhan. Ia tetap menghentak-hentakkan kejantanannya.


Tak lama, Ferdi masuk ke kamar mandi. Melihat itu Ana pun segera memakai pakaiannya.


Ana berlari keluar dari rumab itu. Berlari dan terus berlari. Ia tidak mau lagi hidup bersama dengan pria itu lagi. Sudah cukup.


Awalnya Ana terpaksa menikah dengan Ferdi, karena kejadian malam itu. Lalu karena ia mulai tahu Ferdi ternyata jauh lebih kaya dari Andra, pandangannya pun berubah. Ia mau menjalani pernikahan sebagai istri seutuhnya.


Tapi lambat laun, Ana makin hati dengan pria itu. Ferdi selalu membawa wanita pulang dan menghabiskan malam dengan wanita itu.

__ADS_1


Lalu memaksa Ana untuk melayaninya. Ana merasa jijik, Ferdi sudah celup sana sini.


Jika Ana marah dan tidak terima. Ferdi akan memukulinya. Pria itu sangat ringan tangan sekali.


Begitu sampai di persimpangan jalan, Ana menyetop taksi. Ia akan pulang ke rumah kedua orang tuanya.


Sebenarnya seminggu setelah Ferdi membawanya tinggal ke rumah itu, baru kelihatan sikap pria itu. Ana mencoba sabar, karena ia malu pada keluarganya. Ia berusaha menasehati Ferdi, tapi malah tamparan dan dihajar pria itu. Ia juga pernah dimaki.


Ana sudah tidak sanggup lagi. Ia ingin bercerai dari pria itu.


Taksi berhenti di depan rumahnya. Ia melihat Romeo yang melihatnya.


"Romeo... Huhuhu." Ana pun berlari dan memeluk adiknya itu.


"Kak Ana kenapa?" tanya Romeo bingung. Datang-datang kakaknya malah menangis.


Ana makin nangis dan Romeo pun membawanya ke dalam.


Ana menceritakan semua pada keluarganya. Ia bercerita sambil senggugukan. Air matanya terus berlinang.


"Akan kuhabisi dia!" Romeo sangat geram sekali. Beraninya Ferdi menyakiti kakaknya.


"Sabar ya, nak." Mama memeluk sang putri dengan erat. Ia sedih melihat putrinua.


"Kamu bercerai saja dari pria itu. Papa nggak akan membiarkanmu hidup dengannya." Papa merasa kasihan dengan putri mereka.


Setelah menceritakan semua masalahnya, Mama menyuruh Ana istirahat di kamarnya.


Ana membaringkan tubuh di tempat tidur, seraya memandangi langit-langit kamarnya.


Pikiran Ana tertuju pada Andra. Ia mengusap air matanya, merasa sedih dengan dirinya sendiri. Sering mengacuhkan tunangannya itu. Bahkan yang disesalinya, batalnya mereka menikah. Jika saja Ferdi tidak melakukan itu, ia pasti sudah menikah dengan Andra.


Andra itu pria baik dan sabar. Terlebih lagi begitu lembut dan penuh kasih sayang.


'Andra... aku sangat merindukanmu!'


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2