
"Om Andra..." panggil Lala saat melihat Andra keluar dari kamar.
Pria itu menghembuskan nafas melihat Lala. Semenjak mamanya mengklaim Lala sebagai anak angkatnya, bocah pecicilan satu itu bebas keluar masuk rumahnya.
"Om Andra!!!" panggil Lala kembali melihat Andra akan pergi dan tidak menghiraukannya.
"Om Andra, apa Om yakin akan menikah dengan si Ana?" Lala menahan langkah Andra. Ia memeluk tubuh belakang pria itu.
"Lala... lepas!!!" Andra melepaskan tangan Lala dari tubuhnya.
"Hei... anak kecil. Aku sangat yakin menikah dengan Ana!" tegas Andra dengan wajah serius.
"Tapi, Om. Aku tulus mencintaimu!" ungkap Lala akan perasaannya.
Andra memijat dahinya. "Aku tidak peduli itu. Aku sangat mencintai Ana."
Setelah mengatakan hal itu, Andra pun pergi. Ia meninggalkan Lala yang masih berdiri mematung. Tak tahulah apa ekspresi wanita itu. Tah sedih tah kecewa, karena Andra tidak peduli itu.
'Om Andra jahat!!!' Lala berlari pulang ke rumahnya. Ia berlari masuk ke kamarnya. Dan menangis. Menangisi Andra yang tidak bisa digapainya.
Hari demi hari berlalu, besok akan menjadi hari bahagia bagi Andra. Tapi tidak dengan Lala.
Sejak pagi, Lala hanya mengurung diri di kamarnya. Ia tidak pergi ke kantor atau keluar dari kamarnya. Bahkan papa dan neneknya memanggilinya untuk sarapan, Lala tidak peduli. Ia tidak membuka pintu kamarnya.
Lala hanya memangis dan menangis. Wajah cantik itu sudah sembab oleh air mata yang terus berlinang.
Wajah bersimbah air mata itu mendengus melihat sebuah pakaian yang tergantung. Pakaian itu memang diberikan mamanya Leni untuk Lala. Karena Lala anak angkatnya, Lala harus tampil seragam mengikuti keluarga mereka.
"Bagaimana aku besok?!" batin Lala sangat sedih. Besok Andra akan menikah, bagaimana ia melihat Andra bersanding dengan wanita lain di pelaminan.
Lala ingin saja tidak muncul besok, tapi ia segan dengan mamanya Andra. Mama Leni sangat menyayangi dirinya.
Lala jadi serba salah.
"Semoga om Andra nikahnya sama aku!" harap Lala.
Lala masih mengharapkan adanya keajaiban. Meski ia tidak yakin itu akan terjadi.
'Semoga ada sebuah keajaiban!' batin Lala berharap sambil memejamkan matanya.
\=\=\=\=\=\=
Romeo melihat kakaknya keluar dari kamar dengan berpakaian rapi.
"Kak Ana mau ke mana?" tanya Romeo ingin tahu.
"Mau nongkrong sama teman." Jawab Ana dengan sinis.
"Kak, besok kakak mau menikah. Sudah di rumah saja." Romeo tak mengizinkan Ana pergi.
"Aku cuma mau ngumpul sama teman-temanku, nanti malam juga sudah pulang." Jelas Ana. Adiknya itu kehebohan saja.
"Sudahlah, biar aku temani." Romeo akan menjaga sang kakak.
"Nggak usah! Ngapain kau ikut-ikut?!" Ana tidak mau adiknya bergabung dengan genk-nya.
"Ana, biar Romeo temani kamu saja. Atau kamu tidak usah pergi!" Mama ikut nimbrung dalam percakapan mereka.
Besok Ana akan menikah, tapi putrinya itu masih mau berkeliaran lagi. Padahal seharusnya di rumah saja, mempersiapkan diri.
__ADS_1
"Mama, aku cuma pergi sebentar. Teman-temanku minta ditraktir. Karena aku akan menikah dengan Andra. Setelah itu, aku pasti nggak punya waktu lagi untuk berkumpul bersama teman-temanku. Andra pasti akan mengekangku..." Ana beralasan panjang lebar.
Ini hari terakhir Ana dengan status bebasnya. Besok ia akan menjadi seorang istri. Ya, mau nggak mau harus menurut dengan suaminya. Walaupun Andra bilang, tidak akan mengekangnya. Tapi pasti semua ada batasannya.
"Tapi, Ana-"
"Ma, hari ini terakhir loh aku sama teman-temanku." Ana merengek pada Mamanya agar mengizinkannya keluar.
Sementara Romeo menggeleng, mengisyaratkan Mamanya agar tidak menuruti keinginan kakaknya yang suka seenaknya itu.
"Mama..." Ana masih membujuk.
Mama akhirnya mengangguk. Ia terpaksa menuruti putrinya itu.
"Tapi ingat, jam 7 malam kamu sudah pulang." Mama mengingatkan.
"Siap, Ma. Aku pergi dulu. Romeo jangan ikuti aku!" setelah mengatakan itu sambil memelototi adiknya, Ana pun pergi.
"Ma, kenapa kak Ana dikasih keluar sih?" tanya Romeo dengan nada pelan.
"Sudah biarkan saja. Nantikan jam 7, kakakmu pulang juga." Mama sebenarnya keberatan. Tapi Ana itu keras kepala, jika nanti tidak diizinkan akan marah-marah.
"Sudah percaya saja sama kakakmu!" Mama menepuk pundak Romeo. Wanita paruh baya itu tahu kekhawatiran putranya tersebut.
"Aku ikutin saja ya, Ma." Romeo tidak mau membiarkan Ana keluar sendirian.
"Nggak usah! Nanti kalau jam 7 Ana belum pulang, baru kamu jemput." Saran Mama kembali. Ia tidak mau nanti Ana memarahi Romeo di hadapan teman-temannya.
Romeo mengangguk lemah. Ia akan menurut saja.
Sementara Ana turun dari taksi dan sampai di sebuah kafe mewah ditengah kota. Ia masuk dan melambaikan tangan pada teman-temannya yang sudah berkumpul.
"Kita manggilnya apa nih? Ibu Andra?"
"Selamat ya, Na!"
Teman-teman Ana pada meledek serta memberi ucapan. Mereka senang, Ana akan segera menikah.
"Kalian sudah pesan? pesanlah yang kalian inginkan. Biar aku yang bayar!" ucap Ana dengan wajah bahagianya.
Mendengar ditraktir, teman-temannya pada senang dan bersemangat.
"Ana beruntung akan menikah dengan Andra."
"Benar, katanya Andra anak tunggal."
"Ana bakalan jadi orang kaya raya. Nanti kalau sudah kaya jangan lupakan kami."
Ucapan teman-temannya sedikit membuat Ana bangga.
Ana terlahir dari keluarga yang berada. Bisa termasuk keluarga menengah ke atas. Tapi jika dibandingkan dengan keluarga Andra. Keluarga Ana bisa dianggap kalangan bawah. Keluarga Andra itu termasuk kalangan elit.
Ana tertawa. "Mana mungkin aku lupakan kalian. Nanti kalau kalian butuh apapun kalian bisa mendatangiku. Aku bisa membantu kalian."
"Wuih... Ana memang berhati malaikat. Walau akan jadi orang kaya, ia tidak sombong."
Kuping Ana makin naik mendengar ucapan temannya. Ana sudah berencana saat menikah, ia hanya akan menghabiskan uang Andra saja.
Pesanan pun datang. Ana bersama temannya melahap hidangan sambil tertawa berhaha hihi.
__ADS_1
Setelah selesai makan, Ana membayar tagihan dengan memberikan kartu atm pada pelayan kafe.
Selama ini, Andra memberikan kartu atm itu pada Ana. Untuk apapun kebutuhan Ana.
Belum menikah saja, Andra cukup royal. Bagaimana jika sudah menikah, Ana minta jantungnya Andra, mungkin Andra akan memberikannya juga.
Setelah puas mengobrol, mereka pun bubar.
"Na, aku pulang. Terima kasih untuk traktirannya."
"Besok kami akan datang ke pernikahanmu."
"Kalian harus datang. Awas kalau tidak!" ucap Ana dengan menajamkan matanya sesaat. Lalu tertawa.
"Iya-iya. Kami pulang. Kau pulang sama siapa?"
"Biasa sama supirku." Ucap Ana menunjuk Ferdi.
Dibilang supir, Ferdi hanya tersenyum.
"Ya sudahlah. Fer, kami balik."
Ferdi mengangguk pada teman-temannya yang sudah pergi.
"Ayo, pak supir kita pulang!" ajak Ana sambil tertawa. Ia sengaja meledek Ferdi.
"Silahkan nyonya!" Ferdi membukakan pintu mobil untuk Ana.
"Fer, nanti kalau aku sudah menikah. Kau jadi supirku saja gimana?" tanya Ana ketika Ferdi sudah naik ke dalam mobil.
Ferdi melihat Ana bingung.
"Benar, dari pada kau nganggur mending kau bekerja denganku. Aku akan memberikan gaji yang besar." Ana memberikan penawaran pada Ferdi.
"Memang kamu mau menggajiku berapa?" tanya Ferdi menahan kekesalannya. Selama ini ia memang sedang menganggur.
"Banyaklah. Setelah aku menikah, aku akan membantumu. Kau kan miskin, sebagai teman aku akan membantumu!" ucap Ana dengan santai, tanpa peduli ucapannya.
"Mau ya, dari pada kau nganggur nggak kerja-kerja. Kau bisa dianggap beban keluarga!" ucap Ana kembali. Selama berteman dengan Ferdi, ia melihat pria itu tidak pernah bekerja. Ferdi pengangguran tingkat atas. Jadi sebagai teman Ana akan membantunya.
Tah kenapa, Ferdi merasa Ana makin lama makin kurang ajar. Perkataan sungguh menyakitkan.
"Lihat nanti ya, Na. Oh iya, kau haus? Nih minumlah." Ferdi memberikan sebotol minuman. Dan Ana menerimanya.
"Kau harus bekerja, Fer. Siapa nanti wanita yang mau sama pria pengangguran dan malas sepertimu?!" Ana berniat menyadarkan Ferdi, sambil menenggak minumannya.
Ferdi hanya senyum-senyum. Walau ia sangat kesal dengan Ana.
"Mau ya Fer, jadi supirku?"
"Iya-iya." Ferdi mengangguk saja.
"Gitu dong. Sekarang antar aku pulang ya pak supir. Kepalaku sedikit pusing." Ana membenarkan posisi duduknya. Ia memejamkan mata, ingin tidur sebentar.
Melihat Ana sudah terpejam. Ferdi pun tersenyum smirk...
.
.
__ADS_1
.