
"Em?"
Lala pun membisikkan sesuatu di telinga Andra. Membuat pria itu mengangguk paham.
"Aku mau lihat!" pinta Andra yang mendadak ingin menggoda Lala.
"A-Apa?" pekik Lala dan langsung menutup mulutnya. Ia malah berbicara dengan nada tinggi seperti itu pada suaminya.
"Ma-Maaf, Mas." Lala jadi tidak enak hati.
"Aku nggak boleh lihat nih?" tanya Andra menatap lekat.
"Ta-tapi, Mas. I-itu..." Lala sungguh bingung. Masa Andra mau melihatnya yang sedang berdarrah.
"Boleh tidak?" tanya Andra berwajah serius. Padahal ia ingin tertawa saja, wajah Lala mendadak seperti tomat.
"I-itu, ta-tapi nanti Mas Andra jijik. I-itu a-agak bau amis..." Lala tak tahu mau menjelaskannya bagaimana. Andra ada-ada saja pun.
"Lala-Lala!" Andra jadi tersenyum sambil mengelus kepala Lala. Ia perlahan menyadari sisi menggemaskan dari Lala.
Lala melihat Andra dengan wajah sendu. Ia seperti mimpi mereka bisa sedekat ini.
"Mas Andra, Lala mencintaimu." Akui Lala. Ia ingin Andra mendengar perasaannya. Perasaannya yang tidak pernah berubah.
"Ayo, kita tidur. Selamat malam." Andra pun berbaring di samping Lala. Ia juga memeluk tubuh ramping itu.
Sementara Lala masih membuka mata. Andra belum membalas perasaannya. Tapi, begini saja sikap Andra sudah membuatnya bahagia sekali.
Pagi menjelang, wajah Lala berseri-seri. Begitu bangun, pemandangan pertama yang dilihatnya adalah wajah tampan suaminya.
Andra membuka matanya dengan berat dan tersenyum melihat Lala.
"Kamu sudah bangun?" tanyanya dengam suara serak-serak seksi.
Lala pun mengangguk. "Selamat pagi suami Lala." Sapanya lalu menkecup bibir Andra sejenak.
__ADS_1
"Lala!" panggil Andra. Lala kabur setelah menciumnya. Wanita itu seperti pencuri saja.
Andra meraih ponsel dan melihat-lihatnya sejenak. Lalu ia melihat Lala keluar dari kamar mandi. Sepertinya Lala hanya mencuci muka sana.
"Hari ini kita akan pindah, La." Ucap Andra memberitahu.
"Hari ini?" tanya Lala memastikan.
"Benar. Rumahnya sudah beres. Jadi bereskan pakaianmu." Pinta Andra kembali.
"Baik, Mas." Lala mengangguk. "Lala, mau bantu Mama buat sarapan dulu ya."
Andra mengangguk dan tak lama melihat Lala yang berlalu pergi.
Saat sarapan, Lala dengan semangat menyajikan suaminya sarapan. Bahkan ia juga sengaja memberikan 2 telur ceplok untuk Andra.
Pria itu hanya mengangguk menerima, kalau ditolak takut menyakiti hati Lala lagi. Jadi ia akan menerima saja. Mudah-mudahan ia tidak bisulan karena kebanyakan makan telur.
"Ma, kami hari ini akan pindah rumah." Ucap Andra memulai pembicaraan.
"Pindah?" tanya Mama memastikan.
"Tapi-"
"Ya sudah. Nanti hari minggu kami ke sana bersama nenek dan papanya Lala juga!" Papa menyela dan memegang tangan Mama. Agar sang istri tak banyak tanya lagi ini itu.
Andra sedang memperbaiki hubungannya dengan Lala. Jadi biarkan saja, Andra menyelesaikan masalah rumah tangganya. Mereka sebagai orang tua hanya mengawasi saja.
Lala tersenyum mendengarnya. Ia mengangguk setuju-setuju saja pada perkataan mereka.
Tak lama, Andra dan Lala berpamitan pada keluarga mereka.
Keluarganya mengantar sampai depan rumah saja. Hari minggu mereka baru akan datang mengunjungi pasangan itu.
"Andra, jagai Lala ya. Maklumi cucu nenek ini." Ucap Nenek menatap sendu bergantian cucu dan cucu menantunya.
__ADS_1
Andra mengangguk pelan. Ia akan melakukan itu dan akan memperbaiki semuanya.
Papa dan Mama juga menasehati Andra dan Lala. Dan Ayaz juga ikut menasehati putri dan menantunya.
"Andra, tolong jaga Lala." Bisik Ayaz berharap. Ia kasihan melihat putrinya, tapi kata nenek Andra sedang memperbaiki hubungannya dengan Lala. Jadi mau tidak mau ia mencoba ikhlaskan Lala dibawa suaminya.
"Jika kamu buat Lala menangis dan kecewa lagi. Saya pastikan kamu tidak akan bertemu Lala selamanya!" ancam Ayaz masih berbisik. Ia akan mengambil sikap.
Andra pun mengangguk.
"Papa, Lala pergi. Papa jangan telat makan ya." Ucap Lala dengan mata berkaca-kaca. Ia sedih berpisah dengan Auaz.
"Iya, nak." Ayaz memeluk erat sang putri. Ia memang belum ikhlas melepaskan Lala. Terlalu cepat Lala menikah.
"Lala sangat sayang sama Papa." Ucap Lala seraya menkecup pipi sang Papa.
Ayaz tersenyum sendu lalu menggelap sudut matanya yang basah.
Andra hanya menatap lekat interaksi antara ayah dan anak itu. Pantas saja Ayaz sering marah dan memintanya berpisah dengan Lala bahkan mengancamnya. Orang tua mana yang mau melihat anaknya tidak bahagia.
Setelah perpisahan haru itu, Andra melajukan mobilnya menuju kediaman mereka. Ia melirik sang istri yang masih senggugukan.
Tangan Andra terulur mengelus punggung tangan Lala. Seolah mencoba menenangkan.
Perlakuan Andra membuat Lala jadi sedikit tersenyum.
"Lala..." panggil Andra dengan nada lembut.
"Iya, Mas." Jawab Lala tidak kalah lembutnya. Bahkan nada bicaranya terasa menggemaskan.
"Itu... Elap ingus kamu!" ledek Andra.
"A-apa? Mas Andra!!!"
.
__ADS_1
.
.