
"Hai suamiku!" sapa Lala saat ia sudah duduk di samping pria tampan itu. Lala melebarkan senyumannya. Masih tidak menyangka, ia benar-benar menjadi istrinya Andra sekarang.
Andra bukannya menoleh, malah menghembuskan nafas pelan. Hal tersebut masih menjadi perhatiannya Ayaz.
'Apa yang Lala cari dengan menikahi pria ini?' Ayaz hanya dapat membatin. Ia sedikit menyesal menuruti kemauan putrinya. Tapi, senyum di wajah Lala begitu sangat memuja Andra. Putrinya benar-benar sangat menyukai pria ini.
Lala diminta menyalami suaminya itu. Dengan semangat Lala meraih tangan Andra dan mencium pundak tangannya. Menciumnya cukup lama.
'Tangan Om Andra sangat hangat!' batin Lala girang. Ia kali pertama Lala dapat memegang tangan Andra. Tangan yang lebih besar darinya. Pasti menggenggam tangan Andra, akan membuat nyaman dan terlindungi.
Andra terpaksa tersenyum tipis sambil menarik tangannya. Sungguh, rasanya ia mulai tidak nyaman menikah dengan Lala. Ada rasa menyesal, tapi mau bagaimana lagi. Pria itu tidak mau membuat Mamanya banyak pikiran nantinya.
"Om, keningku tidak dicium nih? aku lihat setelah menikah, suaminya mencium kening istrinya." Bisik Lala dengan wajah merona. Ia sudah tidak sabar merasakan bibir seksi Andra menyentuh keningnya.
Andra dengan terpaksa melakukannya. Jika tidak dilakukan, akan menjadi pertanyaan dan perhatian orang-orang di sana.
Pria itu menkecup dengan cepat. Hingga Lala tidak merasakan sentuhan itu secara detil.
"Om Andra masih malu ya?!" ledek Lala pelan. Ia mewajarkan, mungkin Andra masih canggung dengannya.
Mereka lalu diminta menyalami orang tua dan para keluarga mereka.
Suasana terasa sangat haru. Kedua mempelai menyalami sambil saling berpelukan. Banyak doa dan harapan yang para orang tua sampaikan sebagai wejangan. Berharap pernikahan ini langgeng selamanya.
"Amin, Amin, Amin." Lala menjawab pelan. Ia akan mengaminkan setiap doa para orang tua. Mereka pasti mendoakannya dengan sangat tulus.
Andra menggeleng melihat Lala, yang begitu bahagia dengan pernikahan dadakan ini. Lala sangat menikmati, sedang dirinya sudah merasa sangat tertekan.
Setelah melakukan prosesi adat dan sebagainya. Kini Andra dan Lala berdiri di pelaminan. Mereka akan menyalami silih berganti tamu yang berdatangan.
Banyak yang kaget pasal pengantin wanitanya berbeda dari yang di undangan. Tapi, ya itu juga bukan urusan mereka. Para tamu hanya mendoakan yang terbaik untuk kedua mempelai.
"Om Andra!" Lala sengaja menempel pada Andra.
Andra melangkah menjauh. Ia risih dekat-dekat dengan Lala.
"Om, kita mau bulan madu ke mana?" tanya Lala dengan wajah memerah. Ia sudah membayangkan berdua sekamar dengan Andra. Apa yang akan terjadi setelah itu?
Wah wah wah... memikirkannya saja, sudah membuat tubuh Lala terasa panas dingin.
"Lala, jangan berpikir apapun!" tegas Andra menatap bocah pecicilan itu.
__ADS_1
"Kamu tahu aku terpaksa dengan pernikahan ini. Jadi jangan berharap apapun dariku!" Andra tidak mau Lala menganggap pernikahan mereka ini akan panjang untuk selamanya.
"Tapi aku tidak terpaksa lho, Om. Aku mau menikah dengan Om Andra itu ikhlas lahir batin. Om tenang saja, aku akan menjadi istri Om Andra yang sempurna!" Lala akan berusaha menjadi istri Andra. Agar pria itu bisa melihat ketulusannya dan dapat menerima dirinya.
"Lupakan Lala! aku masih sangat mencintai Ana!" jelas Andra kembali. Setelah ini, ia akan meminta penjelasan wanita itu.
Deg
Hati Lala sedikit sakit. Untuk apa Andra masih menemui wanita lain, yang sudah meninggalkannya.
"Tapi wanita itu tidak mencintai Om Andra loh. Jika wanita itu mencintai Om Andra, pasti Om tidak akan menikah denganku, kan!" Lala mengingatkan akan kenyataan saat ini. Andra harus sadar.
Andra terdiam sejenak. Ucapan Lala ada benarnya.
"Lala, aku tidak akan mencintaimu sampai kapanpun!" Jelas Andra dengan sorot mata tajam. Ia tidak akan membuka hatinya untuk Lala. Karena di hatinya masih ada Ana.
"Aku akan mencintai Om Andra sampai kapanpun. Aku akan mencurahkan seluruh cintaku, Om hanya perlu merasakannya saja." Lala menaikkan alisnya. Ia akan berjuang mengejar cinta suaminya itu.
"Jangan berharap!"
"Aku akan memanjat tembok pembatas itu, Om! Lalu aku akan merubuhkannya!" Lala berucap sangat yakin.
Andra menghembuskan nafasnya kasar. Bocah ini sangat keras kepala sekali.
"Om, karena sekarang aku sudah resmi menjadi istrimu. Aku tidak akan mengizinkan Om Andra menemui wanita lain. Termasuk Ana!" Lala mempertegas ucapannya. Ia kini istri sah pria itu, jadi ia berkewajiban mempertahankan pernikahannya.
Andra melihat Lala dengan sorot mata tajam. Ia tidak senang, Lala mau mengekang dirinya.
"Ingat, Om! Kalau Om menemui wanita lain tanpa izinku, Om Andra akan berdosa. Om akan masuk neraka!" Lala menakuti pria itu.
"Salah, pertama Om akan dikutuk jadi batu dulu. Lalu dicampakkan ke neraka. Om bisa kena azab!" masih juga Lala berucap.
"Lala!" Andra jadi kesal. Bocah itu benar-benar membuatnya kesal. Malah kini membahas dosa pula.
"Om, kita mau punya anak berapa?" kali ini Lala mengalihkan topik pembicaraan. Ia akan membicarakan masa depan.
"Lala!!! Jangan bahas apapun!" Andra benar-benar kesal.
"Om Andra, aku siap kok mengandung dan melahirkan anak-anakmu yang lucu!" Lala senyum-senyum mengatakannya.
Andra menepuk jidatnya. Benar-benar si Lala, ada saja pembahasannya.
__ADS_1
Pria itu menyalami para tamu, ia tidak mau mendengar ocehan bocah itu. Membahas tentang masa depan?
Andra merasa masa depannya akan suram dengan Lala.
"Om, kita akan tinggal di mana?"
"Om, suka makan apa?"
"Om, mau aku bagaimana? Katakan saja, aku akan menurut."
"Om, aku mencintaimu."
"Om..."
"Om..."
"Om..."
Lala terus saja mengoceh. Ada saja yang dibahasnya dan itu membuat Andra merasa jenuh dan bosan.
Malam pun tiba. Andra sudah merasa lega. Resepsi pernikahannya telah selesai. Ia sekarang sedang berada di sebuah kamar hotel. Kamar yang telah dipersiapkannya untuk malam pertamanya dengan Ana.
"Om, ayo kita pindah!" ajak Lala yang merasa tidak senang. Kamar hotel ini masih ada foto prewed Andra dan Ana yang begitu besar terpampang.
Dekorasi di kamar ini juga pasti sudah dipersiapkan Andra untuk Ana. Lala sangat tidak suka. Mereka harus mencari tempat baru, agar Andra tidak mengingat mantannya itu.
"Pergilah!" Andra malah mengusir Lala. Ia pun membaringkan tubuhnya di tempat tidur. Rasanya ia sangat letih sudah seharian berdiri menyalami para tamu.
"Om Andra, kita cari hotel lain saja!" ajak Lala. Dilihatnya Andra masih diam di tempat tidur.
"Om Andra!!!" Lala memanggili.
"Apa, La?" tanya Andra kesal.
"Om, apa kita akan malam pertama di sini?" tanya Lala memastikan.
Andra mengusap wajahnya.
'Malam pertama dengan bocah ini?!' ronta Andra tidak terima.
.
__ADS_1
.
.