
Romeo sampai di rumah. Ia turun dari mobil dan melihat sebuah mobil berhenti di depan rumahnya.
Romeo melihat Ana yang turun dari mobil tersebut. Lalu melambaikan tangannya ke pengemudi mobil.
"Dari mana kau?" tanya Ana setelah mobil tersebut pergi.
"Kak Ana yang dari mana?" tanya Romeo ingin tahu. Ana bukan pergi dengan Andra.
"Bukan urusanmu!" sinis Ana menjawab. Wanita itu berjalan masuk rumah.
"Kak, sebentar lagi kak mau nikah. Kenapa masih jalan sama si Ferdi? Ntar bang Andra bisa salah paham!" ucap Romeo mengingatkan. Ferdi teman kakaknya. Tapi, tak baik terlalu dekat dengan pria.
"Andra biasa saja! Kenapa kau yang sibuk?!" ucap Ana kesal. Adiknya itu terlalu ikut campur urusannya saja.
"Tapi kak... nggak baik-"
"Diam!!!" bentak Ana kesal menyela ucapan Romeo. Lalu berjalan masuk ke kamarnya.
Romeo cuma bisa menghela nafas panjang. Ia memberitahu hal yang benar, tapi Ana malah marah-marah padanya.
Kakaknya dengan Ferdi terlalu akrab berteman. Padahal tak ada pertemanan antara laki-laki dan perempuan yang benar-benar tulus berteman. Bisa jadi kalau nggak Ana yang punya rasa, Ferdi yang punya rasa.
Romeo sering memperhatikan, Ana lebih sering bersama Ferdi dari pada Andra. Padahal kakaknya menjalin hubungan dengan Andra, bukan Ferdi.
Romeo cuma takut, Andra nanti salah paham. Bagaimana pun hubungan kakaknya dan Andra kini sudah sampai tahap serius. Jangan sampai ada masalah karena orang ketiga.
\=\=\=\=\=\=
"La..." panggil Riri yang sedang berada di dalam kamar Lala.
Lala saat ini sedang menatap tajam sebuah undangan pernikahan Andra dan Ana.
Hatinya sangat sakit melihat foto prewed di kartu undangan tersebut. Andra dan Ana tampak saling mencintai. Mereka sangat serasi.
"Om Andra!" ucap Lala sambil menangis. Ia meremas kartu undangan tersebut. Sedihnya, ia akan ditinggal menikah pria yang dicintainya.
"La, sudahlah! Kau harus melupakan om Andra." Riri mengelus punggung temannya itu. Lala harus mengikhlaskan.
"Nggak bisa, Ri." Geleng Lala.
"Bisa, belum kau coba saja!" Riri meyakinkan. Memang berat melupakan orang yang dicintai.
Lala tetap menggeleng. Ia tidak bisa melupakan Andra begitu saja.
"Seharusnya aku yang di sini, bukan wanita ini!" tunjuk Lala pada foto tersebut.
"Lala-Lala!" Riri menggelengkan kepala. Lala terlalu terobsesi pada Andra.
"Ri, kau ada kenal dukun nggak?" tanya Lala sambil menghapus air matanya.
__ADS_1
"Du-dukun?" mata Riri terbelalak, mau apa Lala sama mbah dukun?
"Iya, temani aku ke dukun yuk!" ajak Lala. Ia harus melakukan sesuatu.
"Ma-mau apa kau, La?" tanya Riri bingung. Membahas dukun membuat bulu kuduknya merinding.
"Kita ke dukun, Ri. Kita minta sama si mbah buat supaya om Andra batal nikah sama Ana." Ide Lala sambil mengangkat alisnya. Dengan begitu, Andra akan menjadi miliknya.
"Astaga, Lala!!! Jangan seperti itulah! Tidak baik!!!" Riri sedikit marah pada Lala. Demi Andra, Lala sampai sebegitunya.
"Riri... aku nggak ikhlas mereka menikah!" ucap Lala kembali. Ia sangat tidak rela melepaskan Andra.
"Ikhlaskan saja! Mereka sudah berjodoh, La!" Riri masih berusaha mengingatkan Lala.
Lala kembali manyun dan menundukkan kepala. Ia begitu sangat sedih sekali.
"La, kau sama Romeo saja. Tampang Romeo juga lumayan dan dia juga baik. Kita juga sudah tahu sifatnya bagaimana." Riri menyarankan pada Lala. Dari pada Lala terus mengharapkan Andra. Lebih baik Lala buka hati untuk pria lain. Romeo misalnya.
"Ihh... Kau saja yang sama dia!" Lala tak mau dengan temannya itu.
"Ya sudah, kalau kau nggak mau sama dia. Sama pria lain, banyak kok pria-pria yang naksir samamu!" bujuk Riri kembali.
Banyak pria yang naksir Lala, tapi Lalanya saja yang nggak peka dan tidak peduli. Mata dan pikirannya hanya tertuju pada Andra, Andra dan Andra saja.
"Ogah! Di hatiku cuma ada om Andra seorang. Nggak ada yang bisa menggantikannya!" tegas Lala no tawar. Andra tidak akan tergantikan.
"Riri!!!"
\=\=\=\=\=\=
"Aku jemput ya?"
"Tidak usah!" tolak Ana sambil membereskan meja kerjanya.
"Tapi, Na-"
"Aku mau jalan sama temanku, Dra!"
"Biar aku temani!" Andra menawarkan diri.
"Tidak usah, Dra. Aku mau bertemu teman-temanku, nanti setelah menikah aku nggak punya waktu lagi!" Ana tetap menolak.
"Setelah menikah, kamu mau ketemu teman-temanmu aku tidak akan melarang!"
"Sudah ya. Dah!" Ana mengakhiri panggilannya. Ia malas berdebat dengan Andra. Pria itu selalu mengekangnya.
Ana meraih tasnya dan berjalan keluar kantor. Ia melambaikan tangan pada seseorang.
"Sudah lama?" tanya Ana menghampiri pria itu.
__ADS_1
"Baru sampai. Naiklah!" Ferdi membukakan pintu mobilnya untuk Ana.
"Terima kasih." Ucap Ana dan naik ke mobil pria itu.
"Ana, kamu jalan denganku apa nggak marah calon suamimu itu?" tanya Ferdi sambil menyetir. Ana sebentar lagi akan menikah, ia takut Andra salah paham.
"Kenapa marah? Aku kan jalan sama temanku." Jelas Ana. Tidak ada yang perlu dipermasalahkan.
"Iya, tapi bisa saja dia cemburu atau bagaimana?" timpal Ferdi kembali.
"Dia biasa saja kok. Dia percaya padaku." Ana menganggukkan kepala. Selama ini setiap ia bilang keluar dengan Ferdi, Andra tidak ada masalah. Awal-awal saja Andra keberatan, tapi setelah dia katakan jika Ferdi temannya. Lama kelamaan Andra mengerti juga.
"Apa kamu yakin menikah dengan Andra?" tanya Ferdi seraya melirik Ana.
"Hmm..." Ana nampak berpikir. Sejujurnya ia belum siap menikah. Tapi Andra terus menerus melamarnya, terpaksa Ana jadi setuju. Lagian hubungan mereka juga sudah terjalin cukup lama.
"Kenapa lama mikirnya?" tanya Ferdi kembali. Ana sepertinya terpaksa.
"Ya, aku yakin!" ucap Ana tidak yakin.
"Kalau kau nggak yakin, tinggalkan saja Andra!" saran Ferdi sambil tertawa.
"Aku yakin kok." Ana berkata tegas.
"Kalau nggak yakin sama Andra. Nikah sama aku saja!" ledek Ferdi sambil tertawa.
"Ogah!" jawab Ana cepat. Ana sudah menganggap Ferdi temannya. Jadi tidak mungkin ada rasa.
"Akukan juga tampan, baik hati dan tidak sombong." Timpal Ferdi kembali sambil tertawa.
"Tapi kau itu tidak kaya, Fer. Mau makan apa anak-anakku nanti, kalau bapaknya miskin?!" cibir Ana tanpa sadar merendahkan Ferdi.
Dibandingkan dengan Andra. Ferdi itu tidak ada apa-apanya. Jadi mana mungkin ia mau dengannya. Ferdi itu hanya pengangguran.
Wajah Ferdi jadi sedikit tersenyum sinis. Hatinya merasa sakit. Ucapan Ana barusan menghina harga dirinya sebagai seorang pria. Padahal ia hanya becanda.
Mereka memang berteman. Ferdi mewajarkan sikap ceplos Ana selama ini. Tapi perkataan Ana barusan, sangat keterlaluan.
"Jadi wanita itu harus matre, Fer. Cari pria kaya, jadi anak terjamin nantinya." Ana tetap mengoceh, seolah sedang bercerita sebagai teman. Tanpa mempedulikan ucapannya itu sudah menyinggung Ferdi.
"Oh gitu ya?" tanya Ferdi masih berusaha untuk tersenyum.
"Iya, dong!"
.
.
.
__ADS_1