MENCINTAIMU

MENCINTAIMU
BAB 33 - LALA BAPER


__ADS_3

Tin


Andra yang sedang menonton tv kaget mendengar suara klakson. Dan terlihat Lala berlari keluar rumah.


"Kak, ini pesanannya." Ucap sang kurir menyerahkan beberapa bungkusan pesanan Lala.


"Ok. Terima kasih ya, Bang." Ucap Lala menerima dan membayar ongkir.


"Kak, kembaliannya."


"Sudah ambil saja, Bang." Jawab Lala langsung bergegas masuk rumah.


Lala ke dapur dan mengeluarkan isi bungkusan. Ada ayam, kangkung, cabai, bawang, tomat dan semua bahan lainnya yang ia butuhkan untuk memasak yang Andra minta.


Lala sengaja memesan secara online bahan-bahannya. Mau ke pasar, ia tidak ada waktu. Jadi Lala melihat resep dan memesan bahan-bahannya.


Lala tampak bingung. Mana dulu yang mau dimasaknya. Ia pun melihat ayam dan tersenyum. Ayamnya sudah dipotong-potong, jadi tinggal dicuci saja.


Sreng


Sreng


Brak


Bruk


"Akhhhh..."


Andra yang sedang menonton tv merasa terganggu. Sudah sangat ribut, pakai teriak-teriak segala.


Pria itu bangkit untuk melihat apa kekacauan yang sudah dilakukan Lala di dapur.


"Kamu teriak-teriak seperti di hutan saja!" ucap Andra dengan nada kesal.


"Minyaknya mercik-mercik." Ucap Lala menunjukkan ayam yang sedang digorengnya. Begitu ayam dicuci, Lala langsung menggorengnya.


Andra menggeleng melihat kekacauan di dapurnya.


"Mas Andra, tunggu ya. Lala sedang berusaha." Ucap Lala mencoba tersenyum. Meski tangannya kena percikan minyak.


"Kangkungnya mana ya?" tanya Lala kebingungan mencari kangkung. Ia membuka lemari es dan tidak menemukannya.


Lala mencari-cari di sekitar dapur dan mendapatkan kangkungnya jatuh dibawa meja.


"Ketemu juga!" ucap Lala dengan wajah bahagia. Seolah menemukan kebahagiaannya.

__ADS_1


"Kok bau gosong?" tanya Lala berwajah bingung.


"Itu ayamnya!" tunjuk Andra pada ayam yang masih di wajan.


"Aduh, ayamnya kok jadi gosong. Gimana nih Mas?!" Lala bingung sendiri. Ia harus bagaimana sekarang.


"Dimatikan kompornya terus diangkat ayamnya!" Andra mematikan kompor dan mengangkat ayam gosong tersebut.


"Kalau nggak bisa masak. Nggak usah masaklah. Kamu bisa membuat rumah kebakaran!" ucap Andra dengan nada marah.


Hiks


Andra menoleh mendengar suara isakan.


"Maaf, Mas. Lala cuma mau jadi istri yang layak untukmu. Tapi kenapa begitu susah sih?!" Lala mengusap air matanya. Ia menyesali dirinya yang tidak bisa berbuat apapun.


Masak adalah hal wajar yang bisa dilakukan wanita. Dan ia malah tidak bisa sama sekali.


"Maafkan, Lala yang tidak berguna ini ya." Setelah mengatakan hal itu. Lala segera berlari ke kamar.


'Apa aku kelewatan?!' batin Andra tidak mengerti. Lala menangis dan mengatakan hal seperti itu.


Lala masuk ke kamar dan menangis senggugukan. Ia gagal lagi memasak untuk Andra. Padahal ia sudah menghafal resep-resepnya. Tapi, mempraktekkannya yang ternyata sulit sekali.


'Masa masak telur ceplok tiap hari?' hanya itu yang Lala bisa.


Tak beberapa lama setelah selesai membersihkan diri, ia pun berbaring di tempat tidur. Mau tidur sajalah.


Sementara di dapur. Andra sedang membersihkan kekacauan yang Lala buat di dapur Mamanya. Ia terpaksa turun tangan karena tidak enak dengan pekerja rumah.


Meski pekerja rumah mengatakan tidak masalah, tetap saja Lala sudah menambah pekerjaan mereka.


Jadi Andra harus bertanggung jawab dan ikut membersihkan juga.


Tak lama, Andra kini makan dengan Mamanya.


"Mana Lala?" tanya Mama kecarian.


"Tidur kali, Ma." Jawab Andra sekenanya.


"Andra, jangan terlalu galak sama Lala. Kasihan dia." Bujuk Mama. Ia sering mendengar putranya memarahi Lala.


"Dia menyusahkan saja, Ma." Jelas Andra. Ia tidak akan marah tanpa alasan.


"Kamu kan tahu dia lagi berusaha. Mama salut sama Lala. Dia berusaha untuk menjadi istri yang layak bagimu." Mama melihat bagaimana Lala yang berusaha untuk menyentuh hati Andra.

__ADS_1


"Kamu bukalah hatimu, nak." Bujuk Mama. Putranya sudah menikah, tapi sikapnya pada Lala seperti orang lain saja.


Andra diam saja. Ia tidak berminat membuka hati atau memiliki perasaan pada Lala.


"Lala baik dan sangat mencintaimu. Kalau kamu bisa membalas perasaannya, kalian pasti akan hidup bahagia!"


\=\=\=\=\=\=


Andra masuk ke kamar dan melihat Lala masih tidur.


Mata Andra tertuju pada luka di tangan Lala.


'Dasar ceroboh!' batin Andra.


Tak lama Andra membawa kotak obat. Ia duduk di pinggiran tempat tidur. Mengeluarkan krim dan dengan cotton buds mengoles ke luka-luka di tangan Lala.


Andra juga melihat jari Lala. Lukanya memanjang. Seperti kena sembretan pisau. Lala mau memotong bahan atau jarinya.


Andra pun memasangkan plester di jari itu.


Sepanjang mengobatinya. Lala masih tidur dan tidak terganggu sedikitpun.


Pagi menjelang, Lala menggeliat dan membuka matanya. Lalu mengusap wajahnya.


"Apa ini?" gumamnya merasa ada yang aneh di jarinya.


Blush


Wajah Lala mendadak merona. Luka dijarinya diplester. Pasti Andra yang melakukannya.


'Mas Andra, perhatian ihh...'


Lala tersenyum memandangi plester itu. Andra mengobatinya diam-diam.


'Pasti Mas Andra sudah punya rasa sama Lala!'


Lala jadi baper. Ia kembali berbaring sambil memeluk jari yang diplester itu.


Perasaan Lala sangat bahagia sekali. Ia pun berguling-guling di tempat tidur. Dan...


Bruak


"Aduh!!!"


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2