MENCINTAIMU

MENCINTAIMU
BAB 7 - CARI PERHATIAN


__ADS_3

"Kamu ngapain di sini?" tanya Andra bingung. Bocah satu ini sudah ada di rumahnya saja.


"Om yang ngapain di sini?" balik Lala bertanya. Om Andra ada di sebelah rumahnya.


"Aku akan tinggal di rumah ini-"


"Wah, Om. Kita akan jadi tetangga dong!!!" Lala bertepuk tangan gembira. Andra akan pindah rumah. Pria idamannya akan menjadi tetangganya.


"Apa???" Andra menatap tak percaya. Ia akan bertetangga dengan bocah edan ini.


"Dra, rumahnya bagus. Mama sama Papa suka." Ucap wanita paruh baya menghampiri sang putra.


'Calon mertua masa depanku!' batin Lala. Mereka pasti orang tua Andra.


"Siapa gadi manis ini?" tanya Leni melihat Lala.


"Selamat pagi menjelang siang, Om dan Tante. Saya Lala tetangga sebelah rumah." Lala memperkenalkan diri dengan sopan. Ia menyalami kedua paru baya tersebut.


"Nanti kalau Om dan Tante butuh bantuan. Datang saja ke rumah Lala. Lala pasti akan siap siaga membantu." Ucap Lala dengan sopan dan tetap mencari muka.


"Lala, salam kenal ya." Leni mengelus kepala Lala. Gadis manis ini begitu imut dan menggemaskan. Lala juga sangat sopan.


"Kamu tinggal di sebelah kanan atau kiri?" tanya Dani menunjuk arah.


"Yang kanan, Om." Jawab Lala memberitahu.


Andra hanya diam jadi penonton. Kedua orang tuanya malah akrab dengan bocah itu.


Lala mengobrol dengan Mama Leni. Wanita paruh baya itu sangat baik dan membuat Lala jadi senang. Tante Leni selalu mengelus kepalanya.


'Apa begini kasih sayang seorang ibu?' Lala nyaman kepalanya dielus tante Leni.


Setelah mengobrol cukup lama, Lala pun pamit pulang.


"Om Andra, Lala pulang dulu ya. Sampai jumpa lagi calon suamiku!" Lala melambaikan tangan sambil memberi keculan udaranya.


Andra hanya bisa menghembuskan nafas. Bocah itu tidak segan berkata begitu di depan orang tuanya.


"Lala lucu ya, Ma. Kalau adiknya Andra masih ada, pasti akan sebaya Lala sekarang." Dani mengingat putrinya yang sudah lama meninggal dunia.


"Benar, Pa. Melihat Lala, Mama jadi ingat putri kita." Mama juga jadi merindukan putri mereka.


"Salahnya Andra sudah dengan Ana. Jika tidak, Mama setuju Lala jadi menantu."


"Benar, Papa juga."


"Papa, Mama..." Andra menggeleng. Ia tidak mau punya istri bocah pecicilan seperti itu.

__ADS_1


"Sudah, ayo kita pulang!" ajak Andra. Mereka akan menempati rumah ini esok hari.


\=\=\=\=\=\=


"Riri nggak ada ngasih nomor Om Andra sama Lala." Bela Riri saat Andra menunjukkan pesan yang dikirim Lala.


Lala bisa mengirim pesan seperti itu pada Omnya. Cepat juga pergerakan Lala.


Riri sendiri saja, nggak pernah bisa jadi-jadi mengirim pesan dengan Om Ayaz. Ia mendadak dilanda kegugupan dan gemetaran. Padahal ia juga mengambil nomor Om Ayaz diam-diam dari ponsel Lala.


"Pesan yang dikirim teman kamu itu, hampir buat Ana jadi salah paham. Ana itu orangnya curigaan." Cerita Andra tentang kekasihnya itu.


"Maafin Lala ya, Om. Dia katanya suka sama Om Andra. Tapi nggak usah Om hiraukan saja si Lala itu. Perasaannya cuma sesaat saja." Riri merasa tidak enak dengan Omnya itu.


"Nomornya sudah diblokir Ana." Andra memberitahu


Riri mengangguk. Lala pasti akan mundur juga jika diabaikan terus.


"Tapi, Om. Apa kak Ana selalu curigaan begitu?" tanya Riri ingin tahu.


"Wajar sih." Andra mewajarkan kecurigaan Ana.


"Bukannya dalam menjalin sebuah hubungan harus didasari kepercayaan ya, Om?" tanya Riri kembali. Jika tidak ada rasa saling percaya, akan selalu ada rasa curiga, curiga dan curiga. Terus-terusan dicurigai malas juga.


Andra malah senyum sambil mengelus kepala ponakannya itu.


"Om, aku bukan anak kecil. Sebentar lagi aku akan tamat sekolah!" ucap Riri. Ia tidak suka dipanggil anak kecil. Ia harus terlihat dewasa, agar Ayaz melihatnya sebagai seorang wanita dan bukannya teman anaknya.


"Iya, iya, iya." Andra menggeleng. Anak zaman sekarang, terlalu cepat dewasanya.


\=\=\=\=\=\=


"Selamat sore Tante Leni." Sapa Lala dengan wajah senyum merona.


"Lala..." Leni tersenyum pada remaja itu.


"Tan, ini dari nenek. Tadi nenek masak banyak. Jadi Lala disuruh antar." Lala memberikan piring berisi makanan.


"Aduh, Lala jadi ngerepotin." Leni merasa sungkan.


"Nggak kok, Tan. Namanya juga tetangga." Ucap Lala sambil matanya mencari-cari.


"Aduh, maaf ya La. Rumahnya masih berantakan." Ucap Leni. Mereka baru pindah hari ini, jadi belum sempat beres-beres.


"Tidak, Tan. Om Andra mana?" Lala hanya mencari Om Andranya.


"Lagi mandi." Ucap Leni seraya memindahkan makanan bawaan Lala ke piringnya.

__ADS_1


Lala pun tersenyum membayangkan Andra yang sedang mandi. Pasti sangat seksi sekali.


"Jadi mau mandi bareng!" Gumam Lala tanpa sadar.


"Kamu bilang apa?" tanya Leni. Lala bicara sesuatu, tapi kurang jelas terdengatlr.


"Ti-tidak, Tan. Lala pulang dulu ya, Tan. Nanti nenek kecarian." Lala pun berpamitan.


"Sampaikan terima kasih Tante sama nenekmu."


Lala pun mengangguk dan segera pergi.


Malam itu di kamar, Lala memanyunkan wajahnya. Andra sudah memblokir nomornya. Baru mulai mendekat, pria itu sudah membangun tembok tinggi saja.


"Mau dekati anaknya, dekati dulu orang tuanya. Mamanya yang utama." Lala tersenyum lebar. Ia harus bermain cantik.


Lala pun bangkit dan berlari ke arah balkon. Ia akan melihat masa depannya. Mungkin saja sedang memikirkannya.


Senyum Lala sumringah saat melihat masa depannya sedang berdiri memandangi langit malam.


"Om Andra..." Panggil Lala yang membuat pria itu menoleh.


'Astaga!!!' Andra membatin. Lala lagi, Lala lagi. Mana dari semalam Mama dan Papanya membahas bocah pecicilan satu ini.


"Om Andra lihat apa?" tanya Lala dengan nada manja dan wajah senyuman merekah. Senangnya ia bisa selalu melihat masa depannya itu.


Andra diam dan memilih tidak menjawab.


"Om pasti sedang melihat masa depan kita kan!" terka Lala sesuka hatinya. Andra tidak mau menjawab, ya sudah biar Lala saja yang menjawab.


Andra menghela nafas. Bocah satu itu, sudah tanya sendiri jawab sendiri.


"Om, kenapa nomorku diblokir?" tanya Lala kembali. Ia harus tahu alasan pria itu.


"Lala... Jangan ganggu aku!" Andra langsung memberi penolakan. Ia dan Lala sekarang bertetangga. Jika Ana tahu akan jadi masalah. Kekasihnya itu pasti akan curigaan terus. Sama anak bau kencur seperti Lala saja, Ana sudah cemburu. Jadi ia harus menjaga jarak.


Kok kesal dengar omongan Andra. "Om, aku nggak ganggu. Kita sekarangkan tetangga. Punya nomor tetangga itu penting loh. Misalnya ini ya, saat Om tidak ada di rumah. Tante Leni tiba-tiba sakit perut. Aku kan bisa menelepon Om Andra." Alasan Lala. Itulah pentingnya bertetangga.


"Nggak perlu kamu yang meneleponku. Mama bisa meneleponku sendiri." Setelah mengatakan hal itu, Andra pun masuk.


"Om Andra, ihh!!!" Lala geram. Om Andra memang sedang jual mahal padanya.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2