MENCINTAIMU

MENCINTAIMU
BAB 34 - MENOLAK


__ADS_3

"Aduh!" ringis Lala yang terjatuh dari tempat tidur. Rasanya badannya sangat sakit sekali.


"Ada apa?" tanya Andra yang keluar dari kamar mandi.


Saat mandi ia mendengar suara gaduh. Mungkinkah gempa. Makanya hanya melilit handuk, ia keluar dari kamar mandi.


"Wow..." Lala yang tadinya meringis langsung takjub melihat Andra. Pria itu begitu sangat seksi dengan rambut yang masih basah itu.


"Mas Andra..." ucap Lala manja. Ia mengulurkan tangan, agar dibantu berdiri.


"Lala, masih pagi jangan heboh ya!" Andra mengingatkan. Ternyata bocah edan itu jatuh dari tempat tidur. Memang masih bocah. Tidur saja masih jatuh.


Andra kembali masuk ke kamar mandi. Ia akan kembali melanjutkan mandinya yang terjeda.


"Mas Andra!!!" Lala masih memanggil.


Lala pelan-pelan bangkit. Ia pun berjalan ke lemari dan mengambilkan pakaian suaminya.


Lala lalu berjalan keluar kamar. Ia akan cuci muka di kamar mandi dapur saja. Dan kemudian membuatkan sarapan.


Tak lama Andra keluar dari kamar mandi. Dan ia melihat pakaian di atas tempat tidur. Sepertinya Lala sudah menyiapkannya.


Andra ke lemari dan meraih pakaian kantor. Ia akan mulai bekerja hari ini.


Setelah berpakaian. Andra menyisir rambut dan memakai gel lalu menyemprot parfum.


Pria itu tersenyum tipis melihat dirinya yang begitu tampan.


Andra berjalan menuju dapur.


"Lala, hati-hati." Ucap Mama Leni membungkus jari Lala yang berdarah.


Seorang pekerja rumah mengambil kotak obat dan segera Mama mengobati luka Lala dan memplesternya.


"Astaga Lala!!! jari-jarimu kena pisau semua!" Mama menggeleng. 4 jari Lala sudah diplester.


"Kalau nggak bisa masak, nggak usah sok bisa!" ucap Andra seraya duduk di kursi meja makan.


"Andra, jangan begitu!" Mama menggeleng. Ia melihat wajah Lala yang mendadak sedih.

__ADS_1


"Lala kan lagi belajar, Mas." Ucap Lala mencoba membela diri.


"Belajarlah sampai jarimu terpotong!" ucap Andra kembali.


"Andra!!!" ucap Mama.


Lala menghela nafas pelan. Ia pun meraih piring dan mengambilkan nasi goreng untuk suaminya.


"Nggak usah." Andra mengambil piring sendiri dan mengisinya. Lalu ia pun melahap nasi goreng itu.


Lala diam sejenak. Lalu ia mengambil telur ceplok dan meletakkan di piring Andra.


"Selamat makan, Mas Andra." Ucap Lala sambil tersenyum.


"Tiap hari makan telur, aku bisa bisulan!" Andra mengangkat telur itu dan mengembalikan ke piring telur. Ia muak makan telur.


"Ini Mas, tehnya." Lala melakukan hal yang lain. Meletakkan teh hangat di dekat Andra.


Pria itu akan meraih gelas dan dengan cepat Lala mengambilnya dan membawa ceret air menjauh.


"Pagi-pagi minum teh manis hangat, Mas." Ucap Lala sambil tersenyum.


Andra bangkit dan membuka lemari es. Ia pun menenggak jus jerik yang ada disitu. Ia tidak mau dilayani Lala.


"Aku pergi, Ma." Ucap Andra berpamitan. Ia akan pergi ke kantor saja.


Melihat Andra berjalan pergi, Lala pun mengekori. Ia akan mengantar Andra sampai teras depan.


"Kamu ngapain?" tanya Andra melihat Lala membuntutinya.


"Lala mau antar suami Lala berangkat kerja." Ucapnya sambil menyengir.


"Tidak perlu!" tolak Andra.


Lala tidak peduli dengan penolakan.


Andra akan masuk ke mobil tapi ditahan Lala.


Lala mengulurkan tangan. Ia ingin menyalami suaminya.

__ADS_1


Andra tidak membalas. Ia merasa tidak perlu seperti itu.


Jadi Lala meraih saja tangan Andra dan mencium punggung tangan itu.


"Lala!" tepis Andra tidak suka. Ia mengelap tangannya yang kena bibir itu.


Diperlakukan seperti itu, Lala jadi sedikit sedih.


"Ma-maaf ya." Ucap Lala memasang wajah sedih. Setelah mengatakan itu Lala pun masuk ke dalam rumah.


'Ayo kejar Lala, Mas!' Lala ingin Andra membujuknya. Ia pura-pura ngambek.


Brum...


Lala membalikkan badannya. Ia melihat mobil Andra yang sudah berlalu pergi.


Hembusan nafas kasar terdengar. Lala pun berjalan ke kamar. Ia menuju balkon seraya berjemur di pagi yang cerah.


'Kapan ya Mas Andra bisa menganggap Lala istrinya?' batin Lala merasa kecewa.


Lala sudah berusaha mengambil hati Andra. Tapi suaminya itu tidak peduli padanya.


'Mau sampai kapan begini? apa Mas Andra lagi menunggu waktu yang tepat untuk menceraikan Lala?'


Lala bergelut dengan pikirannya. Andra tidak menginginkan pernikahan ini. Suaminya itu hanya masih mengulur-ulur waktu saja.


'Masa Lala jadi janda sih?' Lala menggeleng.


Mata Lala tertuju pada mobil Andra yang melaju kembali ke rumah. Seketika senyum di wajah Lala melebar.


'Pasti Mas Andra merasa bersalah!' Lala dengan pemikirannya. Andra pasti tidak enak hati dengan sikapnya itu.


Lala langsung masuk dan membaringkan diri di tempat tidur. Ia akan berpura-pura tidur saja. Pasti Andra akan membangunkannya untuk meminta maaf.


Lala memejamkan mata saat mendengat suara pintu terbuka.


Krek...


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2