
Pagi itu, Andra keluar dari kamar mandi dengan hanya terlilit handuk di pinggang. Ia melihat Lala yang sedang berdandan. Sepertinya akan pergi.
Andra melirik ke arah tempat tidur. Tidak ada pakaian yang diletakkan di sana. Lala sudah tidak melakukannya lagi.
Andra pun membuka lemari untuk mengambil pakaiannya. Ia sedikit lega, Lala sudah tidak mengurusinya hal seperti itu.
Lala menoleh melihat Andra. Ia menunjukkan wajah kesal.
'Ihh... Ku tarik handuknya baru tahu!' dumel Lala dalam hati.
Ketika melihat Andra akan berbalik, Lala pun membuang pandangannya. Ia kembali mendempul wajahnya, lalu menambahkan lipstik merah di bibirnya.
Wanita itu tersenyum melihat dirinya dalam pantulan cermin. Ia sangat cantik sekali dengan rambut tergerai seperti ini.
Lala juga menyemprotkan parfum di seluruh tubuhnya. Lalu mengambil tas dan akan keluar kamar.
"Lala." Panggil Andra yang membuat Lala menghentikan langkah kakinya.
"Kamu mau ke mana?" tanya Andra. Hari masih pagi, mau kelayapan ke mana wanita itu.
Lala pun melihat Andra dengan tatapan datar. "Kamu nanyaaaa?"
Setelah mengatakan itu, Lala pun keluar dari kamar itu.
"Astaga!!!" Andra jadi kesal. Ia tanya baik-baik malah dijawab seperti itu.
Lala tersenyum tipis setelah keluar dari kamar. Ia akan bersikap datar pada suaminya itu. Andra sedang menunggu waktu yang tepat untuk berpisah dengannya. Jadi untuk apa ia berusaha mendapatkan perhatian pria itu.
Lala menarik nafas dalam. Ia harus mempersiapkan mentalnya dari sekarang. Agar saat Andra memutuskan perpisahan mereka, Lala tidak akan merasa sakit hati. Saat Andra nanti mengatakan ingin berpisah, Lala akan menerima dengan lapang dada.
"Selamat pagi, Pa... Ma..." Sapa Lala pada mertuanya itu.
Papa dan Mama melihat Lala yang sudah berpakaian rapi.
__ADS_1
"Kamu mau ke mana?" tanya Mama menatap menantunya itu.
"Lala mau bekerja lagi, Ma." Ya, Lala mau kembali bekerja di perusahaan papanya.
Papa dan Mama saling melirik.
Lala melihat Andra datang dan duduk bergabung di ruang makan itu.
"Kamu mau bekerja lagi?" tanya Mama memastikan.
Lala mengangguk. "Tadinya Lala pikir setelah menikah, Lala akan berhenti bekerja dan fokus di rumah saja mengurusi suami. Tapi, suaminya Lala menolak itu. Jadi Lala bingung mau mengurusi siapa, lebih bagus Lala kembali bekerja saja." Lala mengeluarkan unek-uneknya itu. Ia sengaja mengatakan hal itu saat Andra ada. Agar pria itu mendengarnya.
Andra melihat ke arah Lala. Wanita itu mengatakan hal tersebut tanpa melihat ke arahnya.
Mama juga bingung dan menyenggol suaminya. Putra dan menantunya seperti sedang bertengkar.
"Andra, ada apa?" tanya Papa melihat Andra dan Lala bergantian.
Andra menggeleng. "Tidak apa, Pa."
"Seperti kata Mas Andra, Pa. Kami tidak apa-apa." Lala menjawab seperti apa Andra menjawab.
Lala mengambil piring dan mengisi sarapannya, lalu ia pun makan.
Papa dan Mama jadi bingung. Lala tidak mengambilkan Andra sarapan. Wajar saja, selama ini Andra selalu menolak. Mungkin Lala sudah jenuh melakukan itu. Atau mungkin menantunya juga malu, karena Andra sering menolaknya.
Andra mengambil sarapannya sendiri. Matanya terus melihat ke arah Lala, tapi sedikit pun Lala tidak menoleh ke arahnya.
Lala telah selesai makan dan minum. Ia bangkit dan meletakkan piring bekas makannya ke wastafel.
"Pa, Ma... Lala pergi dulu ya." Lala pun berpamitan. Ia menyalami mertuanya itu. Walau Andra menyebalkan, tapi ia harus hormat pada mertuanya itu.
Lala menyalami Papa lalu Mama. Andra akan mengulurkan tangannya, tapi Lala langsung pergi.
__ADS_1
'Memang enak dikacangi?!' Lala tersenyum samar. Ia tahu Andra tadi akan mengulurkan tangan. Lala sengaja tidak menyalaminya, biar Andra tahu rasa sakitnya selama ini diacuhkan olehnya.
Andra selalu menganggapnya tidak ada. Padahal ia selalu ada di sana. Pria itu tidak pernah melihatnya.
"Andra... ada apa?" tanya Mama yang jadi bingung setelah melihat Lala pergi.
"Apa yang terjadi?" Papa meminta penjelasan Andra. Mereka tahu Lala sangat mencintai putranya. Selama ini Lala sudah berusaha mencari perhatian pria itu. Tapi, sikap Lala hari ini berubah.
"Apa kamu mengatakan hal yang menyakiti perasaan Lala?" terka Mama. Andra mungkin sembarangan berkata.
Selama ini, walau sikap Andra cuek tapi Lala tidak pernah berubah. Tetap berusaha mencari perhatian pria itu.
"Andra..." panggil Mama.
"Biarkan saja, Pa... Ma. Aku pergi dulu." Andra tidak mau membahasnya lagi. Ia pun berpamitan pergi.
Andra keluar dari rumah dan melihat Lala masuk ke mobil papanya. Lala pergi bekerja dengan papanya itu.
"Lala... Itu suamimu kok ditinggal?" tanya Ayaz bingung. Lala mendadak ingin kembali bekerja.
Lala melihat Andra masuk ke mobilnya. "Ayo, Pa. Kita meluncur... nanti kita terlambat."
Ayaz melihat putrinya sekilas, lalu melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
"Pa... Sepertinya Lala dan Mas Andra akan berpisah saja."
"Ada apa?" tanya Ayaz melirik putrinya.
"Lala mau bercerai dari Mas Andra, Pa..."
.
.
__ADS_1
.