MENCINTAIMU

MENCINTAIMU
BAB 64 - SUDAH BERAKHIR


__ADS_3

"Saya tidak ada waktu untuk bertemu dengannya. Jadi suruh dia pergi." Pinta Andra dengan nada dingin.


"Ba-baik, Pak." Jawab sekretaris itu dengan gugup. Ia pun segera keluar dari ruangan itu.


Lala mendongakkan kepala melihat wajah sang suami. Wajah Andra sangat dingin dan tampak tidak senang.


"Mas..." Panggil Lala dengan suara lembut.


Nyes...


Hati Andra yang semula merasa panas menjadi adem mendengar suara istrinya. Lala membuatnya lupa akan kekesalannya.


"Kenapa Mas An-"


Andra meletakkan telunjuknya di bibir Lala. Ia tidak mau Lala bertanya hal itu.


"Lala, aku tidak mau kamu nanti salah paham padaku." Jelas Andra akan maksudnya.


"Jadi, jangan bahas tentang dia lagi. Aku tidak mau kehilanganmu. Aku dan Ana sudah selesai." Ucap Andra. Semua tentangnya dan Ana telah berakhir.


Lala mengangguk dan memeluk Andra. Mengusap lembut punggung sang suami.


Andra membalas pelukannya. Ia merasa nyaman dan damai bersama sang istri. Lala seperti obat.


"Mas, sudah lanjutkan pekerjaannya. Aku duduk di sofa saja." Ucap Lala.


Andra menggeleng. "Tidak mau!"


Lala jadi tertawa, suaminya seperti bocil ketika merengek.


"Aku tidak mau jauh darimu, Lala." Andra sengaja memelaskan suaranya.


"Mas, Lala duduk di sofa saja. Jadi Mas Andra bisa cepat menyelesaikan pekerjaannya. Lalu kita bisa pulang. Lala mau bobok sambil peluk suaminya Lala." Lala mencoba bernegoisasi. Ia sangat tidak nyaman dengan posisi mereka sekarang. Lantaran ini masih di kantor, mungkin jika di rumah Lala tidak peduli.


Andra langsung mengangguk dan tersenyum lebar.


"Apa kamu merindukan sentuhanku?" tanya Andra.


Lala mengangguk. "Makanya Mas Andra cepat selesaikan itu. Biar kita pulang."


"Ok." Andra pun menjawab dengan semangat.


Lala bernafas lega. Ia kini sudah bebas. Duduk manis di sofa, sambil melihat sang suami yang begitu fokus pada tanggung jawabnya.


'Mas Andra, memang tampan!' puji Lala menatap kagum.


Menunggu Andra, Lala bersandar sambil melihat ponselnya.


Andra melirik sang istri. Lalu kembali fokus melihat Lala. Rok Lala terlalu pendek, hingga pahanya terekspos sempurna.


"Mas Andra, sudah siap?" tanya lala yang kaget tiba-tiba Andra memberikan jas untuk menutupi pahanya.


"Lain kali jangan keluar pakai rok seperti itu lagi." Andra mengingatkan. Ia tadi pagi tidak sadar dengan pakaian istrinya.


"Ma-maaf, Mas." Ucap Lala jadi merasa bersalah.


Andra lalu menggendong Lala dan itu membuat Lala kaget.


"Mas, turunkan aku!" ucap Lala. Ia digendong seperti anak koala.

__ADS_1


Andra mengkedipkan sebelah matanya. Ia pun membawa Lala ke kamar mandi. Ingin menuntaskan hasratnya yang mendadak menjalar.


Tak lama suara mende-sah terdengar dari balik tembok kamar mandi.


"Mas, ki-kitaaa lakukan di-di rumah saaa-ja." Ucap Lala di tengah gairahnya.


"Aku maunya sekarang. Saat di rumah akan kita sambung lagi." Ucap Andra dengan semangat.


"Mas Andraaaa..."


\=\=\=\=\=\=


"Lepaskan aku!" ucap Ana tatkala security menggeretnya keluar kantor.


Ana benar-benar kesal. Andra tidak mau bertemu dengannya.


Kini ia berada di luar kantor sambil menggerutu. Andra sangat keterlaluan sekali.


Ana melihat sinis ke arah pintu masuk. Security menyebalkan itu berdiri di sana.


'Andra!!!' teriak Ana kesal.


Ana tidak mau pergi sebelum bertemu Andra. Jadi ia akan menunggu saja. Menunggu sampai Andra pulang.


Dan supaya tidak terlihat security, Ana bersembunyi. Agar dikira sudah pergi, padahal masih menunggu.


Tak lama Andra keluar dari lift sambil merangkul sang istri. Kedua sejoli itu tersenyum lebar.


"Lala, mau makan apa?" tanya Andra dengan nada lembut dan manja.


"Apa saja, Mas. Yang penting makannya berdua sama Mas." Jawab Lala sambil tersenyum.


"Makan orang kamu mau?" ledek Andra seraya mentoel hidung istrinya.


Andra jadi tertawa. Wajah Lala sangat menggemaskan sekali.


"Andra!" panggil seseorang.


Seketika tawa Andra tak terdengar lagi. Wajahnya berubah dingin melihat orang yang memanggilnya.


'Ana!' Lala kaget wanita itu masih menunggu suaminya.


"Dra..." panggil Ana dengan nada lembut.


"Kenapa dia masih ada di sini? menggusir satu orang saja mereka tidak bisa." Ucap Andra dengan nada dingin. Security itu tidak mengusirnya.


Deg


Nada bicara Andra membuat Lala merinding.


Deg


Sama dengan Lala. Ana merasa Andra berubah. Ia tidak mengenali pria itu.


"Andra, aku ingin bicara sa-"


Plak


Andra segera menepis tangan Ana saat akan memegangnya. Ia tidak akan membiarkan wanita lain memegangnya. Lagian ada Lala di sisinya, beraninya Ana mau memegangnya.

__ADS_1


Dan tanggapan Andra yang seperti itu membuat Ana terkejut dan jadi kesal.


"Andra, kita harus bicara."


Andra mengangkat tangannya, tidak mau mendengar perkataan Ana. Ia pun memanggil security.


"Dra, kamu kenapa?" tanya Ana yang bingung. Sifat Andra berubah. Tidak seperti terakhir bertemu. Pria itu masih peduli dan mengkhawatirkannya.


"Jika saya melihat wanita ini berkeliaran lagi di sini, saya akan memecat kalian semua!" Andra mengatakan dengan sorot mata tajam dan nada marah. Memerintah pada security tersebut.


"Ayo, sayang." Nada bicara Andra kembali melembut. Ia akan membawa Lala pergi.


"Dra, kamu kenapa?"


"Apa wanita itu sudah meracuni pikiranmu?"


"Andra, aku masih mencintaimu..."


Ana terus mengoceh saat security akan menggeret. Ia kesal Andra mengacuhkannya, bahkan pergi bersama wanita itu.


"Lala, kau itu pelakor. Kembalikan Andra padaku! Dasar wanita jallang!" maki Ana. Ia yakin Lala telah mencuci otak Andra.


Lala terdiam. Ana menuduhnya seperti itu. Ia melihat ke arah suaminya, Andra menghembuskan nafas berkali-kali.


"Lala kau wanita murahan. Jala-"


"Diam kau!" Andra berbalik dan menunjuk wajah Ana. Ia tidak suka istrinya dihina seperti itu. Dan menghina di depannya lagi.


"An-Andra... dia merebutmu dariku. Seharusnya kita telah menikah-"


"DIAM!!! Tutup mulutmu atau aku merobeknya!" ucap Andra kembali. "Jangan pernah membahas masa lalu lagi."


"Dra..." Ana berucap lemah. Ia melihat tatapan mata pria itu yang membencinya.


"Dan ingat sekali lagi kau menghina istriku. Aku tidak akan segan untuk menghancurkanmu!" ancam Andra.


Air mata Ana berjatuhan. Andra sangat menyeramkan. Ia tidak pernah melihat Andra bersikap seperti itu.


Andra pun menggandeng Lala. Dan berjalan pergi dari sana. Ia tidak mau terus di sana dan mendengar omong kosong Ana.


Sampai di dalam mobil.


"Mas..." panggil Lala khawatir melihat Andra. Sikap suaminya terlalu kasar pada Ana.


"Kamu nggak apa kan sayang?" tanya Andra melihat wajah Lala. Ia tidak mau Lala sampai menangis, karena ucapan Ana.


Lala mengangguk. Ia melihat ekspresi khawatir sang suami.


"Kalau dia menghinamu, katakan padaku!" Andra membawa Lala ke pelukannya. Memeluk dengan sangat erat. Bahkan sangat erat sekali.


Dan tiba-tiba...


Kruk


"Kamu lapar?"


Lala mengangguk.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2