
Sampai di rumah baru, Lala tampak sibuk mengeluarkan pakaian mereka. Menyusun di dalam lemari. Agar nanti tidak susah mencarinya.
Andra yang sedang berbaring di tempat tidur, melihati sang istri.
"Lala... mau makan apa?" tanya Andra. Ia akan memesan makanan saja.
"Mas Andra lapar?" tanya Lala menoleh ke arah sang suami.
"Iya... Aku mau-"
"Biar Lala masak saja." Ucap Lala mempercepat merapikan pakaian mereka.
"Kita beli saja." Ucap Andra kembali.
Lala terdiam sesaat. Ia menyadari kekurangan dirinya yang tidak bisa memasak.
"Ma-maaf, Mas Andra. Lala akan berusaha jadi istri yang layak. Lala akan belajar memasak dengan serius." Ucap Lala. Andra tidak mau terus menerus makan telur ceplok buatannya.
Andra jadi merasa aneh mendengar perkataan Lala. Maksudnya bukan begitu, Lala malah minder.
"La, kita pesan makanan saja. Nanti kita baru belanja kebutuhan dapur. Kalau kamu mau masak, apa yang mau dimasak?" ucap Andra memperjelas.
Lala pun mengangguk malu. Ia jadi salah paham dan malah minder sendiri. Mereka saja baru pindah ke rumah ini.
"Kamu mau makan apa?" tanya Andra kembali. Jarinya mengisyaratkan Lala untuk mendekat.
Dan Lala pun berjalan menghampiri sang suami.
Andra menarik Lala agar duduk di sampingnya, lalu menyerahkan ponselnya. Menyuruh Lala memilij sendiri.
"Pesanlah yang kamu mau."
"Mas sudah pesan?" tanya Lala.
Andra menggeleng. "Samakan saja sama kamu."
Lala mengangguk dan menscrol ponsel Andra.
Sementara Andra menyandarkan dagunya di bahu Lala. Matanya fokus menyusuri dataran tinggi yang putih dan mulus itu.
Lala menggigit bibir bawahnya, hembusan nafas Andra membuatnya meriang. Mau menghindar, ia tidak mau suaminya kecewa.
"Mas, sudah." Ucap Lala setelah memesan beberapa makanan. Ia mengembalikan ponsel Andra.
__ADS_1
Andra melemparkan ponselnya ke samping, ia lalu menarik tubuh Lala. Membuat Lala duduk di pangkuannya.
Deg... Deg...
Lala jadi gugup duduk di pangkuan suaminya. Kikuk dan canggung jadinya, bahkan tubuhnya terasa panas dingin.
"Mas An-Andra!" ucap Lala saat pria itu memeluk pinggangnya, membuat mereka makin mendekat.
Andra memandang lekat wajah Lala yang salah tingkah itu. Wajahnya merona dan berulang kali menggigit bibir sendiri.
Tangan Andra terulur melepas ikat rambut Lala dan membuat rambut panjang itu jadi tergerai.
'Cantik!' Andra baru menyadari kecantikan Lala. Sangat cantik sekali.
Pria itu pun menempelkan bibirnya dan mencium Lala.
Lala perlahan mulai membalas pangutan itu. Ia sedikit meriang merasakan sesuatu yang mengenai bokongnya.
"Mas Andra..." Ucap Lala lirih. Kedua da-danya diremas pria itu, membuat tubunnya bergetar.
Andra tersenyum. Tubuh Lala sangat sensitif sekali. Ia pun perlahan membuka pakaian itu. Matanya menatap kedua bongkahan yang tersanggah kaca mata hitam. Tidak terlalu besar tapi sangat putih dan mulus sekali.
Andra melihat Lala yang membuang wajahnya. Wajah Lala sangat merah sekali. Perlahan pria itu melepaskan pegaitnya.
Ting... Tong...
"Mas Andra..." Ucap Lala yang mendengar suara bel.
"Hmm." Jawab Andra yang masih menikmati aset Lala itu.
"I-itu suara bel." Ucap Lala memberitahu.
Andra pun mengangkat kepalanya dari area itu dan melihat Lala.
"Biar Lala buka pintu."
"Biar aku saja!" Andra pun menahan. Mana mungkin Lala membuka pintu dengan bertela-njang da-da seperti itu. Ia tidak rela orang lain melihat Lala. Akan sangat bahaya.
Lala mengangguk pelan. Ia meraih pakaian dan malah ditahan Andra.
"Kita belum selesai!" ucap Andra lalu berjalan keluar.
Setelah Andra keluar kamar, Lala membuang nafasnya pelan. Andra tidak memperbolehkannya memakai pakaian.
__ADS_1
Lala juga melihat tubuhnya di cermin nakas. Penuh tanda-tanda kemerahan jejaknya Andra.
"Lala... Ayo makan!" Ucap Andra yang masuk ke kamar kembali. Ia melihat Lala belum berpakaian.
"Mas, Lala boleh pakai baju?" tanyanya seraya menutup bongkahan kenyalnya.
Andra ingin tertawa saja. Lala memang penurut dan malah meminta izinnya untuk berpakaian. Lala sangat menggemaskan.
"Boleh, tapi jangan pakai b-h." Pinta Andra, ia masih ingin menyentuhnya lagi.
Dan Lala mengangguk. Berjalan menuju lemari, mengambil pakaian longgar dan memakainya. Lalu ia keluar bersama Andra untuk makan.
Lala makan sambil mengumbar senyuman. Ia makan dengan lahap.
Setelah selesai makan, Lala membereskan sampah mereka. Dan akan mencuci piring di wastafel.
Andra terus menempel pada Lala. Ia betah memeluk belakang Lala. Mengikuti ke mana Lala berjalan.
"Mas, Lala mau cuci piring."
"Ya sudah, cuci saja." Ucap Andra. Ia sangat nyaman di posisinya.
"Lala..." panggil Andra kembali.
"Iya, Mas."
"Kapan M kamu selesai?" tanya Andra. Ia ingin menggauli sang istri. Tubuh Lala benar-benar menggodanya.
"Be-besok, Mas." Jawab Lala gugup.
Andra tersenyum. "Baiklah. Besok malam kamu bersiaplah."
Lala mengangguk pelan. Ia mengerti ke arah mana ucapan pria itu.
"Jadilah istriku seutuhnya." Bisik Andra lalu meniup telinga Lala.
Ser... Ser...
.
.
.
__ADS_1