MENCINTAIMU

MENCINTAIMU
BAB 40 - TIDAK SABARAN


__ADS_3

"Andra, kamu mau bagaimana dengan Lala?" tanya Mama setelah Lala dan papanya pulang. Ia kini bersama suaminya menyidang Andra.


"Aku tidak bisa mencintai Lala." Jawab Andra dengan menundukkan kepala. Ia jujur pada mereka.


Kedua paruh baya itu menarik nafas bersamaan.


"Kamu bukan tidak bisa mencintai Lala. Kamu yang tidak mau mencintainya." Ucap Mama membenarkan.


Mama melihat bagaimana kesungguhan Lala pada Andra. Betapa tulusnya perasaan Lala pada putranya. Dan Andra...


Putranya itu tidak mau melihat itu. Menutup mata dan telinganya. Makanya Andra tidak luluh.


"Kamu ingin kembali pada Ana?" kini papa memastikan.


Andra tidak menjawab. Ia juga tidak tahu.


"Lala itu sangat baik dan perasaannya sama kamu itu begitu tulus. Jika kamu ingin berpisah, kami tidak akan menghalangi. Mama juga kasihan sama Lala, berharap yang tidak pasti." Mama akan mengalah. Ia tidak mau Lala terus berharap pada putranya.


Andra masih diam dan memilih tidak menjawabnya.


"Keputusan ada di tanganmu!" Papa menepuk pundak sang putra. Lalu bersama sang istri berjalan meninggalkan ruang tamu.


Tak lama Andra masuk ke kamar. Ia naik ke tempat tidur dan membuat tembok pembatas seperti biasanya.


"Kenapa dia belum keluar?" Andra melihat ke arah kamar mandi. Lala terlalu lama di dalam sana.


'Astaga!!!' Andra menutup wajahnya. Ia lupa jika sekarang Lala berada di rumah sebelah. Malah masih mengira, jika ia sekamar dengan Lala.


Andra pun melempar guling pembatas dan merentangkan tangannya.


"Akhirnya lapang juga!" Andra merasa seperti bebannya mulai hilang. Nggak ada lagi Lala perusuh itu.


Andra meraih ponsel dan melihat media sosialnya. Ia membuka profil Ana.


Pria itu tersenyum, masih ada foto mereka di sana. Ana tidak menghapusnya.


Tapi,

__ADS_1


Deg


Seketika wajah Andra jadi kesal. Ana baru memposting foto terbaru.


With my husband


Hati Andra rasanya panas melihat foto Ana bersama Ferdi. Di dalam foto kedua orang itu saling melempar senyum.


Andra berdecih. Ia masih memikirkan Ana, tapi Ana malah seperti itu. Sudah melupakannya.


Seolah apa yang pernah terjalin diantara mereka tidak berarti apapun.


Andra bangkit dan berjalan ke balkon. Ruangan ini terasa panas. Ia butuh udara segar.


'Ngapain dia?' Andra melihat Lala juga sedang berada di balkon rumahnya.


Ting


Ting


Ting


'Dia kirim pesan dengan siapa?' batin Andra mendadak kepo.


Wajah Lala sampai senyum-senyum tak jelas membalas pesan.


Andra pun menatap pemandangan malam. Angin sepoi-sepoi yang berhembus seakan mendinginkan perasaannya sekarang.


Andra kembali melirik Lala. Masih juga senyum pada ponsel. Sepertinya Lala membalas pesan dari gebetan barunya.


'Jarinya masih luka?' Andra melihat jari Lala saat wanita itu menepikan rambutnya sendiri.


Andra menggeleng. Ia tidak akan mempedulikan wanita itu lagi. Ia pun kembali menatap pemandangan malam


'Mas Andra!' Lala kaget saat melihat Andra juga berada di balkon. Ia tidak tahu, kapan Andra sudah berada di sana.


Andra sedang memandangi pemandangan malam.

__ADS_1


'Aku kangen!' Lala merindukan pria itu. Walaupun Andra dingin padanya. Tapi tiap malam mereka akan tidur di tempat tidur yang sama.


Lala hampir setiap malam, memandangi wajah Andra sampai puas. Barulah setelah itu ia tidur.


'Tampannya suami Lala ini! Kalau kami berpisah, pasti banyak wanita yang mengejar duda Andra nanti.' Lala merasa sedih.


"Mas Andra..." panggil Lala.


Andra menoleh ke arah suara. Ia melihat Lala tersenyum padanya.


"Kenapa Mas Andra belum tidur?" tanya Lala kemudian.


"Belum mengantuk." Jawab Andra sekenanya saja.


Lala mengangguk mengerti. Ia pun melihat ke arah depan, sambil menyimpan ponselnya.


"Mas Andra, besok mau Lala buatkan sarapan?" tanya Lala berbasa basi. Ia ingin mengobrol dengan Andra.


"Tidak usah." Tolak Andra cepat dan segera diangguki Lala.


'Apa yang kau harapkan Lala!!!' Lala membatin dalam hati.


Lala menguap dan merentangkan tangannya.


"Lala ngantuk. Lala masuk duluan ya, Mas. Selamat malam!" ucap Lala.


"Hmm." Hanya itu jawaban Andra.


Lala pun segera masuk ke kamar. Ia tidak mau bersedih karena Andra lagi.


Dan Andra melihat Lala yang masuk ke dalam dengan tergesa-gesa.


'Pasti dia mau melanjutkan berkirim pesan dengan gebetannya! Tidak sabaran sekali!!!'


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2