
"Dari mana?" tanya Ana saat melihat Romeo pulang malam. Hari sudah menunjukkan pukul 11 malam dan adiknya itu baru pulang.
Romeo pulang dari rumah Lala sekitar pukul 10 malam dan ia mengantar Riri pulang.
"Rumah teman." Jawab Romeo sambil berjalan masuk.
"Teman? Kamu ke rumah Lala? Di mana rumahnya?" tanya Ana antusias. Adiknya dan Lala berteman dekat. Pasti tahu rumahnya.
"Aku nggak ke sana. Aku ke rumah temanku yang lain." Sanggah Romeo. Melihat ekspresi kakaknya, ia jadi berbohong.
"Mana mungkin? Kamu pasti ke rumah Lala. Katakan alamatnya di mana, Rom?" desak Ana kembali. Ia hanya ingin bertemu Andra.
Sekarang sulit sekali baginya untuk bertemu Andra. Baru sampai sekitaran kantornya saja, ia sudah diusir oleh security.
"Aku tidak tahu di mana rumahnya, kak." Jawab Romeo masih berbohong. Tak akan diberitahukannya pada Ana. Bisa-bisa Ana datang ke sana.
Melihat interaksi Andra dan Lala tadi. Keduanya sudah saling jatuh cinta dan saling menerima pernikahan itu. Jadi mau apa kakaknya sekarang? Merusak hubungan mereka? Ia tidak bisa membiarkan itu.
"Romeo beritahu aku!"
"Untuk apa, kak? Jangan ganggu rumah tangga orang!" Romeo memperingatkan.
Romeo bergegas masuk ke kamar, ia menghindari pertanyaan kakaknya yang memaksa itu.
'Kak Ana, lupakanlah bang Andra!' batin Romeo.
Sementara di sebuah kamar, suasana terasa panas.
"Mas An-Andra, ahhh..." ucap Lala di antara gairahnya.
"Lala, aku mencintaimu..." Andra mengucapkan cinta di tengah penyatuan mereka.
Andra menggoyang tubuhnya, memberikan hentakan-hentakan yang membuat tubuh Lala bergetar hebat.
Lala menikmati setiap sentuhan suaminya. Andra malam ini berbeda. Cukup kasar.
Pikiran Andra dipenuhi tatapan mata Romeo saat melihat istrinya. Ia sangat tidak suka sekali. Dan Lala juga berulang kali tersenyum pada pria itu. Membuatnya makin jengkel.
Setelah menyiramkan benih cintanya, Andra berbaring dengan Lala di sampingnya.
"Mas Andra..." ucap Lala memutar jarinya di dada tegap itu.
"Kenapa?" tanya Andra dengan nada yang begitu lembut. Sepertinya ada yang ingin istrinya katakan.
"Besok Lala boleh pergi?" tanya Lala meminta izin.
Sebagai seorang istri, kini pergi harus izin suami. Lala harus meminta izinnya Andra.
"Mau ke mana?" tanya Andra ingin tahu.
"Lala mau pergi dengan Riri. Tapi kami perginya sore kemungkinan pulangnya akan malam." Jelas Lala kembali.
Mereka akan pergi saat Riri pulang bekerja. Jika weekend, itu waktunya seharian bersama Andra.
__ADS_1
"Hmm..." Andra tampak berpikir. Ia ingat ketika Lala pergi dengan Riri dan Romeo. Mereka pulang pukul 10-an.
"Boleh?" tanya Lala memasang wajah memelas.
Lala tahu, ia pergi saat Andra pulang dari kantor.
"Apa Romeo ikut?" tanya Andra memastikan. Jika pria itu ikut, ia tidak akan mengizinkan.
Lala menggeleng pelan. "Berdua saja dengan Riri, Mas." Lala masih menunjukkan wajah memelasnya.
"Mas Andra, boleh nggak Lala pergi?" tanya Lala. Andra lama sekali berpikir. Apa sih yang dipikirkannya?
"Sekali-kali loh, Mas!" Kembali merengek pada suaminya.
Andra tersenyum melihat bibir mengkerucut Lala, luci sekali. "Rayu aku..."
"Apa?" Lala mendelikkan matanya.
"Kalau kamu bisa merayuku, aku akan mengizinkanmu." Andra mengkedipkan sebelah matanya.
Melihat kedipan mata suaminya. Lala mengerti harus merayu bagaimana.
Lala pun bangun dan duduk di atas perut Andra.
Glek
Andra menelan salivanya dengan susah, ketika Lala mencampakkan selimutnya. Mata Andra melihat tubuh polos dengan kedua dada yang menegang. Sungguh pemandangan yang membuat sesuatu menggeliat di bawah sana.
Andra menahan diri untuk tidak menerkamnya, ingin melihat bagaimana Lala yang polos merayunya.
Andra memejamkan mata menikmati sentuhan-sentuhan sang istri di bawah saja. Sentuhan yang membuatnya menggila.
"Lala!" Andra sudah tidak tahan lagi. Lala membangunkan nalurinya kembali. Ia pun meraih tubuh Lala dan membalikkannya. Membuat Lala kini berada di bawah kuasanya.
"Apa besok Lala boleh pergi?" tanya Lala kembali.
Andra mengangguk pelan.
"Terima kasih, Mas Andra sayang..."
Tak lama, mereka kembali memadu kasih menghabiskan malam dengan bergairah.
\=\=\=\=\=\=
'Riri, Lala...' batin Ana dari dalam taksi.
Ana berencana akan mendatangi Riri di saat pulang kerja. Ia ingin meminta alamat rumah barunya Andra. Dengan mempersiapkan berbagai alasan.
Tapi baru sampai ia melihat Riri dan Lala masuk ke dalam taksi. Sepertinya kedua orang itu akan pergi.
"Pak, ikutin taksi itu!" pinta Ana sambil menunjuk taksi di depannya.
Tak lama taksi berhenti di sebuah Mall. Lala dan Riri turun lalu berjalan beriringan masuk.
__ADS_1
"La, bagaimana rasanya menikah?" tanya Riri sambil memeluk lengan temannya itu.
"Hmm... Jika saling mencinta, rasanya bahagia." Jawab Lala.
Dulu awal menikah, Lala tertekan batin. Karena hanya dia yang mencinta suaminya. Dan kini ketika Andra membalas cintanya, rasanya dunia begitu indah.
"Apa Om Andra sudah menyatakan perasaannya?" tanya Riri menaikkan alisnya. Ia ingin tahu.
"Sudah." Bisik Lala.
"Wah, apa katanya?" Riri masih penasaran. Lala bisa menaklukkan hati om Andra.
"Aku mencintaimu, Lala." Ucap Lala dengan wajah merona.
"Lala... aku iri!" Riri menepuk pelan pundak Lala. Ia ingin seperti itu juga.
Deg
Ana yang dari tadi mengikuti mereka merasa shock dan terkejut. Andra mencintai wanita itu. Ia menggeleng, tidak mungkin.
Ana terus mengikuti mereka. Karena Lala dan Riri terus mengobrol, mereka tidak menyadari sekitarnya.
Lala dan Riri masuk ke toko sepatu. Riri mengatakan ingin membeli satu. Karena sepatunya sudah rusak.
Setelah itu mereka ke toko pakaian. Lala membeli coupelan. Untuknya dan suami tercintanya.
"La... beli itu juga!" tunjuk Riri sambil cengegesan.
"Riri..." Lala malu. Temannya itu menunjuk lingerie yang terpajang. Sangat tipis sampai tembus pandang.
"Om Andra pasti senang lihat kau memakai itu." Kekeh Riri.
"Dia lebih senang aku tidak memakai apapun!" ucap Lala.
"Astaga, Lala!" Riri menggeleng. Lala sudah berani sekarang dan Lala malah tertawa saja.
"Riri..." panggil Ana dari belakang. Ia tidak tahan lagi mendengar obrolan absurd kedua orang itu.
"Kak Ana." Ucap Riri ketika membalikkan badan. Ia pun melihat Lala yang menatap tajam wanita itu.
"Kebetulan sekali kita bertemu di sini. Kamu Lala ya, istrinya Andra?" Ana berbasa basi.
Lala memilih diam saja dan tidak menjawab. Hingga Ririlah yang mewakilkan.
"Kak Ana, maaf ya. Kami harus pulang, duluan ya!" Riri memilih membawa Lala pergi. Pandangan Lala tidak senang melihat Ana. Akan jadi tontonan jika mereka bergelut.
"Loh, aku ingin bergabung bersama kalian!" teriak Ana pada Riri dan Lala sudah melangkah jauh.
Ana berjalan sambil melihat sekitarnya. Keduanya sudah hilang saja. Karena tak fokus melihat jalan, ia menabrak seseorang.
"An-Andra..."
.
__ADS_1
.
.