
Riri melirik Romeo yang berada di depan meja kerjanya. Wajah Romeo memar.
"Rom." Panggil Riri pelan.
"Rom." Panggil Riri lagi dan akhirnya Romeo menoleh.
"Kenapa itu muka? Berantem?" tanya Riri ingin tahu. Selama berteman dengan Romeo, ia tidak pernah melihat wajah Romeo seperti itu.
Romeo menggeleng pelan. "Kejedut pintu."
Riri malah terkekeh, alasan Romeo ada-ada saja. Mana mungkin kejedut pintu memar di mana-mana. Memang mau berapa kali kejedut.
"Rom, ntar sore aku mau ke rumah Lala. Ikut kau?" tanya Riri. Ia akan mengajak Romeo juga.
Romeo tampak berpikir.
"Ayolah, Rom. Masa aku datang sendiri." Rengek Riri mengajaknya. Ia segan jika nanti di sana om Andra. Walaupun itu om-nya.
Romeo ingin sekali ke rumah Lala. Tapi, ia malas bertemu Andra. Ana mungkin sudah bertemu Andra. Rasanya ia canggung dan bingung.
"Ayolah, Rom!" Riri masih merengek.
Terpaksalah Romeo mengangguk. Walau dengan sangat terpaksa.
\=\=\=\=\=\=
"... Iya, Mas. Riri sama Romeo mau datang ke rumah." Ucap Lala memberitahu. Ia sedang di dapur membuat puding.
'Romeo?' Andra merasa aneh mendengar nama itu. Romeo berhubungan dengan Ana dan juga pria itu pernah menyukai istrinya.
"Oh, aku juga baru keluar kantor. Sebentar lagi sampai rumah." Ucap Andra yang berjalan ke arah parkiran.
"Mas hati-hati. Jangan ngebut." Ucap Lala mengingatkan. Ia sedikit khawatir.
"Iya, sayang. Kamu mau dibelikan apa? Biar aku beli sekalian." Andra menawarkan.
"Ayam kriuk, Mas." Ucap Lala. Ia ingin makan itu.
"Baiklah. Aku akan membelikan." Andra mengangguk.
"Lala, kamu sudah mandi?" tanya Andra kembali.
"Belum, Mas." Ucap Lala. Setelah membuat puding, ia akan mandi.
"Nanti mandi bareng ya."
Lala jadi mengulum senyum. Ia jadi malu.
"Mas, aku tutup ya." Lala akan memilih mengakhiri obrolan.
"Lala, jangan lupa matikan kompor." Andra memperingatkan.
"Siap, Bos!" Jawab Lala patuh.
"Tadi aku bilang apa?" tanya Andra ingin Lala mengulang perkataannya.
"Matikan kompor, Mas." Ulang Lala.
"Ya sudah, aku mau jalan nih."
__ADS_1
"Hati-hati."
"i love you, Lala."
"I love you, Mas Andra."
Obrolan mereka pun berakhir. Lala membuang nafasnya berkali-kali. Ia selalu deg-deg an terus dengan suaminya itu.
Lala mengaduk puding sambil senyum-senyum. Begitu puding mendidih, ia pun mengangkat dan tak lupa mematikan kompor seperti pesan suaminya.
"Ok, beres." Ucap Lala. Kompor sudah mati, ia pun menuang puding ke mangkuk.
Lala meletakkan di atas meja. Ia lalu sibuk memotong buah.
Lala pelan-pelan memotong buah. Ia juga berhati-hati agar tidak mengenai jarinya.
Andra bisa marah padanya jika jarinya sampai terluka lagi. Dan ia nanti tidak akan diizinkan masuk dapur lagi. Tadi saja pun, meminta izin andra sampai merengek-rengek.
Lala telah memotong buah dan memasukkannya ke dalam lemari es. Tak lupa juga pudingnya, biar keras dan dingin.
Setelah selesai semua, Lala pun masuk kamar. Ia akan mandi dan membersihkan diri.
Selang beberapa waktu, Lala kembali lagi ke dapur. Ia membuatkan teh hangat untuk Andra. Suaminya sebentar lagi akan pulang.
Ting tong
Ting tong...
Lala membuka pintu dan tersenyum manis melihat Andra. Ia mencium tangan suaminya itu.
"Mereka belum datang?" tanya Andra. Tak ada mobil di terasnya.
"Belum, Mas."
Entahlah, padahal ia berpisah hanya untuk ke kantor saja. Tapi rasa rindu pada Lala, tidak bisa dijabarkan.
"Minum dulu, Mas." Lala menyajikan teh hangat di atas meja dan Andra meminumnya.
Rasa hangat menjalar dalam tubuhnya. Perlakuan Lala begitu menghangatkan hatinya.
"Terima kasih, sayang." Andra mendaratkan kecupan di pipi kiri Lala.
Dan itu membuat wajah Lala jadi merona.
Mata Andra menatap lembut wajah Lala. Ada rasa menyesal dalam hatinya. Kenapa nggak dari dulu saja ia bersikap lunak pada Lala.
Perhatian dan perlakuan Lala yang melayaninya dengan tulus dan sepenuh hati. Pernikahan mereka pasti akan bahagia.
"Kamu sudah mandi?" tanya Andra. Lala sudah rapi, pasti sudah mandi. Padahal ia berharap akan mandi bersama.
"Sudah, Mas." Jawab Lala.
Andra mengkerucutkan bibirnya. "Ya sudah, besok-besok kamu jangan mandi duluan. Kita harus mandi bersama." Ucap Andra mengingatkan. Ia tidak akan memaksa Lala untuk menemaninya mandi hari ini, karena teman istrinya akan datang.
"Astaga! Mas Andra mandi sendirilah." tolak Lala malu.
"Kita mandi bersama. Selain mengirit waktu mengirit air juga." Cengir Andra.
"Apaan sih!" Lala memukul dada Andra dengan pukulan manja. Mandi bersama lebih banyak memakan waktu. Untuk hal itu, suaminya tidak bisa dipercaya.
__ADS_1
"Ya, sudah. Aku mandi dulu." Ucap Andra. Ia mencium sejenak bibir Lala. Melu-mat dan menggigit bibir atas dan bawah sang istri. Meresapi rasa manisnya.
'Mas Andra!!! Ihhh gemasnya!' Lala menetralkan debaran hatinya. Ia melihat suaminya yang kini sudah masuk ke kamar.
"Aku akan siapkan pakaiannya." Lala pun menyimpan ayam kriuk yang dibeli Andra dalam lemari makan. Lalu menyusul Andra ke kamar untuk menyiapkan pakaiannya.
Ting Tong
"Sudah datang!" Lala membuka pintu rumah.
"Lala!" Riri memeluk Lala erat. Ia begitu merindukan temannya itu.
"Hai Meong." Sapa Lala melihat Romeo di samping Riri.
Romeo tersenyum tipis. Ia melihat Lala yang makin cantik. Wajah Lala begitu berseri-seri, begitu sangat bahagia. Pasti Andra memperlakukan Lala dengan baik.
'Jangan harapkan istri orang!' batin Romeo mengingatkan dirinya.
Jauh di dalam hati kecilnya, Romeo menginginkan adanya perceraian. Saat Lala jadi janda, ia akan mengejar wanita itu. Terkesan egois sih.
Tapi melihat sekarang, sepertinya ia harus membuang jauh-jauh harapannya itu. Lala sudah bahagia dengan pernikahannya, ia tidak boleh menjadi orang ketiga.
Andra telah selesai mandi. Dan keluar kamar. Sepertinya teman Lala sudah datang, ia harus menemui mereka juga.
Pria itu berdiri di tembok. Memperhatikan Lala dan Riri yang sibuk menghidangkan makanan sambil mengobrol. Sementara...
Pandangan Andra menajam pada Romeo. Romeo yang ikut sekali-sekali menimpali obrolan kedua wanita tersebut. Dan kebanyakan menatap Lala.
Sebagai pria, Andra mengerti. Tatapan Romeo berbeda pada Lala dan Riri. Pada Riri seperti teman biasa. Dan Lala...
Romeo menatapnya dengan kagum dan sangat mendalam. Begitu Lala melihat ke arahnya, pria itu menormalkan wajahnya.
"Kalian sudah datang?" ucap Andra memilih menghampiri. Ia tidak bisa membiarkan Romeo berlama-lama menatap istrinya.
"Om Andra, apa kabar?" Riri menyalami omnya tersebut.
"Bang Andra..." Sapa Romeo berbasa basi.
Andra tersenyum tipis lalu menatap tajam Romeo sebentar. Seolah memperingatkan.
"Ayo, kita makan." Ajak Lala. Makanan sudah terhidang di atas meja.
"Ri, tambah lagi." Ucap Lala.
"Aku lagi diet."
Lala mendengus. Diet apa lagi, Riri saja kurus sama sepertinya. Ia mengambilkan makanan untuk Andra.
Riri senyum-senyum melihat Lala. Sementara Romeo yang makan memperhatikan dengan tatapan datar. Lala begitu sangat melayani Andra.
"Terima kasih, sayang." Ucap Andra menkecup pipi Lala.
Lala terbengong, Andra melakukan itu di depan teman-temannya.
"Mas..." Lala malu.
"Kami nggak lihat kok, La..."
.
__ADS_1
.
.