
Lala duduk di tempat tidur sambil bergelut dengan pikirannya. Tentang Ana yang datang menemui suaminya.
Jelas sekali Ana masih berharap pada Andra.
'Aku kan tidak merebutnya!' pikir Lala mengingat tuduhan Ana.
Saat itu, Andra dan Ana tidak jadi menikah. Itu terjadi begitu saja. Mendadak Ana menikah dengan pria lain. Dan Andra menikahinya agar tidak membuat keluarganya malu.
Dan Andra beberapa hari yang lalu, bercerita tentang masalah Ana. Alasan wanita itu meninggalkannya, karena pria yang bernama Ferdi itu.
Ana mengalami sebuah musibah saat itu. Tapi ia menceritakannya pada Andra baru-baru ini. Mengapa tidak di saat itu? Saat masih hari pernikahan mereka.
'Sekarang Mas Andra suaminya Lala. Lala tidak merebutnya, mereka berpisah sendiri!' Lala masih menyakini pikirannya. Masalah Andra dan Ana tidak ada kaitan dengan dirinya.
"Ahhh... Segarnya!" ucap Andra saat keluar dari kamar mandi dengan handuk terlilit di pinggang. Ia sudah membersihkan diri.
Andra berjalan menghampiri Lala, meminta pakaiannya yang masih dipegang Lala.
"Kamu mikirin apa?" tanya Andra. Sang istri malah melamun.
"Ti-tidak, Mas. Ini pakai dulu!" Lala menyerahkan pakaiannya.
Andra meraih dan memakainya. Ia melirik istrinya yang membuang pandangan. Mereka sudah sering melihat satu sama lain saat bercinta. Tapi selalu saja ekspresi Lala malu begitu.
Setelah memakai pakaian, Andra kini berada di meja makan. Lala menyajikan teh hangat dan cemilan.
Lala tersenyum saat Andra menenggaknya dan memakan cemilannya.
"Mas, mau makan nasi?" tanya Lala kembali. Mungkin suaminya lapar.
Andra mengangguk. Ia sangat lapar sekali.
Lala pun berjalan ke lemari makan untuk mengeluarkan makanan itu, lalu menyajikannya di meja makan.
Sepanjang Lala melakukannya, Andra melihat pergerakan Lala. Istrinya sudah mulai cekatan.
'Kenapa aku begitu jahat padamu saat itu?!' Andra menyesali sikapnya kala itu. Saat awal mereka menikah.
Demi tidak membuat Mamanya sakit, ia menerima saja Lala untuk dinikahinya. Saat itu Andra tidak peduli apa yang akan terjadi setelah itu, karena yang terpenting Mamanya senang.
Setelah menikah, hati Andra masih dalam pada Ana. Tidak bisa begitu saja melupakannya. Makanya sikapnya acuh pada Lala.
Andra terus mencari tahu alasan Ana menikah dengan Ferdi. Tapi Ana memilih diam, memilih bungkam. Mungkin saat Ana menjelaskan masalahnya, ia pasti akan mengerti dan akan kembali pada Ana. Lalu berpisah dari Lala.
Ya, begitulah rencana Andra kala itu. Ia tidak peduli sedikitpun pada perasaan Lala. Padahal jika ia kembali pada Ana, Lala adalah orang yang paling sakit hati.
__ADS_1
Andra tetap mencari tahu, tapi hatinya sakit dan dunianya hancur berantakan. Saat Ana menerima pernikahannya dengan Ferdi. Dan Ana menyuruhnya untuk baik pada Lala. Menerima pernikahan mereka masing-masing.
Saat itu Andra seperti tidak punya tujuan hidup lagi. Hingga ia pulang dalam keadaan mabuk.
Dan malam itu, Lala yang bersamanya. Wanita yang akan ia tinggalkan ketika ia kembali pada Ana, masih tetap bersamanya dalam keterpurukannya.
Lala menjaga dirinya malam itu, bahkan wanita itu begadang karenanya.
Andra mulai sadar. Ia berusaha membuka hati dan memperbaiki kesalahannya pada Lala. Lala istrinya. Ketika ia sudah berdamai dengan hati dan masa lalunya. Ana pun muncul dan menceritakan semua tentang kisahnya.
Awalnya Andra merasa sedih dan prihatin dengan musibah yang Ana alami. Tapi kemudian ia merasa, hatinya lebih berat jika ia sampai menyakiti Lala.
Andra pun meyakini akan menjaga perasaan Lala untuk tidak terlalu dekat dengan Ana lagi. Bahkan tidak akan peduli lagi.
"Sayang, terima kasih." Ucap Andra. Ia bersyukur Lala masih berada di sisinya.
"Mas Andra, ayo makan." Ajak Lala setelah menyajikan semua makanan di atas meja.
"Kamu juga makan ya! Aku nggak mau kamu sakit." Ucap Andra penuh kelembutan.
Lala mengangguk dengan senyuman melebar. Baper deh...
\=\=\=\=\=\=
Ting tong
Ting tong
Pintu pun dibuka oleh pekerja rumah orang tua Andra.
"Maaf, Mbak. Cari siapa?" tanya pekerja itu. Ia tidak tahu siapa wanita yang datang.
"Mana Andra? bilang aku mau bicara dengannya." Kata wanita itu kembali.
"Pak Andra tidak tinggal di sini lagi. Ia tinggal dengan istrinya." Jawab pekerja tersebut.
Wanita itu menautkan alisnya. Andra sudah pindah rumah. Tinggal berdua dengan istrinya. Bukan tinggal di rumah ini dengan mertua.
"Siapa?" tanya Mama pada pekerja rumah.
"Ini, Bu. Ada yang nyari pak Andra." Ucap pekerja tersebut memberitahu.
Mama yang penasaran pun berjalan menuju pintu.
"Kamu." Ucap Mama ketika melihat wanita itu. Ana datang ke rumah mereka.
__ADS_1
"Aku kemari ingin bertemu Andra." Ucap Ana. Ia tidak punya urusan dengan yang lainnya. Tujuannya Andra.
Mama tidak suka dengan sikap Ana. Minimalkan Ana berbasa basi dahulu. Bukan begini. Sungguh tidak punya adab dan sopan santun.
"Andra sudah tidak tinggal di sini lagi. Ia tinggal dengan istrinya." Jelas Mama.
Ana mendadak kesal. "Oh, kalau begitu berikan aku alamatnya."
Mama makin tidak suka. Ana makin tidak punya sopan santun. Bahkan meminta alamat putranya dengan nada memerintah, seolah meminta pada teman sebayanya. Di sini Mama kan orang tua. Meski aslinya tidak baik, tapi kan bisa berpura-pura.
"Ada apa kamu mau bertemu Andra?" tanya Mama. Sudah lama tidak ada kabar wanita itu, kini malah muncul ke permukaan.
"Itu bukan urusan anda!" jawab ana tidak suka. Wanita tua itu terlalu ikut campur.
Mama hanya bisa menarik nafas dengan kasar. Syukurlah Andra menikah dengan Lala dan bukan dengan wanita itu. Jika tidak mungkin ia akan menjadi mertua kejam.
"Andra sudah menikah. Dan sudah bahagia dengan kehidupannya. Lebih baik kamu jangan catu dia." Saran Mama. Tak mau ada yang mengganggu rumah tangga sang putra.
"Aku bilang anda jangan ikut campur!" Ana melihat Mama dengan wajah jijik.
'Lihat saja, kalau Andra kembali padaku. Aku akan bawa orang tua ini ke panti jompo!' Batin Ana mendengus kesal.
Plak
Tangan mama jadi ringan. Melayangkan tamparan di pipi Ana. Ia sudah berusaha menahan, tapi tidak tahan juga.
"Aku akan ikut campur. Untuk mempertahankan rumah rangga putraku. Lebih baik kamu lupakan niatmu itu, atau kamu akan menanggungnya!" Ancam Mama. Kesabarannya sudah habis.
Ana meremas tangannya. Ia kesal sekali.
"Kamu itu bukan apa-apa, Ana. Jika aku mau, aku bisa mencampakkanmu seperti upil!" Mama menunjukkan tatapan tajamnya. Biasanya ia tidak begini. Tapi, tidak bisa menahan lagi. Ana sangat keterlaluan.
Ana sedikit ciut. Keluarganya jika dibanding dengan keluarga Andra tidak ada apa-apanya. Apalagi papanya yang masih makan gaji.
Dengan kesal, Ana pun melangkah pergi.
Setelah Ana pergi, Mama memegangi daddanya
'Astaga!!! Astaga!!! Untung Andra tidak jadi menikah dengannya...'
.
.
.
__ADS_1