
"Istrinya Andra sedang hamil, Ma." Ucap Papanya Ana bercerita pada sang istri.
"Istri Andra?" Mama kembali mengingat-ingat. Saat itu Andra tetap melanjutkan pernikahan, walau tidak jadi menikah dengan putrinya.
"Benar, Ma. Bahkan Andra memilih bekerja dari rumah karena tidak mau meninggalkan istrinya." Ucap Papa kembali. Ia mendengar kabar tersebut dari rekan bisnisnya. Betapa pria itu begitu mengkhawatirkan istrinya.
Meski tidak jadi menikah dengan putrinya. Papa tidak bisa membenci Andra. Karena semua ini adalah salah putrinya. Berteman dengan Ferdi, bahkan sehari sebelum pernikahan, Ana tetap pergi meski dengannya mereka sudah menahannya.
Ana memang anak yang sangat keras kepala. Jika saja saat itu mendengarkan perkataan orang tua, musibah itu tidak akan terjadi. Mungkin sekarang Ana sudah hidup bahagia bersama dengan Andra.
Dari balik tembok, Ana meremas tangannya dengan air mata yang berlinang. Ia tidak menyangka hubungan Andra dan wanita pelakor itu berkembang secepat ini.
Hamil?
Lala kini sedang mengandung anaknya Andra. Seharusnya ia yang berada di posisi itu dan bukanlah Lala.
Dengan melangkah lebar, Ana kembali ke kamar. Ia menangis dan terus menangis, begitu menyesali keadaannya sekarang.
'Andra pembohong!!!' maki Ana dalam hati.
Andra pernah berkata bahwa ia tidak akan bisa hidup tanpa dirinya. Tapi nyatanya sekarang, pria itu baik-baik saja. Bahkan akan segera memiliki anak dari wanita lain.
Ana juga mengingat kembali saat-saat indah bersama pria itu. Andra itu pria yang sangat baik, lembut dan sangat sabar. Terlebih lagi sangat royal.
'Kenapa aku begitu bodoh?!' Ana meruntuki dirinya sendiri.
Ana sedang menjalin kasih dengan Andra, tapi ia masih dekat dengan Ferdi. Dan tidak memikirkan bagaimana perasaan kekasihnya itu. Saat itu ia bersikap sesuka hatinya saja.
"Aku harus bagaimana?" Ana menangis kembali.
Andra akan segera memiliki anak. Anak itu akan makin memperkuat hubungan pria itu dengan Lala. Saat Lala belum hamil saja, sulit untuk menggapainya. Apalagi sekarang sudah hamil. Sepertinya kembali padanya itu tidak mungkin.
'Ferdi... aku membencimu!'
Ferdi adalah sumber masalahnya.
\=\=\=\=\=\=
Ana melahap makanan di atas meja. Papa, Mama serta adiknya menatap heran.
Sudah beberapa hari ini porsi makan Ana bertambah banyak. Ia sudah menghabiskan 3 piring nasi goreng.
"Ana... sudah!" Mama menahan saat Ana akan menambah lagi. Putrinya bisa muntah.
"Aku masih lapar, Ma!" ucap Ana menambah piringnya kembali.
Rasa kesal membuat nafsu makannya akhir-akhir ini bertambah. Apalagi dengar kabar kehamilan istrinya Andra. Makin bertambahlah kekesalannya.
__ADS_1
Ana tersedak dan menepuk dadanya. Ia segera berlari ke kamar mandi.
Suara muntahan terdengar dari dalam. Ia mengeluarkan semua yang telah dimakannya.
"Kak Ana!" panggil Romeo menggedor pintu. Ia khawatir sekali.
Tak lama Ana keluar dengan wajah pucat dan terhuyung. Romeo pun memeganginya.
"Kak Ana, kak kenapa?" Romeo menahan Ana yang sudah pingsan.
Kini Ana sudah berbaring di tempat tidur. Mama mengelus kepala seraya mengusap dengan minyak angin.
Melihat wajah pucat sang putri, Mama sangat sedih.
"Ma, apa kak Ana sedang hamil?" tanya Romeo. Ana sudah menikah dengan Ferdi dan mereka sempat tinggal bersama. Mereka hanya berpisah kurang dari sebulan yang lalu.
Mama menatap Romeo dengan serius. Ada benarnya juga. Bisa jadi putrinya sedang hamil anak pria itu.
Ana dan Ferdi kini masih sedang dalam proses perceraian.
"Kita bawa ke rumah sakit saja, Ma." Saran Romeo. Mereka harus segera memastikan, agar tahu harus bertindak bagaimana selanjutnya.
Berharapnya, Ana tidak hamil. Agar tidak memiliki hubungan lagi dengan pria kasar itu.
Tapi, jika Ana hamil? Ferdi pasti akan memanfaatkan kondisi Ana. Mengingat pria itu yang tidak mau menceraikan Ana.
"Aku kenapa?" tanyanya bingung. Sudah berbaring di kamarnya saja.
"Tadi kamu pingsan. Syukurlah kamu sudah sadar." Mama bernafas lega.
"Kak, ayo kita ke rumah sakit." Ajak Romeo.
"Untuk apa? Aku baik-baik saja." Ana merasa tidak sakit.
"Kita periksa ke rumah sakit, kenapa kamu pingsan? Mama nggak mau kamu sakit lagi." Bujuk Mama sambil mengelus kepala Ana.
Perlakuan Mama membuat mata Ana jadi berkaca-kaca. Ia pun mengangguk menuruti.
Mama dan Romeo pun memba,wa Ana ke rumah sakit. Dokter melakukan pemeriksaan pada pasiennya. Romeo menunggu di luar ruangan.
"Bagaimana dokter?" tanya Mama dengan raut wajah khawatir dan juga cemas.
Pertanyaan Mama membuat dahi Ana berkerut. Sepertinya ia dibawa kemari bukan karena penyakit, tapi...
'Apa aku hamil?' batin Ana. Ia mengingat bulan lalu tidak kedatangan tamu bulanan.
Dokter tersenyum. "Selamat, Bu Ana sedang hamil."
__ADS_1
"Apa?" Ana membelalakkan matanya. Ia tidak percaya pada ucapan sang dokter. Hatinya terasa bergemuruh mendengar kabar tersebut.
"Dokter jangan ngomong sembarangan!" ucap Ana. Ia hamil? Tidak mungkin!
"Anda sedang hamil. Usia kandungan sudah 8 minggu."
"Ti-tidak!" Ana menggeleng. Ia tidak hamil, dokter itu pasti salah. Atau ini hanya mimpi.
"Ana, tenanglah!" Mama menenangkan. "8 minggu dok?"
Mama memastikan kandungan putrinya. 8 minggu lalu, Ana masih tinggal bersama pria itu.
Dokter mengangguk. "Benar, kehamilan-"
"Gugurkan, dok!" sela Ana cepat. Ia tidak mau anak itu. Anak dari Ferdi.
"Ana!" Mama memegang tangan Ana. Menyuruhnya untuk tenang.
"Dokter, gugurkan anak ini!" pinta Ana kembali. Ia tidak mau mengandungnya.
\=\=\=\=\=\=
"Aku tidak mau, Ma! Aku tidak mau mengandung anak ini!" pekik Ana lalu menangis memegangi perutnya.
"Ana, tenanglah!" Mama menenangkan putrinya. Mereka kini telah sampai di rumah.
"Aku nggak mau, Ma!" geleng Ana tidak terima. Jika ia hamil, bagaimana ia akan mengejar Andra lagi.
Ana menangisi dirinya. Lala yang hamil, kenapa ia juga ikut hamil. Hamil dari pria yang sangat dibencinya pula.
"Nak, kamu nggak boleh menggugurkannya." Geleng Mama. Anak adalah anugerah.
"Aku tidak mau, Ma. Dia anaknya Ferdi! Aku nggak mau hidup bersama pria itu lagi!!!"
Ana takut, gara-gara anak ini. Ferdi akan menahannya lagi. Ia akan terjebak dengan pria itu selamanya dengan alasan anak.
"Kak, kita akan merawat anak itu bersama-sama. Ferdi tidak boleh mengusik kakak lagi!" jelas Romeo. Ia tidak mau kakaknya menggugurkan anak itu. I bersedia merawat dan membesarkannya. Ferdi tidak perlu tahu tentang anak itu.
Ana menggeleng, meski keluarganya terus membujuknya. Untuk tetap mempertahankan anak itu karena tidak bersalah.
"Mama... aku tidak mau anak ini!"
.
.
.
__ADS_1