MENCINTAIMU

MENCINTAIMU
BAB 28 - KREK


__ADS_3

Andra bingung mau menjawab apa. Mendadak Ayaz bertanya pertanyaan seperti itu. Seolah menginginkan putrinya menjadi janda.


"Saya tahu kamu tidak akan pernah mencintai Lala. Mau sampai kapan kalian menjalani hubungan seperti ini?" tanya Ayaz kembali.


Andra hanya dapat menunduk. Ia tak tahu mau menjawab apa. Ia melakukan semua demi mamanya. Mama pasti akan terkejut jika mereka berpisah dalam waktu dekat.


Mata Ayaz masih melihat Andra, menunggu jawaban.


"Maafkan saya, Om." Jawab Andra menundukkan kepala. "Saya butuh sedikit waktu!"


Ayaz mengangguk mengerti. Andra tidak berniat serius menikahi putrinya.


Seharusnya Andra berkomitmen dengan pernikahan ini. Bukan malah sebaliknya.


Jika pun Andra tidak mau membuat keluarganya malu, tapi setidaknya pikirkan tentang perasaan putrinya.


Lala sangat menyukai Andra. Saat keluarga Andra meminta Lala untuk menjadi pengganti, Lala menerima tanpa berpikir terlebih dahulu.


Putrinya sangat yakin, mungkin dengan cara seperti itu ia akan bersama Andra.


Tapi mendengar Andra membahas waktu, itu membuat Ayaz tidak senang. Seperti sedang mengulur-ulur waktu saja untuk berpisah.


Cepat atau lambat Lala akan merasakan sakit hati.


"Saya tidak ingin Lala sakit hati nantinya. Jika kamu tidak bisa bersamanya, segeralah berpisah. Lala juga berhak bahagia, walaupun tidak bersamamu." Ayaz mengatakan pemikirannya.


Meskipun Lala mencintai pria ini, akan terasa sia-sia, jika cinta hanya bertepuk sebelah tangan.


Tak lama Lala datang dan mengajak mereka makan.


"Ini buat su-"


"Buat papa saja." Ayaz menyela sambil mengambilkan piring berisi makanan. Piring itu yang akan Lala berikan pada Andra.


"Papa, nggak sabaran!" Lala memanyunkan wajahnya. Ia akan kembali mengambilkan makanan untuk Andra.


"Tidak usah, La. Aku ambil sendiri saja!" tolak Andra meraih piringnya.


"Nggak apa, Mas."


"Kamu nggak mau nurut?" tanya Andra dengan nada datar.


Hal tersebut malah membuat Lala jadi mengangguk.


Setelah selesai makan, Lala pamitan pada papa dan neneknya. Ia akan tidur di rumah sebelah, dan besok menginap di sini.


Tapi, Ayaz malah menahannya. Ia menginginkan Lala tetap di sini.


"Papa, Lala harus ikut suami Lala!" ucap Lala agar papanya mengerti.


Ayaz kesal, Lala terlalu menganggap berlebihan pernikahan terpaksa ini. Andra saja kelihatan sangat terbebani.


"Lala, papa masih kangen sama kamu."


"Besok Lala kan kemari lagi. Papa yang sabar ya." Lala pun memeluk pria itu dengan erat. Ia juga ingin tetap tinggal, tapi tidak mau meninggalkan Andra juga.


"Kami pergi, Pa." Pamit Andra menundukkan kepala sejenak.

__ADS_1


Saat Lala akan menggandeng lengannya, Andra segera berlalu pergi.


'Mas Andra nggak romantis!' Lala jadi malu ditolak di depan papanya. Ia jadi memberikan senyum terpaksa pada papanya.


\=\=\=\=\=\=


Lala tersenyum riang saat memasuki kamar Andra. Kamarnya sangat bersih dan juga wangi.


"Mas, aku mau mandi." Ucap Lala. Tubuhnya sudah terasa lengket.


"Mandi sana!" ucap Andra. Untuk apa juga Lala laporan padanya.


"Tapi, aku nggak bawa baju!" ucap Lala. Mereka tidak ada niatan untuk menginap.


"Pakai saja pakaianmu itu."


"Kan jorok, Om." Tolak Lala. Masa ia memakai pakaian yang dipakainya ini lagi.


"Kamu ngapain?" tanya Andra melihat Lala membuka lemari.


"Pinjam baju!" dengan santai Lala memilih baju suaminya untuk dipakainya.


Lala memilih baju kaos panjang. Lalu mengambil celana pendek suaminya.


"Mas Andra, mau mandi bareng tidak?" tanya Lala menaikkan alisnya.


Lala pun masuk kamar mandi sambil tertawa-tawa. Andra memberi ekspresi yang menyeramkan.


"Astaga!!!" Andra mengusap wajahnya. Lala benar-benar suka seenaknya saja.


Lala penasaran dengan apa yang dilakukan suaminya. Apa mungkin Andra sedang berchat dengan selingkuhannya.


"Mas Andra!" ucap Lala memeluk leher belakang Andra.


Lala yang tiba-tiba begitu, membuat Andra repleks. Ia memegang tangan Lala dan menjatuhkan tubuh Lala di lantai. Dan akhirnya...


Krek


"Mas Andra!!!" Lala menangis. Tangannya jadi terkilir.


"Kamu pun! Makanya jangan suka ngageti orang!" Andra mendengus kesal. Ia repleks.


Air mata Lala masih berlinang. Ia memegangi tangannya yang masih terasa sakit sekali.


"Sini!" Andra meraih tangan Lala. Melihat Lala menangis seperti itu, ia jadi tidak tega. Sepertinya Lala memang kesakitan.


"Sepertinya harus dipanggil tukang kusuk!" ucap Andra. Tukang kusuk sudah biasa, pasti bisa mengembalikan tulang Lala ke tempat semula. Jika ia pijat begitu saja, takutnya malah makin cedera.


Tak lama, Lala menjerit saat tukang kusuk memijatnya.


Krek


Dan kembali suara tangannya terdengar.


Andra bernafas lega, Lala pasti sudah tidak kesakitan lagi. Jika masih, pasti akan sangat merepotkan.


Lala itu pandai mencari kesempatan. Pasti tangannya yang sakit akan menyusahkannya.

__ADS_1


"Mas Andra, aku haus!" rengek Lala ingin minum.


Tukang kusuk sudah pulang dan tinggallah mereka berdua di kamar.


"Itu-"


"Kata tukang kusuk, tangan Lala belum boleh terlalu digerakkan." Sela Lala memberi alasan.


Andra pun terpaksa menyodorkan Lala minum.


"Terima kasih, sayang!" ucap Lala dengan wajah bahagia. Kondisi ini membuat Andra jadi melihat ke arahnya. Walaupun dengan terpaksa.


"Mas, Lala tidur ya. Mas jangan tidur di sofa, nanti badannya sakit. Lala tidak akan menerkam Mas Andra kok. Jadi tidak perlu takut!" ledek Lala dengan senyum menyebalkan.


Lala membaringkan tubuhnya. Ia akan menyelimuti diri tapi tampak kesulitan. Karena Lala memakai satu tangan.


Andra hanya melihat tanpa membantu. Biarkan saja Lala berusaha sendiri.


Tak lama, Andra melihat Lala yang sudah terlelap. Sepertinya wanita itu memang sangat mengantuk.


Andra membaringkan diri di tempat tidur itu juga. Ia membuat batasan. Menjadikan guling tembok pembatas mereka.


Dan saat pagi menjelang.


"Aduh, kenapa berat?" Lala dengan susah payah membuka matanya. Ia melihat tangan kekar memeluk tubuhnya.


'Mas Andra!' Lala langsung melek dan menutup mulutnya. Ia tidak menyangka akan sedekat ini dengan Andra.


Lala ingin berbalik dan melihat Andra. Tapi, Andra yang menggeliat membuat Lala kembali menutup mata. Ia akan berpura-pura tidur saja.


'Astaga!!!' batin Andra segera bangkit. Ia kaget sedekat itu dengan Lala.


Andra juga melihat pakaiannya. Mungkin saja Lala sudah melakukan perbuatan yang tidak-tidak padanya.


Tapi nyatanya tidak. Baik ia dan Lala masih berpakaian utuh.


Andra juga melihat sekeliling. Guling pembatas itu sudah tidak ada. Dan yang lebih parahnya, ia melewati wilayah Lala.


Bukan Lala yang melewatinya, tapi dirinya sendiri.


'Aku harus mandi!' Andra bangkit dan menuju kamar mandi. Ia akan membersihkan diri.


Andra berdiri di bawah shower, membiarkan air membasahi kepalanya.


'Tidak boleh dibiarkan!' Andra menggeleng.


Saat tidur ia pasti tidak sadar melewati wilayah Lala. Untung nalurinya sebagai pria tidak aktif. Jika tidak...


Andra menggeleng. Ia jadi membayangkan sejenak melakukan hal panas bersama Lala.


'Apa yang kupikirkan?!'


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2