
Andra keluar dari kamar mandi dengan wajah kesal. Bagaimana tidak kesal, Lala sudah melihat aset berharganya. Ia sudah tidak punya muka di depan Lala lagi.
Pria itu melihat Lala yang sudah memakai baju tidur tertutup. Bukan baju penuh rongga lagi. Wanita itu sudah menggantinya.
Dan yang membuat Andra makin kesal, Lala kini menunjukkan wajah yang sangat menyebalkan.
"Aku ngantuk. Kamu tidur di sofa, biar aku di tempat tidur!" jelas Andra yang tidak mau dekat dengan Lala. Andra bisa saja pergi ke tempat lain malam ini, tapi pasti Mamanya akan tahu. Jika ia meninggalkan Lala sendirian.
"Nggak mau, Om!" geleng Lala cepat. Tidur di sofa, bisa sakit punggungnya nanti.
"Ya sudah, biar aku yang tidur di sofa saja!" Andra akan mengalah. Ia berjalan ke arah sofa dan malah melihat Lala mengikutinya.
"Mau apa lagi?" tanya Andra berusaha untuk tenang. Ia kesal terus menerus dengan bocah pecicilan satu ini.
"Mau tidurlah, Om." Jawab Lala santai.
"Ya sudah... tidur di sana!" tunjuk Andra pada tempat tidur.
"Lala akan tidur di mana Om Andra tidur!" jelas Lala kembali. Ia akan mengikuti ke mana Andra saja.
Dan lagi Andra hanya dapat menghela nafasnya. "Sana tidur!"
Andra pun kemudian membaringkan tubuhnya di sofa sempit itu. Membuat kakinya yang panjang jadi terlipat. Ia akan bertahan satu malam ini, besok ia akan pindah.
"Astaga, Lala!!!" Andra kembali mengucap. Lala malah duduk di sofa itu juga. Bikin makin sempit saja.
"Lala akan ikut ke mana suami Lala berada! Geser dong, Om!" Lala lalu membaringkan tubuhnya menghadap Andra.
Mereka berdua kini berbaring di sofa kecil itu.
"Astaga!!!" Andra mendorong tubuh Lala, ia sangat risih posisi mereka saat ini. Lala terlalu dekat dengannya. Bahkan hembusan nafas Lala terasa menyapu wajahnya.
Gedebuk...
"Aduh!" pekik Lala kesakitan. Dorongan Andra membuat Lala jatuh dari sofa.
Andra bangkit dan tidak menolong Lala. Ia hanya melihat dan membiarkan saja wanita itu masih tersungkur di lantai. Sama sekali tidak mau membantunya berdiri.
"Om!" Lala mengulurkan tangannya, minta dibantu untuk berdiri. Atau minimal Andra menggendongnya. Pasti akan sangat so sweet.
__ADS_1
"Kamu tidur di sofa saja!" Andra malah berjalan menuju tempat tidur. Ia membaringkan tubuhnya. Terasa sangat nyaman berada di tempat tidur empuk. Apalagi kini kakinya tidak terlipat lagi.
"Dasar, Om Andra tidak punya perasaan!!!" dumel Lala pelan. Andra bukan menolongnya.
Lala bangkit dan berlari naik ke tempat tidur. Ia membaringkan diri di samping Andra.
"Lala pindah sana!" paksa Andra menaikkan suara. Lala malah berbaring di sampingnya. Lala seolah kini mau dekat dengannya saja.
Lala menggelengkan kepala. "Om, kita pasangan suami istri. Jangan malu begitu dong!"
Andra menggeleng. Lala benar-benar pede sekali jadi wanita.
Saat Andra bangkit dan Lala pun ikut bangkit. Andra berbaring, Lala juga ikut berbaring.
"Mau kamu apa sih?" tanya Andra sangat kesal.
"Aku mau tidur!" jawab Lala.
"Ya sudah tidur! Ngapain mengikutiku?!"
"Om, beri Lala kesempatan ya." Ucap Lala akhirnya dengan nada lirih. "Aku akan berusaha jadi istri yang layak bagi Om Andra. Tapi, tolong beri aku satu kesempatan." Lala mendudukkan diri dan melihat Andra yang masih terbaring melihatnya dengan wajah bertanya.
Andra terus-terusan menolaknya, jadi Lala harus menyusun rencana lain. Ia tidak boleh bertindak pecicilan lagi. Harus memakai cara pelan dan perlahan. Memancing pria tampannya itu, agar berubah pikiran.
Sekarang Andra bersamanya. Kesempatan mereka bersama lebih banyak. Lala akan melakukan hal-hal yang membuat Andra melihat ke arahnya.
"Kalau Om Andra masih malu kita melakukan hmm hmm itu di malam pertama kita. Ya sudah, kapan-kapan saja. Lala sabar menunggu kok!" jelas Lala sambil tersenyum.
Mendengar ucapan Lala membuat Andra bergidik ngeri. Memilih menikah dengan Lala adalah pilihan terburuk.
Lala lalu mengambil guling dan meletakkan di antara mereka. Membuat guling itu menjadi tembok pembatas.
"Aku tidak akan melewati batas, Om!" ucap Lala sambil tersenyum tipis. Lalu Lala membaringkan tubuhnya kembali seraya menarik selimut.
"Selamat malam, suamiku. Aku akan membuat Om Andra jatuh cinta padaku!" Ucap Lala mengkedipkan sebelah matanya. Setelah itu Lala memejamkan mata. Ia akan tidur saja. Tubuhnya sangat letih.
Andra diam tidak menanggapi. Beberapa saat suasana terasa hening. Pria itu sedikit bangun untuk melihat Lala. Bocah pecicilan itu sudah tertidur pulas.
Andra mengusap wajah sambil menarik nafas kasar kembali. Ia tidak tahu harus bagaimana menghadapi Lala.
__ADS_1
'Maafkan aku, Ma!' Andra sangat menyesal menikah dengan Lala. Seharusnya ia menikahi wanita lain saja.
Lala?
Entahlah...
\=\=\=\=\=\=
Ayaz masuk ke kamar Lala dengan wajah sedih dan ditekuk. Bagaimana tidak sedih. Putrinya mendadak diambil paksa darinya.
Kemarin malam Lala masih ada di sisinya. Tapi, kini putrinya sudah bersama suami dadakannya itu.
Secepat itu ia berpisah dari Lala. Bahkan tanpa berbasa basi terlebih dahulu. Ayaz belum menyiapkan mental berpisah dengan putri tersayangnya.
Ayaz sadar kini Lala bukan lagi menjadi tanggung jawabnya. Sudah ada suaminya. Yang jadi kekhawatirannya sekarang, apa pria itu benar-benar akan menjadi suami putrinya?
Menyayangi dan mengasihi Lala, seperti kasih sayang dan perhatian yang Ayaz berikan selama ini.
Lala itu anak yang sangat manja dan gampang merajuk. Ditambah lagi Lala juga cengengnya minta ampun dan juga heboh tidak menentu. Apa bisa Andra mengerti putrinya itu?
Helaan nafas Ayaz masih terdengar. Ia menyayangkan rasa cinta putrinya pada Andra, membuat Lala buta.
Lala tidak bisa melihat pria lain lagi. Selalu Andra yang ada di dalam pikirannya.
"Lala... Papa kangen sama kamu, nak!" Ayaz meraih bingkai foto dirinya dan Lala. Ia menatap bingkai foto tersebut sambil duduk di tepian tempat tidur Lala.
Ayaz mengelus kepala Lala di bingkai foto, seolah sedang mengelus kepala Lala secara langsung.
"Lala... kalau Lala tidak bahagia, pulang ya, nak. Papa akan selalu ada buat Lala." Ayaz menghapus sudut matanya. Ia sangat merindukan Lala. Manjanya, tawanya bahkan suara cempreng sang putri mulai tergiang-giang di telinganya.
Sementara di tempat lain. Di sebuah kamar, seorang pria melamun sejenak. Lalu ia mengeluarkan sesuatu dari sakunya. Dan membuka kotak kecil itu yang ternyata berisi cincin. Ia menatap cincin tersebut dan mendadak tersenyum sinis.
'Lala!!!' teriak Romeo dalam hati. Romeo lalu menghempas cincin itu, hingga terbang tah ke mana. Ia juga tidak peduli.
'Kenapa kamu yang jadi menikah dengan bang Andra???'
.
.
__ADS_1
.