
Lala memanyunkan wajahnya di pagi itu. Ia melihat suaminya tidak memakai pakaian kerja yang disiapkannya.
Tapi Lala tak mau menyerah. Besoknya ia menyiapkan pakaian kerja untuk Andra lagi. Tapi tetap juga Andra enggan memakainya.
Besoknya lagi, Lala tetap menyiapkannya. Tapi Andra lebih memilih pakaian lain.
Lala tersenyum miring. Ia akan melakukan sesuatu.
Hari berikutnya...
"Lala!!!" panggil Andra dengan suara kesal.
Lala yang sedang di dapur mendengar suaminya memanggilnya.
"Lala!!!" panggil Andra kembali sambil menongolkan kepalanya sedikit keluar pintu.
"La, Andra manggil itu. Kenapa dia?" tanya Mama Leni bingung. Andra berteriak-teriak saja.
"Nggak tahu, Ma. Lala lihat Mas Andra dulu ya, Ma." Ucap Lala sambil tersenyum geli.
Andra memasang wajah kesal saat Lala masuk kamar. Bagaimana tidak kesal, Lala mengunci lemari pakaian dan menyimpan kunci itu entah di mana. Dan Lala juga tidak meninggalkan pakaian di atas kasur. Seperti yang biasa Lala lakukan, tapi ditolak Andra.
"Mas Andra seksi ya." Goda Lala yang mau ngences melihat roti sobek suaminya. Andra hanya terbalut handuk di pinggang saja.
"Mata kamu jangan jelalatan, Lala!!!" kesal Andra dengan pandangan Lala yang seperti menerawang. Ia jadi memeluk tubuhnya sendiri.
"Mubajir loh kalau nggak dilihat." Jawab Lala dengan senyum menggoda.
"Cepat buka lemarinya!" pinta Andra. Ia sudah kedinginan.
"Sabar dong, Mas. Apa sudah mengkerut?"
"Lala!!!"
Melihat wajah marah Andra, Lala jadi tertawa-tawa. Ia membuka lemari dan akan mengambil pakaian Andra.
Andra menggeser Lala dan akan mengambil pakaiannya sendiri.
"Kalau Mas Andra nggak mau memakai pakaian yang Lala siapkan. Besok Lala kunci lagi lemari ini!" Ancam Lala. Ia ingin melayani kebutuhan suaminya.
Andra memelototi Lala. Seenaknya saja melakukan itu.
"Kalau tetap nggak mau juga. Akan aku bakar baju Mas Andra semuanya!!!" Kembali Lala mengancam Andra.
__ADS_1
"Lala, jangan bersikap seperri bocah-"
"Bocah gimana? status Lala sekarang istrimu, Mas. Apa salah Lala menyiapkan kebutuhanmu?" Lala menaikkan alisnya meminta jawaban.
"A-aku tidak menyuruhmu begitu." Jawab Andra yang jadi gugup.
"Aku ini sedang berusaha jadi istrimu, Mas. Jadi tolong jangan tolak aku dan beri aku juga kesempatan. Jika memang Mas Andra tidak bisa menganggapku istrimu. Kenapa kita tidak berpisah saja???" Lala menghapus air matanya. Ia sudah berusaha untuk menjadi istri yang layak dengan segala kekurangannya. Tapi Andra selalu menolaknya.
Andra hanya diam melihat wajah Lala yang sudah mewek itu. Air mata Lala terus jatuh berlinang.
Lala mengusap air matanya. Ia pun mengambilkan pakaian Andra dan meletakkan di atas tempat tidur.
"Aku akan tetap menyiapkan pakaianmu. Mau dipakai atau tidak, terserahmu!!!" Lala menaikkan satu oktaf nada bicaranya. Setelah mengatakan itu, Ia pun keluar kamar.
Andra sangat kaget Lala yang bersikap seperti itu padanya. Wanita itu marah karena ia tidak mau memakai pakaian pilihannya.
\=\=\=\=\=\=
Lala melihat Andra datang ke dapur. Wajahnya jadi kesal melihat Andra tidak memakai pakaian yang disiapkannya.
Mama melirik wajah Lala. Sepertinya sedang bertengkar dengan Andra.
Lala menghembuskan nafasnya pelan. Ia akan bersikap biasa. Ia mengisi piring dan meletakkan di depan Andra. Dan selalu saja Andra malah mengambil sarapannya sendiri.
Lala mengambilkan air minum dan tetap saja, Andra mengambil minumnya sendiri.
"Ma, aku pergi." Andra pamitan dan akan langsung pergi.
"Andra, pamitan pada istrimu." Bisik Mama yang melihat mata Lala mulai berkaca-kaca. Ia menahan putranya.
Andra menggeleng dan segera pergi.
"Lala... Maafkan sikap Andra ya. Mama nanti akan nasehati dia." Ucap Mama seraya mengelus kepala Lala.
Putranya itu kelewatan. Menganggap Lala tidak ada, padahal mereka sudah menikah.
"Ma, maaf sebelumnya. Sepertinya lebih baik kami berpisah saja."
"Nak..." Mama menggeleng. Bagaimana mungkin mereka berpisah? Ia sangat tidak rela.
"Lala capek, Ma." Air mata Lala akhirnya tumpah juga. Suaminya tidak menganggap dirinya ada.
"Lala... kamu sabar ya. Nanti Mama nasehati Andra." Bujuk Mama kembali. Ia tidak mau Lala dan Andra berpisah.
__ADS_1
Lala mengangguk pelan. Meski ia tidak yakin, tapi ia akan bertahan sebentar lagi.
Sore menjelang, Lala menyiapkan teh hangat untuk suaminya.
"Mas Andra, Lala buat teh loh." ucap Lala seperti biasa membuatkan teh untuk Andra yang baru pulang kerja.
Andra lebih memilih berjalan menuju kamar saja.
Nafas Lala berhembus kasar. Andra tidak pernah mau minum teh buatannya itu.
'Mungkin dia capek. Aku antar ke kamar saja!' Lala meletakkan cangkir teh di atas nampan.
Lala berjalan menuju kamar. Ia kesal dengan Andra, tapi ia selalu bisa memaafkannya. Namanya juga cinta.
"Mas Andra..." Panggil Lala begitu masuk kamar. Ia melihat Andra yang sedang membuka pakaian.
"Lala!!! Apa tidak bisa mengetuk pintu?!" bentak Andra yang kesal. Ia menutupi dirinya dengan pakaiannya.
"Ma-maaf." Lala meminta maaf.
Andra segera memakai pakaiannya.
"Apa ini? Aku tidak pernah menyentuh teh buatanmu. Seharusnya kamu tidak perlu lagi membuatkannya! Peka sedikit, La!!!"
"Lala ingin Mas Andra pulang dari kantor minum teh dan mengobrol sama Lala." Ia memberi alasan. Lala hanya ingin seperti pasangan lainnya. Saling berbagi cerita.
"Aku sudah jelas mengatakan padamu. Jangan berharap lebih padaku!" Andra mengingatkan. Ia tidak akan mau hidup bersama Lala selamanya.
"Kenapa tidak berpisah? Karena belum waktunya!" jelas Andra kembali. Ia masih mengulur-ulur waktu yang tepat.
Nyut...
Hati Lala terasa begitu nyeri. Andra sedang mencari waktu untuk berpisah darinya. Dan Lala, masih berusaha mencari perhatian pria itu.
Lala meletakkan teh di atas meja nakas.
"Ok." Jawab Lala menatap pria itu, lalu berlalu pergi.
Andra merasa aneh melihat Lala.
'Dasar bocah!'
.
__ADS_1
.
.