
Andra terpaksa memberhentikan mobilnya. Ia melihat dari spion Lala yang masih terbaring di sana.
"Lala!!!" pekik Andra kesal. Ia pun terpaksa turun dari mobil dan menghampiri wanita itu.
"Hei... Bangun!!! nggak usah akting pura-pura pingsan!" Andra berjongkok sambil menggoyangkan badan Lala.
Lala masih diam dan menikmati perannya. Ia berharap Andra menggendongnya dan membawanya masuk ke dalam mobil. Seperti drama-drama yang sering ditontonnya.
"Lala!" panggil Andra kembali. Lala tah memang pingsan benaran atau pura-pura pingsan. Ia juga tidak tahu.
"Lala... awas ada kecoa!" Andra mulai menakuti Lala.
'Ke-kecoa!' mendengar nama binatang kecil itu, Lala pun bangkit.
"Om, di mana kecoanya?" tanya Lala dengan wajah takut.
"Masuk ke dalam baju kamu tadi!" ucap Andra sambil tersenyum sinis. Ia akan mengerjai wanita satu ini.
"Apa?" pekik Lala takut.
Lala menggoyangkan tubuhnya, berharap kecoa yang masuk dalam bajunya itu jatuh. Ia juga melompat-lompat. Tapi tidak ada kecoa yang jatuh.
"Om Andra, mana kecoanya?" tanya Lala dengan suara lirih. Ia sungguh takut dengan binatang kecil itu.
"Masih di bajumu!" ucap Andra menujuk baju Lala.
Lala mulai merasa merinding, kecoa itu masih ada di bajunya. Ia jadi menaik turunkan pakaiannya. Ia sangat risih dengan kecoa itu.
"Astaga!!!" Andra mengucap. Apa yang dilakukan Lala membuat kaca mata gantung itu sekilas jadi terlihat.
Andra pun melihat sekitarnya, akan bahaya jika ada yang lihat.
Lala yang masih merasa jijik dan merinding akan membuka baju saja. Mungkin dengan begitu kecoanya akan dapat diusir.
"Lala!" Andra menahan tangan Lala yang akan membuka baju.
"Apa yang mau kamu lakukan?" tanya Andra tidak habis pikir. Lala tidak melihat keadaan sekitar. Mau buka baju sembarangan.
"Aku takut sama kecoanya, jadi mau ku usir." Lala berwajah sedih. Bulu kuduknya pun tampak berdiri.
Andra menghembuskan nafas. Ternyata Lala separno itu. Lala benar-benar ketakutan.
"Sudah pergi kecoanya!" ucap Andra pada akhirnya. Ia tidak akan menakuti Lala lagi.
"Tidak, Om. Aku merasa kecoanya itu menempel di tubuhku!" Lala menggeliat, agar kecoa itu segera menyingkir.
"Tidak ada kecoa! Aku tadi cuma membohongimu!" aku Andra segera.
"Om Andra!" Lala mencemberutkan wajahnya. "Ada kecoa atau tidak?!"
__ADS_1
Lala tidak percaya begitu saja. Ia masih merasa ada yang menjalar ditubuhnya.
"Aku tadi membohongimu, agar kamu bangkit dan tidak pura-pura pingsan lagi!" jelas Andra yang sangat kesal.
"Ayo, cepat naik!" isyarat Andra agar Lala segera mengikutinya.
Lala diam. Ia kesal Andra membohonginya seperti itu.
"Cepat naik! Atau kamu mau aku bawakan kecoa?!" ancam Andra kemudian.
Lala jadi merinding, ia pun terpaksa menuruti Andra.
"Om, kita mau ke mana?" tanya Lala setelah duduk di dalam mobil. Ia memasang sabuk pengaman.
"Lala... jangan berharap lebih tentang pernikahan ini. Aku masih bisa bertahan untuk 2 bulan ke depan." Terang Andra sambil melajukan mobil dengan kecepatan sedang.
Jeder
Lala seperti di sambar petir tiba-tiba. Mereka baru saja menikah, tapi Andra sudah membahas tentang perpisahan.
"Aku nggak mau!" tolak Lala menatap Andra tajam. Itukan cuma kemauan Andra. Ia kan tidak mau begitu.
"Aku tidak peduli itu!" Andra tidak mau ambil pusing. Ia sudah meyakinkan hati. Pernikahan mereka tidak akan bertahan selamanya.
"Om Andra... aku tidak mau jadi janda, loh!" kesal Lala. Untuk apa menikah, kalau nanti ujung-ujungnya berpisah.
"Aku tidak mengerti!" Lala melipat tangannya dengan wajah yang makin cemberut.
"Ya sudah!"
Lala melihat Andra dengan kesal. Pria itu tidak memberinya sedikitpun kesempatan, untuk menjadi istrinya seutuhnya.
'Tunggu... 2 bulan ya?' Lala tersenyum tipis. Dalam 2 bulan dia pasti akan bisa meluluhkan Andra.
"Suamiku..." ucap Lala dengan nada manja.
Andra menoleh sejenak ke arah Lala. Ia merasa aneh. Tadi Lala memasang wajah kesal dan sekarang penuh dengan senyuman. Bikin merinding saja. Lala seperti punya 2 kepribadian.
"Suamiku yang tampan..." panggil Lala kembali.
Andra tidak menjawab, karena ia juga tidak merasa. Ia mempercepat laju kenderaannya.
Tak lama mereka sampai di sebuah rumah area perkomplekkan.
"Om Andra tunggu!" Lala melihat Andra yang turun begitu saja. Ia pun jadi menyusul.
Andra menurunkan koper mereka. Memberikan Lala kopernya. Lalu ia menggeret kopernya sendiri masuk ke rumah itu. Meninggalkan Lala di belakangnya.
"Ini kamarku dan itu kamarmu!" tunjuk Andra pada 2 kamar yang bersebelahan.
__ADS_1
Tak ada jawaban dari Lala, Andra pun menoleh ke belakang. Dan tidak melihat Lala.
"Lala!" panggil Andra.
"Di sini, Om!" jawab Lala memberitahu. Ia sedang memanjat menurunkan sebuah bingkai foto yang tergantung.
"Apa yang kamu lakukan?" tanya Andra. Lala menurunkan bingkai fotonya dengan Ana.
Sebelum menikah mereka memang sudah mempersiapkan rumah ini untuk tempat tinggal. Meski sekarang harapannya dengan Ana sirna. Andra kesal, Lala sembarangan menurunkan bingkai tersebut. Seolah ini rumah Lala saja, padahal ini kan rumahnya.
"Ini nggak pantas dipajang, Om." Jawab Lala acuh menurunkan semua bingkai foto yang ada Ananya. Meskipun kesal di hatinya, Lala berusaha menahan. Ia harus segera menyingkirkan kenangan masa lalu Andra.
"Lala, ini rumahku! Jadi terserahku mau memajang apapun!" Andra menaikkan suaranya. Lala suka seenaknya.
"Aku istrimu, Om Andra. Apa Om lupa itu?" Lala membalas Andra dengan menaikkan alisnya. Ia mengingatkan pria itu akan statusnya.
"Seperti kata Om. Dalam 2 bulan aku akan menjadi istrimu. Yang berarti apa yang Om Andra miliki adalah milikku juga dalam 2 bulan ke depan. Jadi Om sabar ya, jika aku menganggap ini rumahku sendiri!" jelas Lala sambil tersenyum.
"Terserahmulah!" Andra yang kesal menarik kopernya.
Melihat itu Lala mengikuti dari belakang. Ia ikut masuk ke dalam kamar Andra.
"Kamu ngapain masuk kamarku?" hembusan nafas Andra terdengar jelas. Pasti pria itu sedang kesal-kesalnya.
"Inikan juga kamarku."
"Kamarmu di sebelah." Tunjuk Andra ke sebelah.
"Nggak mau. Di mana-mana suami istri itu satu kamar." Itu yang Lala tahu.
"Lala!!!"
Andra keluar kamar dan menggeret kopernya. Ia ke kamar sebelah. Biarkan saja Lala di kamar itu, biar puas anak manja itu.
"Aku akan di kamar ini. Kamu sebelah saja." pinta Andra.
Lala menggeleng. "Om, masa kita pisah ranjang sih?!"
"Aku tidak mau sekamar denganmu!" tolak Andra sejelas-jelasnya.
"Tapi aku mau sekamar sama Om Andra. Om Andra kan suamiku yang harus melindungi istrinya. Kalau aku tidur sendiri terus ada yang nyulik, kan Om Andra juga yang susah." Lala tetap ngeyel dan menjawab apa yang dikatakan Andra.
"Argh!!!" emosi Andra sudah tumlah-tumpah.
.
.
.
__ADS_1