
Lala tampak sibuk di dapur. Ia sedang menggoreng ayam. Membaliknya pelan-pelan, agar ayamnya tidak terbang.
"Sudah matang belum ya?" Lala bingung. Ayamnya sudah mulai kecoklatan.
Lala pun mengangkatnya saja, meletakkan di piring. Lalu di taruh di meja makan.
"Nanti makannya pakai saus saja." Ucap Lala menutup piring dengan tudung saji.
Lala melihat jam dinding. Sudah pukul 3, sebentar lagi Andra akan pulang. Ia belum mandi.
Lala berjalan akan masuk kamar, namun ia tiba-tiba berhenti.
'Kompor sudah mati belum ya?' Lala pun kembali ke dapur.
"Astaga!!!" pekik Lala. Ia lupa mematikan kompor.
Lala menghela nafas setelah mematikan kompor, ia melihat wajannya yang berasap.
Untung saja dia segera sadar, jika tidak sudah kebakaranlah rumahnya. Dan ia yang masih di dalam bagaimana, bisa tinggal nama.
'Kenapa sulit sekali jadi seorang istri?!' Lala meruntuki dirinya sendiri.
Lala kembali memastikan kompor itu benar-benar telah mati. Ia baru berjalan masuk ke kamar dan akan membersihkan diri.
Tak lama Lala kembali ke dapur, ia sudah mandi dan berganti pakaian. Lala memakai baju tidur berlengan pendek, bergambar kucing berwarna biru.
Lala di dapur membuatkan teh hangat untuk menyambut Andra.
Kini pikiran Lala mengingat perkataan Andra kemarin. Untuk menjadi istri seutuhnya malam ini.
"Aduh... kok jadi gugup gini aku ya?" Lala memegangi da-danya yang jadi berdebar-debar.
Otak Lala mulai memikirkan adegan itu. Ia dan Andra akan menyatu malam ini.
"Kami akan memiliki anak." Lala memegangi perutnya yang datar. Wajahnya jadi sendu. Andra akan menjadi suaminya seutuhnya. Mereka akan memiliki keluarga kecil yang bahagia.
Tok... Tok... Tok...
Lala membuang nafasnya berkali-kali terlebih dahulu. Lalu ia berjalan untuk membuka pintu.
"Mas Andra, sudah pulang?" Lala mengulurkan tangan dan mencium tangan suaminya.
Andra melihat perlakuan Lala dengan lekat. Istrinya itu sangat patuh sekali.
Dulu, ia sering mengabaikan Lala. Sering mengacuhkan saat wanita itu menyambutnya pulang. Tapi kini, ia senang dengan sambutan Lala.
"Mas Andra, Lala sudah buatkan teh." Ucap Lala.
Andra mengangguk dan masuk ke dalam rumah. Ia berjalan ke ruang makan. Lala menghidangkan teh yang masih hangat. Rasanya begitu menghangatkan di tenggorokan Andra saat meminumnya.
"Mas Andra, mau makan? Lala masak ayam goreng." Ucap Lala memberitahu apa yang dimasaknya.
__ADS_1
Dan lagi, Andra melihat Lala dengan tatapan mendalam. Ia juga melihat jari Lala yang terbungkus plester. Tah apa yang sudah Lala lakukan di rumah.
"Nanti malam saja." Jawab Andra. Hari masih sore. Ia juga belum lapar.
Andra menghabiskan tehnya dan Lala menatap haru. Kini Andra benar-benar berubah, tidak seperti dulu yang mengacuhkannya. Pria itu sangat hangat sikapnya.
"Aku mau mandi dulu." Ucap Andra yang segera bangkit dan Lala ikut bangkit. Mereka berjalan masuk kamar.
Andra mandi dan Lala menyiapkan pakaiannya. Jantung Lala terus berdebar, tapi ia berusaha untuk terlihat tenang dan biasa saja.
Krek...
Dag dug dag dug...
Debaran kencang tak bisa dikontrol Lala saat ini. Suara pintu kamar mandi itu, membuat kakinya lemas.
"Lala... Ayo kita lakukan sekarang!"
Dag dug dag dug dag dug...
\=\=\=\=\=
Di dalam kamar mandi, Andra menghembuskna nafas berkali-kali. Entah kenapa dia mendadak gugup begini.
"Lala... Kamu sudah selesai M?"
"Kamu sudah mandi?"
"Kamu bisa melayaniku?"
Lala sudah berusaha untuk menjadi istri yang layak. Ia juga ingin menjalani kehidupan rumah tangga yang semestinya.
Tapi, mendadak kegugupan menguasainya. Bagaimana ia menagih haknya sebagai suami?
Krek
Suara pintu itu makin membuat Andra makin gugup. Ia melihat Lala yang duduk di tepian tempat tidur. Di sampingnya ada pakaian yang sudah disiapkan untuknya.
"Lala... Ayo kita lakukan sekarang!" Andra meruntuki mulutnya, yang malah bicara tanla basa basi.
Lala menoleh ke Andra dan membuang pandangannya, pria itu hanya terlilit handuk di pinggang.
Andra menghembuskan nafas pelan dan berjalan menghampiri Lala.
"Lepas pakaianmu!" pinta Andra. Di sini ia suaminya. Jadi ia yang akan dominan.
"Se-sebentar, Mas. Lala mau pipis!" Lala pun memilih kabur ke kamar mandi. Ia sedikit pengap di kamar itu.
Andra bersandar di tempat tidur, ia merasa Lala lama sekali di kamar mandi.
Krek
__ADS_1
Mata Andra tertuju ke arah kamar mandi, ia melihat Lala keluar hanya dengan terlilit handuk. Menampakkan punggung dan setengah pahanya yang putih mulus.
Lala berjalan pelan menghampiri Andra. Ia berdiri di depan tempat tidur.
"Apa kamu siap?" tanya Andra. Bagaimana pun sebelum memulai ia harus bertanya untuk memastikan. Tak mau Lala melakukannnya terpaksa.
"Lala siap, Mas." Jawab Lala yakin. Ia berharap setelah penyatuan ini, hubungan mereka semakin kuat.
Andra menarik Lala pelan naik ke tempat tidur. Tangan Lala begitu dingin dan wajahnya pucat.
Pria itu membaringkan Lala di tempat tidur. Lalu ia mulai menidih tubuh itu.
Andra mulai mencecap bibir manis itu dan tangannya merayap aktif mendaki. Ia memberi sentuhan-sentuhan yang membuat tubuh lala meremang.
Handuk yang dipakai Lala pun melayang terbanh dan tak lama handuk yang dipakai Andra juga terbang.
Mata Lala mendelik saat merasakan sesuatu yang memaksa masuk. Ia berusaha menahan, tak mau Andra kecewa padanya.
Lala memeluk erat tubuh Andra, nafasnya jadi terengah. Sesuatu sudah memenuhi intinya.
"Lala... Tahan ya." Ucap Andra. Ia tahu Lala menahan sakitnya.
Air mata Lala terjatuh juga. Rasanya sangat sakit sekali.
Andra kembali mencium bibir Lala dan menggerakkan tubuhnya pelan. Membuat istrinya itu mulai melupakan rasa sakit dan mulai menikmatinya.
"Ahhh." Lala langsung menutup mulutnya, saat ucapan itu keluar begitu saja. Ia sangat malu sekali.
Andra tersenyum lebar. Suara itu sangat menggemaskan. Ia makin bersemangat menggempur Lala.
"Ahhh ahhh ahhh..." Lala tidak dapat menahan ucapannya yang keluar begitu saja. Andra membuatnya terus mende-sah.
"Mas Andra, Lala sudah tidak perawan." Ucap Lala pada Andra yang sudah berbaring di sampingnya, setelah pelepasan mereka.
"Aku akan bertanggung jawab." Ucap Andra menatap Lala.
"Maa Andra, tidak akan meninggalkan Lala?" tanya Lala dengan wajah sendu. Ia takut Andra berpaling darinya. Ia sangat mencintai dan menyayangi pria itu.
"Kita akan bersama selamanya." Tegas Andra. Ia sudah yakin akan hidup bersama Lala selamanya.
"Terima kasih, Mas." Air mata Lala berlinang, ia pun segera menghapusnya.
"Aku akan mencintai Mas Andra selamanya" Janji Lala. Ia pu memeluk erat tubuh Andra.
Andra juga memeluk tubuh Lala.
'Aku akan berusaha untuk mencintaimu...'
Lala memeluk sambil memejamkan matanya. 'Mas Andra, belum mencintaiku...'
.
__ADS_1
.
.