MENCINTAIMU

MENCINTAIMU
BAB 29 - MENEMUI ANA


__ADS_3

Lala melirik Andra yang sedang sarapan. Ia memasang wajah melas sambil menyendokkan makanan.


Tangannya yang masih sakit, jadi sulit makan memakai tangan kiri.


"Lala, mau Mama suapi saja?" tanya Mama merasa kasihan. Lala kelihatan kesusahan.


"Tidak usah, Ma. Lala bisa kok!" ucap Lala masih mencoba berusaha.


"Andra, bantui istrimu itu!" Mama menyenggol lengan Ardan. Putranya tidak peka sama sekali.


Hal itu terpaksa membuat Andra melihat ke arah Lala. Ia pun mengambil sendok dari tangan Lala.


"Makanlah!" Andra terpaksa menyuapi Lala.


"Ti-tidak usah-"


Andra memasukkan saja ke dalam mulut Lala. Dari pada wanita itu kembali berakting.


"Mas, pelan-pelan dong!" mulut Lala sudah penuh.


"Andra, pelan-pelan. Kasihan Lala!" Mama jadi mengkhawatirkan Lala.


Andra terlalu cepat menyuapi Lala. Belum lagi selesai mengunyah, sudah disuapi kembali.


Pria itu sengaja melakukan itu, agar makan Lala cepat selesai.


"Ok, selesai!" Andra tersenyum miring. Ia pun bangkit dan menuju kamarnya.


"Lala, ini minum pelan-pelan." Mama menyodorkan air minum.


Lala menenggak air minum hingga habis. "Terima kasih, Ma."


"Kamu sabar ya tinggal sama Andra. Mama harap Andra bisa merubah sikapnya sama kamu!"


Lala mengangguk. Ia juga berharap begitu.


Setelah sarapan, Lala mengobrol dengan Mama.


Mama memberikan Lala nasehat agar menjadi istri yang patuh. Juga memberitahu, apa saja kesukaan Andra. Agar Lala lebih cepat menaklukkan hati Andra.


Lala mendengarkan dengan serius. Ia bertekad akan mempertahankan rumah tangganya. Membuat Andra melihat ke arahnya. Dan mengakui dirinya sebagai istri.


"Ma, aku pergi sebentar." Izin Andra yang sudah berpakaian rapi.


"Kamu mau ke mana?" tanya Mama ingin tahu.


"Ada urusan sebentar!" jawab Andra sambil menyalami Mamanya.


"Mas, mau ke mana? Aku ikut ya!" ucap Lala.


"Tidak usah!" tolak Andra. Ia tidak mau Lala mengikutinya.


"Lala ikut!" rengeknya.


"Nggak usah! Kamu di rumah saja!" Andra terpaksa menaikkan satu oktaf nada bicaranya.


"Andra, jangan begitu!" Mama tidak suka Andra bicara kasar pada Lala.


"Aku pergi!" Andra pun segera berlalu pergi.


Lala mencemberutkan wajahnya melihat Andra. Suaminya mau pergi ke mana?

__ADS_1


Apa menemui Ana?


\=\=\=\=\=\=


Andra menepikan mobil di sebuah rumah. Ia melihat ke arah rumah tersebut.


Tampak tenang dan sepi.


Pria itu pun turun dan menekan bel rumah.


Pintu lalu terbuka.


Andra meremas tangannya melihat orang yang membuka pintu.


"Andra, apa kabar?" tanya pria itu tersenyum samar.


"Di mana Ana?" tanya Andra.


"Dia sedang di kamar." Jawab Ferdi santai. "Oh iya, ada apa mencari istriku?" tanyanya kembali.


Andra menghela nafas kasar. Pria di hadapannya ini adalah suaminya Ana.


"Panggilkan saja Ana. Aku ingin bertemu dengannya!" jelas Andra yang tidak mau berbasa basi pada Ferdi. Ia kemari untuk menemui Ana dan bukanlah pria itu.


"Silahkan masuk. Aku akan memanggil istriku!" Ferdi mempersilahkan, lalu ia berlalu menuju kamarnya.


Andra mengusap wajahnya. Hatinya mulai merasa sesak. Wanita yang dipacarinya bertahun-tahun, malah menikah dengan pria lain.


Tatapan Andra mengarah saat mendengar suara langkah kaki. Ia melihat Ana menghampirinya.


"Ana..." Andra bangkit dan akan memegang wanita itu.


Tapi, Ferdi malah menahannya.


Perkataan itu membuat Andra jadi mengurungkan niatnya dan duduk kembali.


"Ana, sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Andra ingin tahu. Ia harus tahu kenapa dan mengapa?


Ana diam saja. Ia duduk melihati Andra dengan tatapan datar.


"Ana katakan! Apa pria ini sudah menjebakmu?" tanya Andra kembali. Sungguh, ia ingin tahu alasannya.


Dan Ana lebih memilih diam daripada menjawabnya.


"Kalau dia menjebakmu, katakan Ana. Aku akan membantumu!" jelas Andra. Mungkin Ana sedang ketakutan dan memerlukan pertolongan.


Ferdi jadi tersenyum tipis. Ia mendengarkan apa yang mau Andra katakan, tanpa menyela sedikitpun.


"Atau... selama ini, kamu dan Ferdi memang sudah bermain di belakangku?" tuduh Andra merasa kesal. Ana tidak mau menjawab pertanyaannya.


Andra jadi berpikiran yang lain.


"Ana, apa selama ini kamu berselingkuh dariku?" tanya Andra dengan nafas memburu. Ia butuh jawaban bukan bungkaman seperti ini.


"Ana, jawab! Jawab Ana!!!" Andra memaksa Ana untuk menjawab.


"Biar aku saja yang menjaw-"


"Diam kau!" sela Andra tidak senang. Ferdi mau ikut campur saja. Ini masalahnya dengan Ana. Ia mau Ana yang menjawab, bukan diwakilkan.


"Ana, katakan!!!" paksa Andra kembali.

__ADS_1


"Maafkan aku, Dra. Lupakanlah aku!" Ana akhirnya berucap dengan mata berkaca-kaca. Setelah mengatakan itu, ia pun beranjak pergi.


"Ana!!!" panggil Andra berusaha menahan.


"Sudahlah, pulang sana!" Ferdi menahan Andra dan menarik pria itu keluar dari rumah.


"Ana!!! Kamu wanita jahat. Kamu sangat jahat dan begitu tega padaku!" Andra masih bisa berucap, walau ditarik paksa Ferdi untuk keluar.


"Argh!!!" Andra berteriak kesal di depan rumah Ana. Ia sudah diusir oleh pria menyebalkan itu.


\=\=\=\=\=\=


Ana menangis di kamarnya. Ia mengusap air mata yang terus berlinang.


Ana tidak mengerti kenapa bisa begini. Ia akan menikah dengan Andra dan malah menikah dengan Ferdi.


Saat itu, sehari sebelum pernikahan. Ana pulang dengan diantar Ferdi.


Ana sempat tidur di mobil temannya itu. Tapi saat terbangun, ia malah berada di sebuah hotel dan bukan di rumahnya.


Tubuhnya saat itu polos tanpa pakaian dan di sampingkan ada Ferdi yang bertelanjang dada.


Saat itu Ana bingung dan berteriak histeris. Ia tidak menyangka, Ferdi melakukan hal keji seperti itu padanya.


Ana menangis sambil memukuli Ferdi dan tidak ketinggalan makian yang dikeluarkannya.


"Ferdi, apa kau sudah menodaiku?" tanya Ana dengan air mata berjatuhan.


"Menurutmu..." Ferdi menaikkan alisnya dan memberi senyuman yang membuat hati Ana terasa seperti teriris sembiluh.


"Aku besok akan menikah. Kenapa kau tega melakukan ini padaku?" Ana mengusap wajahnya. Ia frustasi dan shock dengan kejadian ini.


Terdengar suara bel pintu, Ana pun menyembunyikan wajahnya dalam selimut. Ia masih terus menangis.


Sayup-sayup Ana mendengar suara adiknya, Romeo.


Ana sangat takut sekali. Suara isakan tangisannya makin terdengar kencang.


"Romeo!!!" ucap Ana saat selimutnya dibuka. Ternyata benar adiknya yang datang.


Ana melihat bagaimana Romeo menghajar Ferdi habis-habisan. Romeo kelihatan sangat emosi sekali.


"Ana, pakai bajumu!" Papa memberikan pakaian pada Ana.


Setelah itu, mereka membawa Ana pergi. Ferdi juga digeret paksa ikut mereka.


Sampai rumah, Mama memukuli Ferdi dan Ana juga. Hatinya sedih melihat keadaan ini.


Ana hanya bisa menangis dan menangis.


Keluarga mereka pun berembuk untuk menikahkan Ana dan Ferdi. Ferdi harus bertanggung jawab pada perbuatannya.


Dan Ferdi santai saja menerima. Ia mau menikahi Ana.


Hingga seharusnya di hari itu, Ana menikah dengan Andra. Tapi malah dipaksa menikah dengan Ferdi.


'Argh!!!' Ana menjerit dalam hati mengingat saat itu. Saat yang paling menyakitkan.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2