MENCINTAIMU

MENCINTAIMU
BAB 42 - MENURUT


__ADS_3

"Ini tempat tinggalku." Ucap Ferdi membawa Ana ke rumah mewahnya.


'Wah... Apa dia orang kaya?' Ana takjub pada rumah mewah tersebut. Sangat komplit dan perabotannya super mewah.


Selama ini Ana mengira, Ferdi adalah pria miskin dan pengangguran. Tapi, pria itu malah tinggal rumah mewah seperti ini.


"Kenapa? Kamu terkejut?" tanya Ferdi menyadari ekspresi wajah Ana.


"Kamu pasti kaget karena aku bukan seperti yang kamu bayangkan selama ini. Ana, Ana... Aku memang pengangguran, tapi aku bukan pria miskin." Ucap Ferdi sambil mengangkat alisnya.


"Ma-maafkan aku." Ana meminta maaf atas ketidaktahuaannya selama ini.


"Ya sudahlah. Ini, pakailah. Untuk kebutuhanmu. Ya, karena kamu sekarang istriku. Aku berkewajiban memenuhi kebutuhanmu." Ferdi memberikan sebuah kartu atm ke tangan Ana.


Ana diam melihat kartu atm tersebut.


"Dan karena aku sudah beristri. Aku akan bekerja di perusahaan papaku. Agar istriku tidak menganggapku pria pengangguran." Ucap Ferdi kembali.


Ana menundukkan kepala. Ia jadi malu sendiri.


"Open Grup, itu perusahaan milik papaku. Dan akan diwariskan padaku." Ferdi memberitahu.


Ana mendelikkan mata. Ia tahu tentang perusahaan itu. Ferdi ternyata benar-benar anak orang kaya. Ia menyesali telah mengatakan hal buruk pada pria itu.


'Nggak dapat Andra, tak apalah. Ferdi lebih kaya. Hidupku akan terjamin.' batin Ana tersenyum samar. Walau pernikahannya batal dengan Andra, tapi ia mendapatkan suami yang lebih wow.


\=\=\=\=\=\=


Di sore itu, Lala berdiri di balkon rumahnya. Ia melihat Andra yang bergegas masuk mobil dan perlahan pergi.


Sudah seminggu berlalu. Andra tidak pernah datang atau menemui Lala di rumahnya. Ya, Andra seperti pria single yang tidak memiliki istri.


'Mas Andra memang tidak peduli sama Lala!' Lala menarik nafas panjang, menahan rasa sesak di hatinya.


Lala masuk ke dalam dan langsung membaringkan tubuhnya di tempat tidur.


'Mas Andra mau ke mana sih?' batin Lala bertanya-tanya. Hari sudah malam dan Andra malah pergi.


Mau ke mana Andra?


Siapa yang mau ditemuinya?


Apa Andra bertemu Ana?


Atau Andra bertemu dengan wanita kenalannya?


'Apa sih artinya Lala dihidup Mas Andra? Apa cuma pajangan saja?'


Lala mengusap air matanya. Ia sedih berada di posisi ini. Yang tidak pernah dianggap Andra.


Sementara Andra melajukan mobilnya menuju ke sebuah rumah. Ia menekan bel.


Dan tak lama terbuka pintu tersebut. Mata Andra menatap tajam pria yang membuka pintu.

__ADS_1


"Andra, masuklah!" Ferdi mempersilahkan.


Andra masuk dan duduk di sofa.


"Ana, buatkan tamu kita minum!" pinta Ferdi pada istrinya.


Andra meremas tangannya. Kita? Kata-kata itu sungguh menjijikkan.


"Silahkan!" Ana meletakkan teh di atas meja. Lalu ia duduk di samping Ferdi.


Nafas Andra bergemuruh melihat Ana sekarang. Wanita itu begitu dekat dengan Ferdi.


"Ada apa kamu kemari?" tanya Ferdi memulai pembicaraan.


"Ana, apa selama ini kamu sengaja melakukannya?" tanya Andra. Ana tiba-tiba mendadak menikah dengan Ferdi. Jika mereka terpaksa, tidak mungkin Ana dan Ferdi bisa sedekat ini.


"Maafkan aku, Dra." Ana menundukkan kepalanya.


Andra berdecih. Lagi-lagi Ana meminta maaf.


"Aku seharusnya menikah dengan kamu. Tapi sepertinya takdir memisahkan kita, hingga aku menikah dengan Ferdi. Awalnya aku terpaksa, tapi kurasa kami memang ditakdirkan bersama." Jelas Ana yang sudah menerima keadaan. Ia tidak menyesal Ferdi membuatnya batal menikah dengan Andra. Karena ia melihat Ferdi mau bertanggung jawab padanya.


Ferdi tersenyum samar mendengar perkataan wanita itu.


"Apa? Kamu-" ucap Andra.


"Kita memang tidak akan bersama. Kamu juga sudah menikah dengan Lala. Terima dia! Kamu berhak bahagia dan jangan pernah menemuiku lagi!" Ana mempertegas perkataannya. Ia tidak mau Andra terus mengganggu rumah tangganya dengan Ferdi.


"Ana, apa kamu pernah mencintaiku?" tanya Andra akhirnya.


Andra menarik nafas berat, rasanya hatinya bergemuruh mendengar pengakuan Ana.


"Lala sekarang istrimu. Lebih baik kamu perhatikan dia."


"Tidak perlu mengaturku!!!" Ucap Andra tidak senang. Pria itu pun bangkit dan berjalan keluar dari rumah itu.


Andra sangat marah dan kesal. Ia menyesali dirinya yang selama ini mencintai Ana. Wanita jahat yang tidak pernah memikirkan perasaannya.


\=\=\=\=\=\=


"Andra!!!" pekik Mama melihat putranya pulang dengan tubuh sempoyongan.


"Se-selamat malam, Ma." Sapa Andra dengan senyum mengambang. Ia berjalan miring.


"Aku harus baik pada Lala. Itu kata Ana." Andra mengingat kata wanita itu.


"Lala!!! Lala!!!" panggil Andra sambil cegukan berkali-kali.


"Hah iya... Dia di rumahnya!" Andra setengah sadar mengingatnya.


"Andra, naiklah ke kamarmu!" paksa Mama mendorong tubuh putranya. Ia tidak habis pikir, Andra pulang-pulang mabuk.


"Aku harus bertemu Lala. Aku harus menemui istriku!" ucap Andra. Ia hanya menuruti perintah Ana, untuk baik pada Lala.

__ADS_1


"Andra, pergilah ke kamarmu!" Papa juga terpaksa menarik Andra berjalan menuju kamar. Ia tidak mungkin membiarkan Andra menemui Lala denagn kondisi seperti ini.


Andra dibawa paksa menuju kamarnya. Pria itu meraih ponsel dan menghubungi Lala.


Sementara di kamar, Lala sedang menonton rekaman video saat pernikahannya.


Air mata Lala jatuh saat Andra mengucapkan namanya saat ijab kabul.


Saat itu Andra begitu tegas mengatakan itu. Hingga Lala berpikir meski terpaksa, lambat laun Andra akan membuka hati untuknya. Tapi, sepertinya itu hanya khayalannya saja.


Deringan ponsel membuat Lala meraih benda pipih tersebut.


Deg


Hati Lala berdebar kencang melihat nama penelepon. Selama ini Andra tidak pernah menghubunginya dan sekarang...


Tanpa membuang waktu Lala menjawabnya.


"Halo, Mas Andra!" jawab Lala lalu menghembuskan nafas pelan.


"Aku harus baik padamu. Aku pulang saja kamu tah di mana. Istri apa itu?" oceh Andra saat panggilannya tersambung.


Ana menyuruhnya baik pada Lala. Tapi Lala saat ia tah ada di mana. Bukannya di rumah.


"Lala... maafkan Andra. Ia pulang-pulang mabuk. Tapi kamu tenang saja, biar papa yang urus!" Papa tidak mau merepotkan Lala. Kasihan Andra tidak pernah menganggap Lala selama ini. Dan malah bicara tidak jelas.


"I-iya, Pa." Jawab Lala dan tak lama panggilan itu pun berakhir.


Tak lama, Lala dengan ngosh-ngoshan sampai di kamar Andra.


"Papa, Mama... Mas Andra kenapa?" tanya Lala melihat Andra sudah berbaring.


"Dia pulang-pulang mabuk." Ucap Mama yang melihat Andra sudah terlelap. Tadi sudah berganti pakaian.


"Kamu pulanglah. Andra tidak apa-apa." Pinta Mama menatap sendu sang menantu. Wajah Lala begitu khawatir melihat putranya.


"Ma, izinkan Lala menginap di sini. Lala mau menemani Mas Andra." Izin Lala.


"Tapi, La-"


"Ya, Ma." Lala mengangguk dengan wajah memelas. Ia ingin mengurusi suaminya itu.


"Baiklah. Nanti kalau ada apa-apa, panggil Mama ya." Mama mengingatkan.


Lala pun mengangguk dan tak lama Mamanya Andra pun keluar.


Lala mendekati Andra. Wajah pria itu merah seperti menahan panas. Ia pun memegang kening Andra.


'Astaga, Mas Andra demam!!!'


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2