
"Ana, Mama mau bicara sama kamu!" ucap wanita paruh baya itu. Keluarga Andra sudah pulang.
"Besok saja ya, Ma. Aku mengantuk!" ucap Ana akan berjalan menuju kamarnya.
"Ana, kamu sudah pernah ke rumahnya Andra?" tanya Mamanya ingin tahu.
"Belum."
"Kenapa?" tanya Mama tidak menyangka. Ia mengira putrinya sudah pernah ke rumah Andra.
"Untuk apa, Ma?" Ana akan masuk kamar, tapi ditahan Mamanya.
"Untuk apa kamu bilang? Ana, minimal kamu pernah sekali ke rumah mereka. Mereka itu orang tuanya Andra. Jika kamu bersikap seperti ini, mereka bisa mengira kamu tidak punya etika." Mama menasehatinya.
"Ma, aku itu akan menikah dengan Andra bukan keluarganya." Ana menjawab menurut jalan pikirannya.
"Memang kamu menikah dengan Andra. Tapi menghormati orang tua juga penting, nak." Mama kembali mengingatkan anaknya.
"Aku sudah hormat kok." Ana merasa tidak berbuat hal yang tidak sopan.
"Ana... besok kamu datang ke rumah calon mertuamu itu!" pinta Mamanya.
"Nggak, Ma!" tolak Ana tegas.
"Kamu kenapa?" Mama bingung, kenapa putrinya enggan ke rumah keluarga Andra. Apa Mamanya Andra pernah memarahinya? Tapi tidak mungkin. Jelas-jelas tadi, ia mendengar Andra baru memperkenalkan mereka.
"Ma, aku nggak mau terlalu dekat dengan mamanya Andra. Teman-temanku bilang, jangan terlalu dekat sama mertua. Mertua itu nggak pernah suka sama menantunya, mereka cuma manis di depannya saja. Di belakang jadi bahan gunjingan." Ucap Ana sesuai apa yang pernah dikatakan teman-temannya.
"Astaga, Ana!!! Nggak seperti itu. Lagian kamu lihat cuma dari sudut pandang temanmu itu, bukan dari sudut pandang mertuanya itu. Kita juga nggak tahu nak, masalah mereka itu apa?!" Mamanya tidak habis pikir dengan jalan pikiran Ana. Putrinya terdoktrin dengan anggapan jika mertua itu kejam.
"Sudahlah, Ma. Aku itu nikahnya sama Andra. Jadi aku nggak perlu baik-baik sama mertuaku itu!" tegas Ana kembali.
"Kamu nggak boleh seperti itu, nak. Kamu lupa, kamu juga punya adik laki-laki. Jika nanti calon istrinya menganggap Mama mertua yang kejam, bagaimana itu?"
"Ceraikan saja istri seperti itu! Lagian kurang ajar istrinya Romeo, kalau menganggap Mama seperti itu. Mama itu sangat baik!" Ana tidak terima Mamanya diperlakukan seperti itu.
"Ana... Mamanya Andra itu juga sangat baik, tapi kamu yang sudah menganggapnya buruk." Mama menggelengkan kepala menyadarkan putrinya.
Ana diam sesaat. "Sudahlah, Ma. Aku mau tidur!"
Ana masuk ke kamarnya. Ia malas mendengar ceramah Mamanya itu.
\=\=\=\=\=\=
"Nek, Lala pergi dulu!" Lala menyalami wanita tua itu. Ia akan pergi ke kantor dengan papanya.
Lala berjalan lemah, ia seperti sudah tidak punya tujuan hidup lagi.
__ADS_1
Neneknya menggelengkan kepala. Lala sedang patah hati. Tapi ia yakin, perasaan Lala pada Andra hanya obsesi sesaat. Sebentar lagi juga bakalan lupa.
"Lala sayang, semangat dong!" Papa Ayaz memijat bahu putrinya.
"Papa..." Lala pun berwajah mewek.
"Ayo ke kantor. Sebentar lagi gajian loh." Papa mengingatkan putrinya.
Lala makin berwajah mewek. Ia tidak perlu gaji. Uang saku yang diberikan papanya saja, berkali-kali lipat dari gajinya. Ia hanya menginginkan Andra, Andra dan hanya Andra.
Beberapa saat kemudian, Lala sudah sampai di kantor.
"Se-selamat pagi, Pak!" sapa Riri menghampiri mereka.
"Selamat pagi, Riri." Sapa Ayaz dengan senyuman.
'Astaga, jantungku!!!' ronta Riri. Senyuman Ayaz tidak baik untuk kesehatan jantungnya.
"Lala, papa duluan ya. Kamu yang semangat!" papa berpamitan pada putrinya, yang dijawab dengan anggukkan pelan Lala.
Ayaz mengangguk pada Riri dan Riri seperti terhipnotis ikut mengangguk juga.
'Kapan aku bisa memilikimu?!' Riri meruntuki dirinya sendiri yang tidak berani melangkah jauh. Jadi Ayaz hanya menganggap dirinya teman dari putrinya.
Lala menggeleng, Riri kumat lagi. Kalau sudah melihat papanya, Riri lupa sekitar. Lala sadar sih, papanya sangat tampan. Jangankan Riri, banyak wanita lain yang tertangkap basah oleh Lala menatap kagum papanya itu.
"Meong, ngapain kau di sini?" tanya Lala sinis, ia juga merasa aneh. Romeo pagi-pagi berada di kantor.
"Jangan bilang kau bekerja di sini?" timpal Riri menebak.
"Aku diterima di kantor ini. Kita akan sering-sering bersama." Ucap Romeo dengan pandangan tertuju pada Lala.
"Malas aku samamu!" ucap Lala yang kesal. Saat melihat Romeo, ia mengingat Ana. Lala pun berjalan pergi.
"Sabar ya!" tawa Riri sambil menepuk pundak Romeo.
Lala mendengus. Romeo bekerja di divisi yang sama dengannya dan Riri. Meja kerja Romeo bahkan berhadapan dengannya dan itu makin membuat Lala kesal.
Saat jam makan siang. Lala mengusir Romeo. Ia tidak mau pria itu makan di meja yang sama dengannya. Terpaksalah pria itu jadi pindah.
Romeo kesal dengan sikap Lala. Lala kesal dengan kakaknya, tapi malah dia yang kenal imbasnya.
"Sabar ya, Rom!" Riri duduk bergabung dengan Romeo.
"Kenapa kau di sini?" tanyanya.
"Lala sudah bersama yang lain!" Riri kasihan Romeo makan sendiri. Romeo masih baru di perusahaan ini.
__ADS_1
"Kau suka sama Lala, kan?!" tebak Riri dengan mengangkat alisnya.
Romeo tersedak mendengar perkataan Riri. "Mana mungkin! Lala bukan tipeku!"
Riri mencibir. Romeo membohongi perasaannya.
"Aku lihat ada yang peluk-peluk Lala, saat om Andra lamaran." Ucap Riri sambil tertawa.
Romeo diam. Sepertinya Riri melihat mereka saat itu.
"Aku mendukung kalian kok. Lala lagi patah hati itu, kesempatanmu menghiburnya!" saran Riri.
"Bagaimana mau menghiburnya. Lihat saja, dia mau marah-marah terus sama aku!" ucap Romeo. Lala sepertinya begitu sangat membencinya.
"Wajar saja itu, masih patah hati. Kau dekati dia terus, lama-lama Lala luluh juga itu. Kasih perhatian, biar dia lupa sama kesedihannya." Saran Riri pada Romeo.
"Atau kau lamar dia langsung!" saran Riri bersemangat.
Romeo menggeleng. "Yang benar saja, Ri? Yang ada Lala langsung menolakku mentah-mentah!"
Romeo tidak yakin itu. Ia saja belum berani mengungkapkan perasaannya. Takut jika nanti Lala jadi menjaga jarak darinya. Bagaimana pula jika ia langsung melamar Lala? Yang ada Lala tidak mau mengenalnya lagi.
"Kau tunjukkan semua perasaanmu, perhatianmu, kasih sayangmu. Jangan sampai kau menyesal, Lala bisa ditikung orang!" Riri memperingatkan. Romeo itu sangat lambat. Padahal Lala lagi patah hati, seharusnya Romeo datang sebagai pahlawan untuk mengobati kesedihan Lala.
"Memang Lala lagi dekat sama pria lain ya?" tanya Romeo serius. Selain Andra yang Lala suka, apa ada pria lain yang suka Lala.
"Hmm... nggak ada sih. Aku cuma bilang." Riri mengangkat bahunya.
Romeo bernafas lega. Ia sempat berpikir Lala punya pengagum rahasia.
"Biarkan saja dulu, Ri. Aku akan mendekati Lala pelan-pelan!" Romeo menjaga perasaan wanita itu. Ia perlahan akan membuat Lala nyaman bersamanya.
"Terserahmulah, Rom. Aku doakan kalian bersatu!" Riri berharap yang terbaik untuk mereka.
"Lala sangat cantik!" puji Romeo menyanggahkan dagunya. Ia tersenyum melihat Lala yang tertawa bersama rekan kerjanya yang lain.
"Semua juga bilang begitu." Ledek Riri.
"Apa?" Romeo bingung melihat Riri.
Riri mengisyaratkan Romeo untuk melihat sekitarnya. Dan pria itu pun mengedarkan pandangannya.
"Banyak sainganku!!!"
.
.
__ADS_1
.